Kamis, 13 Maret 2014

Anti infeksi Sistemik/ Systemic anti-infective

Anti infeksi Sistemik
(Sumber/ soure: Djamhuri, Agus.1995.Sinopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan Perawatan.Malang:Hipokrates.)
Angka kematian karena infeksi di Indonesia masih menduduki angka tertinggi. Ditemukannya obat anti-infeksi yang sangat efektif, telah membantu menurunkan angka kematian, tetapi penyalahgunaan dan penggunaan yang tidak tepat telah menimbulkan keprihatinan, karena efek samping yang terjadi sangat merugikan. Antiinfeksi sistematik dibagi menjadi dua golongan, yaitu: antibitoka dan kemoteraupetik. Antibiotik adalah substansi yang dihasilkan oleh organisme dan mampu menghambat pertumbuhan organisme lain. Kini banyak dihasilkan antibbiotika secara sintesis. Kemoterapeutika adalah bahan kimia yang mampu menghambat kehidupan kuman di dalam tubuh.
            Dalam perkembangannya, kemoterapeutika mencakup juga antikanker. Kegembiraan ditemukan obat antiinfeksi, sekarang beralih ke sikap hati-hati, karena kemungkinan terjadinya resistensi, yaitu timbulnya daya tahan kuman terhadap obat. Masalah resistensi kuman dapat merupakan maslaah berat antara lain: peledakan infeksi masal oleh kuman yang juga resistensi, sehingga sulit diberantas dengan obat yang terdahulu. Juga epidemi nosokomial yang terjadi di beberapa rumah sakit telah menempatkan resistensi pada masalah utama. Faktor penyebab timbulnya resistensi adalah:
1)      Pengobatan yang terlambat
2)      Dosis yang terlalu rendah
3)      Kuman mengadakan penyesuaian terhadap obat
4)      Pemberian antiinfeksi yang tidak tepat pada sasarannya.
5)      Keadaan fisik penderita tidak mendukung terbasminya kuman dengan cepat.
Masalah kedua dari penggunaan obat antiinfeksi yang makin meluas adalah peningaktan reaksi yang tidak diinginkan.
Reaksi yang tidak dikehendaki tersebut adalah:
1)      Hipersensitifitas, mulai dari yang ringan hingga syok anafilatik yang fatal.
2)      Toksisitas antiinfeksi yang masih cukup tinggi.
3)      Superinfeksi, yaitu timbulnya perubahan flora usus dengan akibat kondisi tubuh yang terganggu.
4)      Efek kumulasi atau memperberat kerusakan fungsi organ tertentu, khususnya hati dan ginjal. Selain itu, ternyata paduan dengan obat lain menambah toksisitas.

Menjadi tugas pelayanan kesehatna untuk mendidik diri sendiri dan masyarakat dlam menggunakan obat antiinfeksi secara nasional