Jumat, 21 Maret 2014

Antibiotik, dalam farmakologi/ Antibiotics, in pharmacology

Antibiotik, dalam farmakologi
(Sumber/ source: Djamhuri, Agus.1995.Sinopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan Perawatan.Malang: Hipokrates.)

Setelah penemuan penisilin, maka usaha pencarian antibiotika lain menghasilkan puluhan jenis antibiotik alam dan antibiotik sintetik. Perkembangan dalam satu golongan antibiotika menambah jumlah penemuan dan hal ini menimbulkan perubahan pembagian golongan. Pertama-tama antibiotik terbagi dalam spektrum sempit dan spektrum luas. Pembbagian ini sudah ditinggalkan untuk penggunaan praktisnya dapat dibagi dalam: golongan penisilin dan sefalosporin, golongan tetrasiklin dan kloramfenikol, golongan aminoglikosid, antibiotik lain: makrolid, eritromisin dan sebagainya.
A).  Golongan penisilin dan sefalosporin
Penilisilin pembunuh bakteri Gram negatif dan kokus Gram positif, streptokokus, stafilokokus, spiroketa, klostridia, antraks dan aktinomisetes. Bakteri dalam fase tumbuh lebih peka, sehingga penyakit lebih cepat disembuhkan dari pada penyakit kronis. Penyerapan per os baik, tetapi beberapa bentuk penislin mudah dirusak oleh asam lambung dan enzim. Distribusinya setelah diserap luas, tetapi sulit memasuki otak. Pengeluarannya melalui ginjal cepat. Karena itu, diusahakan mencari ikatan penisilin yang diserap secara lambat dari tempat injeksi dan bila diberikan per os tidak dirusak asam lambung.
Indikasi pemberiannya untuk pneumonia, meningtis, otitis media. Laringitis, demam reumatik, endokarditis, gonore, lues, antraks, klostridia gas gangren dan tetanus. Osteomielitis serta difteri, sedangkan ampisilin efektif juga untuk tifus abdominalis.
Toksisitas penisilin terutama berupa alergi hingga syok anafilatik. Pertolongan pertama syok adalah memberi epinefrin i.m. secepatnya dan diulangi hingga tekanan darah menetap minimal 90 mmHg. Ampisilin dapat menimbulkan perubahan flora usus.
Sediaan yang dipasarkan adalah:
1)      Penilsilin G, dosisnya 300000-6 juta unit untuk memperoleh kadar di dalam darah yang tinggi yang cepat.
2)      Prokain penisilin, dosisnya 300000-6 juta unit untuk penyerapan lambat dan disuntikan 1-2 kali sehari.
3)      Benzatin penisilin, dengan dosis 300000-1,2 juta unit 1-2 kali seminggu.
4)      Penisilin almumunium monostearat adalah penisilin yang dilarutkan dalam minyak dan diberikan 1 minggu sekali. Kerugian preparat ini adalah harus berhati-hati terhadap kemungkinan emboli dan sering mengakibatkan abses.
5)      Ampisilin merupakan penisilin berspetrum luasy ang dpaat diberikan per os dan injeksi dengan 2 gram.
6)      Amoksisilin hampir sama dengan ampisilin diberikan dengan dosis 1,5 gram.
7)      Oksasilin dan kloksasilin, dengan dosis 2 gram dan beberapa puluh jenis dari golongan penisilin baru, menggeser golongan penisilin lama yang tidak lagi diproduksi.
Tergolongan dalam kelompok penisilin adalah sefalosporin dari golongan betalaktam dan dapat diberikan per os. Kini lebih dari 10 kelompok sefalosporin telah dipasarkan. Spektrum antimikrobanya tergantung dari setiap sediaan, namun tidak banyak berbeda dari penisilin. Sebaiknya tidak diberikan sefalosporin sepanjang masih dapat diobati dengan golongan penisilin dan golongan ini disediakan untuk infeksi berat. Dosisnya tergantung dari sediaan dan harus memperhatikan fungsi ginjal, yang berkisar dari 500-1000 mg diberikan i.m. atau i.v. dan diulangi hingga mencapai jumlah dosis 12 gram sehari.

B).  Golongan tetrasiklin dan kloramfenikol
1)      Tetrasiklin
Golongan tetrasiklin merupakan antibiotika berspektrum luas. Pengembangan golongan ini memiliki sifat farmakologi yang sama dan hanya berbeda potensi yaitu: doksisilin> metasilin> klortetrasiklin= demoksiklin> tetrasiklin> oksitetraksiklin
            Selain terhadap bakteri Gram negatif dan Gram positif, golongan ini juga membunuh riketsia, amuba, mikoplasma, trakoma dan beberapa lagi. Resistensi dapat terjadi pada pemakaian yang kurang tepat. Penyerapannya per os baik, tetapi terikat oleh logam Al, Mg, Ca, Fe dan makanan. Distribusi golongan tetraksilin dalam tubuh luas dan ditimbun di dalam tulang dan gigi, karena terikat oleh kalsium. Ekskresinya melalui air kemih dan tinja. Toksisitasnya berupa mual, muntah dan diare dengan dehidrasi berat; superinfeksi sering terjadi setelah pemberian selama 3 hari. Karena tetrasiklin ditimbun di dalam gigi dan tulang, maka pada pemberian pada anak berusia di bawah 12 tahun dapat menyebabkan kerusakan gigi. Pada wanita hamil trisemester terakhir, dapat terjadi gangguan perkembangan tulang pada bayi yang akan dilahirkan. Yang berbahaya adalah toksisitasnya pada ginjal dan hati, karena berakibat fatal. Pada pemberian yang lama mengakibat anemia, fotosensitivitas dan gangguan pembekuan darah.
Tetrasiklin yang kadaluarsa dapat mengakibatkan sindrom Fanconi. Penggunaan klinisnya cukup luas dan di Indonesia masih merupakan obat pilihan terhadap “kolera”. Selain itu, diberikan pula untuk terapi infeksi pernapasan, gonore, akne, enteritis dan meningokok. Pemberian per injeksi sangat nyeri dan hanya diberikan pada keadaan gawat. Dosis tetrasiklin, oksitetrasiklin dan klortetrasiklin masing-masing 1-2 gram per oral, doksisiklin 200 mg dosis awal diusul 100-200 mg dosis penunjang, demoksilin 600 mg.


2)      Kloramfenikol
Serupa dengan tetraksilin, maka kloramfenikol juga berspektrum luas dan spesifik terhadap bakteri Salmonella typhosa, Hemophilus infulenze dan Bordetella pertussis, meskipun telah banyak bakteri yang resisten. Pemberian utama per os diserap dengan baik dan distribusinya luas. Biotransformasinya terjadi di hati dan dikeluarkan melalui air kemih serta empedu. Karena kloramfenikol toksik terhadap sumsum tulang, maka pemakaiannya sangat terbatas terutama untuk penyakit berat dan penyakit tifus.
Bayi dapat mengalami keracunan yang disebut “Greby-baby syndrome” yaitu bai berwarna abu-abu, lemah terjadi syok dan meninggial. Pemberiannya sebagai salep mata untuk konjungtivitas memberi rasa pedih. Superinfeksi dapat terjadi setelah 5-10 hari pemberian dan juga dapat terjadi depresi sumsum tulang yang mungkin menetap. Pemeriksaan hitung jenis darah agar dilakukan secara periodik.
Kloramfenikol juga memberi kebutaan dan alergik yang dapat berakibat fatal. Perlu diperhatikan untuk tidak memberikan koramfenikol pada ibu yang menyusui, karena kloramfenikol dikeluarkan bersama ASI. Dosis kloramfenikol 50 mg/kg BB dan untuk tiamfenikol 1 gram sehari.

C).  Golongan aminoglikosid
Aminoglikosid berkhasiat bakteriostatik terhadap bakteri Gram negatif. Termasuk dalam kelompok ini adalah streptomisin, neomisin, kanamisin, amikasin, veomisin, gentamisin, tobramisin, sisomisin dan beberapa jenis lainnya. Toksisitas golongan aminoglikosid sama yaitu pada ginjal dan otovestibuler.
1)      Streptomisin
Streptomisin dan dihidrostreptomisin berkhasiat bakteriostatik terhadap bakteri Gram negatif dan mikrobakteri (TBC, lepra). Resistensi terhadap streptomisin dapat terjadi dengan cepat. Penyerapannya per os buruk dan harus diberikan i.m.. pemberian per os ditujukan untuk terapi infeksi saluran cerna dan sterilisasi usus. Eksresinya melalui ginjal dan empedu, sehingga bila terdapat insufisiensi akan memberi peningkatan kadar obat dalam darah.
     Toksisitasnya berupa reaksi alergi hingga syok anafilaktik berat, ketulian untuk dihidrostreptomisin dan kehilangan keseimbangan untuk streptomisin, dan pada dosis tinggi terjadi kerusakan ginjal.
2)      Kanamisin, Neomisin, Amikasin, Gentamisin dan Tobramisin
Aktifitas antibiotik ini bersifat bakterisid terhadap Gram positif dan Gram negatif. Kanamisin dan neomisin juga efektif terhadap mikrobakteri. Penyerapan neomisin dan kanamisin per os buruk, sedangkan gentamisin dan tobramisin cukup baik.
Kelompok antibiotik ini memberi keracunan yang sama dengan streptomisin yaitu pada ginjal dengan saraf pendengaran/ keseimbangan.
Penggunaan klinisnya sama dengan streptomisin, dengan dosis 1-2 gram i.m., dosis gentamisin dan tobramisin 300-500 mg i.m., dosis kanamisin dan neomisin 500 mg i.m. sediaan salep gentamisin banyak diberikan sebagai salep luka bakar dan luka pada kulit.

D).  Antibiotik lain: makrolid, eritromisin, dan sebagainya
1)      Eritromisin
Aktivitas eritromisin mirip dengan penisilin, tetapi kekuatannya lebih rendah. Karena banyak individu yang alergi terhadap penisilin, maka eritromisin bermanfaat sebagai penggantinya. Indikasi klinisnya sama dengan golongan penisilin.
Juga bila terdapat resistensi terhadap penisilin, maka eritromisin dapat digunakan sebagai pengganti. Penyerapan per os baik, sulit memasuki SSP dan eksresinya melalui tinja. Toksisitasnya berupa mual, muntah, superinfeksi dan alergi seperti penisilin.
Pemberian i.m. menimbulkan rasa nyeri, tetapi dapat diberikan secara i.v. untuk beberapa preparat. Dosis eritromisin 2 gram diawali dengan dosis 500 mg. Yang mirip golongan eritromisin adalah spiramisin dengan dosis 1,5-2 gram per os.
2)      Kelompok polimiksin
Terdapat 5 jenis polimiksin yang ditemukan yaitu plimiksin A, B, C, D, dan E, tetapi yang digunakan hanyalah polimiksin B dan E. Keduanya hanya aktif terhadap Gram negatif.
Polimiksin tidak diserap di usus dan tidak dapat memasuki cairan serebrospinal. Eksresinya melalui ginjal dan sangat toksik terhadap ginjal. Obat ini juga dapat memberi gejala kelumpuhan dan penghentian pernapasan. Pemakaiannya klinisnya hanya untuk infeksi: pseudomonas, shigela, disentri dan enterobakteri. Pemakaian yang luas hanyak akan menambah kasus toksisitas. Lebih banyak digunakan secara topikial untuk kulit, buli dan saluran napas.

Penggunaan Antibiotik
Makin banyaknya antibiotik yang ditemukan, maka makin sulit untuk dikelompokkan dan mengadakan pilihan. Untungnya, beberapa antibiotika yang ditemukan dan beredar di pasaran tela htersaring dari toksisitas berat dan hanya memiliki efek alergi serta mudahnya terjadi resistensi.
Biasanya penderita datang dengan gejala infeksi umum yang belum dapat ditetapkan diagnosis pastinya. Diagnosis pasti mikrobiologik memerlukan waktu, laboratorium dan interpretasi. Penetapan diagnosa mikrobiologik dengan metode cakram cukup sederhana, dan yang lengkap disertai penetapan daya hambat minimum, daya bunuh minimum, kadar obat dalam darah, titer serum- bakteri, dan pemantauan mikrobiologik dengan hasil perjalanan klinis. Kelengkapan demikian hanya tersedia pada beberapa rumah sakit saja, sedangkan selebihnya, diagnosis didasarkan pada pengalaman perkiraan klinis. Terapi empiris demikian, meskipun dari segi ilmiah tidak benar, tetapi dilakukan dengan penajaman pendekatan, yaitu:
1)      Mencari lokasi anatomi dari tempat infeksi, misalnya faring, telinga bagian dalam, ginjal dan sebagainya.
2)      Anamnesa, pemeriksaan fisik dan penetapan risiko perjalanan penyakit dilakukan dengan sebaik mungkin.
3)      Melakukan pemeriksaan pewarnaan sediaan untuk menentukan golongan bakteri Gram positif atau Gram negatif sebagai penunjang diagnosis empiris.
Penggunaan antibiotika dalam kombinasi harus dibatasi, karena tidak banyak yang bekerja sinergistik dan dalam kombijnasi tersebut dosis tidak dapat diturunkan. Karena efek toksiknya menjadi lebih luas. Beberapa antibiotik malahan bekerja antagonistik, antara lain penisilin dengan tetrasiklin dna penisilin dengan kloramfenikol.
     Istirahat dan menjaga gizi sangat menunjang daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan, disamping tindakan perawatan lainnya.
Beberapa antibiotik diusakan untuk diberikan pada indikasi khusus, seperti berijut (Label Antibiotik untuk indikasi khusus)


Antibiotika
Indikasi khusus
Toksisitas
Basitrasin
Topikal pada luka, mukosa dan rongga pleura
Ginjal, alergi
Vankomisin (dosis: 500 mg i.v.)
Enterokolitis berat, septikemia, kadang endokarditis
Alergi, ginjal tuli
Linkomisin (dosis: 1-2 gr p.o., 600 mg i.m. Klindamisin (dosis: 1-2 gr p.o., 300 mg i.m.)
Infeksi kuman anaerob khususnya infeksi ginekologis dan pengganti penisilin
Mual hingga muntah, kerusakan hati dan diare