Selasa, 11 Maret 2014

Benteng Goryokaku, di Oshima, Pulau Hokkaido, Jepang/ Fortress Hakodate, Oshima, Hokkaido Island, Japan

Benteng Goryakaku, di Oshima, Pulau Hokkaido, Jepang
(Sumber/ source: Handoko, Priyo.2013.”Mengunjungi Wisata Benteng Goryakaku di Pulau Hokkaido, Jepang”. Dalam Jawa Pos, tanggal 28 November 2013.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)

Bila berkesempatan datang ke Hokkaido, Jepang, ada sejumlah lokasi wisata yang sayang kalau terlewatkan untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Benteng “Segi Lima” di Goryakaku di akodate. Wartawan Jawa Pos Priyo Handoko baru dari sana.
Hawa dingin di Jepang saat ini cukup menusuk tulang. Daun pepohonan menguning, sebagian berguguran. Kondisi itu juga menimpa 1600 pohon sakura yang tumbuh mengelilingi Benteng Goryokaku di Hakodate, ibukota Suprefektur (Kabupaten) Oshima, Prefektur Hokkaido.
            Benteng itu saksi sejarah paling penting di balik berakhirnya kekuasan Shogun pada pengunjung abad ke XVIII. “Saat musim semi Anda baru bisa melihat betapa indahnya bunga sakura yang bermekaran,” kata Y. Furukawa, staf Goryakaku Tower (Menara Goryakaku), kamis silam, 21 November. Goryakaku Tower berada tak jauh dari Benteng Goryakaku. Sekitar April Benteng Goryakaku didatangi banyak orang yang ingin melakukan tradisi hanami atau melihat bunga. Terutama sakuray ang sedang mekar sempurna.
            Benteng Goryakaku yang memiliki luas 25 hektare mulai dibangun pada 1857 dan tuntas tujuh tahun kemudian. Jadi, proses pembangunannya di mulai saat era Shogun Tokugawa Iesada (1853-1858) dan rampung pada era Shogun Tokugawa Iemochi (1858-1867). Itulah benteng bergaya Barat pertama yang dibangun Keshogunan Tokugawa atau Edo. Untuk diketahui, selama 624 tahun (1603-1867) pemerintah Jepang sehari dijalnakan keshogunan yang dipimpin klan Tokugawa. Keshogunan sebenarnya setara dengan pemimpin besar angkatan bersenjata. Namun, sejak era Shogun Tokugawa, kekuasaan menjadi sangat besar. Sementara itu, kaisar lebih menjalankan fungsi pengambilan kebijakan secara umum dan simbol negara. Masa berkuasa keluarga Shogun Tokugawa juga disebut era Edo karena pusat pemerintahannya di Edo (Tokyo).
            Benteng Goryakaku yang bentuknya persis seperti bintang segi lima sengaja dibuat untuk melindungi Selat Tsugaru dari invasi musuh. Ada rangkaian parit berisi air yang mengelilinginya. Goryakaku secara harfiah juga berarti benteng bintang lima. Bentuk benteng yang unik itu akan terlihat jelas dari Menara Goryakaku. “Anda bisa melihat model Benteng Goryakaku yang berskala 1 banding 250 di ruang observasi dua,” ujar Furukawa.
            Di ruang observasi dua juga terdapat 16 diorama berukuran mungil yang menggambarkan era terbukanya kembali Jepang terhadap asing sampai meletusnya perang di Hakodate. Menara Goryakaku berdiri sejak 1965. Setelah menjalani renovasi total pada 2006, kondisi menara setinggi 107 meter itusemakin canting dengan beragam fasilitas di lantai dasar seperti toko suvenir, kafe, atrium, dan taman bunga. “Benteng Goryakaku merupakan situs yang sangat bernilai penting bagi bangsa Jepang,” jelas Furukawa.
            Benteng itu menjadi simbol berakhirnya Perang Boshin atau Perang Naga, tragedi perangsaudara terjadi pada 1868-1869. Disebut Perang Naga karena terjadi di tahun Naga. Rangkaian konflik itu bermula keluarnya keputusan shogun untuk mengakhiri kebijakan sakoku atau menutup diri dari dunia luar yang berjalan sejak 1635. Salah satunya dengan terciptanya kesepakatan antara Jepang dan Amerika Serikat pada 1854 (saat era Shogun Tokugawa Iemochi) untuk memfungsikan pelabuhan Hakodate sebagai pelabuhan internasional. Karena itu, tidak heeran bila sampai sekarang sentuhan gaya bangunan Barat masih terlihat di Hakodate. “Hakodate menjadi tempat yang terkenal untuk foto pre wedding, banyak clon pengantin dan fotografer yang datang ke sini,: kata Khristian Agus Arianto, guide yang mendampingi rombongan jurnalis asal Indonesia dalam kunujungan ke Benteng dan Menara Goryakaku itu. Kunjjungan bersama Honda Prospect Motor (HPM) tersebut dilakukan sehari setelah rombongan menyaksikan pesta otomotif akbar Tokyo Motor Show 2013. Untuk menuju Pulau Hokkaido, dibutuhkan waktu 1 jam 20 menit dari Bandara Haneda, Tokyo ke Bandara Hakodate.
            Dalam perjalanannya, sebagian bangsawan samurai memandang pemerintahan shogun menjadi semakin lunak terhadap kehendak asing. Tidak puas, mereka lantas menuntut shogun yang saat itu baru berkuasa, Tokugawa Yoshinobu, untuk mengembalikan kekuasaan politik sepenuhnya ke tangan Kaisar Meiji. Belakangan, aliansi samurai dari bagian selatan yang disokong sejumlah pejabat istana berhasil memengaruhi Kaisar Meiji yang saat itu masih belia untuk menentang pemerintah Shogun. “Mereka ini kubu yang ingin mempertahankan harga diri dan tidak mau takluk pada asing,” ungkap Khristian yang sudah sepuluh tahun tinggal di Negara Matahari Terbit itu. Menurut sejarah, Tokugawa Yoshinobu yang sadar posisinya lemah langsung menyerahkan kekuasaan politik ke tangan kaisar pada 9 November 1867 dia berharap kelangsungan klan Tokugawa masih bisa dilanjutkan. “Itulah strategi dalam politik,” ujar Kristian, lantas tertawa.
            Namun, sebagian pasukan yang loyal pada shogun ternyata terus melakukan perlawanan. Dengan sisa kekuatan, pasukan shogun yang dipimpin Laksamana Takeaki Enomoto bergerak mundur ke Pulau Honshu, lalu menyebar ke Pulau Hokkaido. Belakangan, pimoinan Shinsengumi (kepolisian) yaitu Toshizo Hijikata, ikut bergabung. Puncaknya, pada Oktober 1868 Hijikata dan pasukannya berhasil menduduki Bentang Goryakaku. Di situlah, tepatnya pada Desember 1868, mereka mendirika nRepublik Ezo dengna Takeaki Enomoto sebagai presiden.
            Stelah berhasil menciptakan stabilitas di Jepang daratan, pemerintah Meiji mulai bergerak dan mengirimkan 7000 pasukan ke Hokaido. Mereka kemudian mengepungg Benteng Goryakaku yang juga menjadi kantor pemerintahan Repubik Ezo. Pertempuran pun terjadi selama sepekan, mulai 20 Juni 27 Juni 1869. “Benteng Goryakaku inilah pertahanan terakhir sisa kekuatan shogun,” ujar Khristian.

            Saat perang dimulai pada 20 Juni, Hijikata yang baru berusia 34 tahun tewas tertembak. Seminggu kemudian angkatan bersenjata Republik Ezo menyerah. Faksi kekaisaran yang menang ternyata tidak semena-mena terhadap para bekas pemberontak. Takeaki Enomoto, misalnya. Dia memang sempat dipenjara sampai 1872. Namun, setelah itu, Enomoto kembali menduduki beberapa jabatan pemerintah. Mulai Badan Pertahanan Hokkaido sampai duta besar Jepang untuk Rusia. Toshizo Hijikata juga diperlakukan dengan terhormat. Patung dia yang terbuat dari perunggu kini menghiasi Benteng Goryakaku. Di ruang observasi dua menara Goryakaku juga terdapat patung Hijikata dalam posisi duduk. Di atrium di lantai dasar Menara Goryakaku terdapat patung Takeaki Enomoto dan Ayasaburo Takeda. Nama terakhir itu adalah ahli strategi militer Barat yang menjadi penanggung jawab pembangunan Benteng Goryakaku. “Meskipun Hijikata dan Enomoto pernah mewalan, pemerintah Meiji tetap menghormati nilai yang diperjuangkannya,: kata Khristian.nilai tersebut tidak lain adalah keterbukaan terhadap asing dan pentingnya mempelajari kemajuan teknologi pihak Barat. Karena itu, pemerintah Meiji tidak pernah mengusir orang asing dari Jepang. Mereka juga tetap mengadopsi kebijakan modernisasi Jelang sambil melakukan negoisasi ulang terhadap berbagai perjanjiang yantidak adil dengan pihak Barat. Itulah pilar utama dari Restorasi Meiji yang terus berlangsung sampai 1912. Peristiwa yangterjadi disekitar proses Restorasi Meiji itu telah menginspirasi tokoh anime Kenshin, sang Btosai, karya Nobohiru Watsuki yang juga sangat populer di Indonesia. Begitu juga dengan film The Last Samurai.