Minggu, 09 Maret 2014

Berbagai Kemajuan Kabupaten Madiun, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur/ Various Progress Madiun, Blitar, and Lamongan, East Java

Berbagai Kemajuan Kabupaten Madiun, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur
(Sumber: Noname.2013.”Menapgesoaso Para Champions Tahun Lalu, Jelang Perheatan 2013”. Dalam Jawa Pos, tanggal 27 November 2013.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)

A).  Kabupaten Madiun (Senyum dari Kasepo)
Di bawah kepemimpinan Bupati H. Muhtarom, kabupaten ini meraih Otonomi Awards 2012 Kategori Pemerataan Ekonomi, bahkan Grand Award untuk Parameter Ekonomi. Program ekonomi di sana memang simultan terintegrasi. Antara lain melalui lomba desa kreatif, desa binaan SKPD, orientasi PNS di dsa, penguatan dan kemitraan kelompok tani, serta pengentasan kemiskinan. Data base kaum miskin bukan sekadar “nama dan alamat” tetapi dilengkapi data foto diri, foto rumah, serta bantuan pemerintah yang pernah didapat.
Yang unik adalah Gerakan Kasepo, yakni pembudidayakan  akako, sengon dan porang yang bernilai tinggi. Ikthiar itu komprehensif mulai pengadaan lahan, pembudayaan, pemanfaatan, pegnolahan, produksi, sampai pemasaran. Selain itu, memanfaatkan kemitraan dengan Perhutani yang menguasai 40 persen lahan Kabupaten Madiun. Hasilnya pun membuat banyak orang tersenyum.
Gerakan tersebut meluaskan lahan kakao dari 2639 hektare pada 2008 menjadi 4184 hektare pada 2011. Warga bergairah karena mendapat bibit kakao gratis dari Pemda Kabupaten Madiun. Para pembudi daya rata-rata mendapat Rp4,75 per tahun per keluarga.
Sementara itu, sengon, kayu murah dan enteng tersebut, banyak dibudidayakan di lahan Perhutani yang berupa hutan konsessi dan tanah kosong, lahan masyarakat, lahan kritis (14233 ha), tanah bengok desa (431 ha), lahan aset pemkab (Waduk Kedung Brubus), serta lahan kanan kiri sungan dan jalan. Pendapatan mereka sekitar 15 juta per hektare per siklus 7 taun). Sebanyak 11320 warga membudidayakan sengon dan memberikan berkah bagi 667 pengolah kayu.
Sementara itu, tanaman porang ditanam di selah hutan jati dan 100 persen hasilnya untuk penggarap. Contoh produk yang memanfaatkan tepung tanaman sejenis umbi talas itu adalah lem, jelly, mi, tahu, perekat tablet, pembungkus kapsul, penguat kertas dan beragam produk industri lainnya. Pada siklus tanam porang (budidaya) saja, telah terserap 5440 tenaga kerja.

B).  Kabupaten Blitar (Berkah Akar Dewa)
Kabupaten Blitar, yang memenangkan Otonomi Awards 2012 Kategori Pertumbuhan Ekonomi, punya tradisi budidaya ikan. Favoritnya adalah budidaya ikan koi atau ikan dewa sejak 1980-an. Perputaran uang koi mencapai Rp 400 miliar-Rp 500 miliar per tahun. Blitar Koi Show (BKS), hasil kerja sama pemkab dengan Blitar Koi Club (BKC) sejak 1990, pun rutin dilakukan.
Dalam acara itu, bertemulah produsen, konsumen dan pencita ikan dari seluruh Indonesia serta luar negeri, terutama Jepang, Hongkong, Singapura dan Belanda. Mereka menikmati kontes koi berbagai kategori dan ukuran, pameran produk ikan dan pakan, seminar, lelang hasil kotnes, transaksi, serta pemasaran.
Sentra koi tersebar di 16 kecamatan, yang terbesar di Kecamatan Nglegok. Pada 2012, hampi 70 persen petani menggantungkan hidup dari koi. Di sana ada 28 kelompok petani koi yang beranggota 1400 orang. Lahan mereka mencapai 100 hektare dan 50 hektare untuk kawasan minapolitan atau kawasan berbasis perikanan atau kota ikan. Setiap bulan 12000 ekor koi dipasarkan. Itu pun ada hasil “sampingan”, berupa ikan nila, lele dan gurami hingga beberapa ton. Pendapatan per petani mencapai Rp25 juta-Rp 30 juta per tahun.
Bupati Blitar, H. Herry Noegroho, S.E. MH merawat jiwa entrepreneurship warganya itu. Bahkan, ada target kabupaten tersebut menjadi minapolitan dan kelak minawisata. Pendampingna oleh dinas kelautan dan perikanan sejak 2001 diperkuat pada 2010, ketika ada pengembangan minapolitan dari pusat.

C).  Kabupaten Lamongan (Power Perempuan)
Perempuan memang perkasa dan tetap akan perkasa. Keyakinan itu sudah dibuktikan Kabupaten Lamongan yang meraih Otonomi Awards 2012 Kategori Pemberdayaan Ekonomi di bawah pimpinan Bupati H Fadeli. Dengan menggandeng kaum perempuan, banyak aktivitas ekonomi yang bisa diberdayakan.
Kegiatan beternak itik, misalnya, sangat serasi dengan budidaya ikan di sana. Limbah (sisa) panen ikan berupa cepret, lepok dan besusul bisa dipakai untuk pakan itik. Kegiatan tersebut disokong pemkab sejak 2006. Selain pendampingan intensif, sejak 2007 sudah lebih dari Rp2 miliar dikucurkan.
Hingga 2011, pupulasi itik yang dikelola perempuan mencapai 150693 ekor, melibatkan 7092 perempuan pembudi daya. Mereka berada di kecamatan di wilayah “Bonorowo” atau wilayah yang lebih rendah dari Bengawan Solo. Antara lain, Kecamatan Turi, Kalitengah, Karanggenang, Maduran dan Sekaran.
Para perempuan itu piawai beritik. Pertama, beternak itik bisa menjadi pekerjaan pokok karena bisa menjadi pekerjaan pokok karena perempuan memiliki banyak waktu luang. Kedua, perempuan lebih telaten teliti dan tidak mudah bosan.
Selain pengitik, penjual nasi boranan khas Lamongan yang semuanya perempuan juga diberdayakan. Jumlah mereka meningkat dari 56 pada 2006 menjadi 230 orang pada 2011. Mereka diberi pinjaman pemkab Rp1 juta- Rp1,5 juta agar usahanya tidak goyah.

Selain itu, adap endampingan UPPKS (usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera) dengan 548 kelompok yang melibatkan 11334 perempuan).