Minggu, 09 Maret 2014

Jet Lag/ desynchronosis (Penerbangan Panjang dan Risiko Gangguan)/ Jet Lag / desynchronosis (Flight Risk Long and Disorders)

Jet Lag/ desynchronosis (Penerbangan Panjang dan Risiko Gangguan
(Sumber: Noname.2013.”So Jet Lag, Penerbangan Panjang dan Risiko Gangguan”. Dalam Jawa Pos, tanggal 28 November 2013.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)

            Bepergian bersama keluarga ke luar negeri naik pesawat terbang pastilah menyenangkan. Kenikmatan berlibur di negeri yang dituju bisa terganggu bila jet lag tidak teratasi
            Jet lag, yang secara medis disebut desynchronosis, adalah gangguan fisiologis yang terjadi akibat gangguan ritme sirkadian tubuh. Umumnya, gangguan tubuh tersebut muncul setelah melakukan perjalanan jauh serta melintasi perubahan zona waktu yang cukup signifikan. Yakni, berbeda hampir 12 jam.
            Pada kondisi itu, menurut dr Choesnan Effendi AIF, tubuh tidak mengalami sinkronasi dengan waktu daerah tujuan. Sebab, tubuh menerima gelap dan terang yang berbeda dengan ritme kebiasaanna. Tempat asal pagi-siang kemudian berpindah ke tempat lain yang waktunya sore atau malam. “Kondisi tersebut tentu saja dapat merusak ritme tubuh lainnya. Misalnya, pola makan, jam tidur, pengaturan hormon dan suhu tubuh,: jelas pakar ilmu faal dari Surabaya itu.
            Gejala jet lag pun eragam, bergantung kepada jumlah zona waktu yang dilintasi. Semakin banyak perubahan semakin besar peluang seseorang untuk mengalami jet lag. Gangguan tersebut, di antaranya, susah tidur, gangguan konsentrasi kerja dan penurunan kinerja, dan merasa lelah.
            Selain itu, timbul rasa cemas, mudah emosi, kadang sakit kepala, vertigo, mual disertai keringat dingin, dan palpitasi atau berdebar. Juga gangguan nafsu makan serta pencernaan. “Untuk mengembalikan kondisi fisiologis seperti sediakala, umumnya diperlukan 48 jam hingga 7 kali 24 jam, bergantung kepada kondisi tubuh masing-masing,” terang dokter yang berdinas di Departemen Ilmu Faal FK Unair Surabaya itu.
            Faktanya, selain melintasi perubahan zona waktu, penerbangan dari arah barat ke timur, searah matahari terbit berpeluang besar menimbulkan jet lag. Hal tersebut dibandingkan dengan arah penerbangan lain. Alasannya, sebagian orang memiliki waktu untuk menyesuaikan ritme sirkadian lebih dari 24 jam.
            Meski demikian, Choesnan menegaskan, jet lag bisa dicegah sebelum naik pesawat. Di antaranya, memperbanyak olahraga, istirahat cukup, makan buah dan sayuran, serta mengurangi makan makanan berlemak dan minuman beralkohol. “Kalangan yang susah tidur dianjurkan membawa suplemen makanan, melatonin, dengan kadar ringan, sedatif atau penenang, dan hipnotik atau obat tidur. Sebab, tidur nyenyak dalam perjalanan dapat memperkecil peluang jet lag,” tutur laki-laki 65 tahun itu.
            Kalaupun mengalami jet lag, masih bisa ditangani. “Segera mengistirahat tubuh dan makan makanan yang sehat, bila perlu minum obat tidur atau penenang, serta mandi air hangat untuk membantu tidur lebih nyenyak,” tutur dokter kelahiran  Desember 1947 itu.

            Mengapa demikian? Teorinya, melatonin ada dalam aliran darah secara alami dengan jumlah berbeda. Melatonin diproduksi oleh kelenjar pineal, otak bagian tengah ketika malam. Sekresi atau pengeluarannya berhenti ketika ada cahaya memasuki mata. Hormon itu memiliki fungsi penting dalam mengatur bagian tubuh yang lain.