Minggu, 09 Maret 2014

Juara Kategori Pelayanan Kesehatan, untuk Kabupaten Malang, Jawa Timur/ Champion category Health Service, to Malang, East Java

Champion category Healthy Service, untuk Kabupaten Malang, Jawa Timur
(Sumber: Noname.2013.”Sutera Emas dari Kepanjen”. Dalam Jawa Pos, tanggal 3 Desember 2013.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, www.ithinkeducation.blogspot.com)

            Malam Anugerah Otonomi Awards Sabtu 30 November 2013 lalu mnjadi sangat istimewa Kabupaten Malang. Pasalnya, daerah ini sedang merasayakan puncak Hari Jadinya ke 1252, saat peraih grand category pelayanan publik.
            Sutera Emas bukan sebutan bagi jenis kain, tapi akronim dari Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat. Sebuah sistem deteksi dan kewaspadanan dini penyakit yang berpotensi wabah dan mengancam kematian ibu dan anak.
            Embrio program itu erasal dari aktivitas pemantauan penyakit yang dilakukan oleh Hadi Puspita dan tim surveilans Puskesmas Kepanjen. Sejak 2004 penerima anugerah Dokter Teladan Nasional 2006 itu menggabungkan sensus harian penyakit dengan pemanfaatan teknologi informasi.
            Tujuannya, membangun sistem kewaspadaan dini, menurunkan angka kematian ibu dan anak, mempercepat proses pelaporan dan pengambilan keputusan, serta mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit. Yang tidak kalah penting, petugas data entry merasa bahwa tugas mereka benar-benar bermanfaat untuk masyarakat. Bukan sekadar memenuhi ketentuan administrasi birokrasi kesehatan.
            Peran kucni Hadi Puspita sebagai inisiator diakui oleh Bupati Malang Rendra Kresna. “Saya mendengar terobosan Sutera Emas ini sejak menjabat wakil bupat. Lalu, saya mencoba memberikan dukungan dari aspek kebijakan,” ujarnya.
            Dalam catatan JPIP, cerita tentang inovasi ini terekam sejak 2007. Hanya, hingga tahun lalu terobosan kebijakan tersebut belum masuk ke peringkat atas dalam penilaian JPIP. Pasalnya, gabungan nilai inovasi dengan dua komponen penilaian lainnya (survei publik dan data existing kesehatan), belum memungkinkan kabupaten terluas kedua di Jatim ini masuk nominasi peraih kategori pelayanan kesehatan.
            Tahun lalu posisi lima besar kategori kesehatan ditempati Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep, Kota Proboloinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Malang. Kabupaten Pamekasan berhasil memboyong piala dengan inovasi dokter turun ke pedesaan (Terkesan) dan optimalisasi peran komite kesehatan.
            Sistem yang dibangun dalam Sutera Emas sebenarnya tidak terlalu rumit. Biayanya juga tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Meski demkian, butuh waktu untuk meyakinkan para pengambil kebijakan dan publik bahwa program ini benar-benar bermanfaat. In bukan sekadar otak-atik angka statistik.
            Cara kerja sistem sederhana. Kader kesehatan di tingkat rukun tetangga (RT) diminta melaporkan setiap penyakit yang diderita warga di wilayahnya. Perhatian khusus diberikan kepada ibu hamil yang berpotensi resiko tinggi, juga banyak penderita gejala kurang gizi.
            Setiap ada warga yang sakit, kader diminta melapor kepada bidan desa. Bidan meneruskan laporan tersebut ke server dinas kesehatan melalui layanan data singkat (SMS). Isinya, antara lain, data penderita, lokasi kejadian, dan jenis keluhan. Ketika jumlah laporan telah melampaui batas yang ditentukan, server akan menyalakan alarm pada peta lokasi wilayah yang terkena wabah.
            Saat diteliti JPIP tahun 2007, peta dimiliki Puskesmas Kepanjen masih sangat sederhana. Hanya berupa lampu di tiap titik desa pada peta kecamatan. Lampu inilah yang akan menyala ketika terjadi KLB. Sebutannya pun masih Community Based Surveillance (CBS). Nama Sutera Emas baru muncul pada 2009. Setelah Hdi berembug dengan dua temannya, Sri Lesmono Hadi dan Riyanto. “Kami didesak oleh Pak Agus Wahyu (kepala dinas kesehatan saat itu) untuk memberi nama program sebagai ikon puskesmas,” kisah Hadi.
            Kini peta tersebut sudah dikelola secara terkomputerisasi (computerized). Peta di layar komputer akan menyala pada titik RT yang berpotensi KLB. Pada saat yang sama, notifikasi melalui SMS akan dikirm kepada tim reaksi cepat puskesmas dan dinas kesehatan. Dukungan dana dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2009 menjadi kunci pengembangan awal Sutera Emas secara terkomputerisasi saat ini.
            Namun, kunci utamanya program ini sebenarnya berada di tangan kader kesehtan tingkat RT. Pada 2005 CBS diadopsi oleh Departemen Kesehatan RI untuk diimplementasikan di Provinsi Lampung dan Jatim. Tapi, program tersebut tidak berkesinambungan. Ego sektoral antar direktorat di internal kementerian menjadi faktor determinan “kematian” program ini.
            Pada semester kedua 2009, CBS telah bermetamorfosis menjadi Sutera Emas mulai memikat banyak kalangan Mursyidah, yang saat itu menjadi pelaksana tugas kepala dinas kesehatan, berusaha mempromosikan program ini pada tingkat nasional.”Sempat juga kami tampilkan di Jakarta dalam sebuah pameran terkait millenium development goals (MDGs),” ungkapnya.
            Upaya mursyidah mempromosikan Sutera Emas tidak sia-sia. Pada 2012 Kabupaten Malang ditunjuk menjadi salah satu pelaksana program Expanding Maternal And Neonatal Survival (EMAS) yang disponsori USAID. “Khusus kabupaten Malang, program EMAS dilaksanakan oleh delapan Puskesmas dan sudah terintegrasi dengan Sutera Emas,” tuturnya.
            Namun, Sutera Emas tetaplah berbeda dengan EMAS. Sebab, Sutera Emas telah mengalami proses yang panjang dan melibatkan beragam suasana batin sekitar 545 kader tingkat RT di Kecamatan Kepanjen.
            Insentif Rp 12 ribu per bulan yang mereka terima sebenarnya tidak bermakna apa-apa. Tapi, pengalaman batin turut terlibat dalam penyelamatan nyawa seseorang, membuat setiap kader merasa bangga terhadap tugas mereka. Dan, itulah yang membuat mereka bertahan hingga saat ini.

            Kondisi itu tidak bisa dilepaskan dari lima pilar utama Sutera Emas. Yaitu, early case finding, early case reporting, early case handling, real time activities and community empowering. “Dengan prinsip itu, tidak ada satu pun kader ang prothol alas drop out,” ungkapnya Hadi Puspita.