Minggu, 09 Maret 2014

Mendidik Staf tentang Keselamatan Pasien, Keperawatan/ Educate staff on Patient Safety, Nursing


A.    Pengertian
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolahan hal yang berhubungan dengna risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindakan lanjutnya serta implementasi soluusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksakanan suatu tindakan atau tidak mengambil tndakan yang seharusnya diambil (Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1691/ MENKES/ PER/ VII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit).
Insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden adalah setiap kejadian yang tidka disengaja dan  kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera.
1.      Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien.
2.      Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah insiden yang beluum sampai terpapar ke pasien.
3.    Kejadian  Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.
4.    Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi sangat berporensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.
Pelaporan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut pelaporan insiden adalah suatu sistem untuk mendokumentasikan laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1691/ MENKES/ PER/ VII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada Bab III tentang Standar Keselamatan Pasien pada ayat 2, standar keselamatan pasien meliputi:
1.Hak pasien
2.Mendidik pasien dan keluarga
3.Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan
4.Penggunaan metode peningkatakan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5.Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6.Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7.Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

B. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1691/ MENKES/ PER/ VII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit, tentang Standar Keselamatan Pasien pada Standar VI tentang Mendidik Staf Tentang Keselamatan Pasien, standar dalam mendidik staf tentang keselamatan pasien adalah sebagai berikut:
1.      Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup berkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas.
2.      Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisipliner dalam pelayanan pasien.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1691/ MENKES/ PER/ VII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit, tentang Standar Keselamatan Pasien pada Standar VI tentang Mendidik Staf Tentang Keselamatan Pasien, kriteria dalam mendidik staf tentang keselamatan pasien adalah sebagai berikut:
1.      Setiap rumahh sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing.
2.      Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam kegiatan in-service training dan memberikan pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
3.      Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisipliner dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

C. Cara mendidik staf
            Definisi pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui idnera yang dimiliki yaitu: mata, hidung, telinga dan sebagainya. Kemampuan pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu melalui penginderaan terhadap suatu obyek tertentu dan sangat penting terhadap terbentuknya tindakan seseorang.
            Pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar, yang dapat membentuk keyakinan tertentu. Intensitas atau tingkat pengetahuan seseorang terhadap obyek tertentu tidak sama. Secara garis besar dibagi menjadi enam tingkatan pengetahuan, yaitu:
1.      Mengetahui (know), artinya mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2.      Memahami (comprenension) artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3.      Menggunakan (aplication) artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang nyata.
4.      Menguraikan (analysis) yaitu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5.      Menyimpulkan (synthesis), maksudnya suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6.      Mengevaluasi (evaluation), yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

D. Peran rumah sakit dan tim staf
1.      Peran Rumah Sakit
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1691/ MENKES/ PER/ VII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit, tentang Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada poin enam tentang Belajar dan Berbagi Pengalaman tentnag Keselamatan Pasien. Penerapan dalam mendorong staf untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul, langkah-langkah tersebut antara lain:
a.       Pastikan staf yang terkait telah terlatih untuk melakukan kajian insiden secara tepat, yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab.
b.    Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (root cause analysis/ RCA) yang mencakup insiden yang terjadi dan minimum satu kali per tahun melakukan Failure modes and Effect Analysis (FMEA) untuk proses risiko tinggi.
2.    Peran Unit atau Tim Staf
a.    Diskusikan dalam tim anda pengalaman dari hasil analisis insiden.
b.      Indentifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak di masa depan dan bagilah pengalaman tersebut secara lebih luas.