Jumat, 21 Maret 2014

Mengetahui tentang Kemoterapeutika/ Knowing about chemotherapeutics

Kemoterapeutika
(Sumber/ source: Djamhuri, Agus.1995.Sinopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan Perawatan.Malang: Hipokrates.)

Bahan kimia yang pada pemberian sistemik mempunyai efek menghambat infeksi disebut kemoterapeutika. Perkembangan kemoterapeutika ternyata dapat spesifik antara lain sulgonamid dan golongan sulfon, anti malaria, anti amuba, antelmintik, anti virus, dan bahkan anti kanker.
1)      Sulfonamid
Rumus sulfonamid menyerupai PABA (para amino benzoic acid), suatu zat yang diperlukan bagi pertumbuhan bakteri. Aktivitas sulfonamid bersifat bakteriostatik dan kompetitik terhadap PABA atau zat yang lain mirip PABA. Kuman yang sensitif terhadap sulfonamid ternyata cukup luas yaitu Gram positif, Gram negatif, trakoma dan beberapa bakteri serta protozoa. Resistensi terhadap sulfonamid terjadi pula, sedangkan riketsia dirangsang pertumbuhan oleh sulfonamid.
Penyerapannya per os baik dan tersebar ke seluruh tubuh termasuk ke dalam otak, plasenta dan janin. Pengeluarannya melalui ginjal, tetapi sebagian dikeluarkan dalam ikatan asetilasi dan dapat mengendap sebagai kristal yang menimbulkan hematuri.
Dikenal bermacam preparat yaitu yang berefek singkat, sedang dan lama. Umumnya yang berefek lama memberikan gejala alergi lebih berat dari pada yang berefek singkat, dengan manifestasi alergi pada kulit, pada mukosa, edema, gangguan saluran cerna, depresi hemopeotik, hepatitis dan sindroma Steven- Johnson yang sering berakhir fatal. Kristal yang dikeluarkan melalui ginjal mengalami asetilasi dan mengendap pada pH air kemih yang rendah. Untuk menghindari kristaluri, penderita harus banyak minum dan minum Na-bikarbonat. Tersedia sediaan kombinasi antara lain tripiron yang berisi sulfamerazin, sulfametazin dan sulfadiazin dengna tujuan mengurangi pengendapan.
Untuk infeksi saluran kemih diberikan sulfisoksazol, sulfisetamid dan beberapa jenisl ian. Sulfonamid untuk slauran kemih tidak membentuk kristal di ginjal. Sulfonamid yangtidak dapat diserap dari saluran cerna digunakan untuk membasmi infeksi, misalnya: sulfaguanidin, sulfalidin, sulfasuksidin dan beberapa jenis lagi.
Pemakaian sulfanomid di Indonesia cukup banyak, karena harga murah. Indikasi sulfonamid adlaah untuk pengobatan infeksi saluran kemih, gonokokus, streptokokus, diare,infeksi slauran napas, luka dan sebagai obat tetes mata pada konjungtivitis.

2)      Antiseptik saluran kemih
Pemberian infeksi saluran kemih hanya mungkin, bila obat berada dalam keadaan aktif di saluran kemih. Banyak antibiotika maupun kemoterapeutika dikeluarkan melalui saluran kemih dalam keadaan tidak aktif lagi. Obat seperti asam mandelat, beberapa zat warna, asam nalikdiksat, nitrofurantoin, furozolidin, piridium dan beberapa jenis lagi memenuhi persyaratan sebagai antiseptik saluran kemih.

Pada penggunaan kateter, larutan irigasi dapat ditambahkan polmiksin, neomisin dan amfetorisin B bila terdapat infeksi jamur.