Minggu, 23 Maret 2014

Raja Kera Sakti (Sun Go Kong), di dalam Mitologi Cina, "Perjalanan Ke Barat”/ Way Monkey King ( Sun Go Kong ), in the Chinese mythology , " Journey to the West "

Raja Kera Sakti (Sun Go Kong), di dalam Mitologi Cina, "Perjalanan Ke Barat”
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Mitologi Cina.Depok: Oncor Semesta Ilmu.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. www.ithinkeducation.blogspot.com)

            Pada Awal abad masehi, pemikiran atau filsafat Taoisme mendominasi pemikiran orang Cina. Taoisme berasal dari Tao Te Ching (Dwo de Jing), kumpulan delapan puluh satu bait yang ditulis oleh Lao-tzu. Tao Te Ching meletakkan empat ide yang diikuti oleh Tao, biasanya diterjemahkan sebagai “Jalan”, tenaga kehidupan alami jagat raya. Juga diucapkan sebagai tak mencampuri urusan yang lain, atau wu-wei, dengan makhluk hidup dan energy.
            Dari sebuah filosofi, secara bertahap Taoisme berkembang menjadi sebuah agama. Kuil-kuil didirikan, dan kera-kera diberi tugas untuk mengawasi tempat ibadah ini. Kayangan Taoisme dengan cepat dipenuhi para penguasa, permata kaisar, yang dibantu oleh 80 dewa dan dewi. Neraka juga dikuasai oleh kaisar, Yen-lo, dengan sekumpulan setan yang mengawasi fungsinya. Taoisme kemudian dikagumi dengan keabadiannya, mantra, ramuan, alkimia, dan kekuatan ajab seprti terbang dan berubah wujud (dari bentuk menjadi bentuk lainnya.
            Lima belas abad kemudian, seorang anggota pemerintah bernama Wu Ch’eng-en menulis sebuah novel terkenal yang berjudul “Perjalanan ke Barat”. Mitos kembalid diceritakan di bagian awal novel itu. Novel itu menampilkan karakter yang paling terkenal dalam legenda Cina, Raja Kera. Tingkah lakunya menunjukkan pelatihan dan kekuatan Kera Tao. Ia gagah, kasar dan tamak. Namun akal cerdas dan kepribadian yang menyenangkan menjadi kera ini di senangi.

     I).            Kera batu lahir
            Di pegunungan bunga dan buah-buahan, sebuah batu ajab melahirkan sebuah telur batu. Dari telur ini muncul seekor kera, yang bernama Sun Go Kong, tindakan pertama yang dilakukannya adalah melompat dan berkeliling ke segala penjuru. Matanya bersinar seperti petir, dan giginya berkilau seperti bintang di malam hari.
            Ia bermain dengan kera lainnya, serigala, harimau dan kijang. Namun ia memiliki nafsu makan yang sangat besar dan sering memakan rumput, dedaunan, buah beri dan buah-buahan lainnya. Kepribadian yang menyenangkan dan rasa ingin tahunya membuat sang kera menjadi hewan paling terkenal di gunung.
            Suatu hari, si Kera melompat melewati air terjun kecil dan menemukan sebuah gua di baliknya yang dilengkapi dengan mangkuk, batu, cangkir, dan kursi. Dengan senang, si Kera memanggil kera-kera lain untuk datang dan melihat sesuatu yang ditemukannya. Ketika mereka dating, kera-kera itu mengambil peralatan, membuat diri mereka nyaman di dalam gua itu, dan mengangkat si kera sebagai raja. Di tengah anggrek dan tumbuhan aromatic yang tumbuh di gunung, par kera itu tinggal dengan bahagia selama berabad-abad.
            Namun pada suatu hari, si Raja Kera menangis sesunggukan. Ia sadar jika ia akan segera menghadap Yen-lo (Kaisar Neraka/ Raja Kematian). Menanggapi ketakutannya, ia mencuri beberapa baju, sandal dan pergi untuk mencari rahasia keabadian. Kemampuan ia pergi, ia menirukan ucapan dan tingkah laku manusia, namun manusia hanya tertawa melihat bajunya yang aneh; baju merah, ikat pinggang kuning dan sepatu hitam. Selama sepuluh tahun, ia berkeliling dari satu desa ke desa lainnya hingga akhirnya menemukan gua keabadian. Setelah aterus menerus membujuk, ia akhirnay diterima sebagai murid oleh seorang suci.
            Dari orang suci itu, si Kera mempelajari ajaran Tao, belajar menulis dan berbicara dengan baik. Ia harus menyapu lantai gua, mengumpulkan kayu bakar, mengambil air, dan merawat taman. Setelah beberapa saat, ia belajar banyak cara dari orang suci. Sekarang, ia dapat mengubah wujudnya menjadi 72 bentuk pohon yang berbeda, hewan dan batu. Setelah membujuk berkali-kali, orang suci itu akhirnya mengajarinya cara untuk terbang dengan membumbung di atas awan. Ketika sudah menguasai beberapa keahlian ini, ia memamerkannya di depan murid lainnya. Suatu hari, orang itu menangkapnya sedang mengubah wujudnya menjadi pohon cemara. Orang suci itu marah karena si Kera hanya menyiakan kemampuannya untuk pamer; si Kera akhirnya diusir dari gua.

  II).            Kepulangan Pertama
Si Raja Kera kembali pulang ke rumahnya di gunung buah dan bunga. Anak buahnya menyambutnya dengan rebut, mereka melaporkan bahwa ada siluman yang telah merampok gua mereka. Mereka gagal menangkap siluman ini. Setiap kali muncul, merka telah mengambil beberapa abak kera dan mengurung mereka hingga ia siap memakannya.
Langsung saja si Raja Kera mengumumkan untuk menantang siluman ini. Ketika siluman ini mendengar teriakan itu, ia tertawa kepada kera itu. Ia mengambil pedangnya dan mewujudkan dirinya menjadi makhluk yang tipis. Siluman dan si Kera bertarung selama beberapa jam, saling memukul dan berkelit, menusuk dengan hebat, dan menendang dengan tangkas. Akhirnya, si Kera teringat salah satu trik yang telah ia pelajari dari orang suci. Dengan cepat, ia menarik sejumput rambut dari kepalanya, menggigit rambut itu menjadi potongan kecil, meniupkan ke udara dan berteriak “Berubah!” segera, sejumputrambut itu berubah menjadi ratusan kera kecil yang mengejutkan siluman dengan serbuannya. Kera kecil itu menghajar siluman hingga mereka berhasil mengusirnya. Kemudian si Kera mengubah kera-kera kecil itu menjadi rambutnya kembali. Ia membebaskan anak-anak kera yang ditahan dan mengembalikan mereka kepada orang tuanya. Untuk merayakan kembalinya raja mereka, gua kera ini mengadakan pesta kurma, buah-buahan, dan anggur.

III).            Berkunjung ke Raja Naga
Si kera berpikir, adalah benar jika siluman itu menertawakannya. Ia adalah seorang raja tapi ia tidak memiliki baju dan senjata layaknya seorang raja. Oleh karena itu, si Kera membisikkan mantra dan seekor merpati ke dalam laut untuk menemui Raja Naga di Laut Timur. Ketika ia meminta senjata yang cocok Raja Naga menunjukkan kepada Si Kera sebuah tiang besi yang beratnya beberapa ton. Tak ada seorang pun di laut yang bisa mengangkatnya, ada juga yang takut dengan keanehannya, bersinar terang. Si kera mengambil tongkat itu, mengucapkan sebuah mantra, dan mengubahnya menjadi batang besi yang cocok untuk menjadi senjata. Si kera melakukan beberapa tusukan dan tangkisan. Si kera juga menangkis dan mengayunkan tongkat itu dengna kasar di udara hingga membuat kura-kura yang ada di atasnya, kepiting dan udang dan pasukan lobster semuanya menyingkir dari jalannya.
Namun si kera tidak puas dengna tongkat besi yang sangat bagus ini. Kemudian, ia minta pakaian yang cocok dari Raja Naga. Raja Naga memanggil saudara naganya dengan memukul gong. Dari harta mereka, naga itu memberinya sepasang sepatu yang dapat menginjak awan yang terbuat dari serat teratai, tutupnya terbuat dari bulu phoenix (elang api), dan rangkaian serat rombi terbuat dari emas kuning. Tanpa sopan santun dan ucapan terima kasih, si kera pergi begitu saja. Raja naga dan saudaranya sangat marah dengan tingkah laku si kera yang tak tahu sopan santun dan protes pada para dewa di kayangan mengenai tingkah laku raja kera.
Ketika si Kera kembali ke rumahnya di gunung, ia memamerkan pakaian barunya. Ia bersolek dan berputar-putar di depan para kera yang terkagum-kagum. Kemudian si Kera menarik tongkat besinya. Pertama, ia mengubahnya menjadi sebuah jembatan yang panjang yang melengkung melintasi sungai yang paling luas. Akhirnya, ia menyusutkan tongkat besi itu menjadi sulaman benang yang tipis dan mengangkatnya di belakang telinganya, menyeringai pada anak buanya yang terheran-heran. Dengan pakaian dan senjata barunya, si Kera mengatakan bahwa ia sederajat dengan semuah dewa di kayangan.

IV).            Raja kera diberi pekerjaan di Kayangan
Para dewa di surge merasa terganggu dengan tingkah laku si Kera dan memutuskan untuk menangkap sosok yang kurang ajar ini. Para dewa mempercayakan dua siluman dari dunia bawah (neraka) untuk mengikat si Kera dan membawanya ke hadapan Sepuluh Hakim Kematian. Si Kera membuat keributan dan memprotes penangkapannya dengan sengit. Ia meminta para hakim untuk memeriksa Buku Kematian, yang merekan setiap rentang masa hidupnya semuah makhluk di bumi. Setiap kali mencela para hakim, si kera dengan cepat mencoret namanya di Buku Kematian dengan kuas hitam tebal. Tanpa namanya di buku itu, siluman dari dunia bawah tidak memiliki alas an kecuali melepaskannya.
            Karena para dewa tidak berhasil mengirim si kera ke dunia bawah (neraka), kaisar Permata (kaisar Langit/ kayangan) memutuskan untuk mengawasi si kera dari kayangan. Ia memanggil raja kera dan memberinya pekerjaan sebagai penjaga kandang. Si kerea harus member makan, merawat, dan memberi minum ratusan kuda di kayangan. Si kera merasa sangat terhinda karena diberi pekerjaan yang kasar sehingga ia meninggalkan kayangan dengan marah dan kembali ke guanya di gunung. Ketika pengadilan resmi kayangan dating ke gua untuk menjemputnya, si kera meminta mereka agar memberinya pekerjaan yang lebih penting.

  V).            Si Kera membuat keributan di kayanangan
Kaisar permata (kaisar langit/ kayangan) menyuruh si kera mengurus taman persik. Buah kecil berbunga dan masak menjadi bua persik paling manis di seluruh jagat raya. Buah persik itu akan memberikan kebijakan, dahan yang kuat, keremajaan yang abadi, dan tubuh yang bercahaya bagi siapa saya yang beruntung memakannya. Kera yang rakus memberitahu pengawalnya untuk berdiri di luar kamarnya ketika ia tidur. Namun bukannya tidur, ia malah memakai jubahnya yang berkilau dan mencuri di taman di maan ia makan dengan rakus buah persik yang masak. Kemudian ia melingkar dan tertidur di kebun.
Tanpa diketahui oleh si kera, sebuah pesta mewah diadakan untuk para dewa. Sore itu, gadis peri memasuki taman persik untuk mengambil buahnya. Mereka sangat kaget karena menemukan banyak cabang yang patah, buah persik yang berlubang dan seekor kera yang mengantuk  mencaki-maki mereka karena mengganggunya. Ketika para peri memberitahu tentang jamuan mewah, tiba-tiba si kera sadar bahwa ia tidak diundang. Pikiran mengneai daging yang langka, anggur dan banyak buah-buahan membuat kera yang rakus ini lapar lagi, dan ia siap-siap untuk mencari cemilan di perjamuan nanti.
Si kera mencuri di dapur kayangan dan mengetuk wadah bamboo yang beruap dan memenuhi dirinya sendiri dengan kue bolu yang lezat. Kemudian ia berjingkat ke gudang minuman anggur dan dengan rakus meminum beberapa tong anggur, yang masing-masing lebih wangi dariapda yang sebelumnya. Dalam ketergesaannya, ia menaikkan beberapa barel anggur dan menjatuhkan beberapa tong. Si kera berlari ke kegelapan malam, khawatir koki istana akan menemukannya.
Ia mencari tempat untuk bersembunyi, hingga tersandung Istana Tushita, di mana seorang filosof besar Lao-tzu tinggal. Karena seroang bijak itu tidak ada di rumah, si kera mengintip semua ruang di rumah sang filosof. Di laboratorium kimia, si kera menemukan lima labu yang penuh berisi ramuan keabadian. Di atas meja, hamper seratus pil menggelinding dari temuan yang didinginkan, yang dengan rapi berbaris, siap menuju perjamuan. Ia menciduk segenggam pil dan meneguknya seperti kedelai panggang, menyebarkan sisanya berserakan di lantai. Ia menjatuhkan di tangan dan lututnya dan mengambil pil yang tersisa, menjungkirbalikkan beberapa meja di ruang kerja sang filosof yang berantakan. Melihat kekacauan yang telah ia buat di laboratorium kimia, dan mengikat kejadian sampah di taman persik, dapur dan gudang anggur, si kera memutuskan untuk pergi diam-diam dari kayangan.
Ketika ia kembali ke rumah gunungnya, para kera menyambutnya dengan anggur dan kurma, namun segera terkalahkan oleh anggur yang lebih baik dari kayangan; raja kera mencela makanan daerah itu. Ia membual akan membawa kembali anggur kayangan yang paling enak. Si kera kembali ke kayangan dan mencuri tong-tong anggur yang tersisa. Ia membawa anggur murni ke gua air terjunnya dan mengadakan pesta di guanya.
Ketika kaisar Permata (kaisar langit/ kayangan) mengetahui kekacauan yang terjadi, ia mengirim jenderal pasukan kayangna untuk menangkap si pencuri. Si kera bertarung dengna mereka menggunakan sulaman benang, yang ia ubah menjadi tongkat perang yang besar. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan si kera. Bahkan ratusan ribu pasukan kayangna yang bertarung dengna kapak, tombak, dan pedang tidak bisa menandinginya. Demikianlah keunggulan seni berperang si kera yatim piatu yang lahir dari telur ajaib.

Perjalanan ke Barat

Agama Buddha, yang dibawa dari India, pertama kali dikenalkan di Cina pada tahun 67 Sebelum Masehi. Penemunya Siddharta Gautama yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sang Buddha. Ia mengajarkan bahwa penderitaan disebabkan oleh kerakusan yang bisa diatasi dengan berpikir tenang (meditasi). Ketika seseroang meninggal, ia akan dilahirkan kembali di kehidupan yang lain (reinkarnasi). Siklus kelahiran kembali ini hanya bisa dipatahkan ketika seseorang hidup dengan sangat baik dan telah terlepas dari ikatan alamiah manusia dan kecintaan akan materi.
Kisah perjalanan ke barat merupakan cerita yang didasarkan pada perjalanan seorang biarawan bernama San Zang (biksu Thong Sam Chong). Pada suatu ketika, apda masa Dinasti Tang (618-906 Sebelum Masehi). San Zang melakukan perjalanan kunjungan ke India selama tujuh belas tahun. Ia membahayakan hidupnya berkali-kali untuk tujuan membawa kembali kitab suci Buddha ke Cina. Kisah ini lalu menjadi cerita fiksi, semuanya berjumlah 81 petualangna, kemudian dibentuk menjadi sebuah kisah yang lebih besar.
Sosok penting Buddha yang lainnya adalah Kuan Yin (Dewi Kuan Yin), dewi kasih sayang, yang juga muncul dalam kisah ini sebagai penjaga San Zang dan para pengikutnya (muridnya) dalam melakukan perjalanan. Ia sangat kuat dan mampu “melepaskan rantai penjara, membaut bisa dari ular, mencabut petir dari kekuatannya”. Meskipun para pejalan ini dibimbing oleh Dewi Kuan Yin, mereka harus menggunakan kecerdikan mereka sendiri untuk mengecoh siluman dan bahaya yang mereka temui di tengah perjalanan.

VI).            Si kera sakti dihukum di gunung “lima jari”
Setelah si kera mengalahkan pasukan jenderal kayangna, ia berencana menggulingkan kaisar permata (kaisar langit/ kayangan). Para dewa dewi tercengang dengan keberaniannya dan saling berbisik satu sama lain dengan nada terkejut.
Akhirnya, sang Buddha turun tangna. Semua dewa di kayangan mendengarkan dengan seksama perintah dewata untuk berhenti bertarung dengan si kera. Buddha bertanya pada si kera, mengapa ia ingin menggantikan kaisar langit (Kaisar Permata)? Si kera menjawab bahwa kesaktian mantra ajaib dan kemampuannya bertarung membuatnya lebih unggul dari siapa pun di kayangan, termasuk kaisar langit. Si kera membual tentang bagaimana ia mampu mengubah dirinya menjadi 72 berubahan hewan, tumbuhan dan batu. Ia membual bahwa loncatannya bisa membawanya melewati awan hingga seratus atau delapan ratus “li” ke ujung dunia.
            Sang Buddha memberikan sebuah tantangan sederhana kepada si kera. “Lompatlah hingga melintasi telapak tanganku maka kayangan akan menjadi milikmu,” ucap sang Buddha menantang. Si kera tersenyum karena melihat telapak tangan Buddha tak lebih dari delapan inci dari ujung jari hingga pergelangan tangannya. Kemudian si kera mengambil nafas panjang dan melemparkan dirinya sendiri melewati udara. Ketika mendarat, ia hanya melihat lima pilar yang menyangga dunia. Merasa yakin bahwa telah meloncat melewati ujung bumi, si kera tertawa karena betapa mudahnya memenuhi tantangan sang Buddha. Untuk menandai areanya, ia mengambil sebilah rambut dari kepalanya dan mengubahnya menjadi sebuah kuas. Dengan kemampuan kaligrafi terbaiknya, ia menulis “Si kera, orang yang paling hebat, telah mencapai tempat ini” kemudian ia meloncat dengna bahagia untuk kembali ke istana, tak sabar untuk memakai mahkota.
            Sang Budda tersenyun dan menunjukkan telapak tangannya pada Si Kera. Di sebelah jari tengah terdapat sebuah miniature kecil bertulis “Si kera, orang yang paling hebat, telah mencapai tempat ini” si kera sadar bahwa ia belum mencapai ujung dunia, hanya melompat separuh dari telapak tangan sang Buddha. Sang Buddha memegang si kera dan menguncinya di dalam sebuah batu besar yang tingginya mencapai puncak gunung. Ia mengurung si kera di sana selama lima ratus tahun.

VII).            San Zang (biksu Thong Sam Chong) mencari kitab suci (Tripitaka) di India

Sementara itu, Cina dipenuhi oleh orang tamak, jahat dan senang berperang. Hanya sedikit orang yang mengamalkan ajaran Buddha. Sang Buddha berpikir bahwa ajaran akan mendorong manusia untuk memiliki sifat belas kasih. Namun ia sadar, jika ia menjauhkan kitabnya dari mereka, orang-orang itu tidak akan mendengarkan kata-katanya. Sang Buddha juga tahu bahwa manusia harus ke India untuk mengambil kitab itu sendiri. Lebih jauh lagi, ia ingin kaisar Cina akan mendanai perjalanan itu dna memerintah anak buahnya agar membatu si pejalan selama perjalanan mereka. Rakyat Cina akan menghargai kitab Buddha jika mereka terlibat untuk mendapatkannya.
Sang Buddha memanggil Dewi Kuan Yin ke rumahnya (Sang Buddha) di India. Dewi Kuan Yin setuju jika perjalanan untuk mendapatkan kitab itu sangat penting. Orang di bumi sangat membutuhkan ajaran spiritual. Karna perjalanan dari Cina menuju India sangat berbahaya, Dewi Kuan Yin menawarkan untuk melakukan berjalan kaki terlebih dahulu, dengan rute antara rumah Buddha di India dan istana kaisar di Cina. Dalam waktu bersamaan, ia bisa mengira dan berhadapan dengan bermacam-macam bahaya yang mungkin di hadapi oleh para pejalan di sepanjang jalan. Sang Buddha setuju dengan usulan Dewi Kuang Yin.
Akhirnya, Dewi Kuan Yin tiba di istana kaisar Cina. Ketika ia menjelaskan misinya, kaisar setuju untuk mendanai perjalanan menuju ke India. Seperti Buddha dan Dewi Kuan Yin, Kaisar Cina sangat kawatir dengan ketamakan dan keegoisan rakyatnya. Jika seperti yang diharapkan, pengembara yang berhasil dengan pencairan itu, kebaikan dari agama baru bisa disebarkan di seluruh duni. Namun, kaisar tahu bahwa orang yang mengembara bisa hilang dengan mudah di pegunungan tinggi yang dingin selama perjalanan. Harimau, serigala dan ular bersembunyi di setiap hutan. Cerita mengenai hewan buas itu sangat mengerikan, namun orang juga takut akan dongeng mengenai siluman dan roh yang bisa mengubah wujud mereka sesukanya.
Ketika kaisar meminta para pengembara, tidak ada satu pun yang mau. Terakhir, seorang biksu rendah hati, bernama San Zang (biksu Thong Sam Chong) menawarkan diri untuk mengambil kitab suci itu. Teman biksu San Zang (biksu Thong Sam Chong) dari kuil terheran bahwa lelaki sederhana itu mau melakukan misi yang berbahaya. Mereka cemas akan keselamatan San Zang (biksu Thong Sam Chong). Biksu berani itu menjawab bahwa hati yang tulus dan perjanjian suci untuk mengambil kitab suci akan melindungi dari bahaya. Seperti sang Buddha, Dewi Kuan Yin, dan kaisar Cina, biksi itu prihatin dengan sedikitnya kasih syaang yang ia lihat dalam diri manusia. Ia berharap ajaran Buddhha akan menolong manusia untuk belajar cara hidup yang baru dan lebih baik.
Kaisar Cina sangat senang. Karena kitab usi yang disebut Tripitaka, di India. Kaisar menamai biksu itu (San Zang [biksu Thong Sam Chong])dengan nama “Tripitaka”. Ketika San Zang (biksu Thong Sam Chong) keluar, udara musim gugur siap untuk membekukan tulang sang biksu dan cahaya yang beku melingkupi bumi. Sepanjang jalan, Dewi Kuan Yin membimbing sang biksu dari jauh, namun ia tidak bisa ikut campur dengna keputusan dan tindakannya. Kemudian San Zang (biksu Thong Sam Chong) bertemu dengan kera sakti, siluman babi (Chup Pat Kay), monster pasir rambut (Whu Xing), dan naga (kuda putih).

VIII).            San Zang (biksu Thong Sam Chong) bertemu dengan muridnya (Kera Sakti, siluman Babi, siluman monster pasir, dan naga atau kuda putih)
Ketika San Zang (biksu Thong Sam Chong) melintasi barisan gunung yang terakhir, ia menemukan kera sakti yang tertutup batu kotak. Lima ratus tahun telah berlalu sejak tantangan sang Buddha. Si kera menyesal karena kerakusan dan kesombongannya. Seperti yang lainnya, ia setuju menganut ajaran Budda dan menawarkan bantuannya untuk perjalanan mulia ini. Kera sakti sebagai murid pertama dari San Zang (biksu Thong Sam Chong)
Dengan seorang pembantu (kera sakti), San Zang (biksu Thong Sam Chong) melanjutkan perjalanan di jalan pegunungan yang tinggi, tercium bau busuk. Pembantu San Zang (biksu Thong Sam Chong) yakni kera sakti, menemukan seekor babi berhenti dengan cepat ketika San Zang (biksu Thong Sam Chong) memecikkan beberapa bunga teratai di sekitar mereka. Ia mengenali San Zang (biksu Thong Sam Chong) menceritakan bahwa dulunya ia adalah seorang dewa, yang dihukum karena perkara cinta. Siluman Babi, yang bernama Chup Pat Kay, memohon kepada San Zang (biksu Thong Sam Chong) agar mengembalikannya ke kehidupannya yang sebelum di kayangna. San Zang (biksu Thong Sam Chong) meminta untuk menjalani takdir ini agar bisa kembali ke kayangan dengan menolong pejalan, bukan menyerang mereka. Lalu siluman babi membantu San Zang (biksu Thong Sam Chong) sebagai murid kedua.
Dengan dua murid, San Zang (biksu Thong Sam Chong) mencatatjarak dan lokasi pegunungan yang terhampar sepanjang jalan Cina menuju India. Ketika menyeberangi sungai, monster pasir berambut yang menyeramkan melompat keluar. Monster pasir berambut menyerang muridnya (kera sakti dan siluman babi). Ketika mengetahui San Zang (biksu Thong Sam Chong) berdiri dipinggir sungai, ia menunduk di depannya dan mengatakan bahwa ia akan memakan pejalan yang menyeberangi sungainya. Monster itu berusaha untuk sembudyi dari tatapan San Zang (biksu Thong Sam Chong) dan dari Sembilan tengkoran yang ia kenakan di lehernya, lalu ia memohon pada San Zang (biksu Thong Sam Chong). San Zang (biksu Thong Sam Chong) meminta monster pasir berambut itu agar menyesali perbuatannya dengan membantu para pejalan, bukan menakuti mereka.
Kemudian, San Zang (biksu Thong Sam Chong) dan ketiga muridnya didatangi seekor naga. Naga biasanya tidak berbahaya, namun naga ini benar-benar mengganggu. Di masa naga ini menjadi dewa, ia tidak sengaja membakar kerajaan ayahnya dan merusak beberapa mutiara kebijaksanaan. Ketika ia menungguh hari eksekusinya dengan penasaran, naga yang dihukum itu menyerang para pejalan. San Zang (biksu Thong Sam Chong) berjanji akan mengubah keputusan kematian jika si naga mau berubah. Si naga sangat setuju dan mengubah dirinya menjadi seekor kuda putih untuk membatu San Zang (biksu Thong Sam Chong) dan ketiga muridnya.
Mereka berlima akan menjalani 81 petualangan untuk mendapat kitab suci dari India. Berkali-kali, mereka bertemu dengan raksasa yang berbahaya, monster dan siluman yang menunggu dengna syair. Karena San Zang (biksu Thong Sam Chong) adalah biksu Buddha muda dengan hati yang tulus, roh jahat yang berusaha memakannya. Para siluman itu ingin memakan dagingnya.
Si kera menggunakan semua kekuatan ajaibnya, terbang, berubah wujud, tak terlihat, melompat, dan tongkat jarum sulamnya. Untuk membela sang biksu. Ia bertarung dengan siluman tengkorak, kalajengking raksasa, siluman mimpi, siluman kera Tompeyuhung, siluman ular, siluman beruang, dan sebagainya. Si kera berenang di minyak mendidih, kepanya terpotong (kemudian ia menumbuhkan yang baru dengan mudah), dan perutnya terpotong, namun tidak ada kejahatan yang menyerangnya yang dapat bertahan lama.

IX).            Mendapatkan kitab suci (Tripitaka)   
Akhirnya, para pejalan itu sampai di India. Mereka diberi hadia kitab suci (Tripitaka). Lima pejalan itu kembali ke Cina dengan sangat bahagia. Sekarang, semua orang bisa melihat kitab suci dan manusia belajar untuk mengesampingkan kerakusan mereka dan mengikuti ajaran Buddha dan ajaran Tao. Dalam keadaan ini, rakyat hidup harmonis dan bahagia selama berabad-abad.


IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):