Kamis, 13 Maret 2014

Zat Infeksi, Strategi Dasar Terapi Antimikroba/ Infectious Substances, Basic Strategy Antimicrobial Therapy

Zat Infeksi, Strategi Dasar Terapi Antimikroba
(Sumber/ source: Olson, James. M.D., Ph. D.2004.Belajar Mudah Farmakologi.Jakarta:EGC.)
Suatu perang terjadi antara peneliti dan klinis terpandai di dunia melawan bakteri. Dokter dipersenjatai dengan senjata antibakteri paling mutakhir, sedangakn bakteri hanya memiliki alat pelindung pribadi dan beberapa strategi dasar untuk menangkis senjata. Meskipun demikian, karena jumlahnya besar, kemampuan beradaptasi, dan kecenderungan yang kuat untuk bereproduksi, bakteri sering kali berada di atas angin. Hal terpenting yang harus dipertimbangkan bila menuliskan resep sbuah regimen antimikroba antara lain:
     I).            Untuk menjadi efektif obat harus mencapai bakteri. Ketahui obat mana yang melwati sawat darah otak, kapsul sendi, mata dan dinding abses. Ketahui obat mana yang tidak meninggalkan sistem gastrointestnal dan yang terkonsentrasi dalam traktus urinarius.
  II).            Buat drainase abses dan angkat kateter yang terinfeksu untuk mengoptimalkan pengobatan benda asing yang terinfeksi sangat sulit diobati.
III).            Infeksi yang diobatii tidak adekuat adalah sesuatu yang memusingkan dan mahal pengobatannya bila kambuh. Regimen terapi yang sukses berkisar dari terapi pasien rawat jalan dengan antibiotik oral (misal otitis media) sampai perawatan di rumah sakit berminggu-minggu dengan antibiotik IV (misalnya endokarditis infeksius). Pasien maupun dokter akan dapat berhemat.
IV).            Keefektifan sebuah zat tidak ada hubungan dengan harganya. Hindarkan memakai zat yang mahal bila obat yang tidak mahal akan memadai.

Setelah pendahuluan untuk strategi terapeutik dan mikroba yang sering dijumpai.
A).  Strategi Dasar Terapi Antimikroba
Jangan membahayakan penonton yang tak bersalah: Tujuan utamanya terapi antimikroba adalah membunuh bakteri tanpa membahayakan jaringan pejamu. Obat seperti penisin, yang efektif terhadap bakteri tertentu, tetapi menyebabkan sedikit efek samping, memiliki toksisitas selektif yang tinggi (yaitu, indeks terapi yang baik). Sebaliknya, obat seperti amfoterisin, yang toksik terhadap sel manusia pada dosis terapeutik, memiliki toksisitas selektif yang buruk.
Hindarkan menembak semberangan: identitas organisme penginfeksi dan sensitivitasnya terhadap obat harus ditentukan secepat mungkin sehingga dapat dimulai terapi yang rasional. Jika identitas organisme patogen tidak diketahui dan diberikan terapi empiris, obat harus diganti dengan zat efektif yang spektrumnya sempit bila telah didapat hasil kultur dan sensitivitas. Hasil tes laboratorium berikut ini memberikan dasar untuk terapi antibiotik yang sesuai:
1)      Pewarna Gram: Identias patogan sering kali dapat disimpulkan jika tempat infeksi dan pewarnaan gram untuk mikroorganisme tersebut diketahui. Laporan kerentanan setempat memberikan informasi tentang kerentanan patogen terhadap antibiotik dalam rumah sakit atau daerah tertentu.
2)      Kultur: Kultur adalah standar emas bag identifikasi mikroba. Sayangnya, mungkin dibutuhkan beberapa hari untuk pembiakan dan identifikasi organisme. Kultur yang positif palsu terjadi bila bahan kultur terkontaminasi dan bila organisme berkoloni (tetapi tidak menginfeksi) pejamu. Kultur yang negatif palsu terjadi karena pengambilan bahan yang buruk dari daerah yang terinfeksi, media kultur dan teknik tidak sesuai, dan terpai antibiotik yang telah dimulai sebelum pengambilan spesimen.
3)      Tes identifikasi cepat: aglutinasi lateks dan tes identifikasi cepat yang lain memberikan informasi “sementara pasien menunggu”. Pada umumnya tes ini tidak sesensitif atau spesifik seperti kultur, tetapi dapat mendeteksi adanya organisme yang hidup dan tidak hidup (mati).
4)      Penentuan sensitivitas: sensitivitas bakteri terhadap bermacam antibiotik ditentukan dengan menumbuhkan kultur dengan adanya antibitik. Konsentrasi hambat minimal (KHM) adalah konsentrasi antibiotik yang dapat mencegah pertumbuhan kultur. Konsentrasi bakterisidal minimal (KBM) adalah konsentrasi yang membunuh 99,9% dari inokulum. Titer bakterisidal serum adalah pengenceran serum pasien (yang mengandung molekul antibiotik yang belum didistribuskan ke tempat lain, terikat ke protein plasma, dimetabolisme, atau dieksresi) yang dapat membunuh patogen. Hal ini memberikan informasi tentang apakah konsentrasi antibitok pada pasien tertetnu cukup tinggi untuk menjadi efektif dalam rongga badan (misalnya sendi, selaput otak) yang dicirikan oleh permeabilitas antibiotik yang buruk.
“Cakup” (obat) patogen yang paling mungkin: terapi antibiotik seringakli dimuali sebelum agen penyebab infeksi diketahui. Tempat infeksi dan gejala memberi petunjuk ke identitas mikroba. Pernyataan berikut ini meringkaskan hal utama tentang obat yang paling sering digunakan dalam tempat empiris.
1)      Gram positif: nafsilin (IV) dan dikloksasilin (PO) memberikan cakupan yang memuaskan terhadap kebanyakan bakteri Gram positif dan tidak dirusak oleh penisilinase. Sefalosporin generasi pertama (misal sefaleksin, sefazolin) efektif melawan infeksi yang ditularkan melalui kulit pada pasien operasi.
2)      Gram negatif: sefalosporin generasi ketiga efektif melawan bakteri Gram negatif dan tidak merusak oleh sefalosporinase (enzim yang mendegradasi beberapa sefalosporin). Sefalosporin dan penisin dapat meningkatkan aktifitas aminoglikosida melawan bakteri Gram negatif. Kombinasi “Amp dan Gent” (ampisilin dan gentamisin) memberikan cakupan yang sangat baik terhadap bakteri Gram positif dan gram negatif. Trimetoprim-sulfametoksazzol (bactriim/ sepstra) aktif melawan kebanyakan infeksi traktus urinarius.
3)      Pseudomonas: tikrasilin mencakup kebanyakan bakteri Gram negatif, termasuk Pseudomonas, tetapi tidak untuk mengobati kebanyakan infeksi bakteri Gram positif. Imipenem memiliki spektrum terlebar, tetapi memerlukan pemberian intravena.
4)      Bakteri anaerob dan protozoa: metronidazol mencakup kebanyakan bakteri anaerob Gram negatif dan protozoa.
Mikroba mudah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik. Untuk mempertahankan kegunaan obat yang berspektrum luas, guanakn hanya bila perlu.
Kadang-kadang ada memerlukan lebih dari satu senjata. Cukup sering pula terdapat keuntungan menggunakan obat untuk mengobati sebuah infeksi. Contohnya:
1)      Musuh tidak dikenal: jika anda belum mengetahui organisme penyebab sebuah infeksi, kadang perlu mengobati dengan antibotik yang mencakup spektrum mikroba yang lebar. Seringkali dikombinasikan obat yang mencakup kebanyakan organisme Gram positif (sesuatu sefalosporin) dan obat yang mencakup bakteri Gram engatif (suatu aminoglikosida). Zat yang mencakup bakteri anaerob atau Pseudomonas mungkin diperlukan pula. Terapi dengan obat tunggal dapat diberikan kemudian bila organisme penyerang terkendali.
2)      Untuk mencegah resistensi: bakteri lebih sulit untuk mengembangkan resistensi terhadap dua obat dengan mekanisme yang berbeda daripada mengembangkan resistensi terhadap sebuah zat tunggal.
3)      Untuk mencapai sinergi: kerja beberapa obat menjadikan obat lain lebih efektif. Contoh klasik adalah kombinasi penisilin atau sefalosporin dengan aminoglikosida. Aminoglikosida bekerja intrasel, tetapi sering kali sulit memasuki sel. Penisilin dan sefalosporin mencegah penyembuhan lubang pada dinding sel bakteri, sehingga mempermudah aminoglikosida untuk masuk.
Ketahui obat mana yang membunuh bakteri dan obat mana yang melemahkan. Antibitok bakterisidal membunuh bakteri (SIDAL). Zat bakteriostatik hanya menghambat proliferasi bakteri sambil sistem imun pejamulah yang membunuh bakteri. Zat bakterisidal diperlukan untuk infeksi pada pasien dengan kerusakan sistem imun (kanker, AIDS, diabetes) dan untuk infeksi yang hebat. Pasien harus menjalani pengobatan lengkap. Ketaatan pasien sering kali buruk karena tampaknya infeksi yang dideritanya telah hilang sedangkan kenyataannya hanya ditekan.

Obat harus sampai ke tempat infeksi: otak, sendi, testis dan mata adalah daerah yang “terproteksi” dalam tubuh. Sedikit obat yang menembus barier yang mengelilingi daerah ini. Bila mengobati infeksi di daerah ini, harus dipilih zat yang menembus barier tersebut dan yang aktif melawan organisme penginfeksi. Demikian pula, dinding abses membentuk suatu barier yang efektif terhadap antibiotik. Abses harus diinsisi dan didrainase.