Rabu, 09 April 2014

Asidosis Respiratorik (Kelebihan Asam Karbonat Primer)/ Respiratory acidosis (Carbonic Acid Excess Primer)

Asidosis Respiratori (Kelebihan Asam Karbonat Primer)
(Sumber/ Source: Marilyn e. Doengos Mary Frances Moorhouse, Alice C.Geissleq.1999.Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, silahkan mengikuti di dalam blog/ please follow in the blog: www.ithinkeducation.blogspot.com.2014)

Menunjukkan peningkatan PaCO2 dengan akibat kelebihan asam karbonat (H2CO3) karena defek primer pada fungsi paru atau perubahan dalam pola pernapasan normal. Kondisi mungkin akut atau kronis. Mekanisme kompensasi meliputi peningkatan frekuensi pernapasan: Hb dengan buffer asam karbonat, membentuk ion bikarbonat dan Hb terdeoksigenasi dan peningkatan pembentukan eksresi asam ammonia ginjal dengan reabospsi bikarbonat.

A.    Faktor Predisposisi/ pemberat
1.      Asidosis respiratori akut adalah berkenaan dengan edema pulmonal akut, aspirasi benda asing, takar lajak sedative, anestersia, keracunan barbiturate, inhalasi asap, laringospasme akut, hemotoraks/ pneumotoraks, atelektasis, SDPD, ventilator mekanik, atau sindrom Pickwiekian; kelebihan masukan CO2 misalnya penggunaan masker pernapasan, terapi CSV.
2.      Asidosis respiratori kronis dihubungan dengan emfisema asma, bronkietasis, kelainan neuromuscular, seperti sindron Guillain-Bare dan miastenia gravis, botulisme,cedera medulla spinalis

B.     Dasar data pengkajian pasien (tergantung penyebab dasar)
1)      Aktivitas, gejala: kelelahan; tanda: kelemahana umum, ataksia, kehilangan koordinasi
2)      Sirkulasi, gejala: hipotensi, nadi kuat , warna kemerah-mudaan, kulit hangat berkenaan dengna hipoventilasi menunjukkan vasodilatasi (asidosis berat), takikardia, distritmia, diatoresis, pucat dan sianosis (tahap lanjut dari hipoksia)
3)      Makanan/ cairan, gejala: mual/ muntah
4)      Neurosensori, gejala: perasaan penuh apda kepala (akut: berkenaan dengan vasodilatasi), sakit kepala dangkal, pusing, gangguan penglihatan. Tanda: kacau mental, ketakutan, agitasi, gelisah sombolen, koma (akut), tremor, penurunan reflex.
5)      Pernapasan, tanda: dispnea dengan pengerahan tenaga. Tanda: peningkatan ypaya pernapasan dengna pernapasan cuping hidung/ menguap, penurunan frekuensi pernapasan, kreksis mengi, stridor.

C.     Penyuluhan/ Pembelajaran
Pertimbangna rencana pemulangan: rujuk pada factor predisposisi/ pemberat; DRG menunjukkan rerata lama perawatan 4,1 hari, memerlukan bantuan dengan perubahan terapi terhadap proses/ kondisi penyakit dasar.

D.    Pemeriksaan diagnostic
1)      pH arteri: menurun, kurang dari 7,35
2)      glikarbonat: normal atau meningkat, lebih besar dari 26 mEq/L (pada tahap kronis)
3)      PaCO2: meningkat, lebih besar dari 45 mmHg (primer)
4)      PO2: normal atau menurun
5)      Saturasi O2: menurun
6)      pH urine: menurun 6,0
7)      Kalium serum: normal atau meningkat
8)      Kalsium serum: meningkat
9)      Klorida: menurun
10)  Asam kalium: meningkat

E.     Intervensi
Mandiri:

INTERVENSI
RASIONAL
1)      Pantau frekuensi, kedalaman dan upaya pernapasan: perhatikan hasil nadi oksimetri
1 hipoventilasi dan hipoksemia penyerta menimbulkan distress/ gagal pernapasan. Penggunaan nadi oksimetri dapat mengidentifikasi kelanjutan hipoksia/ respons terhadap terapi sebelum tanda lain atau gejala diobservasi
2)      Auskultasi bunyi napas
Mengidentifikasi penurunan ventilasi/ obstruksi jalan napaas dan kebutuhan/ keefektifan terapi
3)      Kaji terhadap penurunan tingkat kesadaran
Tanda  status asidotik beratm yang memerlukan perhatian segera. Sensorium jernih dengan perlahan karena ini memerlukan waktu lama untuk hydrogen bersih dari CSS.
4)      Pantau frekuensi/ irama jantung
Takikardia terjadi pada upaya untuk meningkatkan pemberian O2 ke jaringan. Disritmia dapat terjadi karena hipoksia (iskemia miokardial0 dan ketidakseimbangan elektrolit.
5)      Perhatikan warna, suhu dan kelembaban kulit
Diaphoresi, pucat, kulit dingin/ lembab berkenaan dengna hipoksemia.
6)      Dorong atau batu dengan membalikkan, batuk dan napas dalam. Tempatkan pada posisi semi fowler. Penghisapan perlu. Berikan tambahan jalan napas seusai indikasi
Tindakan ini memperbaiki ventilasi dan mencegah obstruksi jalan napas atau penurunan difusi/ perfusi alveolar.

Kolaborasi

Intervensi
rasional
1)      Bantu identifikasi/ pengobatan penyebab dasar
Rujuk pada factor predisposisi/ pemberat
2)      Pantau/ grafik seri GDA: kadar elektrolit serum
Mengevaluasi kebutuhan/ keefektifan terapi
3)      Berikan O2 sesuai indikasi dengan masker, kanula, atau ventilasi mekanik. Tingkat frekuensi atau volume tidal ventilator
Mencegah/ memperbaiki hipoksemia dan gagal pernapasan. Catatan: harus digunakan dengan kewaspadaan apda adanya emfisema/ PPOM karena depresi./gagal pernapasan dapat terjadi
4)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi: nalokson hidroklorida (Narcan)
Bermanfaat dalam membangunkan pasien dan merangsang fungsi pernapasan pada adanya obat sedasi
5)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi: natrium bikarbonat
Diberikan pada situasi darurat untuk memperbaiki asidosis bila pH kurang dari 7,25 dan hiperkalemia penyerta. Catatan: alkalosis rebound atau tetani dapat terjadi.
6)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi: larutan IV dari laktat Ringer atau larutan 0,6 M Na laktat
Mungkin bermanfaat dalam situasi tidak darurat membantu mengontrol asidosis sampai masalah pernapasan dasar dapat diperbaiki
7)       Berikan obat-obatan sesuai indikasi: kalium klorida
Asidosis perpindahan kalion keluar ke dalam sel. Perbaikan asidosis kemudian, menyebabkan hipokalemia serum saat kalium masuk kembali ke sel. Keseimbangan pun dapat merusak neuromuskuler/ pernapasan
8)      Batasi penggunaan sedative hipnotik atau tranquilizer
Pada adanya hipoventilasi, depresi pernapasan dapat dengna penggunaan sedative dan dapat terjadi narko
9)      Perhatikan hidrasi (IV/ PO)/ berikan pelembaban
Membantu dalam pengenceran/ mobilisasi sekresi
10)  Berikan fisioterapi dada, termasuk drainase postural
Membantu dalam pembersihan sekresi yang dapat memperbaiki ventilasi memungkinkan kelbihan CO2 untuk dikeluarkan
11)   Bantu dalam alat batu ventilator misalnya, IPPB dalam hubungannya dengan bronkodilator
Meningkatkan ekspansi paru dan membuka jalan napas untuk memperbaiki ventilasi yang mencegah gagal napas.