Sabtu, 12 April 2014

Burung Afrika Grey (African Grey/ Afgrey)/ African Grey birds (African Grey / Afgrey)

Burung Afrika Grey (Africa Grey/ Afgrey)
(Sumber/ Source: Fransiska, Yohana.2014.African Grey, si Abu-Abu Cerdas. Dalam Jawa Pos, tanggal 19 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
African Grey merupakan salah satu burung erdas di dunia. Burung berparuh bengkok itu mampu diajak berkomunikasi sederhana dengan bahasa manusia. Ia juga bisa menirukan kata-kata baru dengan cepa. Yohana Fransiska yang memiliki burung itu membuktikannya. “Ayu, sayang makan jagung,” kata Yohana kepada Afgrey miliknya yang bertengger di tangan. Burung yang diberi nama Caleb itu menjawab dengan lafal jelas, “Nggak mau, nggak mau,
 sambil memalingkan kepala. Yohana pun tertawa mendengar celoteh burung kesayangannya tersebut. “Itu tandanya ia masih kenyang. Di taruh saja jagungnya di kandang, nanti dimakan sendiri,” jelas Yohana.
            Menurut Yohana, selain bisa diajak ngobrol seperti itu, Caleb pintar meniruka. Beberapa kali mendegar, ia sudah bisa mengulang kata-kata baru. Dengan kemampuan tersebut, tak heran jika burung yang masuk jenis parot atau paruh bengkok dengan warna abu-abu terang di sekujur tubuh dan ekor merah cerah itu selalu menarik perhatian sekitar. “Kata-kata apa saja bisa ia tirukan. Memanggil nama saya, menjawab pertanyaan, bahkan bisa memberikan kata penolakan jika memang sedang tidak ingin,” jelas Yohana di kediamannya di kawasan Surabaya Timur.
            Selain cerdas, pada umumnya Afgrey tergolong hewan penurut. Termasuk milik Yohana. Meski asal habitatnya di hutan liar Afrika Tengah dan Barat, Afgrey sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan manusia. Burung dengan harga puluhan juta rupiah yang memiliki panjang sekitar 35 cm itu suka bertengger dengan kaki mencengkram kuat di tangan atau bahu. Ia seolah tak mau terpisah dengan pemiliknya. Sambil dielus-elus lembut di bagian kepala, Yohana memperlakukan Caleb yang berlagak manja. Yohana memelihara Afgrey sejak enam tahun lalu, saat itu berumur setahun. Hingga saat ini dia tak pernah mengalami kerepotan. Hanya perlu menyediakan makanan yang cukup dan menjaga kebersihan. Setiap hari perempuan kelahiran Solo, 20 Maret 1990, itu memberi Caleb sebonggol jagung dan segelas air di dalam kandang besi berukuran 2mx4mx2m. Agar tidak bosan, seminggu sekali Yohana memberi pisang. “Pelihara Afgrey itu gampang. Cukup beri makanan kesukaannya dengan porsi pas. Kesehatannya pun terjaga,”jelasnya.
            Hingga saat ini, Afgrey milik Yohana tidak pernah mengalami sakit parah. Anya pernah mengalami kerontokan bulu dan nafsu makan berkurang. Namun, hal tersebut, menurut Yohana wajar. “Lah, manusia saja pasti pernah mengalami stres karena bosan kok dalam hidunya,” tutur alumnus Jurusan Desain Komunikasi Visual atau DKV Universitas Petra Surabaya itu. Ketika itu terjadi, Yohana menyiasati dengan mengajak Caleb bermain serta mengobrol akrab. Juga memberikan beberapa mainan di kandang. Terkadang pula Yohana menyuapi Caleb dengan lembut dan ekstra sabar, “Dia taitu lumayan manja ke saya. Kalau pas hilang nafsu makan, maunya hanya disuapi saya,” terang Yohana, lantas tertawa.” Juga biar Nggak gampang bosan, setiap hari pasti saya keluarkan dari kandang, lalu saya ajak main-main,” imbuh Yohana.
            Untuk kandang, Yohana membersihkan seminggu sekali sekalian memandikannya. Cara memandikan disemprotkan air, lalu digosok lembut tanpa sabun. Kemudian, ia dikeringkan dengan cara dijemur. Dengan perilaku penuh kasih sayang itu, Yohana berharap Caleb bisa terus menemani nya mengingat Afgrey memmiliki masa hidup rata-rata sampai 49 tahun.

1) Apakah kamu tahu tentang Afgrey?
Memiliki usia rata-rata 4 tahun, rekor usia tertua Afgrey yang dicatat Guinness Book of World Record 2011 adalah 72 tahun. Burung ini mulai menirukan bahasa manusia ketika menginjak usia dua tahun.
Do’s, beri makan jagung serta diariasikan pisang. Sediakan kandang besi yang luas agar dapat terbang bebas. Ajak komunikasi membentuk keakraban sekaligus melatih kecerdasan. Jangan memandikan Afgrey terlalu sering terutama saat dingin sebab jamur akan mudah tumbuh. Jangan beri makan daging untuk melatih kejinakan. Sebisa mungkin hindarkan kandang dari tempat yang banyak angin dan lembap. Jangan gunakan sarung tangan saat memegang, hal tersebut melatih Afgrey agar jadi penurut.

2) Susah Carikan Jodoh

            Afgrey milik Yohana Fransiska berjenis kelamin jantan. Sejak memelihara, Yohana ingin menambah jumlah burungnya. Dia berusaha menjodohkannya dengan burung sejenis milik temannya. Tapi, ternyata hal tersebut tidak mudah. Berbagai percobaan dilakukan. Salah satunya memasukkan mereka ke dalam satu kandang. Diam-diam, Yohana mengamati perilaku dua burung itu. Ternyata, mereka saling cuek. Namun, hal tersebut tidak mematahkan semangat. Cara lain dicoba. Yohana memasukkan rumah-rumahan sebagai tempat kawin serta menyimpan telur mereka kelak. Secara teori, burung Afgrey tidak suka keramaian saat masa kawin. Karena itu, Yohana mengasingkan kandang Caleb di tempat yang tenang atau sepi. Kombinasi cara itu menunjukkan sedikit hasil. Ada semacam keterarikan antara kedua Afgrey itu untuk melangsungkan perkawinan. Beberapa hari memantau dari jarak jauh, Yohana alu memeriksa kandang Claeb yang masih bersama Afgrey betina. Betapa senang Yohana saat menemukan sebutir telur putih. Tapi, begitu diambil, telur itu ternyata gagal ditetaskan. Telur hanya berisi cairan yang mulai membusuk. Meski sampai sekarang usaha mengawinkan itu belum berhasil, Yohana tetap berusaha mencari cara lain untuk menjodohkan Caleb dengan betina lainnya, “Mungkin ia memang masih betah ngejomblo,” canda Yohana.