Rabu, 30 April 2014

Efek Obat yang Tak Diinginkan/ Effects of Unwanted Medicines


Efek Obat yang Tak Diinginkan
(Sumber/ source: Anonim.Buku Ajar Penggunaan Obat dalam Keperawatan Prodi S1 Keperawatan.Surabaya: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Artha Bodhi Iswara.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
Jika suatu obat tidak menunjukkan efek samping maak ada dugaan kuat bahwa obat juga tidak mempunyai efek utama (G Kuschinsky)
Efektivitas terapi tergantung pada kecukupan dosis obat pada tempat bekerja (in situ) uuntuk menghasilkan respon
Efek obat yang tidak diinginkan dikategorikan secara luas sebagai:
Suatu respon atas obat yang mana berbahaya, tak diharapkan dan terjadi pada dosis yang biasanya dipakai untuk profilaksis, diagnosis atau terapi (Instant Clin Pharm)
Predisposisi pasien pada ADR: orang tua geriatri, wanita dan mereka dengan penyakit yang multipel yang minum obat lain dan sebelumnya ada dengan riwayat efek obat yang merugikan/ tak diinginkan.
ADR dapat terjadi dari keadaan sebagai berikut:
1)      Hasiil dari bahan kimia atau efek farmakologis obat sendiri
2)      Kesalahan penatalaksanaan dosis,
3)      Efek farmakologis obat sendiri
4)      Reaksi alergi
5)      Interaksi obat dengan makan dan minuman, serta
6)      Interaksi obat dengan obat
Dalam situasi klinik amat sulit ditaksir apakah reaksi obat itu menyebabkan penyakit atau manifestasi dari perubahan proses penyakit
Variasi respon individu
Variasi secara natural tampak samar-samar dan kurang jelas, bahkan kadang-kadang tak dapat diprediksi.
Obat tertentu yang diminum oleh seseorang, ternyata dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada lain orang yaitu:
1)      Seseorang meraskaan khasiatnya sesuai
2)      Pada seseorang yang lain khasiatnya berbeda; hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan umur seseorang atau penerimaan dan proses ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Eksresi) seseorang.
*pada satu orang dapat mengurangi nyeri bbahkan ada efek samping
ANALGESIK
*pada orang lain dapat mengurangi nyeri dan lebih relaks serta lebih enak.

Hal tersebut merupakan variasi individu dan digambarkan sebagai suatu keadaan distribusi normal.
Efek samping (toksik) dapat terjadi bila seseorang, namun macam atau jenis reaksi yang menimpa individu adalah berlainan.
Toleransi yaitu peristiwa dimana dosis obat harus dinaikkan terus-menerus untuk mencapai efek teraupetik yang sama seperti awal pemakaian obat.
Toleransi terjadi bila suatu obat digunakan pasien dalam jangka panjang; dan terjadi atas konsekuensi perubahan dalam sensitisasi dari sistem organ sehingga pasien memerlukan kenaikan dosis obat, untuk mendapat respon terapi yang sama seperti awal-awal meminum obat.
Toleransi sekunder (didapat) tiimbul setelah suatu obat digunakan untuk bebereapa waktu, organs menjadi kurang peka terhadap obat tersebut sehingga bisa terjadi satu habituasi atau kebiasaan.
Toleransi silang, terjadi diantara zat-zat dengan struktur kimia serupa atau kadang-kadang antara obat-obat yang berlainan.
Tachyphylaxis: toleransi yang timbul dengan cepat sekali dalam beberapa jam, bila pemberian obat diulangi dalam jangka waktu pendek.
Idiosynerasy: respon obat yang berlawanan (sangat kontras) dengan efek pada umumnya (atau disebut reaksi gila?), dinamakan reaksi paradox yaitu tidak biasa Phenobarbital apda Geriatrik memberikan rasa tenang sehingga menginduksi rasa ngantuk dan tidur (biasa)
Namun ada reaksi yang tidak biasa, yaitu orang tersebut malahan menjadi bingung, ketakutan, hiperaktif dan disorientasi.
REAKSI ALERGI
Reaksi hipersensitif pada obat terlibat reaksi immunologik. Molekul bersar: vaksin, insulin, dextrans dapat memprovokasi reaksi immun.
Reaksi alergi (anafilaktik)-jenis segera
Masuk tubuh
*kontak pertama, memberikan reaksi hhipersensitivitas (sensibilisasi) yaitu terutama dibentuk immunoglobulin type Ig E
Ig E (antibody) punya kemampuan melekat pada permukaan Mast sell atau Granulosit basofil.
Reaksi sekunder yang khas (reaksi anafilaktik) khususnya-vasodilatasi, gangguan ketelapaan dinding perifer, kontraksi otot bronchus.
Reaksi anafilaktik terjadi pada tempat terbatas
Asma bronchiale
Hay fever
Urtikaria
Oedem angiioneurotik
Jenis lambat
Beberapa obat dapat berkombinasi dengna protein dikulit membentuk antigen dan disensibilissi limphosit secara spesifik (Lymphosit T). Reaksi AB dan Ag yang sesuai terjadi infiltrasi sel dan menyebabkan kerusakan pada sel kulit dapat berupa ruam, bengkak-bungkahan, gatal dan mengelupas.
*reaksi kulit- reaksi tuberculin
*reaksi kontak:- kromat, garam nikel
*reaksi penolakan terhadap transplantasi

Jenis Khusus
Pemberian obat menimbulkan gejala yang belum jelas dari faktor imunologi
1)      Eczantematous o.k obat-2 tertentu
2)      Sindrom lyell
3)      Sindrom Steven Johnson
4)      Limfadenopati
5)      Sindroma lupus eritmatosus

Reaksi Pseudo-alergi
Bukan karena Ab- Ag tetapi reaksi: pembebasan mediator, mungkin terjadinya pengaktifan komplemen atau mungkin pengaruh rangkaian asam arachidonat
Lain-lain ADR
Tetratogeik dan carsinogenik dapat dinyatakan sebagai reaksi yang tidak diinginkan
ADR
Tindakan Pencegahan
1)      Penggunaan obat tunggal
2)      Anamnesis terhadap reaksi alergi sebelumnya
3)      Tak ada pengobatan lokal
4)      Pengawasan ketat pada pasien terhadap obat
5)      Penjelasan pada pasien tentang bahaya pemakaian obat tak diawasi.
Obat dan Respon Klinik
Fase perlakuan dari obat masuk tubuh sampai timbul respon

A. Fase Farmaseutik
B. Fase Farmakokinetik
C. Fase dinamik

Disintegrasi dari Bahan Sediaan Obat (BSO)
LADME (Liberasi, Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Eksresi)
1) Farmakon-Reseptor
2) Action di jaringan target

Disolsolusi zat berkhasiat



In vitro
Dapat di ukur
In vivo
Berhubungan dengan
In vivo
Mekanisme kerja
1
Bahan Sediaan obat
Dosis yang diberikan
1) Pasti
2) Belum pasti
3) Tidak diketahui
2
Sifat fisiko-kimia
*ampicillin: anhydrat; trihydrat
*erythromycine strearat Ethylsuccinat
Kondisi per orangan patho-fisiologi
Individuu penerima
1) patho-fisiologi
2) keturunan
3) jenis kelamin
4)umur
5) farmakogenetika
3
Reaksi kimia:
*tetra, base/ phosphate
*luminal base/ Na


4
Bahan pembantu/ pembantu obat; tetracyclin+Cal. Phosphate * garam komplek


5
“incompatibility”



Chemical
equivalents
Biological equivalents
Clinical equivalens