Rabu, 30 April 2014

Glosarium Farmakologi Bagian 2/ Glossary of Pharmacology Part 2


Glosarium Farmakologi Bagian 2
(Sumber/ source: Anonim.Buku Ajar Penggunaan Obat dalam Keperawatan Prodi S1 Keperawatan.Surabaya: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Artha Bodhi Iswara.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
1)      Absorpsi: proses yang terjadi bila suatu senyawa atau bahan obat dari tempat atau lokasi pemberian masuk ke dalam peredaran sistemik.
2)      Adiksi/ Ketagihan/ Kecanduan: adalah keadaan toksikasi periodik atau kronik terhadap suatu bahan obat bila pemberian obat tersebut tiba-tiba dihentikan akan mengakibatkan sindroma abstinensi atau sindroma putus obst-withdrawal symptoms.
3)      Akumulasi: meningkatnya konsentrasi obat dalam darah/ plasma/ serum/ jaringan sampai tercapai keadaan tunak.
4)      Alergi: reaksi hipersensitivitas terhadap suatu bahan obat atau makanan biarpun diberikan dalam jumlah sedikit.
5)      Antagonisme: adalah daya kerja obat-obat yang bertentangan
6)      Sinergisme: daya kerja dua atau lebih obat saling menunjang/ bekerjasama.
*sumasi-khasiat 1 ditambah 1 samadengan 2
            *potensiasi-khasiat 1 ditambah 1 samadengan >2
7)      Bahan obat: adalah senyawa kimiawi, berasal dari sintetik, semi sintetik atau alamiah atau biologis yang memberikan interaksi dengan sel manusia atau hewan dan memengaruhi metabolisme mikroorganisme/ parasit/ penyebab penyakit.
8)      Bentuk sediaan obat/ produk obat: bentuk sediaan farmasi yang mengandung zat atau bahan berkhasiat atau bahan tambahan yang diperlukan untuk formulasi obat, dengan dosis dan volume.
9)      Bioavailabilitas: adalah jumlah relatif dari obat yang masuk ke sirkulasi sistemik sesudah pemberian obat dalam Bentuk Sediaan Obat atau SBO tertentu serta kecepatan peningkatan kadar obat dalam sirkulasi sistemik.
10)  Biokivalensi: kesetaraan obat yang tercapai, bila jumlah serta kecepatan absorpsi obat sama dengan obat standar, bila diberikan dengan dosis yang sama.
11)  Biofarmaseutika: ilmu yang mencakup sifat-sifat fisik atau kimia obat atau produk obat atau bahan tambahan atau BSO sreta efektifitas biologik tersebut bila diberikan kepada manusia atau hewan.
12)  Biofase: lingkungan langsung situs atau tempat obat bekerja dalam tubuh.
13)  Bukkal/ Buccal/ Intrabuccal: pemberian obat secara buccal. Dengan menaruh obat di bagian dalam pipi (tidak dihisap atau dikunya) sampai diserap lewat mukosa. Tujuan pemberian secara bukkal untuk menghindari firs-past-effect.
14)  First-past-effect; merupakan fenomena, obat dimana obat dapat di-MB setelah terjadi absorpsi, tetapi belum sempat masuk ke sirkulasi sistemik
15)  Ikatan protein: fenomena yang terjadi bila bahan obat menggabung dengan protein plasma (terutama albumin) atau protein jaringan, dengan membentuk suatu “kompleks”. Kompleks ini dapat berbalik, umumnya ikatan protein. Ini tidak spesifik.
16)  Induksi enzim: enzym indruction adalah peningkatan enzim (aktifitas dan jumlah) yang dapat mengakibatkan membuat obat dipercepat.
17)  Interval dosis/ dosage interval: massa/ waktu antara pemberian suatu dosis obat dengan dosis berikutnya.
18)  Intravaskuler: semua rute pemberian obat dimana obat langsung masuk ke dalam perdarahan: iv/ intra-arterial/ intra-cardial/ pemberian obat intravaskuler bioavailabilitas mencapai 100%.
19)  IV Bolus: obat diberikan secara IV dengan relatif cepat.
20)  Keadaan tunak/ steady state: keadaan lunak sesungguhnya didapat bila obat diberikan berupa suntik infus dengan kecepatan yang konstan, dimana “input” sama dengan “output”. Pemberian obat berulang dosis-ganda, konsentrasi obat dalam darah atau plasma naik-turun, terjadi konsentrasi maksiumum dan kons. Minimum pada tiap interval dosis.
21)  Klirens/ claerance/ bersihan plasma/ CI: adalah volume plasma yang dibersihkan dari obat per satuan waktu oleh seluruh tubuh. Harga klirens adalah konstan untuk berbagai kadar obat dalam plasma. CI=KxVd (ml/menit)
22)  Klirens hepatic/ Hepatic CI: ialah kecepatan klirens seluruh obat dari tubuh yang disebabkan oleh hepar. Besarnya tergantung pada klirens hepatik-instrinsik, fraksi obat tak terikat dalam darah dan peredaran darah dalam hepar.
23)  Klirens kreatinin/ Creatinine Clearance: ratio/ perbandingan kecepatan eksresi kreatinin dalam urine terhadap konsentrasi kreatini dalam plasma atau serum. CL creatinin merupakan ukuran dari fungsi renal (kecepatan filtrasi glomerulus)
24)  Klirens renal/ renal clearance: kecepatan klirens obat (yang tidak ter-metabolisir) yang lewat ginjal (ml/ menit). Besarnya Cl. Ditentukan oleh efek netto dari filtrasi glomerulus, sekresi dan reabsorpsi tubular, aliran darah dan ikatan protein.
25)  Klirens total: adalah penjumlahan semua klirens yang di eliminasi oleh berbagai organ tubuh.
26)  KME/ Knsentrasi Minimal Efektif/ MEC: aKonsentrasi minimum suatu obat darah atau plasma yang memberikan efek teraupetik.
27)  Model Flip-Flop: model menunjukkan kepada fenomena dimana konstanta kecepatan inut obat jauh lebih kecil dari konstanta output. Hal ini terjadi bila konstanta kecepatan absorpsi lebih kecil dari konstanta kecepatan eliminasi.
28)  Obat=drug: adalah bahan/ zat sintetik (semi sintetik), alamiah atau berasal biologik yang digunakan untuk mencegah/ prevensi, mengobati atau mengurangi sakit atau derita yang dialami oleh manusia.
29)  Obat generic: obat dengan nama resmi yang telah ditetapkan dalam farmakope Indonesia dan INN (International Non Proprietary name) WHO untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
30)  Obatt jadi: obat dalam keadaan tunggal atau campuran, berupa salah satu bentuk sediaan yang langsung dapat digunakan untuk terapi.
31)  Potensiasi: daya kerja dua (atau lebih) kombinasi bahan obat lebih besar daripada jumlah daya kerja obat diberikan sendiri -2 (>dari jumlah aljabarnya).
32)  Rate limiting step: proses dengan konstante kecepatan yang paling lambat dari urutan system proses kinetik.
33)  Reseptor: adalah tempat dalam biofase pada mana moleluk obat dapat terikat dan berinteraksi. Reseptor umumnya protein atau bahan yang mirip protein.
34)  Sinergisme: respon yang ditimbulkan oleh dua atau lebih dari obat yang diberikan bersamaan dan yang punya tipe daya kerja serupa. Sinergisme disengaja, karena keuntungannya:
a)      Batas keamanan obat lebih besar
b)      Efek samping kurang karena dosis masing-masing dikurangi
c)      Efek toksik kurang
d)     Efek teraupetik meningkat (total)
35)  Sirkulasi enterohepatik: merupakan fenomena dimana obat melalui empedu masuk ke dalam usus halus; ada kemungkinan obat dapat diserap kembali dari lumen usus ke dalam sirkulasi sistemik.
36)  Sublingual: pemberian obat dengan menaruh di bawah lidah (tidak dihisap atau dikunyah) sampai obat diabsorpsi melalui mukosa. Tujuan pemberian sublingual untuk menghindari first pass effect.
37)  Summasi: respon terhadap obat sebagai hasil jumlah aljabar dayakerja dari dua (atau lebih) obat yang diberikan pada waktu yang sama. Trisulfa
38)  Syarat biokivalensi: ialah petunjuk untuk pemberian in vitro dan/ atau in vivo suatu produk-obat yang harus dipenuhi sebelum obat diperbolehkan untuk dipasarkan.
39)  Tolerance: keadaan yang didapat setelah pemberian obat tertentu dalam jangka waktu lama, dosis obat secara progresif harus ditingkatkan untuk dapat memberikan respon yang sama.
40)  Volume-distribusi: suatu volume hipotesis dari cairan tubuh yang diperlukan untuk melarutkan seluruh jumlah obat dengan konsentrasi yang sama seperti yang didapat dalam darah atau plasma.
41)  Waktu paruh biologik: biogical half life: t ½ adalah waktu yang dibutuhkan untuk penurunan konsentrasi obat dalam darah atau plasma menjadi separuhnya selama fase eliminasi obat dalam darah/ plasma/ serum.
42)  Waktu paruh eliminasi: waktu yang diperlukan untuk mengurangi konsentrasi obat dalam darah atau plasma menjadi separuhnya selama fase eliminasi.
T ½ ditentukan oleh Vol-distr, dan klirens total obat dari tubuh (total body clearance)
T ½= 0,693 K (jam)
Waktu paroh eliminasi mungkin sama, mungkin tidak sama dengan waktu paroh terapeutik atau waktu paruh respon obat.
Obat-obat yang mendapat pengaruh relatif besar pada lintas pertama (FPE) adalah
Beta blocker,         Propranol
Anaestsi local        Alprenolol
Lidokain                Chemotherapy: Nitrofurantoin
Nitroglycerin