Minggu, 20 April 2014

Habitat Hiu Paus (Rhincodon typus) dan World Wildlife Fund di Papua/ Habitat Whale Shark (Rhincodon typus) and the World Wildlife Fund in Papua

Habitat Hiu Paus (Rhincodon typus) dan World Wildlfe Fund di Papua
(Sumber/ Source: Priyandini, Janesti.2014.Mengikuti Kapal Gurano Bintang ke Kampung Terpencil di Teluk Cenderawasih. Dalam Jawa Pos, tanggal 4 April 2014.)
 (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
            Minggu lalu, tim World Wildlife Fund atau WWF Indonesia rutin memantau habitat hiu paus atau Rhyncodon typus di Kwatisore, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua.
            Selasa, 18 Maret, siang saya menemani Casandra Tania, marine species officer WWF, mengatarkan persedian logistik yang baru dibeli ke speedboat yang akan membawa kami menuju Kwatisore. Kwatisore adalah kampung di wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih atau TNTC, yang menjadi salah satu habitat hiu paus. Casandra yang akrab di sapa Cassie itu kebagian tugas belanja logistik. Dia membeli sangat banyak bahan makanan. Dua kantong besar beras, telur, ayam potong, sayuran, buah, dan aneka snack. Kegiatan pemantauan hiu paus tersebut memakan waktu tiga hari. Selama itu kami tinggal di atas kapal. Sebab, lokasi habitat hiu paus jauh dari mana-mana. Dari Nabire saja harus naik speedboat dua jam. Semula kami akan berangkat sore. Tapi, kondisi angin yang cukup kencang membuat tim memutuskan untuk menunda perjalanan. Mereka tidak mau mengambil resiko. Perjalanan akhirnya start esoknya. Speedboat yang diemudikan Badrin Tandiono melaju begitu kencang. Menjauh dari daratan Nabire. Speedboat mengangkut enam orang. Salah seorang di antaranya adalah Dr Brent Stewart, tenaga ahli dari Hubbs SeeWorld Institute. Dia merupakan peneliti asal Amerika Serikat yang dua tahun belakangan menginisiasi pemantauan hiu paus di TNTC.
            Sebetulnya ada dua rombongan yang berangkat ke Kwatisore. Satu rombongan lagi naik speedboat berbeda. Mereka adalah rombongan Kepala Balai  TNTC Ben Gurion Saroy bersama empat angggota timnya. Dua jam kemudian, kami tiba di Kwatisore. Dari kejauhan, saya melihat sebuah kapal berlayar dengan warna yang cukup mencolok. Kesannya seperti kapal mainan anak-anak. Seluruh badan kapal didominasi warna cerah seperti merah, kuning, dan biru. Lambung kapal dihiasi gambar binatang-bnatang laut. Di tiangnya berkibar bendera dari berbagai negara. “Itu kapal kita. Namnya Guurano Bintang atau GB. Selama di sini, kita tidur di Gurano Bintang,” kata Cassie. Gurano Bintang adalah nama hiu paus. Enduduk memanggil hiu paus dengan sebutan Gurano Bintang
            Begitu speedboat merapat, muncul para penumpang GB menyambut kami. Mereka berjumlah 11 orang yang terdiri atas lima ABK atau anak buah kalap, seorang tenaga pemantau hiu paus dari Kampung Napanyaur, seorang mahasiswa S-2 yang sedang melakukan penelitian, seorang dokter gigi PTT atau pegawai tidak tetap serta tiga anggota tim fasilitator WWE. Kapal GB cukup megah. Dari pengalaman berkali-kali “melaut” untuk menyelam, biasanya saya hanya bisa tinggal di sopek, perahu kayu yang cukup besar tapi tidak berkasur. Jadi, kalau ingin beristirahat, hanya beralas kayu. Kapal GB memiliki panjang 24 meter dan lebar 5,5 meter. Kapal GB punya tiga kamar. Letaknya di dek paling atas dan bawah. Satu kamar kapten terletak di ruang kemudi. Kamar itu memiliki ranjang tingkat plus kasur bsa. Serta, dua kamar mandi di sisi kanan dan kiri. “yang sisi kiri toilet cewek. Yang kanan buat cowok, ya” kata Rusdianto atau Anto, satu-satunya koki di kapal tersebut, “Oke” jawab saya.
            Di ruang tengah, ada meja esar dengan kursi busa di sisi kanan dan kiri. Di tengahnya ada televisi layar datar yang dipasang di dinding. Sisi kiri TV dipasang poster edukasi tentang konservasi binatang laut dan peta. Di sisi kanan terdapat papan tulis putih. Di papan tersebut tertulis jadwal piket. Di bawahnya agi ada tulisan bahasa Spanyol dan Indonesia: Le mar estaba serena, serena estaba le mar. Laut itu sunggu tenang, tenag sunggu laut itu. Di bagian lain, ada mesin pendingin untuk menyimpan makanan dan minuman. Juga, ada rak piring dan gelas serta rak buku. Banyak buku cerita dan bergambar tentang biola laut di sana. Suasana mirip ruang TK. “Di sini ruang rapat plus ruang untuk mengajar anak. Ruang makan juga di sini,” kata Cassie.
            Di bagian belakang, ada satu speedboat yang berukuran lebih kecil. Nama speedboatnya Remora. Remora adalah nama genus ikan, masuk family echeniedae. Speedboat itulah yang digunakan kru kapal GB menuju kampung yang mereka kunjungi, sedangkan GB dijangkakrkan tidak jauh dari dermaga. Jika ada pelayaran, GB bersandar di Wasior. Di kota itula kantor WWF Indonesia berada. “Pada trp kali ii, kapal GB berangkat dari Wasior sejak 14 Maret lalu. Sampai April atau Mei masih akan jalan. Mengunjungi kampung.” Kata Beny Ahadian Noor, project Manager WWF.
            Kapal GB sebelumnya adalah kapal program WWF di Alor, NTT. Sebelumnya bernama Koteklema, nama paus yang hidup di sana. Pada 2011, kapal tersebut dialihkan untuk mendukung program mereka di Papua. “Koteklema lalu direnovasi. Dicat ulang oleh mahasiswa Universitas Petra Surabaya. Desainnya disesuaikan supaya bisa jadi ikon. Namanya juga diganti menjadi Gurano Bintang,” jelas Benny.
            Kapal GB digunakan sebagai sarana penunjang program konsesrvasi di TNTC. Salah satunya tenang pendidikan lingkungan hidup. “Biar bagaimana, konservasi tidak akan bisa jalan tanpa pendekatan jalur pendidikan. “Targetnya memang untuk anak SD,. Tapi tidak terbatas usia itu saja. Kalangan dewasa, kelompok agama sampai pemerintah juga,” ujarnya.
            Mengapa target utamanya adalah anak-anak? Beny menjawab, merekalah yang kelak melanjutkan untuk menjaga, melestarikan, serta mengelola sumber daya alam kawasan yang mereka tempati. Jadi, setiap kaapl itu berjalan, mereka selalu mapir ke kampuung yang dilewati. Mereka mengajar ke seklah dasar di sana. Atau, jika tidak ada sekolah, mereka akan mengumpulkan untuk kemudian pentingnya konservasi lingkungan. “Kapal ini menjalankan misi baik saat berlayar maupun saat berlabuh,” ungkapnya. S
            Sasaran program tersebut adalah tujuh kamung. Tentu saja, untuk mengunjunginya, perjalanan harus ditempu berjam-jam dengan kapal. Sebab, hanya satu-satunya akses menuju kampung terpencil tersebut. kawasan TNTC sangat luas. Mencapai 1435500 hektare. Terdiri atas 18 pulau. Kampung itu tersebar dengan lokasi yangg berjauhan. Ada yang sudah memiliki akses darat alias punya jalan darat, tapi banyak yang belum. Meski targetnya hanya tujuh kampung, kapal GB menjangkau lebih dari 20 kampung di TNTC. “Di harapkan,  kapal ini bisa memberikan suasana yang berbeda bagi warga di kampung itu yang jarang melihat dunia luar. Khususnya anak-anak,” terangnya.

            Begitu kami tiba di kapal GB pada Rabu siang, 19 Maret, saya diajak mengunjungi Kampung Kwatisore. Kami naik speedboat lagi sekitar 15 menit. Selain untuk menyampaikan izin berkegiatan, Cassie menemui “anak buah” di kampung itu. Dia memiliki beberapa orang lokal yang diminta menjadi tenaga pemantau hiu paus atau TPHP. Di Kwatisore ada tiga TPHP. Mereka adalah Isac, Agus dan Orpa. Malamnya, tenaga TPHP Kampung Kwatisore benar datang. Mereka jemput dengan speedboat oleh awak GB. Malam itu kami makan makan ma;am dengan menu soto ayam olahan koki Anto. Kami makan sambil bgobrol dan duuduk di tepi kapal. Menikmati angin laut semilir.