Rabu, 09 April 2014

Hati-hati Terhadap Gegar Otak/ Be careful to concussions

Hati-hati Terhadap Gegar Otak
(Sumber/ Source: _.2014.1 Tewas, 10 GO, 7 Fraktur. Dalam Jawa Pos, tanggal 17 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)

            Madiun. Meletus di Kediri, Gunung Kelud juga memakan korban jiwa dan luka-luka di wilayah Madiun. Seorang tewas serta bealsan lainnya mengalami gegar otak GO) dan patah tulang fraktur) akibat terjatuh saat berupaya membersihka abu vulkanis di atas rumah mereka. Sebanyak 2 lainnya menjalani rawat jalan kanrena hanya mengalami luka ringan.. korban twas adalah Suwandi, 55, warga Babadan, Ponorogo yang mengalami gegar otak berat.
            Nyawa Suwandi tetap tidak daat ditolong kendati sempat dirawat intensif di ruang Observasi Darurat (ROD) RSUD dr Soedono Madiun. “Karena mengalami pendarahan heat, sampai di sini belum sempat di operasi sudah tidak kuat. Akhirnya meninggal dunia, pada Sabtu 15 Februari malam,” kata dr Nur Hidayat, spesialis bedah saraf di RSUD dr Soedono, kemarin. 16 Februari.
            Dia mengungkapkan, ada puluhan pasien lainnya yang juga mengalami gegar otak setelah terjun bebas dari ketinggian saat membersihkan debu dari erupsi Gunung Kelud itu. Hingga kemarin, sudah tercatat sekitar 31 pasien yang masuk untuk rawat jalan maupun rawat inap. “Kalau di RSI Aisyah ada enam korban. Yang empat gegar otak, itu saya tangani. Sisanya patah tulang. Sedangkan di RS Santa Clara saya tangani satu pasien gegar otak, lima lainnya patah tulang,” paparnya.
            Di RSUD dr Soedono kemarin, tercatat masih ada lima pasien dirawat intensif akibat jatuh gara-gara membersihkan debu gunung. Tiga dirawat di ROD, sedangkan sisanya di ruang instalasi perawatan intesif/ IPI. Mereka adalah Suratman (37) warga Trenggalek, Suyono (0) warga Magetan, Siti Nurhayati (41) warga Geger Kabupaten Madiun, Jarot Tri Handoko (45) warga Poorogo, dan Ariati (51) warga Desa Tempursari Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun. “Dua baru saja menjalani operasi. Satunya lagi usudah operasi (15/2) malam,” terang Nur Hidayat.
            Dijelaskan, seorang pasien ketika datang di RSUD dr Soedono, sudah dalam keadaan koma. Berdasarkan keterangan dari kerabatnya, korban terjatuh dari atap saat membersihkan asbes yang penuh dengan debu kiriman letusan Gunung Kelud. Lantaran kepalanya membentur telak lantai mengakibatkan pendarahan hebat di otak sebanyak 50 cc. Selain itu, posisi otak bergeser sekitar 1 sentimeter. “Kami ;angsung melakukan tindakan operasi. Kalau tidak begitu, nanti bisa mengancam nyawa,” tandasnya.
            Nur Hidajat bersama timnya melakukan operasi kraniotomi dekompresi untuk mengurangi tekanan ke otak dengna cara mengeluarkan bekuan darah. Selainjutnya, pasien menunggu masa pemulihan sebelum menjalani operasi kranioplasti atau memasang kembali tempurung kepala “Saat operasi pertama itu, tempurung belum dipasang tapi disimpan di bawah kulit kepala. Menunggu posisi otak kembali dulu ke semula, baru kami melakukan operasi kranioplasti nanti,” jelasnya.
            Sedangkan untuk seoerang pasien lainnya, Nur Hidajat melakukan operasi selaput otak karena robek, mencuci otak yang kotor, dan reposisi tempurung kepala yang semula retak dan masuk ke dalam sekitar 1 sentimeter. “Kalau tidak dilakukan cuci otak yang kotor, bisa jadi pasien mengalami infeksi, kemudian kejang. Kalau fatal bisa menyebabkan kematian,” tuturnya.
            Banyaknya kasus pasien yangg datang ke rumah sakit lantaran jatuh dari atap saat membersihkan genteng dari debu Gunung Kelud mengundang keprihatinan dokter bedah saraf itu. Dia mengimbau warga lebih berhati-hati karena gegar otak bukan masalah yang sepele. Kendati banyak di antara pasien tidak perlu menjalani operasi, namun tetap menjadi masalah serius. “jangan anggap remeh, sebab kalau tidak ditangani dengan serius, bisa fatal akbatnya,” tandasnya.
            Sementara itu, Ahmad Efendi, kerabat Siti Nurhayati, pasien yang dirawat di ROD, mengatakan, kakaknya sudah dirawat sejak Sabtu pagi. Siti juga menderita gegar otak akibat terjtuh dari atap saat membersihkan tumpukan berasir. Kaki korban menginjak asbes tannpa penyanggga kayu. “Akhirnya jatuh karena asbesnya pecah, kepala terbentur ke lantai keramik,” terangnya.

            Kata Ahmad kakaknya sempat dirawat di RSUD Dolopo sebelum dirujuk ke RSUD dr Soedono. Hingga kemarin, Siti masih mengeluh pusing di kepalanya yang masih bengkak karena terjadi perdarahan ringan di otak. “Kata dokternya masih perlu di rawat intensif. Mudah-mudahan segera pulih,” ucapnya.