Sabtu, 12 April 2014

Kader Kesehatan (Kader Lestari) selama 27 tahun/ Health Kader (Kader Lestari) for 27 years

Kader Kesehatan (Kader Lestari) selama 27 tahun
(Sumber/ Source: Hikmah, Zallzilatul.2013.Elizabeth, 27 Tahun Jadi Kader Lestari di Pelosok Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam Jawa Pos, tanggal 24 November 2013.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)

            Umur buan kendala untuk terus mengabdi kepada masyarakat sekitar. Elizabeth, 72, telah menunjukkan ketekunan dan kerelaannya 27 tahun membantu para ibu hamil dan balita di desanya, pelosok, Mamuju, Sulawesi.
            Elizabeth bukan siapa-siapa. Dia bukan bidan, perawat, apalagi dokter. Dia hanya seorang ibu biasa yang sudah sepuh, namun diberi kelapangan hati untuk mengabdi hidupnya bagai kesehatan masyarakat di kampung halamannya, Desa Boda-Boda, Kecamatan Topore, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. “Ini sudah panggilan hati, Saya ingn mengabdi kepada Tuhan,” kata Elizabeth sesaat setelah menerima penghargaan sebagai kader lestari nasional di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Sabtu 16 November, penghargaan itu diserahkan langsung oleh Menteri Kesehatan yakni Nafsiah Mboi.
Minimnya kader kesehatan di desa itu membuat kondisi ibu hamil, bayi, dan balita kurang terlayani dengan baik. Tak jarang ditemukan balita yang kekurangan gizi dan tak terurus di desa terpencil tersebut. itulah yang kemudian menggerakkan hati Elizabeth untuk membantu masyarakat yang membutuhkan sentuhan tangannya. Karena itu, tanpa memikirkan imbalan yang akan diperoleh bila membantu “pasien”, Elizabeth memulai “membuka praktik” pada 1986. Caranya, dia mendirikan “pusat kesehatan” semacam posyandu di rumah pribadinya. Posyandu itulah yang ttap setiap saat jadi jujukan warga yang membutuhkan bantuan, khususnya para ibu hamil dan bayi yang kesehatannya terganggu. “Anak-anak dan cucu saya tidak berkeberatan dengan kegiatan semacam posyandu di rumah. Mereka malah embantu biila saya nangani orang,” jelas perempan yang oleh warga desanya dipanggil Nenek Remaja itu.
            Sejak ada di posyandu di rumah Nenek Rumah Remaja, kegiatan kesehatan di desa tersebut hidup. Padahal, semua fasilitas ditanggung keluarga sang nenek. Elzabeth tidak pernah mengharapkan, bahkan meminta imbalan dari jasa membantu warga yang datang ke posyandu. Dia ikhlaskan semua itu untuk mengabdi ke Tuhan. Kegiatan pemeriksaan apda ibu hamil serta peimbangan balita dan bayi terus berlanjut hingga sekarang. Perempuan yang dulu berprofesi sebagai dukun beranak itu setidaknya sedikit banyak mengerti akan posisi dan kondisi bayi yang rewel serta kurang sehat. Selain itu, dia melakukan kemitraan dengan bidan senior di kecamatan. Karena itu, tidak terlalu sulit bagi dia melakukan pemeriksaan dasar bagi ibu hamil. Hanya, dia kini sudah tidak melakukan pertolongan sendiri terhadap proses persalinan. Dia sudah mengetahui bahaya yang mengancam jika penanganan tersebut tidak dilakukan oleh ahlinya meskipun dirinya telah memiliki pengalaman yang memadai untuk membantu persalinan. Kini Elizabeth lebih berhati-hati. Dia lebih memilih memanggil bbidan di kecamatan untuk membantu proses persalinan ibu hamil di desanya. “Nenek punya sekolah tidak tamat. Nenek hanya bermodal semangat dan ingin mengabdi kepada Tuhan dan masyarakat. Untuk itulah, saya jadi kader,” ujar Nenek Remaja.
Setelah bertahun-tahun warga melakukan kegiatan posyandu di rumah Elizabeth, akhirnya pada 2010 Desa boda-Boda mendapat bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM untuk membangun posyandu. Sayang, niat itu terkendala karena tidak ada lokasi yang pas untuk pembangunan posyandu di desa tersbut. Mengetahuui hal itu, Nenek Remaja kembali turun tangan. Dia kemudian mengusulkan agar posyandu tetap di bangun di dekat rumahnya. Dengan sukarela dia memberikan tanah di samping rumahnya untuk digunakan sebagai posyandu. Padahal, kalau dia mau, tanah tersebut bisa dijual dengan harga yang lumayan mahal untuk kehidupan pribadi. Namun, hal itu tak dia lakukan. Dia memilih untuk menghibakan tanahnya demi mengabdi kepada masyarakat. Secercah harapan untuk kesehatan yang lebih baik pun muncul lagi setelah itu. Para ibu hamil dan balita di desa tersebut dapat bernapas lega. Pelayanan yang sebelumnya hanya seadanya mulai dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Posyandu itu pun menjadi lilin kecil bagi masa depan kesehatan masyarakat di desa kesehatan masyarakat terpencil tersebut. keluarga Elizabeth beserta bidan di kecamatan terus meningkatkan pelayanan agar lebih baik. Selain pelayanan, ada penyuluhan agar bukan hanya kader yang bisa membantu masyarakat, namun warga juga bisa lebih priatin dengan kesehatan diri sendiri dan keluarga di dekatnya. “Tapi, masih banyak juga yang tidak datang. Jadi, nenek yang harus datang menemui mereka,” tutur Elizabeth.
Risiko itu sangat dimengerti Elizabeth. Dia tahu bahwa tak semua warga bisa datang pada hari yang telah ditentukan untuk pelayanan di posyandu. Kesibuka norang tua bekerja di ladang maupun di laut membuat mereka tak sempat membawa anak masing-masing ke posyandu. Karena itu, meski harus menempuh jarak yang cukup jauh dan medan yang tak mudah, Elizabeth memaksa tubuhnya untuk bergerak dan menemui ibu-ibu di rumah masing-masing. Perempuan kelahiran Mamasa itu tak ingin ibu hamil dan anak di daerahnya kembali mengalami masalah kesehatan. Atas pengabdian dan konsistensi Elizabeth selama 27 tahun untuk masyarakat itu, pada puncak Hari Kesehatan Nasional 2013 da mendapat penghargaan sebagai akder lestari dai Kementerian Keshatan di Jakarta, tepatnya 16 November laluu. Dia menjadi satu-satunya kader kesehatan yang meraih penghargaan tingkat nasional itu. Dalam sambutannya, Menkes Nafsiah Mboi menyatakan rasa terima kasih secara mendalam kepada Elizabeth atas dedikasi serta pengabdian yang tinggii dan konsisten terhadap pembangunan masyarakat melalui gerakan posyandu yang berfokus pada penimbangan balita dan pemeriksaan ibu hamil tersebut. “Saya sangat berterima kasih kepada Ibu,” tutur Menkes sambil memeluk Elizabeth yang saat itu mengenakan baju adat Sulawesi Barat.

Sat menerima penghargaan tersebut, Elizabeth mengaku bahwa tak pernah tebersit dalam benaknya bahwa dirinya akan menginjak kaki di ibu kota negara ini. Dia tak pernah berpikir akan bisa melihat dunia luar, apalagi Kota Jakarta yang sangat ramai. Apalagi bertemu secara langsung dengan Menkes. Ke depan, Elizabeth berencana menularkan pengalaman hidupnya sebagai kader kesehatan lestari di desanya. “Biar kader kesehatan di desa saya jadi banyak. Dengan cara begitu, kesehatan masyarakat jadi lebih terjamin,” tandasnya.