Rabu, 09 April 2014

Korban Bullying (Anak Pengganggu)/ Victims of Bullying (Kids Bullies)

Korban Bullying (Anak Penggagu)
(Sumber/ Source: Nalini.2014.Serbacuriga dan kena fitnah. Dalam Jawa Pos, tanggal 14 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Konsultasi dari Dewi, dari Bandung: “Dokter, saya mahasiswi. Kenapa ya, semua teman memfitnah saya, merusak semua pekerjaan dan menginginkan saya gagal? Sejak SD saya menjadi korban bullying, tapi prestasi saya tetap cemerlang. Sekarang saya selalu curiga kepada semua teman dan mulai menutup diri.”

Jawaban dari Nalini M.A., Consultant Psychiatrist on Women’s Mental Health:
It’s hard to fight an enermu who has outposts in your head. (Sally Kempton)
            Sesungguhnya musuh yang paling sulit dikalahkan adalah ada yang ada dibenak kita sendiri. Celakanya lagi, apa yang biasa kita pikirkan, itu pula yang terjadi. Ya, meskipun saya memahami kegalauan Anda saat ini, sejatinya persepsi bahwa semoa orang akan menyabot keinginan dan kesukaanmu itu masih berupa asumsi kan?
            Pernahkah Anda mengomunikasikan tentang prasangka keitu pada mereka? Jangan-jangan sebagian besar hanyalah pikiran negatif yang muncul dari refleksi rasa kekhawatiranmu sendiri yang berakar dari masalalu. Yang dulunya sering di bully.
            Bullying (Anak Penggagu) ataupun semua bentuk kekerasan memang bukan masalah sepele. Hal itu tak bisa ditoleransi lantaran berdampak panjang dna serius, terutama pada korban. Banyak orang tua dan guru yang masih menganggap tidak penting efek Bullying (Anak Penggagu). Malah mereka berkilah bahwa dicemooh, dimaki, diejek, digosipin, bahkan dipuluk teman sebaya itu hal wajar. “Ah itu kan anak-anak, bisa saling mengejek dan bertengkar.” Tidak dianggap serius, dibiarkan, bahkan dianggap bisa menguatkan mental korbannya. Akibatnya, masih banyak yang dijadikan tradisi formal dan informal di sekolah atau kampus mahasiswa.
            Hal mendasar yang kerap menjadi dampak berkepanjang pada korban yang pernah mengalami kekerasan, terutama pada masa kecil atau remaja. Mempunyai citra diri atau self-esteem buruk, penakut, tidak memercayai orang lain, merasa dirinya tidak kompeten, pencemas, depresi, sampai yang lebih berat lagi,” rasanya hal itu juga terjadi pada Anda.
            Pengalaman atau situasi buruk yang menjadi pangkal persepsi membaut pikiran serta perasaan Anda kerap terdistrosi secara otomatis, lantas respons kerap “lebay” dalam menyingkapi stimulus dari luar apalagi bila menyentuh hal-hal spesifik mirip yang pernah Anda alami). Kemudian, hasilnya adalah apa yang dirasakan, baik kepada orang lain maupun terhadap diri sendiri.

            Ada kemungkinan Anda menderita gangguan depresi kronis. Konsep diri maupun citra diri menjadi buruk sehingga Anda lebih suka menyendiri, tidak komunikatif, cepat menyerah kepada keadaan dan sering mengantisipasi masa depan yang tidak ramah. Sebaiknya Anda mencari bantuan seosrang profesional sehingga bisa lebih perform dalam pekerjaan serta kehidupan sosial. Buanglah label bahwa “saya adalah korban”.