Rabu, 16 April 2014

Laporan Pendahuluan Diagnosa Asma Bronkial/ Preliminary reports Bronchial Asthma Diagnosis

Laporan Pendahuluan  Diagnosa Asma Bronkial
(Sumber/ Source 1: Paramarta, Nanda Erda.2014.Laporan Pendahuluan Dengan Diagnosa Medis Asma Bronkial di Ruang Paru RSUD Bangil Pasuruan.Pasuruan.)
(Source/ Sumber 2: Medica Aesculapsus.1998.Kapita Selekta Kedokteran Edisi II.Jakarta: Fakultas
 Kesehatan Universitas Indonesia.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
(Source/ Sumber 3: Ledman’s.2002.Core Princple and Ractive of Medical Surgical Nursing.)
(Source/ Sumber 4: Doenges Marilyn.2002.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi III. Jakarta: EGC.)

            Pada Ny “K” dengan diagnose medis asma Bronkial di Ruang Paru RSUD Bangil Pasuruan
A)    Konsep Dasar
1)      Pengertian
Asma Bronkial merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya respon yang berleihan di trakea dan brokus terhadap berbagai macam rangsangan, yang mengakibatkan penyempitan saluran napas yang tersebar luas di seluruh paru dan derajatnya dapat berubah secara spontan atau setelah mendapat pengobatan (Jan, Tambayong.2000)

2)      Etiologi
a)      Faktor Genetik (Keturunan)
b)      Faktor Lingkungan
c)      Bahan allergen
d)     In feksi jalan napas (terutama virus)
e)      Olahraga
f)       Tekanan jiwa
g)      Factor makanan
h)      Obat-obatan

3)      Klasifikasi
a)      Asma bronchial Instrinsik
                                                        i.            Serangan timbul setelah dewasa
                                                      ii.            Keluarga tidak ada penderita asma
                                                    iii.            Ada perubahan dengan beban fisi
                                                    iv.            Perubahan cuaca

b)      Asma Bronkial Ekstrinsik
                                                        i.            Timbul sejak anak-anak
                                                      ii.            Ada keluarga yang menderita asma
                                                    iii.            Adanya eksim pada waktu bayi
                                                    iv.            Sering menderita rhinitis

4)      Patologi
Obstruksi jalan napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, sumbatan mucus, edema dan inflamasi dinding bronkus.
Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karenasecara fisiologis saluran napas menyempit pada fase tersebut. Hal ni mengakibatkan udara ridstal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bias diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional dan pasien akan bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total. Keadaan hiperinplasi ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar. Untuk mempertahankan hiperinflasi yang diperlukan otot bantu napas.
Gangguan yang beruba obstruksi saluran napas dapat dinilai secara obyektif dengan volume ekspirasi paksa detik pertama atau arus puncak ekspirasi, sedangkan penurunan kapasitas vital paksa menggambarkan derajat hiperinflasi paru. Penyempitan saluran napas dapat terjadi baik pada saluran napas yang besar, sedang, maupun kecil. Gejala mengi menandakan ada penyempitan d saluran napas besar, sedangkan pada saluran napas yang kecil gejala batuk sejak lebih dominan di banding mengi.

5)      Manifestasi Klinik
Asma adalah menjadi sindrom klinis yang dikarakteristikan oleh batuk, mengi, dan sesak napas serta sesak dada yang timbulkan oleh allergen, infeksi atau stimulus lain. Stimulus ini mencakup obat, latihan (khususnya pada iklim kering dan dingin), stress emosi refluks gastroesopagus pada mikroaspirasi. Merokok pasif dan aktif, pemajanan tempat dan bahan pada bahan kimia dan polusi udara.
Serangan asmatik sangat berhubungan dengan status jalan  napas, yang pasti tentang manifestasi asma adalah jenisnya tidak dapat di duga. Gejala asma mengacu pada triad: dispnea, batuk dan ronki kecing (mengi). Ronki kering dapat pula terdapat pada keadan-keadaan lain seperti aspirasi benda asing, tumor, emboli paru, gagal jantung kiri infeksi.

6)      Klasifikasi
a)      Pneumotoraks
b)      Pnemodiastinum dan empisema subkutis
c)      Afelektasis
d)     Aspergilosis bronkopulmoner alergik
e)      Gagal napas
f)       Bronchitis
g)      Fraktur iga

7)      Penatalaksanaan
Pengobatan asma secara garis besar di bagi dalam pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik
                                  i.            Pengobatan non farmakologik
a)      Penuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang asma sehingga klien secara sadar menghindari factor-faktor pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsultasi dengan tim medis

b)      Mengindari factor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindar dan mengurangi factor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.

c)      Fisioterapi
Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mucus. Ini dapat dengan drainase postural, perkusi dan dada.

                                ii.            Pengobatan Farmakologik
a)      Agonis beta. Bentuk aerosol nekerja sangat cepat diberikan 3x4 semprot dengan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalah 10 meit. Yang termasuk obat ini adalah metaproterenol (alupent, metrapel)
b)      Metal xantin. Golongan metal xantin adalah aminophilin dan tiopilin, obat ini diberikan bila golongan beta agnois tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada orang dewasa di berikan 125-200 mg 4x sehari.
c)      Kartikosteroid. Jika agonis beta dan metal xantin tidak memberikan respon yang baik, harus diberikan kartikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol (bectomefason dipropinate) dengan dosis 800 4x semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunya efek sampng maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d)     Kromolin. Kromolin merupakan obat pencegah asma, khususnya anak-anak. Dosisnya berkisar 1-2 kapsul 4x sehari.
e)      Ketotifen. Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2x1 mg per hari. Keuntungan dapat diberikan secara oral.
f)       Iprutropioum bromide (atroven). Atroven adalah antikolenergik. Diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator
(Evelin dan Joyce L,.kee,1994: Karnen baratawijaya,1994)

                              iii.            Pengobatan selama serangan status asmatikus
a)      Infuse RL:DS=3:1 tiap 24 jam
b)      Pemberian oksigen 4 liter/ menit melalui nasal kanul
c)      Aminophilin bolus 5mg/ kg bb diberkan pelan-pelan selama 20 menit dilanjutkan drip rlatau ds Mentenence (20 tetes/ menit) dengan dosis 20 mg/kg bb/24 jam
d)     Terbufalin 0,25 mg/6 jam secara subkutan
e)      Dexametason 10-20 mg/6 jam secara intravena
f)       Antibiotic spectrum luas.


B)    Asuhan Keperawatan
a)      Pengkajian
1)      Pengkajian mengenai nama, unsure, dan jenis kelamin perlu dikaji pada penyakit status asmatikus. Seragan asma pada usia dini memberikan implakasi bahwa sangat dewasa yang dimungkinkan adanya factor non atropi. Alamat menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien berada, dapat mengetahui kemungkinan factor pencetus serangan asma. Status perkawinan, gangguan emosional, pekerjaan. Hal ini yang perlu di kaji tentang: tanggal MRS, Nomor Rekam Medik dan Diagnosa medic.
2)      Riwayat Penyakit sekarang. Klien dengan serangan asma dating mencari pertolongan dengan keluhan, terutama sesak napas yang hebat dan mendadak kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain yaitu: wheezing, penggunaan otot bantu pernapasan, kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, serta perubahan tekanan darah.
3)      Riwayat penyakit dahulu. Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, polip hidung.
4)      Riwayat kesehatan keluarga. Pada klien tentang serangan status asmatikus perlu dikaji tentang penyakit asma atau penyakit alergi yang lain.
5)      Riwayat Psikososial. Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencerus bagi serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan sekitar sampai lingkungan kerja.
6)      Pola  Fungsi kesehatan
a.       Pola resepsi dan tata laksana hidup sehat
b.      Pola nutrisi dan metabolism
c.       Pola eliminasi. Perlu dikaji BAB dan BAK mencakup warna, bentuk, kosentrasi, frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam melaksanakannya.
d.      Pola istirahat dan tidur. Perlu dikaji tentang bagaimana tidur dan istirahat klien meliputi berapa lama istirahat.
e.       Pola persepsi dan konsep diri. Perlu dikaji tentang persepsi klien terhadap penyakitnya.
f.       Pola reproduksi seksual. Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila kebutuhan ini tidak dipenuhi akan terjadi masalah di kehidupan klien.
g.      Penanggulangan stress. Stress dan ketegangan emosional merupakan factor instrinsk pencetus serangan asma maka perlu dikaji penyebab terjadinya stress.
h.      Pola tata nila dan kepercayaan. Keadekuatan lien apda sesuatu yang ia yakini dunia percayai dapat meningkatan kekuatan jiwa klien.

7)      Pemeriksaan fisik
a.       status kesehatan umum. Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah, kelemahan suara bicara, tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan yang meningkatkan, penggunaan otot-otot pembantu pernapasan sianosis batuk dengan lender lengket dan posisi istirahat dan posisi istirahat klien.
b.      Integument. Di kai adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, enzim, serta adanya berkas atau tanda urtikaria atau dermatitis padarambut dikaji warna rambut.
c.       Kepala. Dikaji tentang bentuk kepala, simetris adanya penonjolan, riwayat trauma, adanya keluhan sakit kepala atau pusing, vertigo kelang ataupun hilang kesadaran.
d.      Mata. Adanya penurunan ketajaman penglihatan akan menambah stress yang dirasakan klien.
e.       Hidung. Adanya pernafasan menggunakan cuping hidun, rhinitis alergi dan fungsi olfaktori.
f.       Mulut dan laring. Dikai adanya perdarahan pada gusi, gangguan rasa menelan dan mengunyah dan sakit pada tenggorokan serta sesak atau perubahan suara.
g.      Leher. Dikai adanya nyeri leher, kaku pada pergerakan, pembesaran tiroid serta penggunaan otot-otot pernapasan.

b)      Analisa Data
Data yang dikumpulkan harus di analisa untuk menentukan masalah klien. Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi pengelompokan data, mengidentifikasi kesenjangan dan menentukan pola dari data yang terkumpul serta membandingkan susunan atau kelompok data dengan standar nilai normal, menginterprestasikan data dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil dari analisa adalah pernyataan masalah keperawatan.

c)      Diagnosa keperawatan
1)      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan kental peningkatan produksi mucus dan bronkospasme
2)      Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan distensi dinding dada dan kelelahan akibat kerja pernapafasan
3)      Ansietas berhubungan dengna sulit bernapas dan rasa takut surokasi
4)      Resiko tingi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan laju metabolic tinggi, dispnea saat makan dan ansietas.

d)     Intervensi:
1)      Diagnosa 1:
                                            i.            Ketidakefektifan jalan napas berhubungan dengan sekresi kental peningkatan produksi mucus bronkospasme
                                          ii.            Tujuan: jalan napas menjadi efektif
                                        iii.            Criteria hasil:
1)      Menentukan posisi yang nyaman sehingga memudahkan peningkatan pertukaran gas
2)      Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
3)      Dapat menyatakn strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi

                                        iv.            Intervensi
1.      Kaji warna, keketalan dan jumlah sputum. R/ Karakteristik sptum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi
2.      Instruksikan klien pola metode yang tepat dalam mengontrol batuk. R/ Batuk yang tidak terkontrol melelakan dan inefektif serta menimbulkan frustasi.
3.      Ajarkan klien untuk menurunkan viskositas sekresi. R/ sekresi kental sult untk dikeluarkan dan dapat mengeluarkan sumbatan mucus yang dapat menimbulkan atelektasis.

2)      Diagnose 2:
                                            i.            Ketidak efektifan sekresi pola napas berhubungan dengan distensi dinding dada, dan kelelahan akibat peningkatan kerja pernapasan
                                          ii.            Tujuan: klien akan mendemonstrasikan pola napas efektif.
                                        iii.            Criteria hasil: frekuensi napas yang efektif dan perbaikan pertukaran gas pada paru, menyatakan factor penyebab dan cara adaptif mengatasi factor-faktor tersebut.
                                        iv.            Intervensi:
1.      Moitor frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan R/ takipnea, irama yang tidak teratur dan bernapas dangkal menunjukkan pola napas yang tidak efektif.
2.      Possikan klien dada posisi semi fowler. R/posisi semi fowler akan menurunkan diafragma sehingga memberikan pengembangan pada organ paru.
3.      Alihkan perhatian individu dari pemikiran tentang naesitas dan ajarkan cara bernapas efektif. R/ ansietas dapat menyebabkan pola napas tidak efektf.

3)      Diagnosa 3:
                                                        i.            Anersitas berhubunga ndengan sulit bernapasan dan rasa takut sufokasi
                                                      ii.            Tujuan: anesitas berurang dan hilang
                                                    iii.            Criteria hasil: klien mampu menggambarkan ansietas dan pola pikirnya, menghubungkan peningkatan psikologi dna kenyamanan fisiologis, menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam menangani ansietas.
                                                    iv.            Intervensi:
1.      Kaji tingkat ansietas yang dialami klien. R/ mengetahui tingkat kecemasan untuk memudahkan dalam perencanaan tindakan selanjutnya.
2.      Kaji kebiasaan keterampilan koping. R/ Menilai mekanisme koping yang telah dilakukan serta menawarka nalternatif koping yang bias digunakan.
3.      Beri dukungan emosional untuk kenyamanan dan ketentraman hati. R/ Dukung emosional dapat memantapkan hati untuk mencapai tujuan yang sama.

4)      Implementasi. Implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan oleh perawat, seperti tahap-tahap yang lain dalam proses keperawatan fase pelaksanan terdiri dari:
                                                        i.            Validasi atau pengesahan rencana keperawatan
                                                      ii.            Menulis atau mendokumentasikan rencana keperawatan
                                                    iii.            Memberikan asuhan keperawatan
                                                    iv.            Melanjutkan pengumpulan data

5)      Evaluasi

Merupakan langka terakhir dalam proses keperawatan yang merupakan kegiatan sengaja dan terus enerus yang melibatkan klien, perawat dan anggota tim kesehatna lain.