Sabtu, 12 April 2014

Menangkal Cyberbullying pada Anak/ Counteract Cyberbullying on Children

Menangkal Cyberbullying pada Anak
(Sumber/ Source: Yuliarnanda, Intan.2014.Menangkal Cyberbullying pada Anak. Dalam Jawa Pos, tanggal 4 April 20014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Pembahasan cyberbullying di Jawa Pos beberapa waktu lalu menginatkan saya tentang peristiwa serupa yang menimpa putri saya. Kejadian tersebut membuat saya sibuk mengurusi mutasi sekolahnya. Peristiwa itu berawal ketika putri saya masuk di kelas 7 SMP. Lingkungan baru dengan teman dan kakak kelas baru membuat dia sangat excited dan cepat bersosialisasi. Saling invite and add sesama mereka di berbagai social media seketika menjadi kegiatan rutin pada awal hari-hari sekolahnya. Dalam sekejap, contacts yang dimiliki bertambah ratusan. Dia pun menjadi member berbagai group. Mulai grup kelas, sekolah, ekstrakulikuler, les dan sebagainya. Taksir menaksir di antara kakak kelas ke juniornya menjadi cerita babak berikutnya. Demikian pula, putri saya tidak luput ditaksir salah seorang kakak kelas OSIS-nya. Singkat cerita, si kakak OSIS itu “menembak” putri saya lewat direct messsage di Twitter. Si Cowok itu pun “merasa” telah sah menjadi pacar putri saya.
Mungkin ada kebiasaan di antara anak-anak tersebut. karena itu, ktika keesokan si cowok itu merasa ketika jam istirahat sekolahh seharusnya putri saya ke kantin, ya harus bersama dia. Putri saya sama sekali tidak paham dengna itu semua. Ketika dia menolak diiantar pulang dan pada jam istirahat selalu bersama teman kelasnya, si cowok itu pun marah. Dalam sekejap, caci maki dia lontarkan lewat update status di BBM, mention di Twitter, serta status di wall Facebook putri saya.
Karena merasa telah membuat kakak kelasnya itu marah, putri saya meminta maaf, walaupun tetap membat dia tidak paham juga apa hakikat pacaran seperti yang dimaksud si cowok tersebut. terlebih, saya melarang dia berpacaran pada usia yang masih sangat dini ini. Berteman yang banyak dengan semua orang. Itula yang selalu saya tekankan kepada dia.
Ketika hari berikutnya banyak hal yang membuat si cowok itu jengkel diri, tidak heran bila setiap saat update status mencaci maki putri saya. Ditambah, setiap selesai update status, dalam sekejap puluhan teman yang lainnya langsung bereaksi. Ada yang comment membela, tapi tidak sedikit yang ikut mencaci pula.
Semakin lama semakin hari, kata-kata yang digunakan juga semakin ngawur saja. Saya sampai tidak percaya anak SMP bisa fasih mencaci maki dengan kata yang tidak senonoh seperti itu. Saya saat itu terpkir untuk melaporkan kejadian tersebut kepada gurunya, bahkan ingin sekali rasanya saya mendatangi anak itu dan saya selesaikan masalah tersebut. tapi, putri saya melarang karena dia tidak ingin dicap sebagai anak yang wadulan kepada orang tua. Dia malu kepada guru dan temannya biila orang tuanya ikut menyelesaikan masalah tersebut ke sekolah. Saya berusaha memahami. Yang saya lakukan berikutnya adalah setiap hari setiap saat mengecek semua soscial media puutri saya. Kemudian, memblokir men-delcont semua akses ke si cowok itu. Saya tak terhenti menasihati dan menguatkan hati putri saya. Saya memberikan pengertian bawa teman yang bermaksud tidak baik seperti itu tidak perlu dipedulikan dan tidak perlu diambil hati. Jangan sampai merasa terpojok apalagi putus asa dengan segala caciannya.
Akhirnya, menghilang juga berbagai macam aksi si cowok ersebut. Saya pikir permasalahan itu sudah selesai. Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Beberaa teman ceweknya masih tidak suka dengan putri saya. Kejadian yang lebih membuat naik darah pun berlanjut. Masih sama melalui social media, cacian para cewek kecil itu pun tidak kalah pedas. Segala upload foto dan update putri saya dimaki-maki mereka. Namun, mereka sering tidak memakai identitas asli. Para stalker atau penguntit tersebut aktif mengikuti segala aktivitas putri saya di semua social media yang dimiliki, bayangkan! Langkah yang sama ambil dengan memblokir segala aksesnya. Tapi, ukan stalker namanya kalau tidak bbisa menguntit.

Saya sampia tidak habis pikir apa kegiatan mereka sehari-hari sehingga online setiap saat dan memiliki segudang kata pedas caci makian yang saya sendiri ketika membacanya seketika emosional dan sakit hati. Padahal, mereka masih anak-anak berusia 12 tahunan. Kebencian macam apa dan lingkungan keluarga seperti apa di sekeliling mereka sehingga bisa membuat anak itu sanggup melakukan pressure secara psikis melalui social media hingga sekji itu? Saya pikiir, apa yang harus saya lakukan untuk menghentikan itu semua? Saya mempertanggu pertahanan pribadiinya sekuat apapun. Dalam fase perkembangan, dia layak mendapat lingkungan yang sehat dan happy. Dengan segala pertimbangan, saya memutuskan untuk menindahkan putri saya dari sekolah itu. Saya melibatkan dia dan berunding bersama untuk memlih sekolah yang diinginkan. Keluarga adalah pertahanan terkuat anak yang mengalami cyberbullying. Orang tua harus selalu tanggap dan peduli kejadian sekecil apapun yang menimpa anak kita.