Sabtu, 12 April 2014

Menelusuri Awal Berdirinya Madiun/ Tracing the Early Establishment Madison

Menulusuri Awal Berdirinya Madiun
(Sumber/ Source: Arsyandi, Arfinanto.2014.Menulusuri Awal Berdirinya Madiun 1. Dalam Jawa Pos, tanggal 4 April 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)

Sejarah panjang Madiun menarik untuk dicermati. Dimulai dari era Mataram kuno, masa kejayaan Purabaya, jaman koloial Belanda, prakemerdekaan hingga Republik ini berdiri. Wartawan Jawa Pos Radar Madiun menuliskan secara berseri setiap edisi Jumat.
Jejak sejarah Mataram Kuno masih tersisa di kawasan kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Di situ ditemukan sejumlah prasasti yang lokasinya tersebar. Salah satunya adalah watu gilang yang kini teronggok di pearangan rumah pasnagna Mustachim 29 dan Uswatun 28, warga Desa Bibrik Kecamatan Jiwan. “Prasasti iada sejak kakek buyut saya”, ungkap Uswatun.
Kendati bukan ahli sejarah, Uswatun memandang watu gilang itu sebagai warisan berharga yang patut dilestarikan. Dia sengaja menempatkan prasasti di tempat yang layak dan diberi pembatas di sekeliling di sekkelilingnya. Tatkala merenovasi rumahnya, pada mei 2012 lalu dia berhitung benar ketika hendak menggeser letak watu gilang lebih maju sejauh dua depa ke arah timur. Prasasti yang diduga kuat peninggalan kerajaan Medang di era Wwatan itu sekarang mudah terlihat dari jalan desa. “Sebelunya tertutup pohon pisang, ;ahan sekitarnya banyak ditumbuhi alang-alang,” ujar Uswatun.
            Nenek moyang Uswatun tidak mengetahui persis sejarah watu gilang itu. Tanah yang kini ditempati Uswatun merupakan warisan turun temurun. Yang terang, kediaman ibu anak satu itu biasa disambangi banyak orang. Mulai warga awam hingga peneliti maupun pemerhati sejarah. “Smapi sekarang masih saja ada yang datang melihat sambil bertanya macam-macam,” ujarnya.
Prasasti lain juga tertancap di pekarangan rumah pasutri Sugimin 49 dan Parti 55, di Dusun Klumpit Desa Ngujung Kecamatan Maospati Magetan. Parasasti itu dikenal Sugimin sebagai watu saridin. Letak watu saridin sekarang sudah pindah ke halaman depan. “Dipindahkan leluhur istri saya, sekarang, menghadap ke barat,” tuturnya.
            Pasangan suami istri yang tinggal sejak seperempat abad lalu di rumah itu mengaku pernah didatangi ahli sejarah dari luar negeri. Tak sempat mencatat nama dan asal negaranya bule yang datang dengan seorang penerjemah tersebut mengaku sedang melakukan sebuah riset/ “Bule itu datang tahun 1976, lama memotret terus pamit,” ingat Sugimin.
            Pesan yang tersirat dari waktu gilang dan wtu saridin sama sudah samar. Tulisan di tubuh prasasti lapuk di makan jaman hingga sulit diartikan. Ukuran watu saridin sepanjang 1,5 meter dan tertancap dalam kondisi terbalik. Sedang watu gilang yang berukuran lebih besar tak ubah sebuah batu biasa. Kendati saat diamati, serutan tulisan masih teraba. Di desa Ngujung juga terdapat benda yang layak masuk cagar budaya. Yakni, sebuah yoni yang kini berada di tengah pelataran Masjid Fatkhul Huda. Kendati masjid itu terbilang kuno, namun umur yoni jdipastikan jauh lebih tua. “Benda itu tidak pernah dipindah. Sebelum masjid diperluas, posisinya berada di depan masjid,” jelas Sugimin.
            Koordinator Komunitas Pelestari Sejarah Madiun Raya (Kompas Madya) Bernardi S Danging mencatat, sejumlah prasasti tersebar itu merupaakn peninggalan dari istana terakhir kerajaan Medang di era Wwatan atau disebut Wotan jaman kepemimpinan Dharmawangsa Teguh di tahun 100 Masehi. “Isi prasasti tidak diketahui lagi karena kontur dari ukirannya sudah tak terbaca lagi. Tapi seluruh prasasti yang ditemukan di sekitar Jiwan dan Maospati itu penyebarannya masih di satu era,” terangnya Bernadi.
Dia lantas mennyadur kronik Cina dari Dinasti Song. Dharmawangsa Teguh, rasa terakhir Medang sejak naik takhta 991 Masehi, tercatat beberapa kali mengirimkan apsukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya. Kala itu, permusuhan antara Jawa dan Sumatra begitu kental. Ketika Dharmawangsa Teguh tengah menggelar pesta perkawinan putrinya dengan Airlangga, giliran Istana Medang diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram. Toponimi daerah Lwaram ini sekarang menjadi Desa Ngloram di tepian Bengawan Solo di Bojonnegoro. Serbuan Aji Wurawari sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya itu berhasil menewaskan Dharmawangsa Teguh. Dan, berakhir pula riwayat kerajaan Medang atau Mataram Kuno yang dirintis sejak jaman Sanjaya pada 752 Masehi ini. Kata Bernardi, sebagian sejarawan menyebut kehancuran Istana Medang atau Mahapralya terjadi pada 1006 Masehi. Mahapralaya sendiri bberarti pemusnahan yang dahsyat sehingga peninggalan kerajaan Medang di Wotan sangat sedikit,” paparnya.
            Saksi bisu lainnya peninggalaan kerajaan Medang adalah Sendang Kamal di Desa Keraton Kecamatan Maospati. Namun kondisi sendang itu sekarang sudah mengenaskan. Satu dari tiga prasasti yang berada di kawasan sendang juga menjadi korban vandalisme. “Bangunan rumah di kawasan Sendang Kamal yang merupakan peninggalan kolonial Belanda juga sudah rusak parah,” sesal Bernardi.
            Selain itu, ada benda bersejarah berupa pancuran Dewi Sri yang berada di halaman balai Desa Klagenserut Kecamatan Jiwan. Di Indonesia, hanya ada tiga pancuran Dewi Sri. Dua lainnya berada di Candi Belahan atau masuk kawasan Candi Petitiran di Lamongan dan Candi Petitiran Beji, Takeran, Magetan. Jika dua pancuran itu masih berada di atas kolam pertirtaannya, lain halnya dengan Dewi Sri yang terdampar di halaman balai Desa Klagenserut. Sebab,, logasi petirtaan tidak lagi terlacak. Petirtaan Dewi Sri merupakan tempat pemandian raja abad 10, pada era Dharmawangsa Teguh dan Airlangga. “Warga setempat juga tidak ada yang tahu sejarah kapan persisnya patung pancuran Dewi Sri di Klagenserut itu berpindah tempat. Kalau ada yang tahu, bisa mejadi petunjuk berharga untuk melacak lokasi pertirtaannya,” jelas Bernardi.
            Menurut dia, pancuran Dewi Sri yang terdapat di Jawa memili perbedaan bentuk dengan bangunan serupa di India. Jika di Indoa, posisi tangan sang dewi mengadah. Sedangkan di Jawa, seperti halnya di Desa Klagenserut, Dewi Sri tanpa malu-malu memegang kedua payudaranya. “Teknologi pengairan di masa lalu sudah mengenal resapan air dari dalam tanah yang disalurkan dengan pancuran Lubang di punggung Dewi Sri yang menjadi titik sirkulasi air dalam tanah yang disalurkan dipacurkan melalui kedua payudara”, terangnya.

            Pun, patung pancuran Dewi Sri yang bersemayam di halaman Balai Desa Klagensrut pernah raib. Patung itu akhirnya dipagar beton setelah kembali. “Dari BPCB atau Balai Peninggalan Cagar Budaya Jatim dan kepolisian sampai turun tangan saat itu. Benda langka seperti pancuran Dewi Sri bisa bernilai miliaran di tangan mafia kolektor benda antik,” tegasnya.