Rabu, 09 April 2014

Mengetahui Tentang Alkalosis Metabolik (Kelebihan Basa Bikarbonat Primer)/ Knowing About Metabolic alkalosis (excess Bases Bicarbonate Primary)

Mengetahui Tentang Alkalosis Metabolik (Kelebihan Basa Bikarbonat Primer)
(Sumber/ Source: Marilyn e. Doengos Mary Frances Moorhouse, Alice C.Geissleq.1999.Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta, silahkan mengikuti di dalam blog/ please follow in the blog: www.ithinkeducation.blogspot.com.2014)

Alkalosis Metabolik dikarakteristikan oleh pH tinggi (kehilangan ion hydrogen) dan bikarbonat plasma tinggi disebabkan oleh masukan berlebihan natrium bikarbonat, kehilangan asam gaster atau usus, ekskresi ginjal terhadap hydrogen dan klorida, hiperkalsemia lama, hipoklemia, dan hiperaldosteronisme. Mekanisme kompensasi meliputi pernapasan lambat, dangkal untuk meningkatkan C02 dan peningkatan  eksresi bikarbonat dan reabsorpsi hydrogen oleh ginjal

A.    Faktor Predisposisi/ Pemberat

Penggunaan berlebihan/ terlalu cepat terhadap asidosis metabolic dengan natrium bikarbonat.
Pemberian larutan IV bebas kalium, darah diberi sitrat
Hiperidosteronisme primer dan sekunder.
Penyakit hormone henokortikal, misalnya sindrom Cushing atau terapi kortikosteroid.
Hiperkalsemia (non paratiroid), hipokalemia.

B.     Dasar Data Pengkajian Pasien (Tergantung pada penyebab dasar)
1)      Sirukasi, gejalanya: takikardia, tidak teratur/ distritmia; sianosis
2)      Eliminasi, gejalanya: diare
3)      Makanan atau Cairan, gejalanya: mual/ muntah, diare; masukan garam tinggi
4)      Neurosensori, gejala: kesemutan jari tangan dan jari kaki, parestesia rikumoral, pusing; tanda: hipertonisitas otot, tetani, tremor, kejang, kacau mental, peka rangsang, gelisah, bermusuhan, apatis, koma, melepaskan pakaian.
5)      Pernapasan:, pertimbangan rencana pemulangan: rujuk pada factor predisposisi/ pemberat, DRG menunjukkan rerata lama perawatan 4,1 hari, memerlukan perubahan dalam terapi terhadap proses/ kondisi penyakit dasar.

C.     Pemeriksaan Diagnostik
1)      pH arterial: meningkat, lebih besar dari 7,45
2)      bikarbonat: meningkat, lebih besar dari 26 mEq/L (primer)
3)      PaCO2: agak meningkat, lebih besar dari 45 mmHg (kompensasi)
4)      Kelebihan basa (base excess): meningkat
5)      Klorida serum: biasanya menurun
6)      pH urineL meningkat lebih besar dari 7,0
7)      klorida urine: kurang dari 10 mEq/L menunjukkan respons alkalosis, sedangkan kadar lebih dari 20 mEq/L menunjukkan tahanan klorida
8)      EKG: dapat menunjukkan perubahan hipokalemia yang mencakup peninggian gelombang P, gelombang T datar, segmen ST depresi, gelombang T rendah yang bersatu dengan gelombang P, dan peningkatan gelombang U.

D.    Intervensi:
Intervensi Mandiri:

Intervensi
Rasional
1)      Pantau frekuensi, irama dan kedalamaan pernapasan
1)      Hipoventilasi adalah mekanisme kompensasi terhadap pengubahan asam karbonat dan menunjukkan risiko pasti terhadap individu misalnya hipoksemia dan kegagalan pernapasan.
2)      Kaji tingkat kesadaran dan status neuromuscular, misalnya kekuatan, tonus, gerakaan: perhatikan adanya tanda Chvostek dan Trousseau
2. SPP mungkin sangat peka rangsang (peningkatan pH cairan SSSP mengakibatkan kesemutan, kebas, pusing, gelisah atau apatis dan kacau mental). Hipokalsemia dapat memperberat tetani (meskipun jarang terjadi kekambuhan).

3)      Pantau frekuensi/ irama jantung
Ektopik atrium/ ventrikel dan takidistrimia dapat terjadi
4)      Catat jumlah dan sumber haluaran. Pantau masukan dan timbang berat badan setiap hari.
4 membantu dalam mengidentifikasi sumber keseimbangan ion misalnya kalium dan HCl yang hilang karena muntah dan penghisapan gastric
5)      Batasi masukan oral dan kurang rangsang lingkungan yang berbahaya; gunakan penghisapan intermiten/ rendah selama penghisapan NG; irigasi selang gastric dengan larutan isotonic daripada air
5 Membatasi kehilangan melalui lambung terhadap asam hidroklorik, kalium dan kalsium
6)      Berikan kewaspadaan kejang/ keamanan sesuai indikasi misalnya bantalan pada pagar tempat tidur, perlindungan jalan napas, posisi tempat tidur rendah, observasi sering.
Perubahan dalam mental dan SSP/ hiperiritabilitas neuromuscular dapat mengakibatkan bahaya pasien, khusunya bila terjadi tetani/ kejang.
7)      Dorong masukan makanan dan cairan tinggi kalium dan mungkin kalsium (tergantung pada kadar dalam darah) misalnya anggur kaleng dan jus jeruk, pisang)
7 Bermanfaat dalam mengganti kehilangan kalium bila msukan oral dibatasi
8)      Tinjau ulang aturan obat-obatan untuk penggunaan diuretic (tiazid, lazix, asam etakrinik) dan katartik)
8 Penghentian obat penghilang kalium ini dapat mencegah ketidakseimbangan berulang.
9)      Instruksikan pasien untuk menghindari penggunaan jumlah natrium bikarbonat berlebihan
9 pasien ulkus dapat menyebabkan alkalosis dengan menggunakan soda kue dna MOM selain antasida alkalin yang diresepkan
           
            Kolaborasi
           

INTERVENSI
RASIONAL
1)      Bantu identifikasi/ pengobatan kelainan dasar
Rujuk pada daftar factor predisposisi/ pemberat
2)      Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi misalnya GDA/pH, elektrolit serum (khususnya kalium), dan BUN
Mengevaluasi kebutuhan/ keefektifan terapi dan memantau fungsi ginjal
3)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya: natrium klordia PO/ larutan Ringer IV kecuali dikontraindikasikan
Perbaikan natrium, air dan defeklorida mungkin semua ini diperlukan untuk memungkinkan ginjal mengeksresikan bikarbonat dan memperbaiki alkalosis tetapi harus digunakan dengan kewaspadaan pada pasien dengan GJK atau insufisiensi ginjal
4)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya: kalium klorida
Hipokalemia sering terjadi. Klorida diperlukan sehingga ginjal dapat mengabsorpsi Na dengan klorida, meningkatkan ekskresi bikarbonat
5)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya: Amonium klorida atau arginin hidroklorida
Meningkatkan jumlah ion hydrogen sirkulasi. Memantau pemberian dengan ketat untuk mencegah penurunan pH terlalu cepat, hemolisis SDM. Catatan: dapat menyebabkan asidosis betamobil rebound an biasnaya dikontraindikasi pada pasien dengan gagal ginjal atau hepar
6)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya: Asetazolamid (Diamox)
Inhibitor karbonat anhidrase yang meningkatkan eksresi bikarbonat oleh ginjal.
7)      Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya: spironolakton (aldactone)
Efektif dalam mengatasi alkalosis tahanan-klorida misalnya sindrom Cushing
8)      Hindari atau batasi penggunaan sedative atau hipnotik
Bila pernapasan tertekan, dapat menyebabkan hipoksia atau gagal pernapasan
9)      Dorong cairan IC/PO
Menggantikan kehilangan cairan ekstraseluler dan hidrasi adekuat memudahkan pembuangna sekresi pulmonal untuk memperbaiki ventilasi
10)  Berikan suplemen O2 sesuai indikasi dan atasi pernapasan untuk memperbaiki ventilasi
Kompensasi pernapasan untuk alkalosis metabolic adalah hipoventilasi, yang dapat menyebabkan penurunan kadar PaO2/ hipoksia
11)  Bantu dengan dialisa sesuai kebutuhan
Bermanfaat bila disfungsi ginjal mencegah klirens bikarbonat.