Rabu, 09 April 2014

Mengunjungi Intramuros (Kota di dalam benteng), Manila, Filipina/ Visiting Intramuros (City in the castle), Manila, Philippines

Mengunjungi Intramuros (Kota di dalam benteng), Manila, Filipina
(Sumber/ Source: Fahamsyah, Miftakhul.2014.Mengunjungi Intramous, Kota di dalam Benteng di Manila, Filipina. Dalam Jawa Pos, tanggal 13 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
            Filipina bukan destinasi wisata pilihan. Tapi, jika ke Manila, ibu kota Filipina, sempatkan datang ke Intramuros, kota yang hidup di dalam benteng.
            Rekomendasi Rommel C. Mangalindan ternyata tidak keliru. Ketika berjumpa di Luneta Park, Manila, Sabtu  Februari, enginer sebuah perusahaan konstruksi di Filipina tersebut menyarankan untuk pergi ke Intramuros. Letaknya hanya selemparan batu dari Luneta Park yang berada di jantung kota Manila. “Mengapa ke Intramous? Sejarah Filipina ada di sana. Bagunan di Intramous juga masih difungsikan sampai saat ini,” promosinya.
            Sejarah Filipina ada di Intramous? Tidak berlebihan. Siapa saja yang memasuki pasti akan dilemparkan ke masa lalu Filipina. Ke masa ketika Spanyol menguasai negara kepulauan di utara Indonesia tersebut pada 158 sampai 1898. Intramous adalah kota di dalam benteng. Tempat tersebut dikelilingi tembok batu sepanjang 4,5 kilometer. Luasnya tak kurang dari 65 hektare. Di dalam benteng tersebut berdiri berbagai bangunan dengan arsitektur Spanyol yang terasa mewah hingga kini, juga ada beberapa taman yang begitu indah. Bangunan di Intramuros antara lain gedung pemerintah, tempat tinggal, sekolah dan gereja. Bangunannya minimal dua lantai dengan dinding dari batu. Jendelanya begitu besar, dilengkapi kayu jati berkualitas tinggi. Rata-rata di depan setiap jendela terdapat balkon. Di beberapa bangunan, langit-langitnya tak dibiarkan kosong. Tapi diberikan aneka ornamen berupa ukiran khas Eropa. Kasik namun menawan. Ruas jalannya juga dibuat dari bebatuan yang ditata rapi. Pokoknya, kondisi kota itu diupayakan masih seperti aslinya. “Instramous dibangun Spanyol untuk mengantisipasi serangan dari negara lain,” terang Jonathan Lasutan, 38, pemandu wisata.
            Seperti halnya negara kawasan Asia Tenggara lainnya, Filipina juga menjadi tujuan menarik untuk diinvasi. Sebab, Filipina memiliki tanah yang sangat subur dan menghasilkan berbagai hasil pertanian. Spanyol yang lebih dulu menguasainya pun tidak ingin kehilangan Filipina. Mereka menyadari bahwa negara lain seperti Jerman, Portugal, Tiongkok dan Jepang juga kepincut dengan Filipina. Karena itu, pemernintah kolonial Spanyol lalu membangun benteng di mulut Sungai Pasig yang menjadi pintu masuk ke Filipina melalui jalur laut. Benteng dan bangunan di dalamnya tak sekadar berdiri. Kualitas dan keindahan tetap menjadi perhatian. Sebabm jika pertempuran benar-benar terjadi. Intramurosbisa menjadi benteng terakhir di Filipina. Salah satu bangunan yang masih “utuh” seperti aslinya adalah Gereja San Agustin. “Gereja San Agustin adalah gereja tertua di Manila dan tetap difungsikan sampai saat ini,” kata Jonathan.
            Geraja San Agustin dibangun pada 1571. Itu berarti gereja tersebut saat ini telah berusia 443 tahun. Meski sudah tua, bangunannya masih sangat kukuh. Temboknya pun  tak terlihat kusam sekalipun tak tersentuh cat. Kondisi di dalamnya tak jauh berbeda. Bahkan terkesan luks. Langit-langitnya dipenuhi berbagai ukiran klasik. Lampu-lampu hias khas Eropa juga menggantung di langit-langit gereja. Ketika Jawa Pos mengunjungi Minggu lalu, 9 Februari, di gereja itu sedang berlangsung misa pemberkatan pernikahan. Semua gambaran tersebut seakan menegaskan bahwa pemerintah Filipina betul-betul menjaga cagar budayanya dengan serius. Padahal, ceirtanya tak seperti itu. Di balik kekukuhan Gereja San Agustin, tempat ibadah bagi umat kristiani tersebut pernah dihantam masalah. Gereja itu pernah menjadi sasaran pasukan Tiongkok tiga tahun setelah dibangun. Setahun kemudian gereka di seberang Casa Manila tersebut diperbaiki. Setelah direnovasi, beberapa tahun kemudian gereja itu terbakar dua kali. Perbaikan kembali dilakukan oleh Juan Maias pada 1587. Dan pada 1762, Gereja San Agustin kembali menjadi sasaran invasi Inggris. Hebatnya, meski beberapa kali terbakar dan menjadi sasaran tembak pasukan musuh, hingga kini gereja itu masih terjaga dengan baik. Bahkan masih difungsikan sebagai tempat peribadatan. Bukan hanya Gereja San Agustin yang masih berfungsi di Intramuros. Sebagian besar bangunan di kota kecil tersebut juga masih “hidup”. Memang tak lagi digunakan seperti era masa lalu karena pemerintah Spanyol sudah lama pergi dari Filipina.
            Di antara bangunan itu ,ada yang dimanfaatkan sebagai museum seperti Casa Manila dan Museum Tiongkok. Begitu pula Fort Santiago yang berada persis di mulut Sungai Pasig, yang dulu menjadi benteng pertahanan pertmaa dan tempat tinggal, juga dioptimalkan sebagai objek wisata. Beberapa bangunan lain difungsikan sebagai tempat pemerintahan Filipina, restoran, toko sovenir, kafe dan hotel. Bangunan yang dulu menjadi tempat penjara Jepang, misalnya, kini difungsikan sebagai kedai kopi Starbucks. Ada juga yang digunakan sebagai gedung sekolah. Di Intramuros juga berdiri megah Cathedral of Manila yang masih difungsikan sebagai tempat ibadat bagi umat Katolik.

            Intramuros siap menerima wisatawan domestik maupun mancanegara. Mengelilinginya tak bisa dilakukan hanya dengan berjalan kaki. Becak dan kereta kuda siap mengantarkan pengunjung. Pengelola Intramuros menyiapkan puluhan angkutan khas negeri tetangga tersebut. keindahan arsitektur Spanyol di Intramuros semakin nyaman dinikmati pengunjung karena kawasan wisata sejarah itu bebas asap rokok. Orang Filipina memathui aturan tersebut. hanya gangguan lain tetap ada. Sebab, bau pesing kerap tercium di sudut Intramous. “Mohon maaf kalau kenyamanan Anda terganggu bau yang kurang sedap,” ujar Jonathan meminta pengertian tamunya.