Senin, 28 April 2014

Nilai-Nilai Keperawatan, di dalam Etika Keperawatan/ Nursing Values​​, Ethics in Nursing

Nilai-Nilai Keperawatan, di dalam Etika Keperawatan
(Sumber/ source: Ismani, Nila.2001.Etika Keperawatan.Jakarta:Widya Medika.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com )
            Nilai (values) merupakan hak manusia dan pertimbangan etis yang mengatur perilaku seseorang. Nilai merupakan milik setiap pribadi yan mengatur langkah yang sseharusnya dilakukan karena merupakan cetusan dari hati urani yang dalam dan diperoleh seseorang sejak kecil. Nilai dipengaruhi oleh lingkungan da pendidikan yang dewasa ini mendapat perhatian khusus, terutama bagi perawat karena perkembanga peran perawat menjadikan mereka lebih menyadari nilai dan hak orag lain serta dirinya sendiri.
Klasifikasi nilai adalah suatu proses, di mana orang atau seseorang dapat menggunaknnya untuk mengidentifikasi nilai mereka sendiri. Seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan, selain menggunakan ilmu keperawatan yang mereka miliki, juga diperkuat oleh nilai yang ada dalam diri mereka. Sehingga perawat dapat membantu pasien untuk mendapatkan pola tindakan yang didasarkan pada nilai yang ada pada mereka. Hak pasien merupakan hasil legislasi dan standar etis masyarakat yang sepatutunya dijunjung tinggi. Berdasarkan nilai yang ada pada diri perawat, mereka diharapkan dapat menghargai hak pasien atau klien yang dirawatnya dalam setiap pelaksanaan tugasnya.
Pada waktu yang lalu, pasien dan keluarganya sering tidak diperhatikan hak fundamentalnya, terutama privasi sopan santun dan informasi. Legislasi berarti suatu ketetapan atau ketentuan hukum yang mengatur hak dan kewajiban seseorang yang dapat berhubunga erat denga tindakan (Liberman, 1970). Legislasi dapat memberikan kejelasan tentang hak dan kewajiban seseorag secara praktis dalam melaksanakan tugas profesinya, sehingga dapat bekerja lebih professional. Pada waktu yang lalu, pasien sering merasa kurang dipentingkan dalam tatanan kesehatan, da kurang diperhatikan hak-haknya sehingga kurang terjalin kerjasama antara perawat dengan pasien.
A.    Pengertian
Ada beberapa pengertian tentag nilai, yaitu sebagai berikut:
1.      Nilai adalah sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh seseorang sesuai denga tuntutan hasti nurani (pengertian secara umum).
2.      Nilai adalah seperangkat keyakinan dan sikap pribadi seseorag tentang kebenaran, keindahan, dan penghargaan dari suatu pemikiran objek, atau perilaku yang berorientasi pada tindaka dan pemberian arah serta makna pada kehidupan seseorang (Simon,1973)
3.      Nilai adalah keyakinan seseorang tentag sesuatu yang berharga, kebenara atau keinginan mengenai ide, objek atau perilaku khusus (Znowski,1974)
Pengertian di atas menunjukkan bahwa nilai tersebut bersifat pribadi, sedangkan kode etik adalah milik suatu profesi atau masyarakat secara keseluruhan. Para ahl sepakat bahwa nilai timbul dari pengalaman pribadi seseorag dan akan berbeda untuk setiap orang. Nilai tersebut merupakan suatu cirri, yaitu sebagai berikut.
1.      Nilai membentuk dasar perilaku seseorang.
2.      Nilai nyata dari seseorang diperlihatkan melalui pola perilaku konsisten
3.      Nilai menjadi control internal bagi perilaku seseorang
4.      Nilai merupakan komponen intelektual dan emosional dari seseorang yang secara intelektual diyakinkan tentang suatu nilai serta memegang teguh dan mempertahakannya.
Nilai dipelajari sejak kecil oleh anak di rumah, kemudian berkembang sepanjang hidupnya. Bila seseorang memilih menjadi perawat berarti ia membawa nilai yang ada sebelumnya ke dalam dunia keperawatan. Nilai tersebut ada yang cocok dan ada pula yang tidak cocok dengan etika keperawatan. Untuk praktik sebagai perawat professional, diperlukan nilai yang sesuai dengan kode etik profesi, antara lain dengan:
1.      Menghargai martabat individu tanpa prasangka;
2.      Melindungi seseorang yang hal privasi
3.      Bertanggung jawab untuk segala tindakannya. Tindakan tersebut dimanifestasikan dalam perilaku tertentu sebagai kegiatan yang dilaksanakan dengan hati-hati dan melaporkannya bila terjadi suatu kesalahan.
Seorang perawat yang menghargai hak privasi pasien akan menerapkan kepada pasien, sebagai berikut:
1.      Menutup area untuk mandi dan pengobatan;
2.      Menutup pasien untuk setiap prosedur tertentu;
3.      Menyediakan tempat konsultasi bagi pasien deng pemuka agama atau anggota keluarga yang sedang bersedih.

B.     Nilai yang sangat diperlukan oleh perawat
1.      Kejujuran
2.      Lemah lembut
3.      Ketetapan setiap tindakan
4.      Menghargai orang lain
Falsafah sekarag untuk mengintegrasikan nilai-nilai adalah spiritual, professional, social dan estetika yang dapat menghasilkan suatu kode atau peraturan. Menghargai privasi adalah dasar nilai etis untuk keperawatan. Mahasiswa keperawatan belajar dengan cara membiasakan diri “menjadi sensitive terhadap perasaan pasie ndam memahami kebutuhannya.”

C.     Metode Mempelajari Nilai
Menurut teori klarifikasi nilai, keyakinan atau sikap dapat menjadi suatu nilai apabila keyakinan tersebut memenuhi tujuh criteria sebagai berikut:
1.      Menjunjung dan menghargai keyakinan dan perilaku seseorang
2.      Menegaskannya di depan umum, apabila cocok,
3.      Memilih dari berbaga alternative;
4.      Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya.
5.      Memilih secara bebas
6.      Bertindak
7.      Bertindak dengan pola konsistensi

D.    Keyakinan
Ada beberapa pengertian tentan keyakinan, yaitu sebagai berikut:
1.      Keyakinan adalah sesuatu yang diterima sebaga kebenaran melalui pertimbangan dan kemungkinan, tidak berdasarkan kenyataan
2.      Keyakinan merupakan pengorganisasian konsep kognitif, misalnya individu memegang keyakinan yang dapat dibuktikan melalui kejadian yang dapat dipercaya.
3.      Tradisi rakyat atau keluarga merupakan keyakinan yang berjalan dari satu generasi ke generasi lain

E.     Sikap
Sikap adalah suasana perasaan atau sifat, di maa pelaku yang ditujukan kepada orang, subjek, kondisi, atau situasi, baik secara tradisional maupun nilai atau keyakinan. Sikap dapat diajarkan melalui cara:
1.      Member contoh, teladan, atau model peran
2.      Membujuk atau meyakinkan
3.      Mengajarkan melalui budaya
4.      Pilihan terbatas
5.      Menetapkan melalui peraturan
6.      Mempertimbangkan denga hati nurani

F.      Memberi Contoh, Teladan atau Model Peran
Setiap individu belajar dari seperangkat contoh melalui perlaku orang lain yang diterimanya, misalnya seorang anak berperilaku bak karena di dalam keluarganya dibiasakan bersikap baik, sopan santun, dan ditunjang oleh lingkungan yang baik pula.
Ada perbedaan situasi di masa lampau denga situasi sekarang. Di masa lalu, contoh model peran sangat terbatas dan dapat diambil dari keluarga dan lingkunga masyarakat setempat, misalnya seorang guru dapat menjadi panutan di lingkungan masyarakat. Di masa sekarang, bayak sumber dapat dijadikan contoh, misalnya melalui radio, TV dan sebagainya. Masyarakat luas dapat memperoleh contoh melalui permainan yang canggih yang tersebar di banyak tempat, misalnya di pusat perbelanjaan dan sebaganya.
Denga canggihnya alat informasi pada masa sekarang, sulit untuk belajar nilai dari contoh sehingga dapat membingungkan masyarakat, terutama aak. Contoh dari media masa kadag berbeda dengan yang diterima di dalam keluarga atau di lingkungan masyarakat. Hal ini dapat menimbulkan konflik pada diri mereka. Masalah ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari keluarga atau orang tua dan para pendidik.

G.    Membujuk atau Meyakinkan
Membujuk atau meyakinkan seseorang mempunyai dasar kognitif. Hal ini tidak terkait denga aspek emosional dari perilaku seseorang. Contoh: perawat meyakinkan pasien untuk mencuci tang setiap pagi walaupun pasien tidak ingin  melakukannya karena pasien tidak mempunyai nilai dalam hal kebersihan. Perubahan ini hanya terjadi pada perubahan perilaku yang bersifat sementara dan bukan merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan nilai pribadi seseorang. Karena bla pasien pulang ke rumahnya, sifat atau kebiasaan makan tanpa mencuci tangan akan dilakukan kembali.

H.    Mengajarkan Budaya
Budaya dan agama mempengaruhi perilaku seseorag tapa pilihan. Setiap individu dapat menerima keyakinan tersebut. Contoh: mahasiswa AKPER diajarkan di rumah bahwa memakai tat arias adalah berdosa, akan tetapi ia tidak diberi pilihan di rumah atau di sekoah. Belakanga terlihat jelas pilihan yang lain, lalu ia memutuskan untuk tidak memakai tat arias bila pulang di rumah karena khawatir akan dipermasalahka oleh orag tuanya. Namun, di luar rumah, ia tidak menentukan sendiri apakh perlu menggunakan tat arias atau tidak, sesuai denga kepentinganya.
Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dari keluarga tidak menjadi system nilai bagi yang bersangkutan yang mempunyai nila yang berbeda denga yang diajarkan di rumah, sehingga ia mengambil suatu alternative untuk mengamankan diri agar tidak mendapatkan amsalah bila ia pulang ke rumah.

I.       Pilihan Terbatas
Perilaku seseorag dikontrol dengan membatasi pilihan seseorag denga tidak mempunyai pilihan secara bebas. Contoh: Mahasiswa AKPER diperbolehkan keluar asrama sebelum pukul 21:00. Mahasiswa mempunyai dua pilihan yang dapat mengontrol perlakunya yang merupakan dasar terhadap tingkah lakunya di masa yang akan dating. Apakah ia akan mengikuti peratura atau melanggar peraturan, sehingga ia aka mendapatkan kesulitan karena pelanggaran itu. Oleh karena itu, ia akan mempertimbangkan untuk selalu mengikuti peraturan dan disiplin.

J.       Menetapkan Peraturan
Ketentuan dan peratura yang digunakan untuk mengontrol perilaku seseorang adalah:
1.      Perilaku yang dipelajari biasanya dapat diterima secara social dan diterapkan dalam situasi yang sama dengan waktu yang akan dating
2.      Berperilaku dalam cara tertentu karena takut diberi sanksi, sehingga tidak mempertimbangkan nilai benar atau salah.
3.      Menggunakan nilai untuk mengarahkan perilakunya, berarti dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah.

K.    Mempertimbangkan dengan hati nurani
Orag sering mempelajari seperangkat norma perilaku yang dianggap benar. Kegagalan untuk mengikuti norma  (hati nurani) dapat mengakibatkan timbulnya perasaan bersalah. Contoh: seorang ibu melarang anaknya pergi karena khawatir bila terjadi sesuatu terhadap anaknya. Bila aak tersebut melaggar keinginan ibunya, maka akan timbul rasa bersalah. Hal ini bersifat negative dan kurang efektif untuk mengontrol seseorag.

L.     Konflik antara Nilai dan Kewajiban Profesional
Denga berubahnya lingkup praktik keperawatan dan teknologi medis, tanggung jawab keperawatan akan menjadi konflik denga nilai pribadi perawat, misalnya:
1.      Atasan membutuhkan bantuan perawat dalam hal pelaksanaan aborsi terapeutik. Akan tetapi, hal ini bertentangan dengan nilai pribadinya. Meskipun demikian, perawat tetap melakukan tugasnya karena, bagaimanapun juga, kesejahteraan pasien adalah esensial, walaupun di dalam dirinya terjadi konflik
2.      Memperpanjang kehidupan pasien yang tidak reponsif dengan menggunakan mesin
3.      Tidak memasukkan tranfusi darah karena keyakinan agama individu (pasien) yang seharusnya ia lakukan.
Denga majunya ilmu dan teknologi, konflik yang terjadi makin tinggi. Untuk itu perlu diterapkan system klarifikasi nilai, yaitu suatu proses di maa individu memperoleh jawaban atau nilai mereka sendiri terhadap beberapa situasi melalui proses pengembangan nilai individu.
Hal ini merupakan klarifikasi nilai mereka masing-masing bahwa tidak ada seperangkat nilai yang benar untuk tiap orang. Proses klarifikasi nilai dirumuskan oleh Lous Ranths pada tahun 1966 berdasarkan pemikiran John Dewey. Proses klarifikasi nilai ini lebih memperhatikan proses penilaian, bukan berdasarkan isi penilaian. Proses penilaian mencakup tujuh yang ditempatkan dalam 3 kelompok (Smon,1972) yaitu:
1.      Menghargai
a.       Menjunjung dan menghargai keyakinan dan perilaku seseorang
b.      Menegaskannya d depan umum bila diperlukan
2.      Memilih
a.       Memilih dari berbagai alternative
b.      Memilh setelah mempertimbangkan konsekuensinya
c.       Memilih secara bebas
3.      Bertindak
a.       Bertindak
b.      Bertindak sesuai dengan pola, konsistensi dan repetisi (mengulang yang telah disepakati)

Denga menggunaka ketujuh langka tersebut ke dalam klarifikasi nilai, perawat dapat menjelaskan nilai mereka sendiri dan dapat mempertinggi pertumbuhan pribadinya. Langkah di atas dapat ditetapkan pada situasi pasien, dimana perawat dapat membantu pasien mengidentifikasi bidag konflik, memilih da menentukan berbagai alternative, menetapkan tujuan dan melakukan tindakan