Rabu, 16 April 2014

Perilaku Seks Sopir/ Sex Behavior driver

Perilaku Seks Sopir
(Sumber/ source: Setyawan, Dwi.2014.”Aris Puji Utami, Dosen Stikes NU Tuban yang Teliti Perilaku Seks Menyipang Sopir Pantura (2-Habis)”. Dalam Jawa Pos, tanggal 19 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Dwi Setyawan Tuban. Memliki panyak pasangan, perempuan simpanan, atau pelanggan selama ``perjalanan, tampakya, sudah menjadi kebiasaan sopir truk pantura. Sekes jalanan bagian dari hidup sopir truk. Perilaku seksual jalanan sudah diterima sebagai norma khusus yang berlaku di kalangan atau komunitas pengemudi truk. Pandangan ini disampaikan 28 sopir (17,5 persen) atas perilaku temannya sesame sopir. “Para sopir menyampaikan itu tanpa beban. Sepertinya, ini menjadi sesuatu yang lazim di kalangan mereka,” kata Aris.
            Norma khusus yang berlaku dalam komunitas ini, lanjut dia, di duga sangat kuat pengaruhnya terhadap erilaku dan kebiasaan anggotanya. Sulit bagi anggota komunitas ini untuk mempertahankan diri. Terlebih, menentang norma yang berlaku di komunitas. Kondisi ii diperparah dengan banyak warung dan tempat persinggahan yang menawarkan hubungan seksual. Para sopir truk pun sulit menghindar. Tak kuatnya sopir menahan godaan tidak “jajan” diungkapkan dengan gaya tulisan khas. Dia menyebut 19 orang (11,9 persen) tidak yakin bisa menolak wanita pekerja seks (WPS) Untuk melakukan hubungan seks. Itu karena sebagian epekerja seks ditempat persinggahan proaktif merayu para sopir truk. Selebihnya 16 orang (10 persen) tidak yakin dirinya tidak akan terpengaruh dengan desakan, tekanan, ejekan teman untuk berhubungan seks dengan WPS. Berganti-ganti pasangan perempuan dianggap sebagai sesuatu yang lazim. Dalam penelitian ini, 63 sopir (39,4 persen) berpandangan bahwa seks bebas di kalangan sopir adalah sesuatu yang wajar. Bahkan, 37 sopir (23,1 persen) menyatakan bla tidak melakukan hubungan seks dengan perempuan selain istri, ukan lelaki sejati. Pendapat ekstrem lainnya juga diungkapkan Aris. Yakni, bila sopir tidak berhubungan seks selama perjalanan, dianggap menentang kebiasaan atau norma komunitas mereka. Jumlah sopir yang menyampaikan pendapat ini 28 orang (17,5 persen). Norma tersebut mengadaskan kesadaran sopir yang mengetahui bahaya penyakit menular, termasuk HIV/ AIDS dari penyuluhan yang diikuti. Dari 150 respnden, 65 orang (40,6 persen) pernah mendapat penyuluhan inveks menular seksual (IMS) lebih dari sekali. Responden lain, meski tak pernah mendapat penyuluhan, tahu bahaya penyakit menular (IMS) lebih dari sekali. Respnden lain, meski tak pernah mendapat penyuluhan, tahu bahaya penyakit menular tersebut dari berbagai media nformasi. Dari fakta yang dipotret ini, Aris menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi penyuluhan tentang infeksi menular seksual dengan perilaku sopir truk yang berganti-ganti pasangan seksual. Di antara sopir truk pantura, siapa yang paling berpeluang jajan d tempat persinggahan? Penelitia dosen Stikes NU Tuban itu menyebutkan, spir truk antarkota mempunyai kemungkinan berperilaku tidak berganti-ganti pasangan sebesar 2,659 kali disbanding sopir truk antarprovinsi. Menurut analisis Aris, jenis sopir truk berkaitan dengna jarak tempuh perjalnan. Sopir truk antarprovinsi mempunyai jarak tempu lebih jauh dibandingkan antarkota. Karena itu, tingkat stress dan kemacetan di jalan lebih panjang. “Korelasinya, kecenderungan mereka mencari hiburan untuk melepas stress dan penat lebih tinggi,” urai mahasiswa Undip yang pernah mewakili Indonesia pertemuan ilmiah The 6th International Conference on Reproductive Health and Social Science Research di Thailand, 24 Agustus 2012 itu.

            Di mata sopir truk, salah satu hiburan dan rekreasi yang bisa mengendurkan saraf adalah berhubungan seksual. Pendapat ini didukung 45 sopir (28,1 persen). Peluang sopir truk antar proinsi “jajan” juga dipengaruhi materi. Itu karena setiap perjalanan kerja, perusahaan member merkea uang perjalanan dalam jumlah lebih untuk kepentingan sewaktu-waktu yang tidak terduga. Uang perjalanan ini diluar dana pembelihan bahan bakar minyak (BBM). Dalam penelitian tersebut uga diungkap bahwa tidak semua sopir truk pantura punya perilaku seks menyimpang. Religiusitas atau tingkat ketaatan beragama juga menjadi penentu aspek kualitas manusia beragama. Indicator ini juga dipotret Aris dalam penelitiannya. Sopir truk yang tekun mengerjakan agama lebih dapa mengendalikan diri untuk tidak berhubugna seksual selain dengan pasangan yang sah. Dari 160 responden peneliti, hanya 29 orang (18,1 persen) yang menkalankan ibadah salat lima waktu. Juga senantiasa berdoa untuk nonmuslim. Mereka inilah yang dalam penelitian meiliki kesadaran bahwa perilaku berganti pasangan merupakan perbuatan dosa dan akibat buruk dirinya. Ketika beristirahat di tengah perjalanan, sopir yang religious menggunakan waktu tersebut utuk beribadah. Sementara, yang kuran tekun berpotensi melakukan hubungan seksual. Perilaku sopir yang suka “jajan” inilah yang menjadi pemicu penularan IMS dan HIV/ AIDS kepada istri dan anaknya yang tidak berdosa.