Sabtu, 12 April 2014

Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina/ Rizal Memorial Stadium, Manila, Philippines

Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina
(Sumber/ Source: E.S, Minftakhul.2014.Menguujungi Stadion Rizal Memorial, Manila,Filipina. Dalam Jawa Pos, tanggal 19 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
Stadion Rizal Memorial begitu istimewa dalam sejarah sepak bola Iindonesia. Di stadion itu, Merah Putih pernah berkibar tinggi ketika meraih medali emas Sea Games 1991. Kemenangan yang sampai saat ini belum terulang. Akhir pekan lalu, Jawa Pos mengunjungi stadion bersejarah itu.
            Sudah 22 tahun lalu. Namun, 4 Desember 1991 malam di Stadion RizalMemorial itu tidak pernah dilupakan Suudirman. Pria 44 tahun tersebut masih ingat betul suasana malam itu. Tentu saja pula segala lekuk stadionnya. Maklum, malam itu Merah Putih berkibar tinggi. Malam itu Indonesia mencatat sejarah merengkuh medali emas SEA Games 1991 untuk kali pertama di negeri orang. Atau, medali kedua setelah kemenangan di Sea Games 1987 di Jakarta. Indonesia juara setelah meremukkan Thailan 4-3 lewat drama adu pinalti. Sudriman merupakan bagian dari tim yang merebut kemenangan malam itu. “Kemenangan yang tidak terlupakan. Begitu pula stadionnya. Tempatnya memang biasa, tapi momennya sangat istimewa,” ungkap Sudirman.
            Mantan bek tim nasional tersebut mengingat bahwa RizalMemorial hanyalah stadion kecil. Kapasitas memang hanya 12 ribu. “Rumputnya juga tidak terlalu bagus. Tapi, kondisinya sangat bersih,” tambahnya.
            Bersih? Mungkin karena waktu ini digelar Sea Games sehingga pemerintah Filipina menjaganya dengan sangat baik. Tapi, kondisi stadion di Pablo Ocampo Street atau sebelumnya dikenal sebagai Vito Cruz Street), Malate, Manila, tersebut kini jauh dari yang digambarkan Sudirman. Bagian depan Stadion Rizal Memorial begitu kusam untuk tidak menyebutnya kotor. Cat temboknya sudah mengelupas di sana sini. Coretan liar turut menambah kusam. Kaca jendela juga tidak lagi bening. Debu begitu tebbal menempek di kaca tersebut. sudah begitu, bau pesing sangat menyengat. Bau tidak hanya tercium dari bagian dinding stadion, juga di jalanan di depan stadion. Pintu masuk stadion pun langsung bersiinggungan dengan jalan raya. Sebab, antara stadion dan jalan hanya terpisah oleh trotoar selebar 3 meter. Lazimnya bagian depan stadion, terhampar halaman luas. Tidak hanya untuk antre penonton yang akan masuk stadon, tap juga untuk parkir. Tapi, tidak demikian halnya dengan Stadion Rizal Memoral. Di depannya ada jalan raya dengan lalu lalang kendaraan umum. Padahal, Sudirman menyebutkan, di seberang stadion dulu ada tanah lapang untuk area parkir. Di area itu kin berdiri mal. Masuk ke dalam stadion, kondisi tidak lebh baik. Tribunnya tampak kusam. Ruput juga tidak hijau. Beberapa bagian gnduul dan kering. Kesan tidak terawat dan jarang di siram sangat tampak. Gawang pun berdiri tanpa jala. Yang menambah tidak sedap adalah banyak tumpukan material di depan tribun utama bagian selatan. Material tersebut memang ditutupi terpal. Tapi tetap saja tidak lazim. Keindahan kemenangan bersejarah di Indonesia di stadion yang pernahh menggelar konser The Beatles apda Juli 1966 itu pun sulit dirasakan. “Stadio ini memang jarang digunakan untuk pertandingan,” kata Basbar Junior, petugas keamanan Stadion Rizal Memorial.
            Hanya pertandingan tim nasional Filipina yang d imainkan di stdion yang dibuka kali pertama pada 1934 tersebut. pertandingan terakhir pada Maret 2013 ketika Filipina menjadi tuan rumah kualifikasi Grup E AF Chalenge Cup 2014. “Pertandingan lainnya dilakukan di staion lain. Di kompleks ini (Rzal Memorial Sport Complex, Red) yang selalu ramai adalah stadion baseball,” terangnya Basar yang sempat melarang Jawa Pos masuk stadion.

            Sepak bola memang bukan olahraga utama di Filipina. Masyarakat negeri kepulauan di utara Indonesia tersebut lebih mengandrungi basked dan baseball. Karena itu, seakan wajar stadion sepak bola di sana tidak terlalu terawat. Kendati begitu, stadion Rizal Memorial tetap sangat berarti bagi sejarah sepak bola Indonesia.