Rabu, 09 April 2014

The MacDonald House, bekas lokasi pengeboman oleh Usman dan Harun, di Orchard Road, Singapura/ The MacDonald House, the former location of the bombing by Usman and Aaron, on Orchard Road, Singapore

The MacDonald House, bekas lokasi pengeboman oleh Usman dan Harun, di Orchard Road, Singapura
(Sumber/ Source: Putra, Bayu.2014.Kunjungi The MacDonald House, Lokasi Pengeboman oleh Usman dan Harun. Dalam Jawa Pos, tanggal 13 Februari 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com)
            Polemik penamaan KRI Usman-Harun tidak lepas dari sjarah infiltrasi Indonesia ke Singapura tahun 1965 silam. Serta KKO Anumerta Usman Janatin dan Kopral KKO Anumerta Harun Said, digantung karena mengebom gedung The MacDonald House di Orchard Road.
            Gedung 10 lantai di jantung Singapura itu sangat mudah dikenali. Di sekitar kawasan Orchard Road, bangunan tersebut tampak mencolok dan berbreda dengan gedung yang lain karena menggunakan dinding bata timbul warna merah mendominasi bangunan berarsitektur kolonial Inggris itu. Di balkon lantai  terpampang jelas nama gedung tersebut, The Mac Donald House (TMH). Tujuh puluh delapan jendela putih menghiasi bagian depan gedung. Di bagian tengah lantai 3 tampak beton persegi panjang berukir lambang Singapura era kolonial. Di abwah lambang tersebut terdapat ukiran kapal dagang. Juga dari jaman penjajahan. Dari luar, TMH terlihat layaknya gedung perkantoran. Tidak tampak bekas serangan bom di gedung itu. Hanya ada sebuah prasasti yang menyebutkan TMH termasuk salah satu gedung bersejarah yang dimiliki Singapura. Nilainya kurang lebih sama dengan Museum Nasional Singapura atau Masjid Sultan. Dalam prasasti dituliskan sejarah singkat gedung TMH. Di bangun pada 1949 untuk keperluan perbankan milik Hongkong dan Shanghai Banking Corporation. TMH merupakan salah satu gedung tinggi pertama yang dibangun di kawasan Orchard Road. Keterangan berikutnya terkait dengan peristiwa pengeboman oleh tentara Indonesia pada 10 Maret 1965. Dalam prasasti itu ditulis bahwa peristiwa pengeboman merupakan serangan teroris selama masa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Jumlah korban tewas tercaat tiga orang, sedangkan 33 lainnya menderita luka-luka. Peristiwa tersebut “menyakitkan” bagi Singapura. Karena itu, dalam sidang di pengadilan negeri Singapura, pelaku pengeboman, serta KKO Anumerta Usman Janatin dan Kopral KKO Anumerta Harun Said, akhirnya dihukum gantung.
            Sebaliknya, bagi Indonesia, kedua serdadu tersebut merupakan pahlawan. Karena itu, layak bila pemerintah kemudian mengabadikan nama keduanya di kapal perang milik TNI Angkatan Laut.
            Penamaan KRI Usman-Harun itulah yang menyulut ketersinggungan Singapura. Mereka keberatan atas penggunaan Usman-Hurman sebagai nama KRI. Tapi, pemerintah Indonesia bersikukuh tetap akan menggunakan nama KRI Usman-Harun di salah satu alusistanya.
            Selain Usman-Harun, sebenarnya ada seroang tentara KKO lain yang ikut mengebon gedung TMH. Prajurit bernama Gani itu berhasil lolos dari maut karena kembali ke Indonesia hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
            Sementara itu, gedung TMH  kini telah direnovasi menjadi kantor bank yang sibuk. Anehnya, ketika Jawa Pos menanyakan sejarah gedung itu, tidak ada karyawan bank tersebut yang tahu. ”This bank, not historical building (ini bank, bukan gedung bersejarah, Red),” ucap seorang karyawan yang enggan diketahui identitasnya kemarin, 12 Februari.
            Cerita pengeboman itu, tampaknya, mulai dilupakan warga Singapura. Terutama oleh generasi muda mereka. Khairul, 22, mengaku tidak tahu pasti sejarah gedung tersebut. ketika dikatakan bahwa gedung itu pernah dibom, dia menggeleng. “Ssetahu saya gedung itu pernah terbakar. Tidak dibom,” tuturnya saaat ditemui di taman dekat TMH.
            Khairul mengakui dirinya tidak mendapat pelajaran sejarah negaranya secara detail. Tidak heran jika dia tidak banyak tahu peristiwa bersejarah di negaranya. “Setahu saya, ada info bahwa gedung itu akan dirobohkan, tapi, saya tidak tahu kapan,” katanya.
            Hal senada diungkapkan Alkina, petugas MRT atau mass rapid transit yang beroperasi di kawasan Orchard Road. “Memang, saya tahu gedung itu pernah dibom. Tapi, saya tidak tahu pasti peristiwanya karena saat itu saya belum lahir,” ujar pria 34 tahun tersebut.
Tapi, lain lagi yang disampaikan Wo Yunnos. Pria paro baya itu mengungkapkan, saat bom jatuh di TMH, terjadi kepanikan. Warga semburat menyelamatkan diri. Menurut dia, peristiwa tersebut telah menjadi bagian dari sejarah Singapura. Yunnos mengatakan, masyarakat Singapura tidak marah atas tragedi apalagi sampai dendam kepada masyarakat Indonesia. Sebab, masyarakat Singapura dan Indonesia sudah berpuluh tahun menjalin hubungan bak. Dia mencontohkan beberapa temannya yang memiliki pembantu rumah tangga atau pengasuh bayi asal Indonesia. Ketika diceritakan bahwa peristiwa itu menghangat di media Indonesia, setelah Singapura memprotes penamaan KRI Usman-Harun, Yunnos terkejut. Dia mengakui, beberapa media Singapura menurunkan berita itu. Salah satunya The Strait Times/ “Tpai kami tidak merasa geram atas masalah itu. Ini politis,” ujarnya.
Catatan kelam mengenai pengeboman gedung TMH tersebut dtidak mudah diperoleh. Di museum pemadam kebakaran di pusat kota Singapura. Sama sekali tidak ada catatan tentang sejarah tersebut. menurut saah seorang petugas museum, 1960-an merupakan tahun berakhir Singapura menjadi bagian dari Malaysia. “Sayangnya, dokumentasi tentang peristiwa pengeboman itu telah dibawa ke London.”
Peristiwa pengeboman gedung TMH itu membaut pemerintah Singaura murka. Mereka memburu para pengebom dan memblokade semua jalur laut keluar dari Singapura. Setelah tiga tahun diburu, Usman dan Harun di tangkap di perairan Singapura setelah kapal motor yang mereka tumpangi mogok. Keduanya diadili dan dijatuhi hukuman mati. Pada 17 Oktober 1968 subuh dua prajurit pemberani itu dieksekusi di tiang gantungan. Dua prajurit tersebut langsung mendapat dua gejalr yang tolak belakang. Presiden Soeharto kala itu langsung memberikan gelar kepahlawanan pada mereka. Kedatangan dua jenazah di Bandara Kemayoran disambut ribuan warga dengan isak tangis. Sebaliknya, bagi Singapura, Usman dan Harun adalah teroris. Mereka membawa luka bagi masyarakat Singapura. Pada tahun 1973, polemik Usman dan Harun ditutup setelah Perdana Menteri Singapura yakni Lee Kwan Yew berkunjung ke Indonesia. Bahkan, Perdana Menteri Singapura yakni Lee Kwan Yew sempat berziarah dan menabur bunga di makam Usman dan Harun di TMP Kalibata, Jakarta.

Namun, awal Februari 2014, Singapura melayangkan nota protes kepada Menteri Luar Negeri Indonesia yakni Marty Natalegawa. Mereka berkeberatan dengan penamaan Usman dan Harun untuk KRI anyar mlik TNI Angkatan Laut yang tahun ini akan didatangkan dari Inggris. Marty pun menerima nota tersebut dengan tangan terbuka, namun tidak mengubah keputusan. “Keberatan ini akan dicatat,” ujar baru-baru ini. Merasa tidak digubris, Singapura melancarkan aksi ngambek. Panglima TNI, kepala staf angkatan, Wakil menteri pertahanan, dan 100 perwira TNI yang bersiap berangkat dalam pembukaan Singapura Airshow 2014 akhirnya mengurungkan niat. Sebab, panitia mendadak mencabut undangan untuk para petinggi militer Indonesia itu.