Selasa, 06 Mei 2014

Implementasi Sosial dan Budaya pada Asuhan Keperawatan/ Social and Cultural Implementation on Nursing Care


Impelementasi Sosial dan Budaya pada Asuhan Keperawatan
(Sumber/ source: Mashudi, Sugeng.2012.Sosiologi Keperawatan.Jakarta:EGC.)
 (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. silahkan mengikuti di dalam blog/ please follow in the blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or/ atau www.ithinkeducation.wordpress.com
I.            Sosio atau Masyarakat
Manusia merupakan makhluk yang dalam kehidupannya tidak dapat hidup sendiri, cenderung hidup berkelompok. Menurut Koentjaraningrat (1990) dalam bukunya Pengantar Antropologi menyatakan bahwa manusia adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengna sistema adat istiadat tertetnu yang sifatnya berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Sebagai makhluk social, manusia cenderung untuk berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Gilin dan Gillin (1954) dalam bukunya Culture Sociology menjelaskan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang besar yang mempunyai kebebasan, sikap, tradisi, dan perasaan persatuan yang sama. Konsep ini menjelaskan kepada kita bahwa kelompok manusia yang besar terkait konsep masyarakat suatu bangsa, misalnya masyarakat Indonesia, masyarakat Malaysia, masyarakat Inggris dan masyarakat Negara lain.
Defisini masyarakat yang diuraiakan di atas tampaknya masih terlalu luas dan abstrak untuk kita pahami. Agar kita lebih mengerti secara mendalam tentang defisini masyarakat, kita perlu mengetahui unsure masyarakat. Secara sederhana, Koentjaraningrat (1990) membagi unsure masyarakat ke dalam dua bagian yaitu kesatuan social dan pranata social. Kesatuan social merupakan bentuk, susunan dan kesatuan individu yang berinteraksi dalam kehidupan masyarakat yang meliputi kerumunan, golongan dan kelompok. Pranata social adalah kumpulan berbagai norma dan segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. Berbagai norma tersebut memberi petunjuk bagi tingkah laku individu yang hidup di masyarakat. Dengan mengerti unsure masyarakat, kita akan lebih paham makna yang terkandung dlaam definisi kebudayaan.

II.            Kebudayaan
Dalam pengertian yang terbatas banyak orang yang memberikan defisini kebudayana sebagai bangunan indah, candi, tari-tarian, seni suara, dan seni rupa. Kebudayaan diartikan sebagai kesenian. Ada pula yang memberikan definisi kebudayaan sebagai hasil dan cipta, karsa dan rasa. Sebenarnya kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta budhaya, bentuk jamak dari budhi, yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan diartikan sebagai hal yang bersangkutan dengan akal.
Menurut Koentjaraningrat (1990), terdapat sekitar 160 definisi kebudayaan yang telah berhasil dikumpulkan oleh A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn. Sebanyak 160 definisi kebudayaan tersebut kemudian dianalisis, dicari latar belakangnya, prinsip dan intinya, kemudian di klasifikasikan ke dalam berbagai tipe definisi. Hasil pengertian kebudayaan tersebut kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku yang diberi judul Culture, A Critical Review of Concepts and Definition.
Berbagai unsure universal yang pasti didapatkan di semua kebudayan di dunia adalah system religi, system dan organisasi masyarakat, system pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, teknologi, dan peralatan. Dalam hal ini unsure budaya di bagian atas dan deret merupakan unsure yang lebih sukar berubah jika dibandingkan dengna unsure-unsur yang disebut kemudian di bagian abwah dan deret. Namun, hal ini hanya dalam garis besarnya saja karena ada kalanya sub-sub unsure dan suatu unsure lebih sukar diubah bila dibandingkan dengan sub-unsur dan suatu unsure yang tercantum di atasnya.

III.            Pengaruh social padak esehatan dan perilaku kesehatan
Sehat sering diartikan sebagai efisiensi social untuk dapat melakukan peran dan fungsi dalam masyarakat. Ketika seorang individu sehat secara otomatis indivdu tersebut akan mampu beremansipasi dalam melaksanakan hak dan kewajibannya di masyarakat. Sebaliknya, ketika individu terganggu status kesehatannya, emansipasi dalam melaksanakan hak dan kewajibannya di masyarakat juga akan terganggu. Kondisi ini dapat merugikan masyarakt sehingga dengan status kesehatannya tersebut individu diharapkan dapat mencapai kepuasaan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada beberapa aspek social yang memengaruhi status kesehatan, di antaranya:
1.      Umur. Semakin bertambah umur seorang individu, pola penyakit yang dialami juga akan mengalami pergeseran. Jika dilihat dari golongan umur, maka ada perbedaan pola penyakit berdasarkan golongan umur. Misalnya, di kalangan balita banyak yang menderita penyakit infeksi, sedangkan pada golongan usia lanjut lebih banyak menderita penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker dan lainnya.
2.      Jenis kelamin. Kecenderungan penyakit terkadang dipengaruhi oleh jenis kelamin individu. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat beberapa jenis penyakit yang hanya diderita oleh jenis kelamin tertentu. Misalnya, di kalangan wanita lebih banyak menderita penyakit kanker payudara, sedangkan pada laki-laki banyak yang menderita kanker prostat.
3.      Pekerjaan. Terdapat hubungan antar jenis pekerjaan dengan pola penyakit tertentu. Misalnya, petani mempunyai pola penyakit yang berbeda dengan pola penyakit pekerja di industry. Di kalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja yang dilakukan di sawah dengna lingkungan yang banyak cacing. Sebaliknya buruh yang bekerja di industry, misalnya di pabrik tekstil, banyak yang menderita penyakti saluran pernapasan karena banyak terpapar dengan debu.
4.      Social ekonomi. Keadaan social ekonomi juga dipengaruh pada pola penyakit dan berpengaruh pada kematian. Misalnya, angka kematian akan lebih tinggi di kalangan golongan yang status ekonominya rendah dibandingkan dengan mereka dari golongan status ekonomi tinggi. Demikian pula obesitas, lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi, tetapi malnutrisi lebih banyak ditemukan di kalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Menurut Foster (1978), identifikasi individu kepada kelompok berpengaruh terhadap perilaku kesehatan.
1.      Pengaruh konsep diri (self concept) terhadap eprilaku kesehatan, konsep diri pada diri kita ditentukan oleh tingkatan kepuasaan atau ketidakpuasaan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain. Konsep diri merupakan factor yang penting dalam kesehatan karena hal ini memengaruhi perilaku masyarakat dan juga perilaku petugas kesehatan.
2.      Pengaruh image kelompok terhadap perilaku kesehatan. Tampilan (image) seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Misalnya, anak seorang perawat akan terpapar oleh organisasi keperawatan dan orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan lingkungan keperawatan dan besar kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi perawat.
3.      Pengaruh identifikasi individu kepada kelompok sosialnya terhadap perilaku kesehatan. Identifikasi individu kepada kelompok kecilnya sangat penting untuk memberikan keamanan psikologis dan kepuasaan dalam pekerjaan. Identifikasi tersebut dinyatakan dalam keluarga besar di kalangan kelompok teman, kelompok kerja desa yang kecil dan kelompok lain.

IV.            Pengaruh budaya pada kesehatan dan perilaku kesehatan
Menurut Foster (1987), aspek budaya yang dapat memengaruhi kesehatan seseorang antara lain adalah tradisi, sikap fatalism, nilai, ethnocentrism, dan unsure budaya dipelajari pada tingkat awal dalam proses sosialisasi.
Terdapat beberapa tradisi di dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negative terhadap kesehatan masyarakat.
1.      Sikap fatalistis. Sikap fatalistis dalam masyarakt mampu memengaruhi status kesehatan. Beberapa anggota masyarakat di kalangan kelompok yang beragama Islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan dan sakit atau mati itu adalah takdir sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit atua menyelamatkan seseorang dan kematian. Sika pseperti ini perlu dihindari karena hal ini memberi kesan bahwa kita merasa tidak berdaya.
2.      Pengaruh sikap ethnocentris terhadap perilaku kesehatan. Sikap ethnocentris adlaah sikap yang memandang kebudayaan sendiri paling baik jika dibandingakn kebudayan lain. Misalnya, orang Barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dan selalu beranggapan bahwa kebudayaan yang paling maju, merasa superior terhadap budaya dan masyarakat yang sedang berkembang. Tetapi di sisi lain, semua anggota dan budaya lainnya menganggap bahwa apa yang dilakukan secara alamiah adalah yang terbaik. Menurut pandangan kaum relativitas tidak benar menilai budaya lain menggunakan kacamata budaya sendiri, karena kedua budaya tersebut berbeda. Oleh karena itu, sebagai perawat kita harus menghindari sikap yang menganggap bahwa perawat adalah orang yang paling pandai, paling mengetahui tentang masalah kesehatan dan merasa pendidikan perawat lebih tinggi dan masyarakat setempat sehingga tidak perlu mengikutsertakan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat. Dalam hal ini memang perawat lebih menguasai tentang masalah kesehatan tetapi masyarakta lebih mengetahui keadaan dirinya.
3.      Pengaruh perasan bangga pada status kesehatan. Bangga terhadap budaya boleh berlaku pada semua orang. Hal tersebut berkaitan dengan sikap ethnocentris. Di Surabaya, penulis melakukan ebrbagai upaya perbaikan gizi di kelurahan Wonokusumo tahun 2008, masalah yang ditemukan penulis masih banyak masyarakat yang enggan membawa bayinya ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan dan diberikan makanan tambahan, padahal pemerintah bersama Puskesmas dan diberikan makanan tambahan, padahal pemerintah bersama Puskesmas memiliki program perbaikan gizi. Setelah dilakukan pendekatan dengan keluarga, baru diketahui bahwa terdapat anggapan bahwa kalau anaknya dibawa ke posyandu dan ditimbang mereka menganggap anaknya seperti beras yang ditimbang.
4.      Pengaruh norma terhadap perilaku kesehatan. Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya, norma yang berlaku di masyarakat sangat memengaruhi perilaku kesehatan dan anggota masyarakat yang mendukung norma tersebut. Misalnya upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena adanya norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai pemberi pelayanan dengan ibu hamil sebagai pengguna pelayanan. Maslaah tersebut juga terjadi pada masyarakat yang beragama Islam di Indonesia pada awal program KB diperkenalkan kepada masyarakat. Di daerah Serpong sekitar tahun 1976, akseptor KB menurun pada Puskesmas yang pelayanan KB-nya ditangani oleh seorang dokter spesialis obsteri ginekologi pria.
5.      Pengaruh nilai terhadap perilaku kesehatan. Terdapat perilaku kesehatan yang menguntungkan dan merugikan bidang kesehatan. Perilaku yang merugikan kesehatan, misalnya adanay penilaian yang tinggi terhadap beras putih meskipun masyarakat mengetahui bahwa beras merah lebih banyak mengadung vitamin B1 jika dibandingkan dengan beras putih. Masyarakat lebih memberikan nilai yang tinggi bagi beras putih, karena mereka menilai beras putih lebih enak dan lebih bersih. Contoh lain, masih banyaknya petugas kesehatan yang merokok meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya merokok terhadap tubuh. Mereka memberikan nilai tinggi untuk perilaku merokok karena rokok memberikan kenikmatan, karena bahaya merokok tidak dapat segera dirasakan.
6.      Pengaruh proses sosialisasi unsure budaya terhadap perilaku kesehatan. Pada tingkat awal proses sosialisasi, seorang anak diajarkan bagaiaman cara makan, bahan makanan apa yang dapat dimakan, cara buang air kecil dan besar, dan kebiasaan lain. Kebiasaan tersebut akan terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan tua. Kebiasaan tersebut sangat memengaruhi perilaku kesehatan dan sulit untuk diubah. Misalnya, manusia yang biasa makanan nasi sejak kecil, akan sulit untuk diubah kebiasan makannya setelah dewasa. Oleh karena itu, upaya menganjurkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang beraneka ragam harus dimulai sejak kecil.
7.      Pengaruh konsekuensi dan inovasi perilaku kesehatan. Suatu proses perubahan akan menghasilkan sebuah konsekuensi. Apabila seorang pendidik kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan pada masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis factor yang berpengaruh pada perubahan dan berusaha untuk memprediksi perubahan yang terjadi. Misalnya, masyarakat menggunakan kayu untuk memasak sehingga dapur penuh dengan asap dan mengakibatkan banyak ibu yang sakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas atau ISPA. Menyadari keadaan tersebut akan membahayakan kesehatan penduduk, perawat bersama ahli teknik berkolaborasi menciptakan cerobong asap. Setelah diterapkan ternyatatimbul konsekuensi dan akibat yang sebelumnya tidak dipeikirkan. Di rumah penduduk menjadi banyak semut putih, padahal semut tersebut mati terkena asap. Adanya cerobong asap menyebabkan populasi semut putih semakin banyak sehingga semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk perbaikan rumahnya. Oleh karena itu, ide cerobong asap tidak bisa diterima bukan karena masyarakat yang kolot, ketidaktahuan manfaat cerbong asap, biaya cerbong asap yang murah tapi karena kerugian pemasang cerobong asap lebih tinggi daripada keuntungannya (Foster, 1978).

V.            Implementasi Sosio- Budaya Dalam Asuhan Keperawatan
Berbagai upaya dilakukan oleh perawat untuk memperbaiki status kesehatan masyarakat, termasuk mempelajari unsure social dan kebudayaan masyarakat. Melalui proses keperawatan, khususnya pada tahap pengkajian perawat perlu mengkaji unsure social masyarakat seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, social ekonomi dan unsure budaya.
System kepercayaan tertentu berkaitan dengan pemilihan menu makanan. Pemeluk beragama Islam tidak makan daging babi, meskipun diolah dengan baik. Secara medis sudah terbukti bahwa daging babi yang dikonsumsi mentah atau setengah matang dapat menularkan cacing pita (Taenia solium). Perawat tidak dapat menganjurkan masyarakat yang beragama Islam untuk makan daging babi.
Sangat penting bagi perawat untuk mempekajari system organisasi di masyarkaat. Dengan mempelajari organisasi masyarakat, perawat akan mengethaui organisasi apa saja yang ada di masyarakat, kelompok mana yang berkuasa, kelompok mana yang menjadi panutan, dan tokoh mana yang disegani. Perawat akan menemukan key person untuk dijadikan kader kesehatan. Dengan pengetahuan tersebut maka perawat dapat menentukan strategi pendekatan yagn lebih tepat dalam upaya mengubah perilaku kesehatan masyarakat menuju perilaku sehat dan perbaikan status kesehatan masyarakat.
Perawat harus memiliki pengetahuan tentang kesehatan masyarakat. Dengan menguasai pengetahuan tersebut, akan membantu mereka dalam menentukan pengetahuan mana yang perlu ditingkatkan, diubah, dan kesehatan. Sebagai contoh, hasil penelitian Sudarto Kresno (2008) meunjukkan bahwa konsep masyarakat tentang penyebab penyakti diare berbeda dengan konsep medis. Menurut masyarakat, penyebab penyakit diarea pada bayi adalah karena bayi tersebut sedang mengalami proses peningkatan kepandaiannya. Bayi yang semula hanya bisa merangkak kemudian meningkat bisa berdiri, maka dalam proses perubahan tersebut, bayi akan mengalami diare dan hal tersebut dianggap wajar sehingga tidak perlu diobati. Selain itu, bayi byang baru tumbuh gigi juga bisa mengakibatkan diare. Masyarakat juga berpendapat bahwa penyakit yang disebabkan oleh guna-guna, gangguan ro halus, pergantian cuaca atau dosa manusia. Penelitian yang dilakukan di pedesaan daerah Kabupaten Soe, Nusa Tenggara Timur, menunukkan bahwa bayi yang sakit disebabkan oleh dosa kedua orang tuanya sehinggauntuk menyembuhkan anak yang sakit ISPA, kedua orang tuanya harus mengutarakan dosa mereka dan meminta maaf. Pertmaa kali mereka mencari pertolongan pengobatan kepada tim doa dan jika tidak sembuh kemudian mereka mencari pertolongan pengobatan ke pelayanan kesehatan (Sudarto Kresno 2008). Petugas kesehatan perlu mempelajari bahasa local dan istilah local tentang penyakit. Penguasaan bahasa local, tidak hanya sekadar untuk memudahkan berkomunkasi dengan masyarkaat. Umumnya masyarakat mempunyai istilah local tentang suatu penyakit yang berbeda dengan istilah penyakit yang digunakan perawat.
Berikut ini diuraikan beberapa pertimbanga umum terkait dalam memenuhi kebutuhan dasar nutrisi pada masyarakat
1.      Untuk menjaga fungsi metabolism tubuh diperlukan kecukupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, elektrolit dan elemen lain. Table di bawah ini menunjukkan fungsi nutrient ini. Nutrient yang dianjurkan setiap hari, yaitu yang mengandung lima kelompok makanan sedangkan kelompok keenam yaitu lemak, minyak dan gula dianjurkan untuk dimakan sewaktu-waktu, kelompok ini tidak boleh melebihi 30% dari masukan kalori seluruhnya.
2.      Factor yang memengaruhi kebutuhan nutrisi meliputi usia, aktivitas, jenis kelamin, status kesehatan, dan metabolism tubuh.
3.      Factor yang memengaruhi masukan nutrisi meliputi bersangkutan (nafsu makan, kemampuan mengunyah dan menelan, kemampuan fungsional, status psikologis dan budaya) dan structural (sosialisasi, keungnan, kemampuan memperoleh dan menyiapkan makanan, fasilitas dan transportasi) (Millier,1995)
4.      Tubuh memerlukan zat gizi minimal untuk kesehatan dan pertumbuhan. Selama rentang kehidupan kebutuhan individu bervariasi.
5.      Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan metabolism menyebabkan penurunan berat badan, memburuknya kesehatan dan penurunan kemampuan tubuh memperbaiki sel yang rusak. Metabolism akan meningkat pada keadaan trauma, infeksi dan kanker.

Berbagai fungsi nutrient (Sumber/ Source: Carpenito,1998)
Karbohidrat
Sumber aktivitas utama untuk ativitas sel, diperlukan sebagai:
1)      Transport substrat, menjamin fungsi selular
2)      Sekresi hormone khusus
3)      Kontraksi otot
4)      Menghemat protein untuk fungsi lainnya
protein
Dasar struktur tubuh (darah, otot, rambut, kuku, tendin kulit) diperlukan sebagai.
1.      Permulaan terjadinya reaksi kimia
2.      Transportasi apoprotein
3.      Pemeliharaan antibody
4.      Mempertahankan tekanan osmotic
5.      Mempertahankan system buffer
6.      Pertumbuhan dan perbaikan jaringan
7.      Detoksifikasi substrat yang merugikan
Lemak
Mempertahankan fungsi tubuh, menyediakan sumber energy, diperlukan sebagai:
1.      Sumber energy pilihan (lipolisis)
2.      Melindungi organ internal
3.      Bantalan organ internal
4.      Mengabsorbsi vitamin larut lemak

Berikut in iadalah beberapa pertimbangan transkultural menurut beberapa ahli terkait masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar nutrisi.
1.      Selama beberapa abad diet telah digunakan di beberapa Negara untuk penatalaksanaan kondisi penyakit yang spesifik, meningkatkan kesehatan selama kehamilan, merangsang pertumbuhan bayi dan anak, serta digunakan untuk memperpanjang umur harapan hidup (Boyle dan Andrewm, 1989)
2.      Pada beberapa budaya, sehat dipandang sebagai suatu pernyataan keseimabngan antara cairan tubuh (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning). Keadaan sakit disebabkan oleh ketidakseimbangan antara cairan hormonal yang menyebabkan kekeringan yang berlebihan, menggigil, panas atau basah. Sebagai contoh, nyeri perut bagian atas diyakini disebabkan oleh makanan yang berlebihan, diidentifikasi sebagai menggigil. Makanan, tumbuhan dan obat-obatan diklasifikasikan seperti panas, basah, dingin, atau kering. Makanan, tumbuhan dan obat-obatan digunakan untuk mempertahankan tubuh dalam keseimbangan yang alami. Misalnya buah pisang diklasifikasikan sebagai suatu makanan yang dingin tetapi jagung dikasifikasikan sebagai makanan yang panas (Boyle danb Andrew, 1989)
3.      Kekurangan laktosa pada orang dewasa dilaporkan banyak terjadi pada penduduk di dunia. Sejumlah 49% terjadi pada orang Asia, 90% pada orang Negro Afrika, 79 orang Indian Amerika, 75% pada orang Amerika kulit hitam, 50% orang Amerika-Meksiko, dan 17% pada orang Amerika kulit putih (Overvield, 1985)
4.      Latihan nutrisi dapat digolongkan sebagai kegiatan yagn menguntungkan, murni dan penuh kehangatan. Manfaat dan kemurnian harus didukung. Latihan yang hangat harus didukung dengan sensitivitas dan penjelasan pengaruh mentalnya (Boyle dan Andrew,1989)
5.      Makan secara berkelompok dapat dianjurkan pada beberapa situasi (rehabilitasi jangka panjang, kesehatan mental) dapat menjadi konflik budaya (Contoh, laki-laki makan bersama wanita) (Boyle dan Andrew, 1989)
6.      Makan digunakan oleh orang Italia untuk meningkatkan kesehatan fisik dan psikologis. Anggur merupakan makanan yang sering digunakan bersama pada saat makan (Ginger dan Davidhizar, 1991)
7.      Mempertahankan diet yang halal pada orang Yahudi adalah sebuah kemungkinan walaupun di dapurnya terdpaat makanan yang tidak halal. Ikan dengan sirip merupakan diet yang dibutuhkannya. Piring kertas disposibel akan digunakan sehingga hidangan daging dan susu tidak bercampur. (Ginger dan Davidhizar, 1991)