Minggu, 08 Juni 2014

Nuwa Menciptakan Manusia, di dalam Mitologi China/ Nuwa Creating Humans, on the Chinese Mythology


Nuwa Menciptakan Manusia, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Berbeda dengan Panku, sang Pencipta alam semesta yang laki-laki, pencipta manusia adalah dewi Nuwa. Nuwa disebutkan dengan jelas di beberapa naskah China kuno seperti A Classic of History (Abad ke-8 SM), A Classic of Mountains and Seas (Abad ke 3 SM), dan Questions of Heaven (Abad ke 4 SM).
            Sebagai tambahan, banyak gambar Nuwa ditemukan di patung perunggu dan lukisan China kuno. Seperti dewa-dewa masa kuno yang lain, Nuwa berwujud setengah binatang dan setengah dewa. Seringnya, Nuwa memiliki wajah dan lengan seperti manusia namun bertubuh seperti ular atau naga. Ia bisa mengubah wujudnya menjadi apa saja yang ia inginkan. Dalam literature China modern, Nurwa lebih sering dilukiskan sebagai wanita yang cantik.
            Hal ini menunjukkan bahwa wanita di China tidak memiliki peranan social. Namun demikian, dalam perannya sebagai ibu dan istri, wanita sangatlah kuat. Karena wanita pada umumnya hidup lebih lama disbanding suaminya, mereka sering memaksakan diri dan menjalankan rumah tangga setelah kematian pasangannya. Begitu juga dalam hal politik, beberapa wanita (kaisar wanita) menjadi sangat kuat setelah kematian suami mereka.
            Meski sebagian besar dewa adalah laki-laki, Nuwa adalah dewi yang sangat kuat dalam mitologi kuno. Ia menciptakan umat manusia dan bertanggung jawab memperbaiki bumi.
            Dunia adalah permata yang berkilauan. Pohon pinus yang kuat member titik pada pegunungan, dan pohon Willow melapisi aliran sungai. Apel, buah quince, dan bunga plum yang penuh dan menjadi bunga hingga kemudian menjadi buah yang matang dan masak.  Burung berseliweran di langit biru, meninggalkan jejak hitam, merah tua, dan bulu-bulu hijau yang berwarna-warni yang melayang bersama angin. Gegat dan ikan berenang gembira di perairan. Hewan buas seperti macan dan hewan yang lembut seperti kijang menjelajah dengan penuh kebebasan melintasi bukit berbatu.
            Nurwa, seorang dewi, tidak sengaja tersandung pada dunianya yang bergetar ketika dalam perjalanannya. Bumi sedang bersenandung dengan penuh semangat. Nuwa heran dengan makhluk menakjubkan yang sangat banyak ini, kemanapun pun menatap, ia melihat makhluk yang lebih mengherankan dari sebelumnya. Ia melihat tiap macam rambut dan sirip, bulu dan sisik, tanduk, kuku dan sengat. Makhluk yang tertatih, merayap, dan melata di atas bumi. Ada yang melompat, berlari dengan cepat, dan berputar dalam laut. Bunga yang harum seperti melati, bunga bakung, dan narcissus, membungkus seluruh dunia dalam kehangatannya dan wangi yang kuat.
            Namun ketika ia menjelajahi ceruk dan pecahan, Nuwa merasa aneh dan tidak puas dengan bumi yang mulai ia kenal ini. Sang dewi melihat bumi sebagai sesuatu yang memikat. Namun kosong. Nuwa merasa kesepian; ia duduk di pinggir sungai merenung. Ia menatap bayangannya di air, dan tiba-tiba ia tahu apa yang kurang: ia ingin bumi diisi dengan makhluk yang dapat berpikir dan tertawa sepertinya.
            Sungai di depannya tertulur dan ombaknya menampar pinggiran sungai. Air hijau yang keruh meninggalkan lingkaran tanah kuning yang kental di sekitar pinggiran sungai. Nuwa merasakan tekstur yang licin itu dengan ujung jemarinya dan mencetak sebuah bola dari tanah liat. Tanah dingin dan licin yang disimpan oleh sungai sangatlah cocok untuk pekerjaannya, dan ia menggulung tanah liat yang basah itu menjadi sebuah bonkea, memberinya kepala, bahu, dada, dan tangan seperti dirinya. Untuk tubuh bagian bawah boneka, ia ragu. Nuwa memutuskan memberinya sisik dan kuku seperti cicak, atau sirip dan ekor seperti ikan. Kedua bentuk itu sangat berguna, sejak sang dewi mengubah bentuk bagian bawah tubuhnya sendiri secara bertahap agar bisa mengelilingi lautan dan surge dengan cepat. Akhirnya, ia memutuskan untuk memberikan kaki untuk makhluk barunya sehingga ia bisa berjalan di tanah dan mendayung di laut.
            Dari berbagai corak tanah kuning, Nuwa membuat boneka tinggi dan boneka pendek. Ia membuat boneka kurus dan gemuk. Ia membuat boneka dengan rambut keriting dan rambut lurus. Ia membuat boneka dengan mata yang sebulat dan selebar ceri, beberapa yang lain dengan mata sepanjang dan sesipit sayap nyamuk. Ia membuat beberapa boneka dengan mata gelap segelap langit tengah malam, sedangkan yang lain begitu terang seperti madu cair. Masing makhluk berbeda, sehingga sang dewa bisa mengenali ciptaannya. Kemudian, ketika ia meniupkan nafas pada setiap bonekanya, bonekanya membuka matanya untuk hidup, tertawa kecil, dan juga meloncat.
            Nuwa sangat gembira dengan hasil pekerjaan tangannya hingga ia ingin membuat lebih banyak lagi. Tapi ia butuh cara yang lebih cepat. Di sepanjang pinggiran sungai, alang-alang ramping melengkungkan batangnya yang anggun di atas air. Nuwa menggulung lengan bajunya, memotong alang-alang itu, lalu mencelupkannya ke dalam lumpur sungai seperti sebuah sendok. Dengan lincah, ia mengibaskan pergelangan tangannya dan menjatuhkan gumpalan lumpur di tanah. Ketika lumpur itu kering, ia meniupkan udara yang sangat bayak pada tiap gumpalan, dan seketika gumpalan itu menjadi makhluk yang bulat dan bisa tersenyum. Tawa ceria dari makhluk ciptaannya mengisi benak sang dewi dengan kebahagiaan dan rasa bangga.
            Namun Nuwa lelah. Meskipun ia sagat mencintai ciptaannya, ia sadar jika ia tidak bisa mengawasi manusia setiap saat. Apa yang akan terjadi pada makhluk  ini jika mereka tumbuh menjadi tua dan mati? Nuwa tidak ingin memperbaiki lagi, namun ia juga tidak ingin mengulangi membuat manusia yang baru. Ia berpikir dan berpikir. Bagaimana makhluk ini bisa berkembangbiak tanpanya?
            Dengan sebuah simpul dan colekan, Nuwa menjadikan beberapa tanah liat itu laki-laki dan perempuan, kemudian mengangkat makhluk yang tergelincir dan jatuh ke lumpur. Di tengah keributan, ia mulai memberikan perintah yang paling pentin. Ketika Nuwa bicara, keributan berhenti dan berubah menjadi keheningan. Manusia mendengarkan dengan khidmat pada kata Nuwa. Nuwa berbcara tentang pentingnya pernikahan dan kewajiban pasangan pada masing-masing pasangannya, nuwa mengajari mereka cara membuat anak dan menjaganya. Ia berharap mereka bisa hidup lama dan bahagia di bumi. Ketika sang dewi pergi, ia menunjukkan harapannya yang sangat agar mereka bisa membuat manusia baru dan hidup bahagia tanpanya. Kemudian Nuwa naik ke langit, duduk di kereta yang berderap yang ditarik enam naga bersayap.
            Hingga hari ini, manusia melanjutkan untuk menikah dan memiliki anak-anak yang mencerahkan dunia dengan tawa dan bahagia mereka, seperti boneka lumpur yang menarik di hari Nuwa.