Kamis, 31 Juli 2014

Ande-Ande Lumut (Tale were the Kingdom of Kediri, East Java, Indonesia)


Ande-Ande Lumut (Dongeng pada masa Kerajaan Kediri, Jawa Timur, Indonesia)
(Source/ Sumber: Ikranegara, Tira.2005.Ande-ande Lumut.Surabaya:Karya Agung.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Dahulu kala Kediri ditimpa prahara angin topan yang dahsyat. Semua penghuni istana kalang kabut. Seorang putrid bernama Dewi Sekartaji terbawa agin putting beliung sehingga jauh ke angkasa.
            Di angkasa mendadak angin topan itu mereda. Tubuh sang Putri seketika melorot turun. Ia menabrak daun dan ranting pepohonan. Pada akhirnya sag putrid jatuh di sendang (kolam) jauh dari istana Kediri. “Byur!” sang Putri masuk ke dalam kolam yang becek dan berlumpur. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka dan lecet-lecet. Termasuk di bagian wajahnya pakaiannya compang-cam-ping. Robek-robek di sana-sini. Penampilannya sebagai putrid istana hilang lenyap.
            Dengan mengaduh kesakitan ia berenang ke tepian dan naik ke atas daratan. “Di manakah aku ini?” gumamnya bingung sambil bangkit berdiri. Dari kejauhan tampak perkampungan penduduk maka dia berjalan menuju ke sana. Karena kejadian dahsyat yang baru dialaminya membuat sang Putri hilang ingatan. Ia tidak mengetahui lagi siapa jati dirinya yang sebenarnya. Pada saat memasuki perkampungan penduduk ia disoraki anak-anak keci. Ia dianggap orag gila atau gelandangan yang tak punya rumah. Kadag-kadag ia harus berlari-lari kecil karena anak-anak itu melempari dengan batu-batu kecil. “Ampun… he kalian jangan nakal ya!” teriak sang Putri. Namun tetap saja anak-anak itu menyorakinya dan melemparinya dengan kerikil hingga membuatnya lari terbirit-birit. Perutnya mulai terasa lapar, tenggorokannya sudah terasa kering. Tapi ia tak tahu harus kemana. Tidak ada seorang pun yang menaruh simpati dan kasihan kepadanya.
            Ketika hari sudah sore, tidak seorang pun yang mau menyapa apalagi menolongnya member makan atau pakaian. Ia terus berjalan ke arah timur, hingga sampai depan rumah seorang janda bernama Mbok Randa Dadapan di depan rumah. Sang Putri bersimpu di depan wanita itu. “Aduh, Mbok tolong saya….!” Keluh sang Putri. Sesaat Mbok Randa Dadapa menatap sang Putri dengan pandangan penuh iba. “Loh? Kamu ini siapa? Dari mana asalmu?” Tanya Mbok Randa Dadapan. “Saya…saya tidak tahu… saya tidak punya siapa-siapa/ bolehkah saya ikut tinggal di rumah ini?” kata sang Putri. Wanita itu diam sejenak, lalu memanggil ketiga putrinya yang ada di dalam rumah. Sesaat kemudian muncullah tiga orang putrid yang berwajah cantik, menemui wanita itu. “Ada apa Mbok?” Tanya Putri tertua bernama Klenting Abang. “Ini ada wanita muda yang ingin ikut tinggal di rumah kita, apakah kalian setuju jika aku menerimanya?” kata Mbok Randa Dadapan. Klenting ijo anak kedua menatap tajam ke arah sang Putri. Sesaat kemudian ia berkata, “Boleh saja Mbok… asal dia mau mengurus pekerjaan kita sehari-hari.” Mbok Randa Dadapan saling pandang dengan kedua putri. Kemudian ia memegang pundak sang Putri sambil berkata, “Baiklah, kau boleh tinggal di rumah kami. Tapi kau harus membantu pekerjaan rumah. Memasak dan mencuci pakaian”.
“Ya Mbok saya bersedia.”
“Dan kau kuberi nama Klenting Kuning…” sambung Mbok Randa Dadapan/
“Terima kasih Mbok, terima kasih sekali…!”
“Sudah cepat masuk, mandi dan ganti pakaian, kau boleh memakai bekas pakaianku yang masih utuh,” sahut Klenting Abang.
Demikianlah sejak saat itu Putri Sekartaji berganti nama menjadi Klenting Kuning dan tinggal bersama Mbok Randa Dadapan dengan kedua anaknya bernama Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Ijo.
            Hanya lima hari semenjak Klenting Kuning tinggal  di rumah Mbok Randa Dadapan, timbullah rasa iri di hati Klenting Abang, Klenting Biru dan Klenting Ijo. “Mbakyu… apaka kau tidak melihat adanya keanehan pada diri Klenting Kuning? Tanya Klenting ijo pada kakaknya.
“Iya, aku melihatnya, dulu kulitnya agak kehitaman. Sekarang semakin hari berubah menjadi putih bersih,” sahut Klenting Abang.
“Jangan-jangan dia ikut memakai bedak kita?” kata Klenting Ijo.
“Tidak! Aku tahu betul, dia tidak pernah masuk ke kamar kita keuali pada saat membersihkannya saja.”
“Jadi.. bagamana dia bisa berubah begitu cantik?”
            Pada hari kesepuluh perubahan itu semakin nyata. Dan genap ketiga puluh hari kecantikan Klenting Kuning semakin sempurna karena seluruh luka pada tubuhnya telah sembuh dan kembali seperti sedia kala.
            Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Ijo semakin bertambah iri. Mereka memberinya pekerjaan yang berat, mulai menyapu halaman rumah, mencuci pakaian dan mengambil air dan menanak nasi. Mereka berharap dengan pekerjaan berat itu penampilan Klenting Kuning akan menjadi jelek karena sering terkena debu dan asap dapur. Ia bahkan merasa bersyukur karena dapat bekerja, bisa memakai pakaian layak walaupun pakaian bekas dan makan minum ala kadarnya. Hanya saja pada saat tertentu ia sering duduk termenung memikirkan dirinya, siapa sebenarnya dirinya ini.
            Klenting Kuning adalah waita yang baik hati. Bila mencuci pakaian di sungai Klenting Kuning tak lupa bersahabat dengan alam di sekitarnya, suatu ketika ia mendapat seekor ikan menggelepar-gelepar di atas tanah dekat tepian sungai, rupanya ikan ini jatuh dari jala pencari ikan tanpa diketahui si penjala ikan. “Kasihan kau ikan kecil,” Klenting Kuning memungutnya dan dengan hati-hati ia memasukkannya ke dalam air sungai.
“Terima kasih Tuan Putri…” tiba-tiba ikan itu mengeluarkan suara lirih namun jelas seperti suara manusia. Klenting Kuning kaget namun ikan itu keburuh menyelam ke dasar sungai.
“Oh.. ikan ajaib. Ia bisa berkata-kata seperti manusia. Ia menyebutku Tuan Putri. Seandainya ia manusia tentu bisa menemani ngobrol sambil mencuci pakaian kotor ini.”
Baru saja Klenting Kuning berkata demikian tiba-tiba ikan itu muncul ke permukaan air dan berkata, “Jangan kuwatir Tuan Putri… aku akan membantu dan menemanimu mencuci pakaian ini.”
“Oh terima kasih ikan ajaib.”
Semenjak saat itu sang ikan menjadi sahabat Klenting Kuning. Bila Klenting Kuning mencuci pakaian di sungai sang kan muncul ke permukaan dan anehnya Klenting Kuning mampu menyelesaikan cuciannya yang banyak itu dalam tempo yang cukup singkat tanpa merasa lelah. Kiranya sang ikan telah membantu secara gaib.
            Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Ijo seharinya haya berdandan bersolek saja. Mereka berusaha tampil cantik, mereka mengenakan pakaian serba indah dan baru, namun kecantikan mereka tetap saja kalah bila dibandingkan dengan Klenting Kuning. Klenting Abang, Klenting Biru dan Klenting Ijo boleh dibilang cantik, namun kecantikan mereka hanya terbatas cantiknya gadis desa, lain halnya dengan Klenting Kuning yang berpenampilan cantik dan anggun bahkan ada perbawa yang tidak kentara yang membuat orag sedikit merasa segan dan menaruh hormat kepadanya.
            Pada suatu hari terdengar di desa Jenggala ada seorang pemuda tampan bernama Ande-Ande Lumut ingin mencari seorang istri. Konon pemuda ini adalah putri seorang bangsawan yang sedang mengembara mencari istri tambatan hati. Pemuda ini berwajah tampan dan gagah perkasa, semua waita pasti akan tergila-gila bila memandangnya. Sang pemuda tinggal di rumah seorang janda tua. Dan sudah banyak sekali para orang tua yang menawarkan anak gadisnya agar dipersunting olehnya namun sejauh ini belum ada yang cocok di hatinya. Bahkan banyak pula para gadis cantik yang dating langsung menghadap si pemuda namun si pemuda belum berkenaan menerimanya.
            Kabar itu terdengar oleh Klenting Abang, Klenting Biru dan Klenting Kuning. Mereka ingin ikut unggah-unggahi (melamar) si Ande-Ande Lumut. Ketganya sepakat untuk saling mengalah, siapapun yang terpilih akan diterima dengan lapang dada. Bahkan jika berkenaan ketiganya rela diperistri oleh si Ande-Ande Lumut sekaligus. Kedua anak gadis itu berpamit kepada ibunya. Mbok Randa Dadapan memberinya restunya. Pada saat itu secara iseng Klenting Kuning mengutarakan keinginannya, “Mbok… bolehkah saya ikut Kakak Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Ijo?”
“Apa? Kau ingin ikut kami unggah-unggahi?” bentak Klenting Abang.
“Tidak, saya hanya ingin melihat pemuda yang disebut Ande-Ande Lumut itu. Saya tidak bermaksud unggah-unggahi” sahut Klenting Kuning
“He! Tahu tidak? Ande-Ande Lumut itu adalah pemuda paling tampan sejagat raya, begitu kau melihatnya pasti kau akan ikut tergila-gila. Sudah sana laksanakan tugasmu membantu Mbok di dapur.” Kata Klenting Ijo.
“Tapi Kak… saya ingin ikut!”
“Ah, kau ini dasar kampungan!” bentak Klenting Ijo.
“Ssst…!” tiba-tiba Klenting Abang membisikan kata-kata kepada Klenting Ijo. Sesaat kemudian Klenting Ijo tertawa terpingkal-pingkal. Lalu masuk ke dalam kamarnya. Lalu keluar lagi sambil membawa pakaian yang sudah lusuh dan bau.
“Kau ingin ikut kami?” tanya Klenting Ijo.
“Benar Kak!’ sahut Klenting Kuning.
“Boleh saja. Tapi syaratnya kau harus memakai pakaian ini. Tidak boleh ganti dengan yang lain. Kami berdua berangkat duluan, kau menyusul di belakang sepenanak nasi kemudian. Mau?” Kata Klenting Abang.
“Sambil menunggu waktu berangkat kau harus membersihkan halaman rumah kita, siapat tahu Ande-Ande Lumut tertarik kepadaku dan mau datang ke rumah ini.”
“Baiklah Kak, saya mau” jawab Klenting Kuning.
Sepenanak nasi adalah ukuran waktu kurag lebih tiga jam. Setelah Klenting Abang dan Klenting Ijo berangkat. Klenting Kuning menyapu halaman rumah kemudian pergi ke tepian sungai. Ia ingin pamitan kepada sahabatnya si ikan ajaib. Ia memanggil ikan ajaib. Namun sang ikan tidak segera keluar dari dalam air. “Oh ikan sahabatku, kemakah Engkau pergi?” keluh Klenting Kuning.
Wesss! Entah dari mana salnya tahu-tahu di tepi sungai itu tiba-tiba datang seorag kakek tua bercaping lebar.
“Tuan Putri… aku adalah jelmaan ikan sahabatmu itu.”
“kakek… siapa kau sebenarnya…?”
“Hamba… adalah salah seorang senopati kerajaan Kediri bernama Ki Bango Samparan. Hamba memang ditugaskan untuk mencari dan melindungi Tuan Putri. Ternyata sang ikan telah berubah wujudnya menjadi seorang kakek tua bernama Bango Samparan. Sang Kakek memberinya sebatang lidi ajaib namanya Sada Lanang. Dengan bekal lidi itulah ia diperbolehkan bergkat menemui Ande-Ande Lumut.
Al kisah. Setelah berdandan rapi dan cantik. Mengenakan perhiasan dan pakaian yang terbaik, Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Ijo berangkat ke Jenggala. Dalam perjalanan ke Jenggala harus melalui sungai lebar dan panjang, tidak ada jembatan maupun perahu di sungai itu. Kedua gadis itu kebingungan. Tapi ada seekor hewan raksasa bernama Yuyu Kangkang, ujudnya seperti Kepiting sebesar kerbau. Kedua gadis yang sedang bingung itu bertemu dengan Yuyu Kangkang.
“Kalian mau menyeberang?”
“Benar! Maukah kau menolongku Yuyu Kangkang?”
“Weh…weh…weh… menolong kalian? Itu gampang! Tapi ada syaratnya!”
“Cepat katakan apa syaratnya, kami sedang tergesa-gesa,” sahut Klenting Abang.
“Kalian harus mau kucium lebih dahulu!” kata Yuyu Kangkang.
“Aih..!” jerit kedua gadis itu dengan terkejut. “Genit sekali kau Yuyu Kangkang. Syaratmu kurang ajar sekali!”
“Terserah kalian, kalau mau aku seberangkan bergantian, kalau tidak ya pulanglah kembali ke rumahmu,” jawab Yuyu Kangkang dengan enteng.
Kedua gadis itu berpikir keras. Kalau menolak mereka juga rugi karena sudah terlanjur berdandan cantik sedagkan semakin siang sebentar lagi menjadi sore. Mereka harus segera sampai ke Jenggala. Akhirnya mereka memutuskan untuk menerima syarat si Yuyu Kangkang. Toh tidak ada yang mengetahuinya. Yuyu Kangkang mencium gadis itu bergantian lalu diseberangkan melewati sungai.
Merekapun sampai ke seberang dengan selamat. Da segera menuju rumah Mbok Randa Jenggala tempat Ande-Ande Lumut berada. Mereka tidak bisa langsung bertemu dengan si Pemuda Tampan. Melainkan harus menghadap Mbok Randa Jenggala. Mbok Randa itulah yang akan menyampaikan lamaran mereka. Maka Mbok Randa melantunkan sebuah lagu untuk menyampaikan maksud Klenting Abang.
Putraku, si Ande-Ande Lumut…!”
Tumurana ana putri kang unggah-unggahi,
Putrine kang ayu rupane
Klenting Abang iku kang dadi asmane…!”
(Anakku Si Ande-Ande Lumut
Turunlah dari pertapaanmu ada putrid yang melamarmu
Putrinya cantik wajahnya
Klenting Abang itulah namanya)
            Ande-Ande Lumut yang berada di pertapaan tempatnya di belakang rumah itu segera menjawab.
            “Duh Ibu… kula boten purun
            Duh Ibu kula boten kersa
            Putri wau sisane si Yuyu Kakang.”
            (Wahai ibu saya tidak mau
            Wahai Ibu saya tidak suka
            Sebab putri itu bekas dicium Yuyu Kangkang)
            Mendengar jawaban dari Ande-Ande Lumut yang bisa di dengar secara langsung itu kontan membuat wajah Klenting Merah menjadi memerah karena malu. Tan disangka Ande-Ande Lumut mengetahui perbuatannya sewaktu menyeberangi sungai.
            Kini ganti Mbok Randa Jenggala menyampaikan maksud isi hati Klenting Biru.
Putraku, si Ande-Ande Lumut…!”
Tumurana ana putri kang unggah-unggahi,
Putrine kang ayu rupane
Klenting Biru iku kang dadi asmane…!”
(Anakku Si Ande-Ande Lumut
Turunlah dari pertapaanmu ada putrid yang melamarmu
Putrinya cantik wajahnya
Klenting Biru itulah namanya)
Ande-ande Lumut juga menjawab lantunan tembagn itu dengan lagu yang sama.
            “Duh Ibu… kula boten purun
            Duh Ibu kula boten kersa
            Putri wau sisane si Yuyu Kakang.”
            (Wahai ibu saya tidak mau
            Wahai Ibu saya tidak suka
            Sebab putri itu bekas dicium Yuyu Kangkang)
Kini ganti Mbok Randa Jenggala menyampaikan maksud isi hati Klenting Ijo.
Putraku, si Ande-Ande Lumut…!”
Tumurana ana putri kang unggah-unggahi,
Putrine kang ayu rupane
Klenting Ijo iku kang dadi asmane…!”
(Anakku Si Ande-Ande Lumut
Turunlah dari pertapaanmu ada putrid yang melamarmu
Putrinya cantik wajahnya
Klenting Ijo itulah namanya)
Ande-ande Lumut juga menjawab lantunan tembagn itu dengan lagu yang sama.
            “Duh Ibu… kula boten purun
            Duh Ibu kula boten kersa
            Putri wau sisane si Yuyu Kakang.”
            (Wahai ibu saya tidak mau
            Wahai Ibu saya tidak suka
            Sebab putri itu bekas dicium Yuyu Kangkang)
            Seperti Klenting Abang, Klenting Biru dan Klenting Ijo merah wajahnya karena malu demi mendengar jawaban dari Ande-Ande Lumut yang didengarnya secara langsung tanpa basa-basi lagi keduanya lalu segera meninggalkan rumah Mbok Randa Jenggala.
            Sementara itu Klenting Kuning juga berangkat ke Jenggala. Ia berdandang seadanya. Mengenakan pakaian sederhana itupun sudah dilumuri kotoran ayam sehingga baunya menyengat hidung. Atas petunjuk Ki Bango Samparan ia tidak menemui kesulitan dan tidak tersesat jalan hingga suatu ketika ia sampai di tepi sungai. Ia ingin menyeberang. Ia juga dihadang oleh Yuyu Kangkang yang hendak menawarkan jasa.
            “Weh…weh… ini ada seorang gadis tapi bajunya berbau busuk,” kata si Yuyu Kangkang.
            “Wah karena tidak berdandan kau tidak Nampak begitu cantik, hai gadis kau mau ke mana?
            “Aku mau ke seberang. Ke Jenggala!” jawab Klenting Kuning tegas sambil memegang erat batag lidi pemberian Bango Samparan.
            “Tidak ada jembatan, tidak ada perahu sampan, kau harus memenuhi permintaanku jika minta diseberagkan. Kau harus mau kucium lebih dahulu!”.
            “Kurang ajar! Aku bukan istrimu enak saja mau mencium orang!” jawab Klenting Kuning dengan kentus.
            “Hoo hoo hoo… tidak bsa menolak… semua juga mau, Klenting Abang, Klenting Biru dan Klenting Ijo juga sudah kuciumi. Mengapa kamu tidak mau!”
            “Aku tidak mau! Aku punya harga diri.”
            “Kalau begitu pulanglah! Tak ada gunanya kau di sini!” usir Yuyu Kangkang dengan marah.
            “Aku tidak akan pulang sebelum menyeberang!”
            “Mau menyeberang pakai apa?”
            Tanpa banyak bicara Klenting Kuning memukulkan Sada Lanang yang dipegang ke air sungai. Seketika Yuyu Kangkang menjerit kesakitan seperti tersambar geledek, secara ajaib air sungai tersibak dan membelah membentuk jalan setapak.
            Yuyu Kangkang berteriak kesakitan dan lari menjauh. Sementara Klenting Kuning berjalan santai melewati dasar sungai kering yang terbelah menjadi dua. Ia sampai di daratan seberang dengan selamat.
            Setelah menemukan rumah Mbok Randa Jenggala ia mengutarakan maksudnya ingin bertemu dengan si Ande-Ande Lumut. Tapi Mbok Randa salah paham, disangka Klenting Kuning ingin melamar atau ungah-unggahi.
            Maka menembanglah Mbok Randa Jenggala.
Putraku, si Ande-Ande Lumut…!”
Tumurana ana putri kang unggah-unggahi,
Putrine kang ala rupane
Klenting Kuning iku kang dadi asmane…!”
(Anakku Si Ande-Ande Lumut
Turunlah dari pertapaanmu ada putri yang melamarmu
Putrinya jelek wajahnya
Klenting Kuning itulah namanya)
Ande-ande Lumut juga menjawab lantunan tembagn itu dengan lagu yang sama.
            “Duh Ibu… kula inggih purun
            Duh Ibu kula kersa
            Senajan ala iku kang dadi pilihan.”
            (Wahai ibu saya tidak mau
            Wahai Ibu saya sekarang mau
            Wahai ibu saya menyukainya
            Walau jelek wajahnya itu adalah pilihanku)
            Mendengar jawaban dari Ande-Ande Lumut, Mbok Randa Jenggala merasa heran. Apalagi pada saat itu juga si Ande-Ande Lumut turun dari pertapaannya dan berlari menjemput Klenting Kuning.
            “Aduh Diajeng Dewi Sekartaji kemana saja kau selama ini,” kata Si Ande-Ande Lumut alias Raden Panji Asmara. “Betapa aku merindukanmu.”
            Klenting hanya bisa memandang terbengong-bengong di hadapan Raden Panji Asmara.
            “Kau memanggilku Dewi Sertaji? Lalu kau ini siapa?” Tanya Klenting Kuning.
            Tanpa banyak bicara Raden Panji yang terkenal sakti mandraguna itu segera memeluk istrinya, ia menotok beberapa urat di tubuh istrinya. Seketika pulihlah ingatan Sekartaji. Kini ia menyadari bahwa ia adalah Putri Sekar Kedaton Kerajaan Daha-Kediri.
            “Aduh Kagmas Raden Panji… Maafkan istrimu ini…” keluh Klenting Kuning dengan berlinang air mata. Air mata bahagia karena telah Tuhan telah mempertemukan kembali suami tercinta.
            Suami-istri yang saling mencinta itu kemudian membeberkan rahasianya kepada Mbok Randa Jenggala. Mereka berdua mengatakan siapa sebenarnya jati dirinya. Seketika Mbok Randa Jenggala jatuh lemas, tak disangka anak angkatnya yang ganteng itu adalah Pangeran istana Kerajaan Kediri.
            Tidak berapa lama kemudian Ki Bango Samparan dan para prajurit istana berdatangan ke tempat itu mereka menjemput Raden Panji dan istrinya yang sudah menghilang sekian lama di Kerajaan Kediri.