Jumat, 05 September 2014

Busana Ponoragan, Busana Tradisional, di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur/ Ponoragan Clothing, Traditional Clothing, in Ponorogo, East Java



Busana Ponoragan, Busana Tradisional, di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur
(Sumber/ source: Anonim.2014.Sepekan Wajib Busana Ponorogoan. Ponorogo: Koran Jawa Pos edisi Jumat 22 Agusus 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
Kota warga Ponorogo pantas berbangga. Dari 29 kabupaten daan 9 kota di Jatim yang memiliki busana khas hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Busana Ponorogoan itu mulai kemarin (29/ Agustus) wajib hukumnya dikenakan sekitar 12 ribu pegawai Negara sipil (PNS) di lingkup Pemkab setempat selama sepekan menandai peringatan HUT Ponorogo ke 518.
            Bahkan, Bupati Amin merasa perlu mengeluarkan surat Nomor 556/372/504.12/2014 tentang seruan memakai busana khas Ponorogo itu. Surat itu ditujukan ke ketua DPRD, Dandim 0802, kapolers, kajari, ketua pengadilan, sekretaris DPRD, kepala satker termasuk camat, serta pimpinan BUMN dan BUMD. “PNS laki-laki wajib mengenakan busana khas Ponorogo dan yang perempuan mengenakan atasan batik,” kata Kabag Humnas dan Protokoler Didik Setyawan, kemarin.
            Tak hanya mengenakan penadhon dan celana gombor maro gares, aksesoris lain yang melekat di busana Ponorogoan wajib dikenakan. Seperti, sabuk othok (ikat pinggang besar), kalor lawe, udheng (ikat kepala) dan sandal kulit. Sejatinya, pakaian khas Ponorogo ini sering dikenakan Bupati Amin saat menemui tamu-tamu penting.
Di antaranya, saat menyambut Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Joaquin F Monserrate, pada 16 Juni lalu. “Busana ini sudah menjadi cirri khas Ponorogo, dari bupati sampai warga kebanyakan sudah terbiasa mengenakannya,” terang Didik.
            Tidak hanyasaat peringatan hari jadi busana Ponorogoan juga wajib dikenakan saat perayaan Grebeg Suro. Imbauan tidak hanya berlaku bagi PNS di lingkup Pemkab Ponorogo, melainkan juga ke jajaran forpimda (forum pimpinan daerah).” Tak ketinggalam ke kepala badan, dinas kantor, kabag, dan camat serta pegawai di bawahnya untuk mengenakan pakaian khas Ponorogo, saat berdinas selama sepekan,” ungkapnya.
            Untuk menguatkan kekhasan Ponorogo, kaos bergaris putih merah syang sempat lama dipakai dalam panadhon sengaja ditinggalkan mulai 2006 lalu. Sebagai gantinya, kaos putih atau hitam bergambar reyog. Kata Didik, kebijakan itu sengaja berlaku untuk membedakan dengan busana daerah yang dikenakan warga Madura. “Kaosnya bergambar jadi langsung identik dengan Ponorogo,” ungkpanya.
            Kepala Dinas Pendidikan Supeno mengaku sudah menyebarkan surat imbauan bupati itu ke seluruh kepala SD, SMP, SMA dan SMK. Para guru juga kena wajib pakai busana Ponoragan. “Kami harap insruksi ini muncul rasa bangga dan ingin terus melestarikan budaya Ponorogo,” terangnya sembari mengaku tidak mewajibkan penadhon lantaran khawatir memberatkan orang tua mereka.
            Kebijakan mengenakan busana Ponoragan disambut antusias sejumlah kepala satker. Inspektur pada Inspektorat Nyoto Wiyono, misalnya, mengaku memiliki tujuh stel penadhon. “Kalau pakai baju ini, rasanya benar-benar bangga menjadi orang Ponorogo. Saya punya tujuh stel yang semuanya dibeli dari uang pribadi,” ujarnya.
            Tanpa kecuali, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Sapto Djatmiko, yang mengkaim punya tiga stel baju Ponorogoan. Setiap dua hari sekali, dia mengganti baju khas Ponorogo.” Punya koleksi banyak akrena juga dipakai saat mendampingi bupati menerima tamu penting,” terangnya.
            Sementara itu, imbauan memakai busana khas Ponorogo membuat sejumlah took aksesoris reyog ramai pembeli. Arjuna Galeri di jalan aloon-aloon barat, misalnya, mengalami peningkatan omzet sekitar 10 persen. “Ada yang beli satu stel, ada yang hanya baju atau aksesorisnya,” kata Sugeng, pemilik Arjuna Galeri.
            Dia menyebut harga busana Ponoragan bervariasi tergantung bahan. Konsumen lebih tertarik membeli penadhon lengkap dengan celana gombornya seharga Rp65 ribu hingga Rp75 ribu. Sedangkan harga sabuk othok (Rp 50 ribu-Rp125 ribu), kolor lawe (Rp5 ribu-Rp250 ribu), udheng (Rp15ribu-Rp25ribu), dan sandal kulit (Rp75ribu-Rp100ribu). “Harganya cukup terjangkau di kantong,” tegas Sugeng.