Jumat, 05 September 2014

Candi di Kauman, Ponorogo, Jawa Timur/ Temple in Kauman, Ponorogo, East Java



Candi di Kauman, Ponorogo
(Sumber/ source: Nurcahyo, Agik.2014.Biasa Masuk Hutan Buru Peninggalan Sejarah. Ponorogo: Koran Jawa Pos edisi Jumat 22 Agusus 2014.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
Penemuna arca Mahakala dan bangunan candi di halaman SMPN 1 Kauman Ponorogo tak lepas dari peran tim BPCB Trwolan. Sepuluh ahli yang diketahui Nugroho Harjo Lukito itu berhasil membangkitkan warisan budaya ratusan tahun silam. Nugroho ternyata pernah diminta gabung dengan sejarawan Perancis saat melakukan penelitian di belantara Kalimantan.
Wajah lelah Nugroho Harjo Lukito lenyap seketika. Rabu (13 September) siang lalu lataran kerja kerasnya bersama tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) terbayar impas. Mereka mampu membangkitkan candi yang selama ini terkubur di halaman SMPN 1 Kauman Ponorogo. Sorak gembira langsung pecah setelah candi yang digali selama satu minggu menampakkan wujudnya. “Pekerjaan seperti ini tidak bisa diukur dengan materi tapi lebih pada kepuasan,” kata Nugroho yang mengetahui tim BPCB beranggotakan sembilan petugas ini.
            Nugroho bersama tim berbeda sudah tercatat puluhan kali melakukan penggalian candi. Arkeolog kelahiran Jember, itu pernah menggali Candi Gambar Wetan dan Tapan di Blitar; Candi Sumur Upas di Trowulan; serta situs Goa Pasir di Tulungagung dan Semen Pagu di Kediri. “saat penggalian sejumlah dan siapa yang berangkat tidak selalu sama. Siapa yang bisa, ya berangkat,” ujar Nugroho sembari menyebutkan timnya merupakan tim penyelamat benda bersejarah.
            Ketika melakukan penggalian candi di halaman SMPN 1 Kauman, Nugroho membawa tim yang terbagi dari arkeolog, pemetaan, dokumentasi, dan juru gali. Selain dirinya, ada Ahmad Hariri, arkeolog asal Kediri. Sedang, urusan pemetaan dan penggambaran ditangani oleh Syaifullah dan Abu Tholib. Lima nama lagi, yakni Amar Ma’ruf, Abdul Manaf, Juni Arif, Rudi Ahmad dan Eko Ciwan merupakan juru gali yang kesemuanya warga Trowulan “Untuk dokumentasi saya membawa Agus Setyo,” imbuh pria Blitar itu.
Peninggalan candi terkubur di halaman sekolah yang berada di Dusun Candi Desa Nongkodono tidak banyak menyulitkan Nugroho dan kawannya. Sebab, Nugroho dan tim biasa melakukan penggalian di kawasan hutan dengan medan berat dan penuh tantangan. Bahkan, memakn waktu lebih panjang dibanding peninggalan Candi Nongkodono yang hanya membutuhkan waktu seminggu. “Sesulit-sulitnya peninggalan di Jawa masih lebih sulit di Kalimantan,” ujar Nugroho yang pernah bertugas di Kalimantan itu.
            Suami Nonuk Kristina itu memang lebih lama berburu candi di Pulau Borneo. Nugroho melakukan penggalian di Kalimantan sejak 2000 silam. Dia baru kembali ke Jawa, pada 2011 lalu. Berbagai macam candi dan situs purba pernah ditemukannya. Bahkan, Nugroho biasa melakukan penggalian hingga satu bulan penuh, pun, lokasi penggalian berada di tengah hutan yang harus ditempuh melalui perjalanan darat dan sungai. “Naik perahu kecil dulu, kemudian jalan kaki karena tempatnya di ketinggian,” kenangnya.
            Lamanya waktu tersebut lantaran situs yang diburu merupakan kerangka manusia purba berumur ribuan tahun yang tersimpan di dalam gua. Keadaan tulang yang sudah rapuh mengharuskan tim bekerja ekstra hati-hati. tim dengan sabar menyapu bagian demi bagian hingga seluruh kerangka terlihat. “Jumlah tim mencapai puluhan karena merupakan gabungan dengan tim dari Perancis,” papar bapak dua anak tersebut.
            Tim sejarawan Perancis sempat getol memburu situs purba di kawasan Asia termasuk Indonesia. Meski tim terdiri dari tenaga ahli bule, kemampuan Nugroho sebagai arkeolog Indonesia tidak dianggap aneh. Dia diundang bergabung hingga perburuan situs itu rampung. Selama di lokasi, Nugroho dan tim terpaksa bermalam di hutan. Mereka membangun rumah panggung untuk menghindari ancaman hewan buas. Perbekalan dibawa cukup dipakai dua minggu. “Ada porter yang turun gunung dua minggu sekali untuk mengisi logistic,” ujarnya.
            Saat bertugas di Kalimantan, Nugroho bersama tim peneliti pernah menemukan bukti penting yang mengubah sejarah. Yakni, cetakan tangan di dinding gua dan batu yang sama persis dengan temuan sebelumnya di Sulawesi dan Indonesia bagian timur. Ini menjadi bukti penting jalur perpindahan manusia jaman dulu kala. “Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia tercatat perpindahan hanya kea rah timur. Bukti cetakan di Kalimantan perpindahan mencabang ke barat,” jelas sulung empat bersaudara itu.
            Nugroho berkecimpung di dunia arkeolog bukan sebuah kebetulan semata. Pecinta pelajaran sejarah itu ternyata sering mendapat hukuman saat SD. Bukan lantaran bandel, Nugroho kecl kerap menggambar candid an bangunan kuno saat pelajaran berlangsung. Nugroho pernah bercita menjadi guru sejarah karena sering dihukum saat pelajaran ini. Namun, pilihannya jatuh apda arkeologi selepas SMA. “Apapun yang terjadi didunia tidak dapat terlepas dari sejarah. Kepuasan luar biasa jika dapat memberikan andil data untuk kepentingan sejarah manusia,” pungkas alumnus Udayana Bali itu.