Rabu, 29 Oktober 2014

Dampak Perceraian pada Anak, di dalam Psikologi / Impact of Divorce on Children, in Psychology


Dampak Perceraian pada Anak, di dalam Psikologi


(www.ithinkeducation.blogspot.com, owner/ pemilik (Please Follow Google Plus): Dimas Erda WM)

Dagun, Save M.1990.Psikologi Keluarga.Jakarta:RinekaCipta

Kasus perceraian sering dianggap suatu peristiwa tersendiri dan menegangkan dalam kehidupan keluarga. Tetapi, peristiwa ini sudah menjadi bagian kehidupan keluarga. Tetapi, peristiwa ini sudah menjadi bagian kehidupan dalam masyarakat. Kita boleh mengatakan bahwa kasus itu bagian dari kehidupan masyarakat tetapi yangmenjadi pokok masalah yang perlu direnungkan, bagaimakanah akibat dan pengaruhnya terhadap diri anak?
Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam. Kasus ini menimbulkanstres, tekanan, dan menimbulkan perubahan fisik,dan mental. Keadaan ini dialami oleh semua anggota keluarga, ayah, ibu dan anak.
Kasus perceraian di Amerika Serikat dan Inggris setiap tahunnya meningkat. Dari biro statistic diperolehdata bahwa antara tahun 1965 dan tahun 1976, angka perceraian itu rata-rata bertambah menjadi dua kali lipat dari kurun waktu sebelumnya. Dilaporkan juga pada saat sekarang hampir seperdua pasangan keluarga baru akan berakhirdengan perceraian.
Menurut hasil beberapa penelitian, hampir 60% kasus perceraian di Amerika Serikat dan 75% di Inggris melibatkan anak-anak. Meski sudah ada ketentuan dan undang-undang tentang pihak siapa yang bertanggung jawab atas diri anak dalam kasus perceraian itu, namun kenyataannya sering pihak ibu yang mencapai 90% mengambil alih tanggung jawab itu.
            Pada tahun 1979, di Amerika Serikat hanya 10% dan Inggris 7% anak-anak diasuh oleh ayahnya. Angka ini pun sudahmenunjukkan peningkatan tiga kali lipat sejak tahun 1960. Dan biasanya ayah sering lebih suka menanggung anak usia sekolah daripada anak usia kecil.
Perceraian dalam keluarga itu biasanya berawal dari suatu konflik antara anggota keluarga. Bila konflik ini sampai titik kritis maka peristiwa perceraian itu berada di ambang pintu. Peristiwa ini selalu mendatangkan ketidaktenangan berpikir dan ketegangan itu memakan waktu lama. Pada saat kemelut ini, biasanya masing-masing pihak mencari jalan keluar mengatasi berbagai rintangan dan berusaha menyesuaikan diri dengan hidup baru. Masing-masing pihak menerima kenyataan baru seperti pindah rumah, tetangga baru, anggaran rumah baru. Acara kunjungan pun berubah. Situasi rumah menjadi lain karena diatur oleh satu orang tua saja.
Banyak factor yang menyebabkan terjadinya kasus pertikaian dalam keluarga yang berakhir dengan perceraian. Factor-faktor ini antara lain, persoalan ekonomi, perbedaan usia yang besar, keinginan memperoleh anak putra (putri), dan persoalan prinsip hidup yang berbeda. Factor lainnya berupa perbedaan penekanandan cara mendidik anak, juga pengaruh dukungan social dari pihak luar, tetangga, sanak saudara, sahabat, dan situasi masyarakat yang terkondisi dan lain-lain. Semua factor ini menimbulkansuasana keruh dan meruntuhkan kehidupan rumah tangga.
            Menjelang gentingnya konflik ini biasanya sang ayah kurang memikirkan risiko yang bakal terjadi dalam mengasuh anak. Sementara ibu palingmemikirkan risiko akibat perceraian. Dan bagaimanapun kasus perceraian tersebut jelas-jelas membawa risiko yang berantai. Dan yang paling dipersoalkan adalah dampaknya dalam diri anak.

A.    Perceraian dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak
Sejauh manakah pengaruh perceraian itu pada perkembangan anak. Pada usia berapakah seorang anak itu lebih menderita akibat dari peristiwa perceraian? Hetherinton mengadakan penelitian terhadap anak-anak usia 4 tahun pada saat kedua orang tuanya bercerai. Penelitian ini ingin menyelidiki apakah kasus perceraian itu akanmembawa pengaruh bagi anak usia di bawah 4 tahun dan di atas 4 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa kasus perceraian itu akan membawa trauma pada setiap tingkat usia anak, meski dengna kadar berbeda.
Setiap tingkat usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru ini memperlihatkan cara dan menyelesaikan berbeda. Kelompok anak yang belum berusiasekolah pada saat kasus ini terjadi, ada kecenderungan untuk mempersalahkan diri bila ia menghadapi masalah dalam hidupnya. Ia menangis dirinya. Umumnya anak usia kecil itu sering tidak betah, tidak menerima cara hidup yang baru. Ia tidak akrab dengan orang tuanya. Anak ini sering dibayangi rasa cemas, selalu ingin mencari ketenangan.
Kelompok anak yang sudah menginjak usia besar pada saat terjadi kasus perceraian member reaksi lain. Kelompok anak ini tidak lagi menyalahkan diri sendiri, tetapi memiliki sedikit perasaan takut karena perubahan situasi keluarga dan merasa cemas karena ditinggalkan salah satu orang tuanya.
Ketika anak menginjak usia remaja, anak sudah mulai memahami seluk beluk arti perceraian. Mereka memahami, apa akibat yang bakal terjadi dari peristiwa itu. Mereka menyadari masalah yang bakal muncul, soal ekonomi, social dan factor lainnya.
Juth Walleerstein dan Joan Kelly meneliti 60 keluarga yang mengalami kasus perceraian di Kalifornia. Peneliti menemukan bahwa anak usia belum sekolah akan lebih mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri menghadapi situasi yang baru. Sementara anak usia remaja dilaporkan mereka mengalami trauma yang mendalam. Tetapi, dilaporkan 44% anak-anak usia belum sekolah itu perlahan-lahan mampu menyesuaikan diri dengna keadaan yang baru itu. Dua puluh tiga persen dari kelompok usia 7-10 tahun mampu mengatasi berbagai berbagai masalah yang dihadapinya.
Beberapa di antara anak-anak usia remaja dalam menghadapi situasi perceraian memahami sekali akibat yang bakal terjadi. Hetherington mengungkapkan, “Jika perceraian dalam keluarga itu, terjadi saat anakmenginjak usia remaja, mereka mencari ketenangan entah di tetangga, sahabat, atau teman sekolah.

B.     Bila Anak di Bawah Asuhan Ibu
Perceraian itu setidaknya  dapat menimbulkan kekacauan jiwa meski mungkin tidak terlalu jauh. Peran keluarga yang dijalankan dan dibebani kepada satu orang saja akan menjadi jauh lebih sulit jika dibandingkan oleh dua orang. Beban yang diderita menjadi lebih berat dan persoalan bermunculan. Semuanya ditangani seorang diri. Keadaan yang tidak menentu ini cenderung membuat ia memilih tinggal di rumah baru, ingin hidup menyendiri, menjauhi  teman, memilih sekolah yang lebih sederhana bagi anaknya. Perasaan sering diliputi kecemasan. Rasa aman pun terancam.
Kasus perceraian membawa akibat yang sangat mendalam. Peristiwa ini menyebabkan ibu atau ayah menjadi kurang mampu mengatasi kehidupan anaknya sehari-hari. Akibat yang lain, muncul serentetan kasus seperti tindakan yang semestinya tidak perlu terjadi. Misalnya, soal makan sudah dianggap “sepele”. Makan tidak pada waktunya, tidur tidak teratur, atau anak sering terlambat ke sekolah.
Dalam kasus perceraian ini, kaum ibu lebi hmengalami kesulitan konkret dalam menangani anak-anak. Sementara bagi ayah, ia mengalami kesulitan dalam taraf berpikir, merenungkan dirinya bagaimana menghadapi situasi.
Dalam kehidupan rumah tangga, suami istri itu saling mendorong dan saling mengisi dalam menangani berbagai pekerjaan sehingga suatu pekerjaan itu tampak bukan suatu beban. Ketika terjadi perusahaan, pertentangan emosional, social, semangat, dan kemunduran ekonomi maka timbul konflik. Dan bila keadaan ini tidak dikendalikan, maka terjadilah perceraian. Dan akibatnya keluarga ini terseret dalam caos, setidaknya mengalami syok.
Menurut hasilnya penelitian Hetherington, perstiwa perceraian itu menimbulkan ketidakstabilan emosi, mengalami rasa cemas, tertekan, dan sering marah-marah. Dalam menghadapi kemelut ini, pihak ibulah yang paling pahit merasakannya. Mereka merasa tertekan lebih berat, dan pengaruhnya lebih lama, terutama ibu yang mengasuh anak laki-laki. Malah setelah dua tahun terlalu, ibu ini masih merasa kurang mampu, merasa cemas, masih trauma dibandingkan dengan ibu yang mengasuh anak putri.
Peristiwa perceraian itu menimbulkan berbagai akibat terhadap orang tua dan anak. Tercipta perasaan yang tidak menentu  sejak saat ini ayah atau ibu menjadi tidak berperan efektif sebagai orang tua. Mereka tidak lagi memperlihatkan tanggung jawab penuh dalam mengasuh anak.
Pada tahun pertama setelah perceraian, orang tua menjadi kurang dekat dengan anaknya, meski banyak waktu tersedia untuk itu. Orang tua tidak menjadi tegas lagi, dan kurang melatih anaknya bersikap bertanggung jawab. Keadaan ini jauh berbeda dengan keluarga utuh yang orang tuanya bersikap tegas dalam mendewasakan anaknya.
Ketika kasus perceraian terjadi, ternyata cara ayah dan ibu dalam mengasuh anaknya berbeda. Misalnya, dalam soal memberikan perhatian, keramahan, dan kebebasan kepada anak-anak. Namun perbedaan ini tidaklah aneh karena dalam keluarga utuh puncara ibu dan ayah itu berbeda. Dan barangkali dipengaruhi gambaran bahwa tokoh ibu dekat dengan anaknya, maka pada kasus perceraian bisa diduga adanya kecenderungan kaum ibu dibebani mengasuh anak. Tetapi juga sebaliknya, karena figure ayah digambarkan sebagai kurang dekat dengan anak-anak maka dalam kasus perceraian pun ayah jarang mengambil risiko.
Namun ketika ayah dan ibu hidup dalam situasi perceraian, adanya kecenderungan sikap yang berbda pada ayah-ibu. Seorang ibu menjadi kurang memperlihatkan kasih sayang kepada anak-anaknya, khususnya terhadap anak laki-laki, suatu sikap yang berbeda dengan sebelum perceraian, ibu ini memperlakukan putranya lebih keras, member tugas disertai ancaman dan mendidik anak pun tidak sistematis serta bersifat memaksa. Sikap ibu pada saat itu bagaikan “berteriak sekuat-kuatnya tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, bagai berteriak di padang lepas, tanpa mempedulikan reaksi negative atau positif dari putranya.”
Ayah lain lagi. Ia malah lebih cenderung bersikap ramah, taw aria, dan memberikan kebebasan pada anaknya. Muncul sikap tertarik kepada anaknya. Dan perbedaan sikap ayah dengan ibu ini tampak jelas pada reaksi anak laki-laki. Reaksi anak laki-laki terhadap ibu yang mengasuh dirinya lebih bersikap acuh tak acuh. Mereka bersikap menyusahkan, banyak mengeluh dan mengajukan banyak tuntutan. Mereka juga bersikap lebih agresif dari anak lainnya. Seperti yang diungkapkan Hetherington, “Bagi ibu, perceraian itu menyakitkan, antara anak dengan ibu tidak saling mengerti dan ini dialami setelah setahun peristiwa perceraian. Perceraian itu, bagaikan “situasi perang”, perjuangan sengit, bagaikan “mereguk air keras Cina”, “mengiris hati”.
Tahun pertama perceraian merupakan masa krisis yang paling sulit. Orang tua tampaknya dari waktu ke waktu memperlihatkan sikap kasar kepada anaknya. Anamun setelah dua tahun berikutnya situasi mulai pulih kembali. Anak-anak dan orang tua sudah mulai beradaptasi dengan situasi. Ayah menjadi lebih keras dan disiplin, serta lebih mengekang anak-anaknya. Sementara ibu cenderung membatasi diri. Tetapi bagi anak laki-laki, meski sudah dua tahun berlalu, merkea tetap bersikap agresif, mudah terpengaruh, bersikap masa bodoh dengan ibunya. Sikap ini berbeda dengananak putri. Kisah-kisah perceraian itu lebih besar dampaknya pada anak laki-laki yang diasuh ibu. Pernyataan tersebut tetap benar!
Hetherington dan koleganya mengadakan tes pada kelompok anak yang belum usia sekolah pada saat terjadinya peristiwa perceraian. Tes ini dilakukan pada waktu anak bermain dan pada saat berinteraksi social dengan teman. Hetherington menemukan bahwa konflik keluarga itu menimbulkan pengaruh terhadap sikap bermain anak. Pengaruh sampingan lain adalah terganggunya  pergaulan dengan teman sebaya. Akibat yang lebih jauh lagi dapat dapat menjadi alasan pentingnya terhambatnya perkembangan anak. Anak berkembang tidak stabil terutama ketika bergaul dengan teman-temannya. Pengaruh ini akan terus berlanjut sampai anak menginjak masa remaja dan interaksi social sedikit terganggu pada masa dewasa.
Hetherington mengamatiperilaku bermain anak-anak dari kelompok keluargacerai dan keluarga utuh, baik di dalam kelasdan di tempat main. Diperoleh keterangan, ternyata anak laki-laki itu lebih dipengaruhi oleh peristiwa perceraian dlaam keluarga. Tampak jelas dengan terjadinya perubahan sikap, setelah dua bulan peristiwa perceraian itu berlalu,mereka tampak menjadi kurang imajinatif, dan daya kreatif berkurang.
Keadaan ini berbeda dengan anak dari keluarga utuh yangtetap memperlihatkan kegairahan dan semangat. Anak-anakdari keluargga retak berubah menjadi canggungmenghadapi realitas sebenarnya. Kadang-kadang mereka mulai berfantasi yang tinggi-tinggi, memimpikan menjadi orang tenar. Mereka menerawang jauh, tidak lagi menerima kenyataan. Berkurangnya daya imajinasi anak apda saat bermain akan sangat berpengaruh pada perkembangan social dan perkembangan kognitifnya.
Menurut Jerome Singer, kemahiran berfantasi pada saat bermain sangat penting. Daya imajinasi pada saat bermain dapat dianggap sebagai factor yangbesar, yangmempengaruhi perkembangan social.daya imainasijauhlebih penting daripada sikap reaksi anak terhadap suatu respons. Sebab bagaimanapun, imajinasi dan daya kreatif anakakan mampu mengatur serta menemukan hal baru dengan lincahdan dapat mengalihkan bentuk baru, dan jeli menggunakanbahan yang tersedia. Ia menjadi ekspresif dalam rencana dan berbicara.
Ada beberapa perubahan lain yang muculpada diri anak. Misalnya cara anak mengatur teman sekelasnya. Pada tahun pertama perceraian, hanya sedikit perbedaanantara anak putri dari keluarga utuh dengan putrid dari keluarga retak, entah dalam soal kreativitas, atau daya imajinasi bermain. Namun setelah dua tahun kemudian, ketika anak menginjak usia 6 tahun (usia 4 tahun saat orang tuanya bercerai), perbedaan ini sudah menghilang.
Tetapi berbeda pada kelompok anak laki-laki, pengarunya masih melekat meski sudah dua tahun berlalu. Anak ini masih tetap lebih senang menyendiri dalam bermain, kurang ingin bekerja sama, kurang teratur, kurang kreatif. Merkea lebih senang mengamati permainan daripada ikut terlibat dalam bermain. Ketika ia ingin bermain bersama temannya, ia lebih memilih teman main yang usianya lebih kecil atau lebih cenderung memilih teman putrid daripada ia memilih teman pria yang sebaya.
Pada anak dari keluarga retak, aktivitas fisiknya menjadi lebih agresif untuk tahun pertama namun tahun berkutnya anak ini kurang menampilkan kegirangan. Mereka lebih diselimuti perasaan cemas. Setelah du atahun berlalu, anak ini masih memperlihatkan aktivitas fisik yang menurun. Tetapi sebaliknya, aktivitas bahasa lebih agresif. Gejala ini tampak pada pergaulan dengan teman putrinya dan teman yang berusia lebih kecil dari dirinya. Meski anak ini agresif dalam berbicara namun ia tidak stabil, goyah. Mereka melakukan sesuatu tanpa suatu motivasi jelas dan tidak efektif. Jaga emosi tidak terkontrol.
Tidaklah mengherankan jika teman yang seumurnya kurang berminat dan tidak menghiraukan kelompok anak ini. Pada tahun pertama, banyak teman sebayanya menjauhi atau tidak bermain bersama mereka lagi. Malah setelah dua tahun berlalu teman seaya tetap dijauhi. Mereka sering menyendiri dna hanya sedikit di antara mereka dipilih oleh temannya untuk mengajak bermain. Dan kebanyakan mereka bergaul dengna anak-anak yang berusia lebih kecil dengan kelompok teman putri. Tetapi pada anak putrid dari keluarga retak itu, persoalan pergaulan dengan teman sebaya tidaklah terlalu sulit. Mereka masih diterima oleh teman-temannya setelah dua tahun kemudian.
Ada juga gejala lain pada anak laki-lai dari keluarga broken home ini, mereka menjadi lebih memperlihatkan sikap kasar kepada teman-temannya. Gejala ini muncul mungkin sebagai akibat sikap kasar dari ibunya yang menimpa diri mereka.

C.     Bila Anak di bawah asuhan ayah
Dlaam peristiwa perceraian itu kadang-kadang sang ayah mengambil alih tanggung jawab mengasuh anak. Pilihan ini dianggap suatu kekecualian dari kebiasan. Meski ada kecenderungan umum bahwa kaum ibulah yang sewajarlah yang mengambil alih mengasuh anak, namun pandangan ini sudah dianggap klasik.
Tetapi sampai abad dua puluh ini sebagian besar masyarakat di belahan bumi ini masih mempertahankan pola lama itu. Sebelum abad ini, anak dan istri dianggap sebagai milik kaum laki-laki (suami). Tugas mendidik dan mengasuh anak merupakan kewajiban istri. Konsekuensi pemikiran ini, ketika ada kasus perceraian maka secara otomatis kaum ibulah yang menanggung mengasuh anak. Perilaku ini seolah benar dan tidak bisa dibantah dan diterima begitu saja.
Pada tahun 1918, sebagai contoh, seorang penyair Shelly menolak mengasuh anaknya, dengan alasan abhwa hal itu semua yang “jelek dan tidak sopan”. Tetapi pada saat ini, pandangan itu sudah berubah. Walaupun anggapan lama itu masih ada.
Pandangan lama menganggap ibu itu tokoh yanglebih dengan anak dari segi psikologis dan biologis. Pandangan ini muncul karena dalam kehidupan sehari-hari ibu lebih dekat dan lebih mengerti akan kehidupan anak.
Bila demikian muncullah persoalan yang menarik, tatkala terjadi perstiwa perceraian. Karena melekatnya pandangna di atas, maka bila terjadi kasus perceraian seolah-olah otomatis anak-anak itu dibebankan pada ibu, apapun bentuk kesulitan ibu. Tetapi apda tahun 1970-an di Amerika, pandangan ini pelan-pelan berubah. Lahirlah undang-undang yang mengatur persoalan ini.
Bersamaan dengan itu, konsep kita tentang peran seorang ibu dan ayah mulai berubah. Dalan kasus perceraian, ayah dan ibu itu sama-sama mempunyai kemampuan mengasuh anak. Pada keluarga yang si ibu bekerja di luar rumah, dapatsaja ia bersikap menolah mengasuh anak. Pada abad modern ini muncul kecenderungan yang kuat pada seorang ayah untuk memilih mengasuh anak pada kasus mengambil alih tanggung jawab mengasuh anak, di Inggris angka ini mencapai 7%.
Semenjak ada kecenderungan sang ayah mengambil alih mengasuh anak dalam kasus perceraian, gejala ini dianggap suatu perkembangan baru. Tetapi mengungkapkan secara rinci pelbagai dampak gejala ini, tetap masih terbatas. Dan bila ditelitis secara mendetail dan memperoleh jawaban yang murni maka kita mengosongkan diri dari mitos lama dan pandangan tradisional.
Pertanyaan pertama yang bakal muncul, apa tipe laki-laki yang berani mengasuh anak? Untuk menjawab pertanyaan ini, Kelin Gersck mengadakan penelitian terhadap 40 orang ayah. Setengah dari jumlah ini adalah ayah yang mengasuh anaknya dan setengahnya tidak. Hasil penelitian ini ternyata bertolak belakang dengna dugaan umum. Ayah yang berani mengasuh adalah kelompok ayah sudah berpengalaman, usia relatiftua, ekonomi berkecukupan, dan lebih mengenal aturan hukum. Kemudian ayah ini berasal dari keluarga yang tidak mengalami keretakan.
Ada satu hal yang menarik dari seorang ayah yang mengambil alih mengasuh anak dalam kasus perceraian. Ayah seperti ini biasanya berasal dari keluarga yang pada masa mudanya lebih dkeat dengan ibunya atau dkeat dengan kedua orang tuanya.sebaliknya, kelompokayah yang tidak mengambil risiko dalam kasus ini adalah mereka yang tidak dekat dengan kedua orang tuanya.
Diungkapkan pula bahwa kelompok ayah yang berani mengasuh anak ini cenderung berasal dari keluarga yang ketika masih kecil ia disayang ibunya dan si ibu tidak sibuk bekerja di luar rumah.dalam keluarga ini kelak, anak laki-laki ini menjadikan ibunya sebagai model. Dalam dirinya tertanam nilai cinta. Dan ketika ia mengalami kasus perceraian amak nilai yang telah dimikinya dapat diterapkan pada anaknya.salah seorang ayah mengatakan,”Saya kira, saya sama dengan ibu saya. Kami adalah bagian menarik dalam mendidik dan mengasuh anak. Adanya pengaru hyang terselubung ini diungkapkan Gersikk, “Kaum laki-laki dari keluarga yang didk secara tradisional, tampaknya lebih cenderung memberikan keputusan yang ekstrem dan keputusan non tradisional dalam mengasuh anak.”
Meski semakin bertambahnya ayah yang mengambil alih mengasuh anak dalam kasus perceraian, tetapi masih tampak ada anggapan umum bahwa sikap ayah ini sekadar menentang cara lama. Reaksi masyarakat terhadap perubahan ini sering memberikan sikap kontrovers. Ada yang mendukung dan ada yang tidak.
Kaum pria yang mengambil alih tanggung jawab pada kasus perceraian umumnya mendidik anaknya secara lebih efektif. Apabila di antara ayah ini kurang peka dan kurang ekfektif dalam membimbing anak, biasnaya sebelum terjadi kasus perceraian mereka tidak pernah menggantikan popok bayi, tidak sibuk membantu istri, atau tidak mengepel rumah.
Baru-baru ini ada penelitian yang membenarkan pandangan bahwa ayah lebih mampu dan efektif mengasuh anak. Ketika Helen Mendes menanyakan, cara mereka menghadapi kegiatan sehari-hari seperti tugas di rumah, mengasuh anak, dan pekerjaan yang lainnya; 28% dari 32 orang Ayah yang diselidiki mengatakan bahwa mereka secara teratur memasak, mencuci, berbelanja, dan menjaga kebersihan rumah. Tidak seoerang pun mengeluh kelemahan mereka sebagai kaum laki-laki. Sebagian besar kelompok ayah ini mengetahui bagaimana cara bekerja di dapur. Meski demikian,sama seperti yang dialami ibu, mereka juga mengalami stress, tertekan dalam menjalakan duatugas sekaligus- mengasuh anak, dan tugas lain. Rasa tertekan bertambah karena sebagian besar kegiatan ini merupakan hal baru bagi ayah.
Kembali pada persoalan awal, bagaimana perkembangan anak di bawah asuhan ayah? Bila di depan dibahas secara jelas perkembangan anak di bawah asuhan ibu, maka di sini kita juga meneliti berbagai hal. Yang menjadi pertanyaan, apakah ayah juga sama perannya seperti anak di bahwa asuhan ibu? Ataukah ada perbedaan? Apakah anak laki-laki kurang mengalami stress dan anak putrid lebih beres bila diasuh ayah? Santrock dan Richard Warshak meneliti kemudian membanding pengaruh terhadap perkembangan social anak, jika anak di bawah asuhan ibu dan jika diasuh ayah.
Bila anak laki-laki itu diasuh oleh ibu maka tampaknya ibu mengalami kesulitan dalam mendidik mengasuh anak ketimbang bila diasuh oleh ayah, begitupun sebaliknya. Peneliti ini memberikan suatu kesimpulan yang cermat berdasarkan percobaannya di laboratorium. Ia meneliti bagaimana ayah dan ibu memberikan bantuan kepada anaknya yang berusia 11 tahun dalam meyelesaikan suatu tugas. Tugas ini berupa diskusi tentang soal perencanaan dan cara mengatasi masalah. Kemudian semua bentuk interaksi itu direkam dalam video tape. Berdasarkan hasil rekaman ini, Santrock dan Warshak menemukan berbagai variasi sikap orang tua terhadap anaknya yang lebih menonjol adalah terletak soal jenis kelamin orang tuanya.
Santrock dan Warshak menyimpulkan penelitian mereka. Ada sesuatu yang paling penting, keberlangsungan hubungan antara seorang anak dengan orangtuanya yang sejenis kelamin.misalnya pada saat seorang ayah memberikan perhatiannya yang besar dalam mendidik dan mengasuh putra-putrinya. Mereka lebih dapatmerasakan kebutuhan psikologi putranya daripada putrinya. Hal yang sama terjadi ketika seoerang ibu memperhatikan kepekaan pada putrinya.


D.