Rabu, 29 Oktober 2014

Istri dominan di Keluarga, di Psikologi/ Dominant Wife in Family, in Psychology



Istri dominandi Keluarga, di Psikologi


(www.ithinkeducation.blogspot.com, owner/ pemilik (Please Follow Google Plus): Dimas Erda WM)

Surya, Mohammad.2003.Bina Keluarga.Semarang: CV Aneka Ilmu.
Istilah dominan  sesungguhnya berakar pada pola-pola kehidupan manusia yang saling memiliki ketergantungan  satu dengan yang lainnya sebagai makhluk social  dan budaya. Dlam keragaman kehidupan social manusia, akan terjadi hubungan antarpribadi yang sifatnya saling pengaruh-mempengaruhi . dari  kondisi ini kemudian berkembang ada duda tipe kepribadian dalam kaitan dengan hubungan saling mempengaruhi yaitu tipe dominative  dan tiep afiliatif. Tipe dominative adalah individu  yang emmiliki karaktaristik kepribadian sedemikian rupa sehingga cenderung untuk dominan atau menguasai  individu lainnya baik secara perorangan maupun kelompok. Tipe afiliatif adalah individu yang memiliki karakterisktik kepribadian   sdemikian rupa sehingga cenderung untuk mengikuti pihak lain. Orang yang bertipe dominative akan selalu ingin menguasai dan mempengaruhi orang lain, dan sebaliknya orang yang bertipe afiliatif akan selalu ingin mengikuti  atau menurut kepada orang lain. Sifat dominative bersumber pada kelebihan kekuatan, sedangkan sifat afiliatif bersumber pada kekurangan kekuatan. Sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang dapat bersifat fisik intelektual,emosional, social, politik, material, dan sebagainya.
                 Pada dasarnya kecenderungan dominasi dan afiliasi, merupakan sesuatu yang naruliah dalam arti merupakan satu bawaan kodrati pada semua makhluk hidup. Pada biantang sifat- sifat dominasi dpaat terlihat pada berbagai jenis binatang dalam wujud mengausai untuk kepentingan kelangsungan hidup, pertahanan territorial, makananan, pasangan hidup, dan sebagainya. Sifat-sifat itu akan terus menerus  dalam bentuk yang permanen. Sedangkan pada manusia, sifat naluri tersebut kemudian berkembang lebih membudaya dan normative sejalan dengan karakteristik manusia sebagai makhluk social, makhluk budaya, makhluk beragama. Dengan demikian perwujudan sifat dominasi dan afiliasi itu kemudian diatur dengan norma-norma yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri sehingga mampu memberikan suasana tatanan kehidupan manusiawi yang beradab dan normative.
                Dalam kaitan dengan  topic diatas, yang dimaksud “istri dominan” adalah sebutan yang ditujukan kepada wanita sebagai istri yang cenderung untuk menguasai segala pola-pola kehidupan rumah tangga. Pada umumnya sebutan itu sering dalam konotasi negative yaitu sebagai sumber masalah dalam keluarga dan terkait dengan lingkup kehidupan lainnya. Pola-pola tindakannya cenderung otoriter dan tidak memberikan kesempatan kepada anggota keluarga lainnya untuk berpartisipasi. Sebenarnya sebutan itu tidak selalu berkonotasi negative, bergantung pada situasi dan kondisinya. Memang “istri dominan” sering terjadi permasalahan  dalam keluarga apabila terjadi dalam situasi dan kondisi yang tidak proporsional, misalnya istri yang terlalu otoriter yang mengatur segalanya sehingga anggota keluarga yang lain yaitu suami dan anak seolah-olah berada di dalam kekuasannya. Akan tetapi dalam hal pada situasi dan kondisi yang proporsional atau pada tempat yang seharusnya, maka dominasi itu menjadi sesuatu yang positif dan menjadi sumber kebahagian keluarga.
                Dari pola-pola perwujudannya ada istri dominan sehat, ada istri dominan bermasalah, dan istri  dominan patologis. Dominan sehat adalah pola-pola dominasi istri dalam situasi dan kondisi yang proporsional sesuai dengan tuntutannya. Pola-pola ini dapat terjadi pada keluarga harmonis yang bersifat demokratis, dimana pola-pola dominasi yang ditunjukan oleh tiap anggota keluarga (bukan hanya istri), merupakan hasil kesepakatan dari seluruh warga keluarga. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan suasana kebahagiaan dalam kehidupan keluarga. Semua pihak yang tidak merasa pihak yang berkuasa dan dikuasai atau penurut, akan tetapi merasa berperan serta dalam keseluruhan kehidupan keluarga. Dominan bermasalah, adalah perwujudan pola-pola dominasi istri secara kurang proporsional sehingga semua tindakan sering menimbulkan masalah dan hambatan. Akibatnya perjalanan kehidupan keluarga sering mendapatkan gangguan dalam berbagai hal. Situasi ini biasanya terjadi karena kurangnya komunikasi dan saling pengertian antar anggota keluarga. Dalam banyak hal pola dominasi seperti ini dapat diatasi dengan kesediaan anggota keluarga untuk berkomunikasi dan saling memahami. Selanjutnya, dominan patologis, adalah pola-pola dominasi istri yang sudah berlebihan atau sangat tidak proporsional sehingga merupakan kondisi yang kronis dalam kehidupan keluarga. Dalam pola telah terjadi hubungan tidak sehat, komunikasi seperti terputus, dan setiap anggota keluarga seolah-olah kehilangan hak dan martabatnya. Pola seperti ini dapat menimbulkan rusak system kehidupan keluarga sehingga dapat merusak atau menghancurkan kehidupan rumah tangga.
Seperti telah dikatakan di atas, dominasi itu bersumber dari adanya kelebihan “satu kekuatan”. Dalam pola yang sehat, kekuatan itu dirasakan benar dan diterapkan secara proporsional dalam situasi dan kondisi secara tepat. Tetapi dalam pola bermasalah dan patologis kekuatan itu bersifat semu dan diwujudkan secara tidak proporsional sehingga menimbulkan gangguan dan hambatan kehidupan keluarga. Gejala “Istri dominan” yang bermasalah dan patologis merupakan akibat dari berbagai factor yang saling terkait antara aspek pribadi, lingkungan, dan kehidupan berkeluarga. Dalam aspek pribadi, sumbernya terletak pada kualitas karakteristik kepribadian yang terkait dengan kualitas keimanan dan ketakwaan, pendidikan masa lalu pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya.  Sifat-sifat ini sering terjadi karena pendidikan di masa lalu yang kurang kondusif, misalnya pemanjaan yang berlebihan, contoh yang kurang baik dari orang tua, pergaulan yang terlalu sempit dan salah, pendidikan yang kurang matang, dan sebagainya. Perkembangan kepribadiannya yang kurang baik ini dapat menjadi sifat dominan sebagai kompensasi atau upaya tak sadar untuk mewujudkan kepribadian tanpa sadar. Aspek lingkungan, baik di masa lalu maupun masa kini merupakan latar belakang yang cukup berpengaruh. Suasana kehidupan keluarga yang kurang baik, lingkungan masyarakat yang terlalu keras, dan sebagainya dapat menimbulkan sifat-sifat dominan yang negative. Selanjutnya proses kehidupan keluarga yang tidak dipersiapkan secara matang dapat mengganggu proses penyesuaian kehidupan perkawinan, sehingga memunculkan sifat-sifat dominan yang negative. Memasuki kehidupan berkeluarga tanpa diawali dengan persiapan yang matang dapat menimbulkan permasalahan. Demikian pula kehidupan berkeluarga tanpa didasari dengan saling pengertian dan komunikasi yang baik dan dapat menimbulkan suasana yang dominasi yang kurang sehat.
Berikut ini dikemukakan beberapa hal yang dapat disarankan untuk mengatasi permasalahan “istri dominan”.
1)      Pertama, penanaman nilai-nilai dasar yang kuat dalam dirinya, terutama nilai-nilai yang bersumber pada nilai-nilai agama. Tanpa nilai yang kuat, perilaku akan kurang terarah dan bermakn. Dengan nilai yang mantap, maka perilaku dapat ditampilkan secara lebih terarah dan tepat sehingga dapat memberikan citra yang baik.
2)      Kedua, memiliki konsep diri yang jelas dan mantap baik konsep diri ideal maupun actual. Lebih mantap lagi apabila tidak terdapat jarak yang terlalu jauh antara konsep diri ideal dan actual sehingga mampu mewujudkan harga diri yang tepat. Konsep diri yang memadai dapat membantu pribadi dalam menampilkan perilakunya secara tepat sehingga pada gilirannya dapat mencerminkan citra yang baik.
3)      Ketiga, mengenal dan memahami lingkungan dengan sebaik-baiknya untuk dapat lebih memahami peran yang harus diemban dan diwujudkan. Dengan memahami lingkungan secara tepat maka dapat diwujudkan perilaku peran secara tepat pula, sehingga pada gilirannya dapat memberikan penampilan dengan citra yang baik.
4)      Keempat, menciptakan suasana keluarga yang harmonis dan penuh saling pengertian serta kasih sayang di antara anggota keluarga. Kekacauan kehidupan keluarga dapat mengarah pada timbulnya perilaku yang kurang tepat sehingga dapat menimbulkan citra yang kurang baik. Dan sebaliknya suasana kehidupan keluarga yang harmonis dapat menunjang penampilan diri dengan citra yang baik.
5)      Kelima, memperluas kontak-kontak social melalui pergaulan yang baik dan sehat. Pergaulan yang baik dan sehat, merupakan sumber belajar yang kaya untuk pengembangan diri, termasuk belajar bagaimana mewujudkan penampilan citra yang baik. Dari pergaulan pula kita dapat mengukur diri kita sendiri sehingga kita akan memperoleh pemahaman yang lebih tepat terhadap diri sendiri dan orang lain.
6)      Keenam, meningkatkan komptensi diri. Kompetensi diri adalah seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan kehidupan. Untuk dapat mewujudkan penampilan yang dapat memberikan citra yang baik, diperlukan sejumlah pengetahuan dan keterampilan tertentu sesuai dengan peran-perannya. Misalnya untuk mendapatkan citra yang baik sebagai wanita pengusaha, maka diperlukan seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan dunia usaha, sehingga mampu menampilkan citra yang baik pada saat berucap, berpikir, dan bertindak.