Rabu, 29 Oktober 2014

Komunikasi dalam keluarga, di dalam Psikologi/Communication in the family, in Psychology



Komunikasi dalam keluarga, di dalam Psikologi
(www.ithinkeducation.blogspot.com, owner/ pemilik (Please Follow Google Plus): Dimas Erda WM)
Surya, Mohammad.2003.Bina Keluarga.Semarang: CV Aneka Ilmu.

Komunikasi merupakan salah satu aspek kehidupan dan perilaku manusia secara keseluruhan. Manusia saling berhubungan satu dengan lainnya melalui komunikasi, dan dengan komunikasi pula manusia memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu manusia tidak akan menemukan kehidupan yang baik tanpa komunikasi sesamanya. Sebagaimana kita maklumi, keluarga merupakan satuan terkecil dari kehidupan social manusia. Dalam kehidupan keluarga tiap anggota saling berinteraksi satu dengan lainnya. Komunikasi antaranggota keluarga merupakan salah satu aspek kehidupan dalam keluarga. Bukanlah suatu keluarga manusia yang baik, apabila tidak terdapat komunikasi di dalamnya. Demikian pula komunikasi antarkeluarga yaitu komunikasi antara keluarga yang satu dengan lainnya.
Semua kebutuhan keluarga dan tiap-tiap anggota keluarga dipenuhi melalui komunikasi antarsesama anggotanya. Dalam keluarga terjadi komunikasi antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara anak dan anak lainnya, antara anggota keluarga dan pihak dan di luar keluarga. Segala masalah keluarga dipecahkan melalui komunikasi, dan juga kebutuhan setiap anggota keluarga dipenuhi melalui komunikasi. Segalanya dapat berjalan dengan lancar sepanjang komunikasi itu berlangsung secara efektif. Tetapi seringkali timbul berbagai masalah dalam keluarga karena komunikasi yang kurang efektif. Sering terjadi kesalahpahaman antara suami dan istri untuk hal-hal tertentu, misalnya suami merasa istri kurang memperhatikan, padahal istri merasa telah memberikan segala-galanya. Yang terjadi adalah apa yang dipikirkan suami ternyata ditafsirkan secara berbeda oleh istri, dan demikian pula sebaliknya. Anak-anak dan orang tua juga sering terjadi kekurangefektifan komunikasi, misalnya apa yang direncanakan oleh anak kurang diterima oleh orang tua karena dianggap tidak sesuai atau karena alasan lainnya. Apa yang dipikirkan oleh orang tua, diterima dan ditafsirkan lain oleh anak.
Komunikasi yang kurang efektif antaranggota keluarga dapat menimbulkan berbagai masalah, dan bahkan kadang-kadang dapat menimbulkan gangguan dan kegoncangan dalam kehidupan keluarga. Tiap-tiap anggota keluarga berada dalam alam pikirannya masing-masing dan berjalansendiri-sendiri. Lebih celaka lagi kemudian kalau terjadi benturan antara masing-masing pikiran itu. Mungkin semua anggota keluarga berada di rumah, akan tetapi sangat terbatas untuk mengeluarkan kata-kata dari yang satu dnegan lainnya. Apabila hal itu terjadi maka suasana keluarga sudah kurang sehat, dan dapat membawa kepada situasi goncangan atau kehancuran. Sebaliknya apabila terjadi komunikasi yang efektif, maka suasana hubungan antar anggota keluarga menjadi lebih cerah, lebih bergairah dan bahagia. Suasana komunikasi efektif dapat menunjang kebahagiaan dan kemajuan keluarga. Jadi, apa itu komunikasi yang efektif, dan apa itu komunikasi yang tidak efektif, factor-faktor apa yang mempengaruhi? Dan akhirnya bagaimana mengupayakan terjadi komunikasi yang efektif dalam keluarga.
Secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pesan dari satu pihak kepada pihak lainnya dengan menggunakan alat komunikasi. Pihak yang member pesan biasanya disebut pemberi (komunikator) dan pihak yang menerima pesan disebut penerima atau komunikan. Pemberian pesan itu menggunakan alat komunikasi seperti bahasa, isyarat, dan sebagainya. Pesan dapat disampaikan secara langsung atau dapat pula dengan menggunakan media seperti surat, telepon, pesan, gambar dan sebagainya. Suatu komunikasi dianggap efektif jika pesan yang diberikan oleh pemberi diterima tepat oleh pihak penerima. Jadi, misalnya apabila apa yang terpikir dan disampaikan oleh suami diterima secara tepat oleh istri, maka itu sudah merupakan suatu komunikasi yang efektif. Sebaliknya komunikasi itu dianggap tidak efektif apabila terdapat perbedaan antara isi pesan yang disampaikan dengan penerimaannya.
Banyak factor yang mempengaruhi keefektifan suati komunikasi, antara lain kesamaan antara pemberi dan penerima, sifat pesan, cara memberikan pesan, waktu pemberian pesan, tempat atau lingkungan, kondisi pribadi, media dan sebagainya. Kesamaan antara pemberi dan penerima dalam berbagao hal dapat membantu keefektifan komunikasi. Misalnya suami istri yang masing-masing memiliki kesamaan dalam music atau olahraga,  akan lebih mungkin terjadi komunikasi efektif terutama dalam hal yang berkaitan dengan musik atau olahraga. Suami istri yang sama-sama menyadari kesamaan mereka seperti kesamaan tujuan, cita-cita, kasih saying, dan sebagainya akan lebih mungkin terjadi komunikasi yang efektif. Sifat pesan dapat pula menjadi factor keefektifan komunikasi. Misalnya pesan yang kurang jelas atau tidak dipahami akan menyulitkan komunikasi. Kondisi pribadi, juga akan mempengaruhikeefektifan komunikasi, misalnya pada saat suami dalam keadaan letih karena baru datang bekerja akan sulit terjadi komunikasi yang efektif. Sebaliknya komunikasi akan lebih efektif dalam keadaan suasana pribadi yang sehat, segar, dan siap untuk berkomunikasi. Sifat-sifat pribadi seperti motivasi, minat, kesabaran, kejujuran, kemauan, sikap, dan sebagainya dapat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Orang yang egois yang mau menang sendiri akan sulit untuk menghasilkan komunikasi yang efektif. Sebaliknya orang yang luwes, terbuka, akan lebih mungkin berkomunikasi secara ekfetif. Factor tempat juga dpaat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia mungkin akan kurang efektif jika dilakukan di tempat umum dan terbuka. Cara berkomunikasi dengan orang dewasa. Jadi, pendek kata banyak factor yang harus dipertimbangkan dlaam melakukan komunikasi.
Komunkasi dalam keluarga biasanya dilakukan secara langsung, terutama kalau semua anggota berada di rumah. Akan tetapi dapat pula dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan media seperti telepon, surat, atau cara lain, apabila salah seorang anggota keluarga berada di tempat yang jauh di luar rumah. Yang penting adalah terjadinya kontak pemberian dan penerima pesan antaranggota keluarga. Komunikasi dalam keluarga didasari sifat kekeluargaan yang berupa komunikasi antarpribadi artinya komunikasi yang merupakan sentuhan pribadi di antara anggota keluarga di samping isi pesan itu sendiri. Komunikasi antara suami dan istri didasari oleh rasa saling mencintai. Demikian pula antara orang tua dengan anak, dasarnya adalah kasih sayang. Komunikasi antarpribadi merupakan cirri khas komunikasi dalam keluarga dibanding dengan jenis komunikasi lainnya. Dalam komunikasi seperti ini, tidak terjadidalam suatu formalitas yang kaku dengan aturan sendiri, akan tetapi dalam suasana penuh pengertian saling memiliki, saling menyayangi, dan penuh keakraban dengan saling menghormati posisi yang masing-masing.
Bagaimana dapat mengembangkan komunikasi yang efektif dalam keluarga? Inilah yang penting. Seperti dikatakan di atas, komunikasi dalam keluarga adalah berupa komunikasi antar pribadi. Jadi yang harus diutamakan adalah kontak atau sentuhan pribadi antaranggota keluarga. Atas dasar inilah komunikasi dibina dan dikembangkan. Beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut.
Pertama, ciptakan terlebih dahulu hubungan antarpribadi antar sesame anggota keluarga. Ini artinya harus dihindari adanya formalitas dengan aturan yang kaku, misalnya ada jadwal tertentu, harus buat perjanjian terlebih dahulu, pembatasan waktu, tata cara berbicara, dan sebagainya. Apabila ada situasi seperti itu maka komunikasi yang terjadi bukan komunikasi antarpribadi, karena masing-masing tetap berada dalam posisi yang ada garis pemisah. Sebaliknya ciptakan suasana kemesraan, keterbukaan, keluwesan, saling mengerti, saling menghormati, dan dalam kewajaran. Misalnya adalah wajar apabila anak langsung bercerita kepada ayahnya capek, atau perlu istirahat. Dengan perkataan yang baik, dapat diciptakan suasana komunikasi yang baik. Demikian pula, adalah hal yang wajar kalau ayah meminta istirahat sebelum bercerita. Tetapi semua itu perlu saling dipahami.
Kedua, berusaha mencari kesamaan antaranggota keluarga karena kesamaan ini akan lebih mengefektifkan komunikasi. Hal ini dapat diusahakan dengan memahami setiap pihak dengan berdialog dan saling memberikan penjelasan dengan alasan yang logis. Orang tua berusaha memahami anak dengan karakteristiknya, dan demikian pula anak-anak hendaknya memahami keadaan orang tua.
Ketiga, kesediaan untuk berkomunikasi dan demi kepentingan bersama. Ini berarti harus dihindari adanya sikap egoisme, sikap mau benar sendiri, atau memaksakan kehendak sendiri. Kesediaan berkomunikasi berarti pula kesediaan untuk memberikan atau kalau perlu mengorbankan demi kepentingan bersama. Misalnya, mungkin orang tua harus bersedia mengorbankan keinginannya yang pada mulanya dirasa benar, setelah mendengar penjelasan dari anak. Demikian pula anak hendaknya bersedia berkorban mengurangi keinginannya setelah mendapat penjelasan dari orang tua. Di sini bukan soal demi ayah atau demi ayah atau demi ibu atua demi anak, akan tetapi demi untuk kebahagiaan semua anggota keluarga.
Keempat, yang penting adalah intesitasnya dan bukan frekuensinya. Yang dimaksud dengan intensitas adalah kekuatannya dalam menyentuh aspek pribadi. Kontak orang tua dengan anak dengan penuh kasih sayang yang dilakukan hanya beberapa menit akan lebih bermakna dibandingkan dengan pidato atau nasihat berjam-jam dengan nada marah dan kebencian. Kontak surat atau telepon dari orang tua dari kantor atau dari luar kota atau lebih bermakna sebagai komunikasi antarpribadi, dibanding ada di rumah tetapi tidak saling menegur.
Kelima, menggunakan cara yang tepat dalam menyampaikan pesan komunikasi. Dalam hal ini adalah memilih bahasa atau isyarat yang digunakan, memilih media yang tepat, memilih waktu yang tepat, dan memilih tempat yang tepat. Misalnya mungkin suatu masalah dapat dibicarakan dalam suasana santai sambil makan bersama, nonton TV, atau sambil berekreasi  ke luar kota. Kalau terpaksa memerlukan jasa pihak ketiga, maka pilih-pilih pihak yang dipandang sesuai untuk itu.
Keenam, yang paling utama dan mendasar ialah kualitas keimanan dan ketakwaan seluruh anggota keluarga. Dalam keluarga dimana anggota keluarga memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang tinggi jelas akan berkembang komunikasi yang efektif. Pelaksanaan ibadah, pada hakikatnya sekaligus merupakan sarana komunikasi yang efektif antaranggota keluarga. Misalnya dalam sembahyang berjamaah, makan sahur, berbuka puasa, bersilaturahmi, dan sebagainya.