Rabu, 29 Oktober 2014

Konflik dalam keluarga, di dalam Psikologi/ Conflict in the family, in Psychology



Konflik dalam keluarga


(www.ithinkeducation.blogspot.com, owner/ pemilik (Please Follow Google Plus): Dimas Erda WM)


Surya, Mohammad.2003.Bina Keluarga.Semarang: CV Aneka Ilmu.

A)     Apakah konflik itu?
Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan “saling bertentangan” yaitu suatu keadaan gangguan perilaku yan g dialami oleh individu karena adanya dorongan-dorongan yang sama kuat baik yang terjadi di dalam dirinya maupun dengna sesuatu di luar dirinya. Konflik terjadi kalau individu tidak mampu membuat pilihan secara tepat pada saat menghadapi berbagai dorongan yang sama kuat. Sebagaimana dimaklumi, perilaku  individu terjadi karena adanya motif atau kekuatan yang mendorong individu untuk berperilaku dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Kalau motif atau tujuan itu mempunyai kekuatan yang sama atau seimbang, maka individu akan mengalami kesulitan untuk melakukan pilihan. Dalam keadaan ketidakmampuan membuat pilihan itulah terjadi apa yang disebut “konflik”
Konflik dapat terjadi di dalam diri individu sendiri dan disebut sebagai konflik intra pribadi, dan dapat terjadi dengan orang lain yang disebut konflik antarpribadi. Di samping itu ada pula yang disebut konflik antarkelompok yaitu saling bertentangan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Konflik intra pribadi akan dialami oleh seorang individu yang menghadapi berbagai kekuatan dalam dirinya sendiri dan sulit untuk membuat keputusan, misalnya dalam memilih sekolah, memilih jodoh, memilih barang, memilih teman, memilih pekerjaan dan sebagainya. Konflik antarpribadi akan terjadi kalau ada dua orang individu atau lebih yang mempunyai  berbagai kepentingan pribadi yang berbeda atau saling bertentangan dalam suatu situasi yang bersamaan. Misalnya pertentangan antara kemauan suami dengan istri terhadap suatu situasi karena setiap pihak berada dlaam pendirian masing-masing yang berbeda dan sama kuat. Konflik antar kelompok adalah pertentangan yang terjadi  antara satu kelompok dengna kelompok lainnya karena masing-masing mempunyai dorongan atau kepentingan yang berbeda.

B)      Mengapa Terjadi Konflik
Seperti telah dikatakan di atas, konflik itu merupakan suatu keadaan adanya pertentangan baik di dalam  maupun di luar diri individu. Konfik terjadi kalau individu tidak mampu membuat keputusan dalam menghadapi situasi pilihan berbagai kepentingan. Dalam keadaan individu menghadapi berbagai kepentingan yang sama kuat, sebaiknya segera melakukan pembuatan keputusan, baik dengan membuat pilihan maupun secara kompromi. Jadi konflik akan terjadi kalau individu kurang mampu membuat keputusan pada saat berhadapan dengan dorongan-dorongan yang sama kuat baik dari dalam maupun dari luar. Makin banyak dorongan atau tujuan yang ingin dipenuhi, maka banyak kemungkinan untuk terjadi konflik. Dalam kaitan dengan pihak luar, makin besar perbedaan antar pribadi, makin besar kemungkinan terjadi konflik antar pribadi. Keadaan itu akan makin diperbesar apabila tiap-tiap individu tetap berada dalam “keakuan” masing-masing, dan tidak ada kesediaan untuk mencari kesamaan dan kepentingan bersama.

C)      Konflik sebagai sumber masalah dalam keluarga
Dalam kehidupan keluarga, konflik merupakan salah satu sumber masalah-masalah psikologis keluarga. Sekurangnya ada tiga macam konflik yang mungkin terjadi dalam keluarga, yaitu konflik intra pribadi, konflik antarpribadi dan konflik antarkeluarga. Konflik intra pribadi yaitu konflik yang dialami oleh anggota keluarga baik bapak, ibu, maupun anak. Tiap-tiap anggota pasti memiliki berbagai dorongan dan tujuan dalam dirinya, yang mempunyai peluang untuk berkembang menjadi konflik. Misalnya seorang anak yang baru lulus ujian harus memilih antara melanjutkan sekolah atau bekerja, seorang bapak harus memilih antara menerima kenaikan jabatan yang lebih tinggi tetapi tinggal dalam jabatan sekarang, seorang ibu harus memilih antara mengikuti suami bertugas ke luar kota dengan kepentingan di dalam rumah.
Konflik antarpribadi dalam keluarga dapat terjadi kalau antaranggota keluarga terjadi perbedaan kepentingan yang sama kuat dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan. Misalnya konflik yang terjadi dalam memilih lanjutan sekolah, antara ayah, ibu, dan anak mempunyai sasaran yang berbeda (dan mungkin saling bertentangan). Perbedaan antarpribadi dlaam keluarga adalah sangat mungkin terjadi mengingat para anggota keluarga adalah individu yang memiliki perbedaan dalam segala hal. Akan tetapi kalau tiap-tiap anggota keluarga mampu menemukan kebersamaan, maka konflik antarpribadi dalam keluarga itu tidak akan terjadi. Sebaliknya, konflik itu sangat mungkin akan timbul kaalu masing-masing pihak berada pada kekuatan ego atau “keakuan” masing-masing, dan tidak mau membuat kompromi. Selanjutnya, konflk antarkeluarga dapat terjadi kalau antar satu keluarga dengan keluarga dengan keluarga lainnya terjadi perbedaan kepentingan dan berkembang menjadi suatu pertentangan.
Jenis manapun yang terjadi, konflik akan banyak meberikan dampak negative terhadap kehidupan keluarga. Keluarga yang para anggotanya  mengalami konflik intra pribadi akan sulit untuk berkembang menjadi suatu keluarga yang kuat dan bahagia. Demikian pula keluarga yang di dalamnya terdapat konflik antar anggotanya akan sulit untuk membangun ke arah kehidupan keluarga yang bahagia. Demikian pula masyarakat yang didalamnya penuh dengan konflik antarkeluarga, akan sulit akan menjadi masyarakat yang kuat. Pendek kata, konflik dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan  keluarga baik masalah pribadi, ekonomi, social, dan terutama masalah prsikolgis. Anggota keluarga yang berada dalam situasi konflik, cenderung akan berkembang menjadi pribadi yang mendapat gangguan psikologis sehingga berdampak pada perwujudan perilakunya.  Dalam keadaan yang lebih buruk, keadaan konflik dapat mengakibatkan kehancuran keluarga.
Dampak yang paling besar adalah pengaruh terhadap perkembangan anak dan masa depannya. Dalam suasana penuh konflik akan sulit terjadi proses pendidikan yang baik dan efektif. Anak yang dibesarkan dalam suasana konflik tidak akan memperoleh pendidikan yang baik sehingga perkembangan kepribadian anak  mengarah kepada wujud pribadi yang kurang baik. Akibat negatifnya sudah dapat diperkirakan yaitu anak menjadi tidak betah di rumah, kehilangan tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangannya sikap agresif dan permusuhan, rasa rendah diri, tidak mempunyai cita-cita, mengisolasi diri, kurang acuh, dan bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk ke dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih tinggi.
D)     Peran Ibu
Dalam kehidupan keluarga kaum ibu memegang peran kunci dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia dan harmonis. Hal ini mengandung makna bahwa kebahagiaan keluarga banyak ditentukan oleh kaum ibu melalui pemberdayaan dirinya. Pada dasarnya setiap wanita itu memiliki jiwa atau naluri keibuan yaitu sifat bawaan yang berupa dorongan mewujudkan perilaku sebagai “ibu”. Naluri keibuan tersebut mengandung kondisi kejiwaan yang berupa getaran emosional untuk menyayangi anak yang dikandung dan dilahirkannya. Getaran emosional ini akan terwujud dalam kasih sayang yang tulus  serta suasana kelembutan yang diciptakannya. Kaum ibu itu memiliki kualitas dan kompetensi kepemimpinan yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi konflik dalam keluarga. Konflik itu merupakan sesuatu  yang naluriah sifatnya, artinya secara alamiah akan senantiasa terjadi dalam seluruh perjalanan hidup manusia karena hal itu merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Namun dengan rasa keibuannya , ibu dapat berupaya untuk meminimalkan adanya konflik serta meminimalkan dampak negative yang terjadi dan memaksimalkan dampak positifnya. Ibu dapat berperan sebagai sumber keteladanan, sumber motivasi, dan pembimbing dalam keluarga. Yang harus diwujudkan adalah kaum ibu sendiri mampu mengendalikan konflik yang terjadi dalam dirinya. Beberapa upaya yang dpaat dilakukan oleh kaum ibu dalam menanggulangi konflik antara lain sebagai berikut.

Pertama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada diri masing-masing. Dalam kondisi keimanan dan ketakwaan yang kuat, manusia akan mampu menanggulangi keadaan konflik serta dampaknya. Agama telah memberikan rambu yang mendasar dalam kaitan  dengan masalah manusia mempunyai keunikan masing-masing, dan ini harus disadari oleh semua pihak. Agama diwajibkan setiap umat untuk salingmenyayangi dan menjauhkan diri dari pertentangan. Agamapun memberikan petunjuk dan jalan bagaimana mengatasi konflik yang terjadi baik dalam diri sendiri maupun antarpribadi.
Kedua, pemahaman diri dan lingkungan. Memahami diri secara jujur adalah suatu tindakan yang sangat baik dan dapat mengarahkan tindakan secara tepat. Demikian pula memahami lingkungan, baik lingkungan manusia maupun bukan manusia akan ikut serta membantu dalam mewujudkan perilaku secara tepat. Dalam keadaan penuh pemahaman baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan, konflik dapat diminimalkan dampak negatifnya.
Ketiga, kemampuan membuat kwputusan secara tepat, kecepatan dan ketetapan memuat keputusan merupakan upaya secara dini dalam menghindari kemungkinan terjadinya konflik. Keputusan dapat dibuat secara cermat dengan membuat pertimbangan-pertimbangan yang matang dengan berbagai alternative pilihan secara tepat. Hal itu dapat diwujudkan melalui suasana keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Keempat, persiapan memasuki kehidupan keluarga secara terencana. Dengan persiapan yang matang, kehidupan keluarga dapat direncanakan secara matang, sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang bahagia dan terhindar dari kemungkinan timbulnya konflik.
Kelima, pengendalian dii disertai sikap matang, berpiki dengan jernih dan rasional. Sering terjadi konflik timbul karena sikap yangsalah disertai cara berpikir yang kurang tepat. Oleh karena itu, pengembangan sikap dan cara berpikir ini merupakan hal yang strategis. Sudah tentu kemampuan mengendalikan diri terutama mengendalikan emosi adalah hal yang harus ditumbuhkan secara mantap.
Keenam, mengembangkan keterampilan social dan pribadi dalam upaya mewujudkan pribadi yang mantap serta kemampuan interaksi social yang baik. Dalam kondisi yang demikian, individu akan mampu mengendalikan diri dalam menghadapi pertentangan dalam dirinya serta pertentangan dengan orang lain.

Ketujuh, menciptakan lingungan yang kondusif. Banyak konflik terjadi karena pengaruh lingkungan yang kurang baik.oleh karena itu perlu diciptakan lingkungan yang dapat menunjang suasan kehidupan damai mulai dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan masyarakat yang luas. Suasana kehidupan keluarga yang penuh kasih sayang dan dilandasi oleh nilai-nilai agama yang kuat adalah salah satu contoh lingkungan yang kondusif. Demikian pula lingkungan masyarakat yang penuh saling pengertian dan gotong royong dalam suasana kepemimpinan yang arif bijaksana, dpaat menghindari kemungkinan timbulnya konflik.