Rabu, 29 Oktober 2014

Perselingkuhan di Keluarga, di dalam Psikologi/Infidelity in the family, in Psychology



Perselingkuhan di Keluarga, di dalam Psikologi

(www.ithinkeducation.blogspot.com, owner/ pemilik (Please Follow Google Plus): Dimas Erda WM)


Surya, Mohammad.2003.Bina Keluarga.Semarang: CV Aneka Ilmu.
1.       Kasus perselingkuhan banyak terjadi dalam kehidupan keluarga dan merupakan salahsatu aspek kehidupan keluarga yang sering menjadi sumber permasalahan. Gejalanya diwujudkan dalam bentuk penyimpangan tindkaan anggota keluarga (biasanya suami dan atau istri) yang dilakukan tanpa sepengetahuan pihak lainnya. Tindakannya dilakukan dilingkungan atau diluar keluarga dalam hubungan dengan berbagai aspek kehidupan keluarga seperti keuangan, pakaian, kebijakan, keputusan, seksual, persahabatan, hubungan dengan orang tua, pekerjaan, dan sebagainya. Hakikat perilaku selingkuh merupakan perbuatan tidak jujur atau bohong atau dusta kepada diri sendiri atau pihak lain.
2.       Perilaku selingkuh menjadi sumber masalah baik bagi diri yang bersangkutan maupun pihak lain yang sesama anggota keluarga. Dalam keadaan berselingkuh, seseorang akan berupaya untuk menggunakan segenap energy fisik dan psikisnya untuk menjaga agar penampilan perilakunya yang “semu” tampak seperti yang sesungguhnya. Dapat dikatakan bahwa perselingkuhan sumber bencana keluarga yang dapat merusak atau bahkan mungkin menghancurkan  kehidupan keluarga.
3.       Secara psikologis, perilaku selingkuh dapat dikategorikan sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yaitu upaya mempertahankan keseimbangan diri dalam menghadapi kebutuhan diri. Namun karena cara itu merupakan cara yang semu dan tidak tepat, maka yang terjadi adalah timbulnya masalah baru yang menuntut untuk pemecahan lagi. Disamping itu, factor lingkungan yang kurang kondusif dapat berpengaruh terhadap timbulnya perilaku selingkuh misalnya anak yang dibesarkan dalam situasi selingkuh akan cenderung menjadi pribadi yang kurang matang dan pada gilirannya akan menjadi manusia yang selingkuh. Dalam situasi yang demikian, sulit bagi anak mendapatkan sumber-sumber keteladanan dan pegangan hidup.
4.       Berikut upaya yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut:
(1)    Meningkatkan kualitas nilai-nilai keagamaan. Nilai keagamaan dapat membimbing orang untuk senantiasa berlaku jujur karena kuatnya rasa takut terhadap Tuhan Yang Maha Esa sehingga akan mencegah kemungkinan timbulnya sikap tidak jujur dan berselingkuh.
(2)    Landasan cinta yang kokoh, akan menjadi kekuatan mendasar bagi rasa saling memiliki satu dengan yang lainnya sehingga memperkecil atau meniadakan sikap tidak jujur.
(3)    Mewujudkian komunikasi secara transparan dan harmonis, atas dasar saling pengeritan satu dengan yang lainnya.
(4)    Meningkatkan kekuatan dan ketahanan diri, yang dilandasi dengan konsep diri dan rasa percaya diri secara mantap. Kondisi ini dapat membantu dalam kemampuan pengambilan keputusan secara tepat dan bertanggung jawab serta terhindarnya dari kemungkinan pengaruh-pengaruh negative dari pihak lain.
(5)    Mengembangkan kontak social secara baik dan sehat, dalam pergaulan social melalui pola-pola hubungan antarpribadi baik di dalam maupun di luar keluarga.