Rabu, 29 Oktober 2014

Problem Keluarga Muda/ Young Family Problem, in Psychology



Problem Keluarga Muda


(www.ithinkeducation.blogspot.com, owner/ pemilik (Please Follow Google Plus): Dimas Erda WM)


Surya, Mohammad.2003.Bina Keluarga.Semarang: CV Aneka Ilmu.

Yang dimaksud dengan keluarga muda di sini ialah keluarga yang baru beberapa tahun saja memulai kehidupan rumah tangga, biasanya pasangan yang baru menikah dalam kurun waktu sekitar lima tahun pertama. Apa yang menjadi masalah bagi keluarga muda ini? Dalam lima tahun pertama kehidupan berumah tangga banyak masalah yang timbul. Kemampuan mengatasi masalah-masalah itu akan banyak pengarunya terhadap kestabilan dan kebahagian perjalanan rumah tangga selanjutnya. Bagi pasangan muda yang baru memulai kehidupan rumah tangga pada tahap awal terutama masa-masa pengantian baru, dirasakan sebagai suatu suasana penuh kegairahan, kemesraan, menikmati kemenangan perjuangan cinta yang telah dibina sebelumnya. Namun begitu, dalam suasana menikmati bulan madu itu, satu persatu biasanya mulai muncul masalah. Misalnya tuntutan untuk tempat tinggal, karena berlama-lama bersama orang tua (anak sekarang menyebutnya sebagai perumahan “Mertua Indah”) bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Penyesuaian antarpribadi merupakan salah satu sumber masalah, terutama apabila setiap pihak kurang saling menyadari perlunya saling menyesuaikan diri. Masalah akan makin bertambah pula apabila orang tua banyak ikut mencampuri urusan “dalam negeri” rumah tangga anaknya.
Tuntutan hidup berumah tangga yang berbeda dengan kehidupan bujangan atau menyendiri, atau hidup bersama orang tua merupakan salah satu sumber masalah yang dihadapi oleh pasangan muda ini. Kehadilan anak yang biasanya sangat dinantikan oleh orang tua yang merindukan cucu, merupakan salah satu sumber kebahagian rumah tangga. Namun begitu, kehadirananak menuntut keterampilan tertentu, dan ini dapat menjadi masalah apabila kurang memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Masalah ini akan bertambah pula apabila istri juga bekerja di luar rumah. Masalahnya adalah bagaimana merawat dan mengasuh anak. Yang paling lazim adalah diserahkan kepada pembantu atau baby ssister, atau dititipkan di rumah orang tua (nenek atau kakek). Biasanya orang tua merasa senang dititip cucunya,akan tetapi tidak sedikit pula yang merasakannya sebagai beban.
Hubungan antarpribadi dalam hal ini suami isteri, merupakan inti dari pola kehidupan keluarga muda. Masalah yang sering timbul adalah karena belum terwujudnya suasana penyesuaian antara keduanya. Kadang-kadang terjadi kesalah-pahaman dari soal-soal yang sepele saja. Misalnya dari soal pekerjaan, pula terlambat, soal pakaian, makanan kesukaan, hobbi hubungan persahabatan, hubungan dengan anggota keluarga lain, dan sebagainya. Lebih rumit lagi kalau hanya persoalan kecil saja kemudian mengadu kepada orang tuanya, dan orang tuanya kurang bijaksana dengan ikut mencampuri masalahnya. Kadang-kadang orang tua merasakan kekhawatiran yang berlebihan terhadap anaknya. Orang tua khawatir berjauhan dengan anaknya, khwatir tidak bahagia, khawatir tidak mampu mengurus rumah tangga, khawatir tidak mampu mengasuh anak, dan seribu satu macam kekhawatiran. Sebenarnya adalah hal yang wajar apabila orang tua mengkhawatirkan anak-anaknya yang akan memasuki dunia rumah tangga, akan tetapi kalau kekhawatiran itu berlebihan, dapat menimbulkan masalah pada suasana rumah tangga anaknya.
Kita semua sudah maklum bahwa, kita mengharapkan keluarga muda ini mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Namun, apa sesungguhnya yang menjadi hakikat kehidupan rumah tangga adalah memasuki dunia baru yang berbeda dengan dunia sebelumnya. Memasukinya rumah tangga merupakan suatu proses transisi dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Kehidupan berumah tangga menuntut berbagai kualitas pribadi dan keterampilan untuk menjalaninya. Kemampuan menyesauikan diri sangat diperlukan dalam mengurangi kehidupan dunia yang baru ini. Nah, di sinilah letak sumbernya. Banyak pasangan muda yang kurang mempersiapkan diri dan kurang memiliki kemampuan menyesuaikan diri ini. Apabila hal itu terjadi, maka berbagai masalah mungkin akan dihadapi.
Penyesuaian diri diperlukan setiap individu manakah menghadapi situasi yang baru.  Dalam penyesuaian diri ini mungkin perlu adanya kesediaan mengubah diri sendiri sesuai dengan tuntutan, atau kemampuan mengubah lingkungan sehingga sesuai dengan keadaan dirinya. Seperti dikatakan tadi, berumah tangga pada hakikatnya memasuki dunia baru. Penyesuaian diri yang paling penting dalam keseluruhan proses berkeluarga adalah penyesuaian pernikahan (marital adjustment).
Penyesuaian pernikahan ini mempunyai beberapa aspek, yaitu penyesuaian dengan: (1) pasangan nikah, (2) kehidupan seksual, (3) pengelolaan financial atau keuangan, (4) orang tua dan mertua, (5) kehidupan sebagai orang dewasa, (6) kehidupan sebagai ibu-bapak, (7) kemungkinan hidup mnyendiri, dan (8) lingkungan masyarakat. Penyesuaian pernikahan ini, merupakan suatu proses yang cukup sulit karena melibatkan dua pribadi yang berbeda pola dan latar belakangnya. Kesulitan ini akan dipengaruhi oleh beberapa kondisi tertentu seperti: (1) keterbatasan persiapan pernikahan, (2) kurang jelasnya peran-peran dalam pernikahan, (3) pernikahan terlalu dini, (4) pernikahan campuran yaitu ada hubungan keluarga, (5) perkenalan yang terlalu singkat, (6) adanya perbedaan yang sangat prinsipil, (7) konsep pernikahan yang terlalu romantic, (8) kurangnya identitas atau jati diri.
Lalu bagaimana, membantu memecahkan problema keluarga muda ini? Yang jelas adalah harus dipahami dulu inti masalah dan latar belakangnya. Seperti sudah dikatakan di atas, bahwa problema keluarga muda adalah sumber dari kemampuan dari melakukan penyesuaian pernikahan. Ini berarti bahwa dengan kemampuan menyesuaikan diri secara baik dan efektif, masalah-masalah yang mungkin timbul dapat dicegah sedini mungkin. Dan kalaupun sudah timbul masalah, penyelesaiannya dapat dilakukan secara baik.
Beberapa hal yang dapat dijadikan acuan antara lain sebagai berikut.
1.       Selalu berpegang teguh kepada landasan kehidupan berumah tangga, yaitu saling mencintai.
2.       Saling mengenal dan memahami diri masing-masing, ketika terjadi perbedaan pendapat jangan terlalu membesarkan perbedaan, akan tetapi lebih banyak mencari kesamaan dalam mencapai tujuan bersama.
3.       Menumbuhkan konsep berumah tangga secara benar dan realistis.
4.       Memahami hakikat kehidupan berkeluarga secara tepat.
5.       Komunikasi secara terbuka dan penuh pengertian antar pasangan.
6.       Mempunyai konsep hidup yang ideal dan mampu mewujudkan secara realistis.