Minggu, 04 Januari 2015

Asuhan Keperawatan tentang Gagal Ginjal Kronik, di Keperawatan/ Nursing Care Plan about Chronic Renal Failure, in Nurse



GAGAL GINJAL KRONIK
(CHRONIC RENAL FAILURE)

Carpenito, Lynda Juall; 1999; Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2; Jakarta: EGC.

(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)


Carpenito, Lynda Juall; 1999; Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 6; Jakarta: EGC.

Doengoes, Marylin E.; 1989; Nursing Care Plans; USA Philadelphia: F.A Davis Company.

Junadi, Purnawan;  1982; Kapita Selekta Kedokteran; Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ngastiyah; 1997; Perawatan Anak Sakit; Editor: Setiawan; Jakarta: EGC.

Price, Sylvia Anderson; 1985; Pathofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit; Jakarta: EGC.

Smith, Cindy Grennberg; 1988; Nursing Care Planning Guides for Children; Baltimore; Williams & Wilkins

Suparman, 1990, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta: FKUI.

SMF UPF Anak; 1994; Pedoman Diagnosis dan Terapi; Surabaya: RSUD Dr. Soetomo.

A.  Pengertian

Gagal ginjal kronik merupakan penurunan faal ginjal yang menahun yang umumnya tidak riversibel dan cukup lanjut. (Suparman, 1990: 349).
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat, biasanya berlangsung dalam beberapa tahun (Lorraine M Wilson, 1995: 812).

B.  Etiologi

1.    Gout menyebabkan nefropati gout.
2.    Diabetes Mellitus yang menyebabkan nefropati DM.
3.    SLE yang menyebabkan nefropati SLE.
4.    Riwayat batu yang menyebabkan penyakit ginjal glomerular.
5.    Riwayat edema yang mengarah ke penyakit ginjal glomerular.
6.    Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga (yang diduga mengarah ke penyakit ginjal genetik).

C.  Patofisiologi

Penurunan fungsi nefron
Mekanisme kompensasi dan adaptasi asimptomatik
BUN dan creatinin meningkat
Penumpukan toksin uranik
Gangguan gagal ginjal kronik simptomatik













Hematologis
 


Neurologis
 




Gastrointestinal
 

Endokrin
 



Sistem syaraf pusat
 

Kardiovaskuler
 
 




D.  Klasifikasi

Sesuai dengan test kreatinin klirens, maka GGK dapat di klasifikasikan menjadi 4, dengan pembagian sebagai berikut:
1.    100-75 ml/mnt, disebut insufisiensi ginjal berkurang.
2.    75-26 ml/mnt, disebut insufisiensi ginjal kronik.
3.    25-5 ml/mnt, disebut gagal ginjal kronik.
4.    < 5 ml/mnt, disebut gagal ginjal terminal.

E.  Komplikasi

1.    Hipertensi.
2.    Infeksi traktus urinarius.
3.    Obstruksi traktus urinarius.
4.    Gangguan elektrolit.
5.    Gangguan perfusi ke ginjal.

F.   Gejala dan tanda

1.    Hematologik
Anemia normokrom, gangguan fungsi trombosit, trombositopenia, gangguan lekosit.
2.    Gastrointestinal
Anoreksia, nausea, vomiting, fektor uremicum, hiccup, gastritis erosiva.
3.    Syaraf dan otot
Miopati, ensefalopati metabolik, burning feet syndrome, restless leg syndrome.
4.    Kulit
Berwarna pucat, gatal-gatal dengan eksoriasi, echymosis, urea frost, bekas garukan karena gatal.
5.    Kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema.

6.    Endokrin
Gangguan toleransi glukosa, gangguan metabolisme lemak, gangguan seksual, libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki, gangguan metabolisme vitamin D.

G. Pemeriksaan penunjang

1.    Radiologi
Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan menilai derajat dari komplikasi yang terjadi.
2.    Foto polos abdomen
Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
3.    IVP (Intra vena Pielografi)
4.    USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, kandung kemih serta prostat.
5.    Renogram
Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi dari gangguan serta sisa fungsi ginjal.
6.    Pemeriksaan laboratorium
BUN, Serum Creatinin, kreatinin klirens.

H.  Penatalaksanaan

1.    Tentukan dan tatalaksana terhadap penyebab.
2.    Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam.
3.    Diet tinggi kalori rendah protein.
4.    Kendalikan hipertensi.
5.    Jaga keseimbangan eletrolit.
6.    Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK.
7.    Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal.
8.    Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi.
9.    Persiapkan program hemodialisis.
10.  Transplantasi ginjal.

I.     Pengkajian

1.    Biodata
GGK terjadi terutama pada usia lanjut (50-70 th), usia muda, dapat terjadi pada semua jenis kelamin tetapi 70 % pada pria.
2.    Keluhan utama
Kencing sedikit, tidak dapat kencing, gelisah, tidak selera makan (anoreksi), mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, nafas berbau (ureum), gatal pada kulit.
3.    Riwayat penyakit
a.    Sekarang: Diare, muntah, perdarahan, luka bakar, rekasi anafilaksis, renjatan kardiogenik.
b.    Dahulu: Riwayat penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung, hipertensi, prostatektomi, penggunaan obat-obat nefrotoksik, BPH.
c.    Keluarga: Adanya penyakit keturunan Diabetes Mellitus (DM).
4.    Pola aktivitas sehari-hari
a.    Nutrisi: Anoreksi, mual, muntah dan rasa pahit pada rongga mulut, intake minum yang kurang.
b.    Aktivitas: Merasa cepat dan selalu lelah.
c.    Istirahat tidur: Gelisah, cemas.
d.   Eliminasi urine: Kencing sedikit (kurang dari 400 cc/hari), warna urine kuning tua dan pekat, tidak dapat kencing.
e.    Eliminasi defekasi: Diare.

5.    Pemeriksan fisik
a.    Kesadaran: Disorioentasi, gelisah, apatis, letargi, somnolent sampai koma.
b.    Kepala: Edema muka terutama daerah orbita, mulut bau khas ureum.
c.    Dada: Pernafasan cepat dan dalam, nyeri dada.
d.   Perut: Adanya edema anasarka (ascites).
e.    Ekstrimitas: Edema pada tungkai, spatisitas otot.
f.     Kulit: Sianosis, akaral dingin, turgor kulit menurun.
g.    Tanda vital: Peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan lemah, hipertensi, nafas cepat dan dalam (Kussmaul), dyspnea.
6.    Pemeriksaan penunjang
Peningkatan kadar serum creatinin dalam darah, BUN meningkat, Kreatinin klirens menurun.

J.    Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dan intervensi

1.    Resiko terjadinya penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, penumpukan urea toksin.
Tujuan: Tidak terjadi penurunan curah jantung, dengan kriteria: tekanan darah dalam batas normal, nadi dalam batas normal, nadi perifer yang kuat, capilary refill time yang baik.
Rencana:
a.    Auskultasi suara jantung dan paru.
R/ Adanya edema paru, kongesti vaskuler, dan keluhan dispnea manunjukan adanya renal failure.
b.    Monitor tekanan darah, nadi, catat bila ada perubahan tekanan darah akibat perubahan posisi.
R/ Hipertensi yang signifikan merupakan akibat dari gangguan renin angiotensin dan aldosteron. Tetapi ortostatik hipotensi juga dapat terjadi akibat dari defisit intravaskular fluid.
c.    Kaji adanya keluhan nyeri dada, lokasi dan skala keparahan.
R/ Hipertensi dan Chronic renal failure dapat menyebabkan terjadinya myocardial infarct.
d.   Kaji tingkat kemampuan klien beraktivitas.
R/ Kelemahan dapat terjadi akibat dari tidak lancarnya sirkulasi darah.
e.    Kolaborasi dalam:
Pemeriksaan laboratorium (Na, K), BUN, Serum kreatinin, Kreatinin klirens.
Pemeriksaan thoraks foto.
Pemberian obat-obatan.
2.    Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan turgor kulit, akumulasi areum pada kulit.
Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan kriteria: kulit tidak lecet, klien mampu mendemonstrasikan cara untuk mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit.
Rencana:
a.    Kaji keadaan kulit terhadap kemerahan dan adanya excoriasi.
R/ Sirkulasi darah yang kurang menyebabkan kulit mudah rusak dan memudahkan timbulnya dicubitus/ infeksi.
b.    Ganti posisi tiap 2 jam sekali.
R/ Mengurangi/ menurunkan tekanan pada daerah yang edema, daerah yang perfusinya kurang baik untuk mengurangi eskemia jaringan.
c.    Anjurkan pada klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
R/ mencegah iritasi kulit dan meningkatkan evaporasi.
d.   Jaga keadaan kulit agar tetap kering dan bersih.
R/ Kulit yang basah terus menerus memicu terjadi iritasi yang mengarah terjadinya dikubitus.
e.    Kolaborasi dalam pemberian foam dan tempat tidur angin.
R/ Mencegah penekanan yang terlalu lama pada satu tempat sehingga dapat mengurangi iskemik jaringan.
3.    Anemia berhubungan dengan menurunnya produksi eritropeitin
Tujuan: Terjadi peningkatan kadar Hb, dengan kriteria: Kadar Hb dalam batas normal, perfusi jaringan baik, akral hangat, merah dan kering.
Rencana:
a.    Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering.
R/ kekeringan meningkatkan sesnsitivitas kulit dengan merangsang ujung saraf.
b.    Cegah penghangatan yang berlebihan dengan mempertahankan suhu ruangan yang sejuk dengan kelembaban yang rendah, hindari pakaian yang terlalu tebal.
R/ penghangatan yang berlebihan meningkatkan sensitivitas melalui vaso dilatasi.
c.    Anjurkan tidak menggaruk.
R/ Garukan merangsang pelepasan histamin.
d.   Kolaborasi dalam:
Pemberian transfusi
Pemeriksaan laboratorium Hb.
e.    Observasi tanda-tanda vital.
R/ Deteksi dini terhadap perkembangan klien dan penentuan terhadap tindakan selanjutnya.