Minggu, 29 Maret 2015

Asfiksia Neonatorum di dalam Asuhan Keperawatan/ Asphyxia neonatorum, in Nurse Care Plan


Source/ Sumber:

1)Rukiyah, Ai Yeyeh. Lia Yulianti.2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Anak
Balita.Jakarta: CV Trans  Info Media.

2(Wiknjosastro, Hanifa.2006.Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan Kedelapan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
3) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)

4)Wong, Donna L.2004.Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4.Jakarta:EGC.


1.      Pengertian
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir (Sarwono, 2007). Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan oksigen dan makin meningkatkan karbondioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 1998)
Asfiksia neonatorum merupakan keadaan gawat bayi berupa kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Konsekuensi fisiologis yang terutama terjadi pada asfiksia adalah depresi susunan saraf pusat dengan criteria menurut World Health Organization (WHO) tahun 2008 didapatkan adanya gangguan neurologis berupa hypoxic ischaemic enchepalopaty (HIE), akan tetapi kelainan ini tidak diketahui dengan segera.
Keadaan asidosis, gangguan kardiovaskuler serta komplikasinya sebagai akibat langsung dari hipoksia merupakan penyebab utama kegagalan adaptasi bayi baru lahir. Kegagalan ini juga berakibat pada terganggunya fungsi dari masing-masing jaringan dan organ yang akan menjadi masalah pada hari-hari pertama perawatan setelah lahir.
Nilai
0
1
2
Nafas
Tidak ada
Tidak teratur
Teratur
Denyut jantung
Tidak ada
<100
>100
Warna kulit
Biru atau pucat
Tubuh merah jambu dan kaki, tangan biru
Merah jambu
Gerakan/ tonus otot
Tidak ada
Sedikit fleksi
Fleksi
Reflek (Menangis)
Tidak ada
Lemah atau lambat
Kuat
Tabel 1. Nilai APGAR (Ghai, 2010)

Klasifikasi Asfiksia
Klasifikasi Asfiksia berdasarkan nilai APGAR:
a.       Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
b.      Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c.       Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d.      Bayi normal dengan nilai APGAR 10 (Ghai, 2010)

2.      Patofisiologi
Proses kelahiran selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara, proses ini diangap perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar terjadi primary gasping yang kemudian berlanjut dengan pernafasan teratur. Sifat asfiksia ini tidak mempunyai pengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat mengatasinya. Kegagalan pernafasan mengakibatkan gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida sehingga menimbulkan berkurangnya oksigen dan meningkatkan karbondioksida, diikuti dengan asidosis respiratorik. Apabila proses berlanjut maka metabolism sel akan berlangsung dalam suasana anaerobic yang berupa glikolisis glikogen sehingga sumber utama glikogen terutama pada jantung dan hati akan berkurang dan asam organic yang terjadi akan menyebabkan asidosis metabolic. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan beberapa diantaranya:
a.       Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung
b.      Terjadinya asidosis metabolic mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan jantung
c.       Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru, sehingga sirkulasi darah ke paru dan system sirkulasi tubuh lain mengalami gangguan.
Sehubungan dengan proses faali tersebut maka fase awal asfiksia ditandai dengan pernafasa ncepat dalam tiga menit (periode hiperpneu) diikuti dengan apneu primer kira-kira satu menit di mana pada saat ini denyut jantung dan tekanan darah menurun. Kemudian bayi akan mulai bernapas (gasping) 8-10 kali/ menit selama beberapa menit, gasping ini semakin melemah sehingga akhirnya timbul apneu sekunder. Pada keadaan normal fase ini tidak jelas terlihat karena setelah pembersihan jalan nafas bayi maka bayi akan segera bernafas dan menangis kuat.
Pemakaian sumber glikogen untuk energy dalam metabolism anaerob menyebabkan dalam waktu singkat tubuh bayi akan menderita hipoglikemia. Pada asfiksia berat menyebabkan kerusakan membrane sel terutama sel susunan saraf pusat sehingga mengakibatkan gangguan elektrolit, berakibat menjadi hiperkalemia dan pembengkakan sel. Kerusakan sel otak terjadi setelah asfiksia berlangsung selama 8-15 menit.
Manifestasi dari kerusakan sel otak dapat berupa HIE yang terjadi setelah 24 jam pertama dengna didapatkan adanya gejala seperti kejang subtle, multifocal atau fokal klonik. Manifestasi ini dapat muncul sampai hari ketujuh dan untuk penegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi kepala dan rekaman elektroensefalografi.
Menurun atau terhentinya denyut jantung akibat dari asfiksia mengakibatkan iskemia. Iskemia akan memberikan akibat yang lebih hebat dari hipoksia karena menyebabkan perfusi jaringan kurang baik sehingga glukosa sebagai sumber energy tidak dapat mencapai jaringan dan hasil metabolism anaerob tidak dapat dikeluarkan dari jaringan.
Iskemia dapat mengakibatkan sumbatan pada pembuluh darah kecil setelah mengalami asfiksia selama lima menit atau lebih sehingga darah tidak dapat mengalir meskipun tekanan perfusi darah sudah kembali normal. Peristiwa ini mungkin mempunyai peranan penting dalam menentukan kerusakan yang menetap pada proses asfiksia.

3.      Etiologi
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit pertama kelahiran kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila didapati adanya gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin akan berakibat asfiksia janin. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir merupakan kelanjutan asfiksia janin, karena itu penilaian selama masa kehamilan dan persalinan memegang peranan penting untuk keselamatan bayi.
Gomella (2009) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi yang terdiri dari:
a.       Faktor Ibu
1)      Hipoksia ibu: hal ini berakibat pada hipoksia janin. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anesthesia lain.
2)      Gangguan aliran darah uterus: berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan janin
b.      Faktor Plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plsenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
c.       Faktor janin
Kompresi umbulikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Hal ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher dan lain-lain.
d.      Faktor neonates
Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu:
1)      Pemakaian obat anestesi dan analgesia yang berlebihan
2)      Trauma persalinan
3)      Kelainan congenital bayi seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.

Beberapa factor yang dapat menimbulkan gawat janin (asfiksia):
a.      Gangguan sirkulasi menuju janin, menyebabkan adanya gangguan aliran pada tali pusat seperti: Lilitan tali pusat, simpul tali pusat, tekanan pada tali pusat, ketuban telah pecah, kehamilan lewat waktu, pengaruh obat, karena narkoba saat persalinan.
b.      Factor ibu, misalnya gangguan his: tetania uterihipertoni, turunnya tekanan darah dapat mendadak: perdarahan pada plasenta previa dan solusio plasenta; vaso kontrinsik arterial: hipertensi pada kehamilan dan gestosis preeclampsia-eklmapsia; gangguan pertukaran nutrisi oksigen: solusio plasenta.

4.      Manifestasi Klinik
a.       Pada Kehamilan
                        Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari                 100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
1)      Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
2)      Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
3)      Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat

b.      Pada bayi setelah lahir
1)      Bayi pucat dan kebiru-biruan
2)      Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3)      Hipoksia
4)       Asidosis metabolik atau respiratori
5)      Perubahan fungsi jantung
6)      Kegagalan sistem multiorgan
7)      Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik, kejang, nistagmus dan menangis kurang baik/tidak baik

5.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Analisis Gas Darah
Periode perinatal merupakan masa terjadinya perubahan status kardiopulmoner pada bayi. System respirasi mengalami perubahan, pada awal janin bergantung dari maternal menjadi bayi yang harus memenuhi kebutuhan dengna sendirinya. Respirasi yang bergantung pada plasenta harus digantikan oleh paru dalam hitungan menit setelah persalinan. System kardiovaskuler juga berubah secara dramatis dimana sirkulasi yang berlangsung parallel menjadi sirkulasi yang serial. Sehingga diperlukan proses adaptasi dan maturasi dari bayi baru lahir terhadap perubahan lingkungannya.
Pemeriksaan analisis gas darah pada bayi merupakan teknik yang telah lama dikenal dalam menentukan assessment, pengobatan dan prognosis dari bayi. Analisis gas darah merupakan pemeriksaan yang penting dilakukan pada bayi baru lahir yang mengalami keadaan sakit atau mengalami masa kritis. Dari analisis gas darah dapat kita ketahui informasi mengenai oksigenasi pada bayi tersebut. Hambatan yang dapat ditemui dalam melakukan pemeriksaan ini adalah dalam mengambil sampel untuk pemeriksaan. Beberapa penelitian dilakukan untuk mencari akses yang tepat untuk menentukan analisis gas darah tersebut. Brouillette dan Waxman (2007) mengungkapkan bahwa lokasi pengambilan yang menunjukkan analisis mengenai oksigenasi adalah di pembuluh darah arterial, akan tetapi tidak didapatkan perbedaan bermakna dalam lokasinya apakah dari umbilicus atau perifer.
Pemeriksaan analisis gas darah pada bayi asfiksia didapatkan peningkatan kadar PaCO2, penurunan pH, PaO2, bikarbonat dan gangguan pada deficit basa. Mohan (2000) dalam penelitiannya menetapkan kadar PaO2<50 mmH2O, PaCO2> 55 mmH2O, pH <7,3 merupakan parameter terjadinya asfiksia. Sedangkan American Heart Association (2006) menetapkan salah satu criteria terjadinya asfiksia adalah asidemia yang ditandai dengna kadar pH <7,3.
b.      Elektrolit Darah
Komplikasi metabolism terjadi di dalam tubuh akibat persediaan garam elektrolit sebagai buffer juga terganggu kesetimbangannya. Timbul asidosis laktat, hipokalsemi, hiponatremia, hiperkalemia. Pemeriksaan elektrolit darah dilakukan uji laboratorium dengan test urine untuk kandungan ureum, natrium, keton, atau protein.
c.       Gula Darah
Pemeriksaan gula darah dilakukan uji laboratorium dengan test urine untuk kandungan glukosa. Menurut Harris (2003), penderita asfiksia umumnya mengalami hipoglikemi.


6.      Penatalaksanaan
a.       Tindakan Umum
Bersihkan jalan nafas: kepala bayi diletakkan lebih rendah agar lebih mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lender dari saluran nafas yang lebih dalam.
Rangsangan reflek pernapasan: dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles, mempertahankan suhu tubuh.

b.      Tindakan khusus
Pada kasus Asfiksia berat: berikan oksigen dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah di perkaya dengan oksigen. Tekanan oksigen yang diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernapasan spontan tidak timbul lakukukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80-100 x/ menit.
Asfiksia sedang atau ringan: pasang reflek pernapasan (hisap lender, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernapasan kodok (Frog Breathing) 1-2 menit yaitu: kepala bayi ekstensi maksimal beri oksigen 1-2 1/ menit melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakan dagu ke atas bawah secara teratur 20x/ menit

c.       Langkah resusitasi pada aspiksia neonatorum
1)      Lakukan penilaian: apakah BBL bernafas atau menangis? Apaka cairan ketuban berwarna hijau?
2)      Jika bayi tidak bernafas atau mengalami kesulitan bernafas, maka lakukan langkah awal: cegah kehilangan panas dengan meletakkan pada tempat yang kering dan hangat, mengatur posisi bayi, bersihkan jalan nafas dengan menghisap mulut dan hidung, mengeringkan sambil melakukan rangsangan taktil, lakukan penilaian.
3)      Jika bayi bernafas dengna baik, maka lakukan asuhan normal bayi baru lahir, keringkan dan hangatkan, kontak kulit ibu ke kulit bayi, berikan inisiasi menysu dini.
4)      Jika bayi tidak bernafas normal atau megap-megap, maka lakukan resusitasi dengna ventilasi positif memakai balon dan sungkup; jelaskan keadaan bayi dan tindakan, pasang sungkup menutupi hidung dan mulut bayi, lakukan pengujian ventilasi 2x, bila dada tidak mengembang, periksa atau lihat kepala dan sungkup, apakah ada lender dalam mulut bayi, kemudian lakukan entilasi 40 x dalam 60 detik sambil memantau gerakan naik turun dinding dada, dilanjutkan dengan penilaian pernapasan dalam 10 detik, denyut jantung dalam 10 detik dan warna kulit, bila tidak terjadi pernapasan spontan setelah 2-3 menit, rujuk, teruskan ventilasi selama menuju fasilitas rujukan, dan lakukan penilaian sampai pernapasan spontan terjadi.
5)      Jika bayi bernapas dengan baik nafas normal, 30-60 kali per menit, tidak ada cekungan dada, maka lakukan asuhan normal bayi baru lahi: keringkan dan hangatkan, kontak kulit ibu ke kulit bayi, lakukan inisiasi menyusu dini.
6)      Jika bayi tidak bernapas setelah 20 menit: hentikan resusitasi, beri dukungan pada ibu dan keluarga.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.       Identitas
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosis medis. Anamnesis diarahkan untuk  mencari factor risiko terhadap terjadinya asfiksia neonatorum.
b.      Pemeriksaan
1)      B1 (Breath)
a)      Bayi tidak bernafas atau menangis
b)      Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan             darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg            (diastolik).
c)      Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
d)     Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
e)      Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
2)      B2 (Blood)
a)      Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa mekonium pada tubuh bayi
b)      denyut jantung kurang dari 100x/menit
c)      Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
3)      B3 (Brain)
a)      Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30    menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
b)      Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi    menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik            yang memanjang)
4)      B4 (Bledder)
Dapat berkemih saat lahir
5)      B5 (Bowel)
Umumnya dapat BAB.
6)      B6 (Bone)
a)      Tonus otot menurun, BBLR (Berat badan lahir rendah) (Ghai, 2010)
b)      Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
2.      Analisa Data

Data
Problem
Etiologi
Diagnosa
1.       
Obyektif (O) :
a.       Terdengar suara nafas tambahan
b.      Terdengar ronkhi basah ketika auskultasi
c.       RR > 24 kali per menit
Bersihan jalan nafas inefektif.
Produksi mucus yang banyak.
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak
2.       
Obyektif (O) :
a.       Ekspansi dada tidak sama kanan kiri
b.      RR cepat > 24 kali per menit
c.       Terdengar suara nafas tambahan
Pola nafas inefektif.
Hipoventilasi /hiperventilasi
Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
3.       
Obyektif (O) :
a.       RR cepat > 24 kali per menit
Kerusakan pertukaran gas.
Ketidakseimbangan perfusi ventilasi
Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
4.       
Obyektif (O) :
a.       Anak tampak rewel
b.      Tampak cedera pada anggota tubuh anak
Risiko cedera.
Anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius
5.       
Obyektif (O) :
a.       Suhu anak < 365 0 C
b.      Anak tampak rewel
Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh.
Kurangnya suplai O2 dalam darah.
Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
6.       
Obyektif (O) :
Proses keluarga terhenti.
Pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
3.      Intervensi Keperawatan
No.
Diagnosa Keperawatan dan Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, bersihan jalan nafas kembali efektif.
Dengan kriteria hasil :
a.       Tidak menunjukkan demam
b.      Tidak menunjukkan cemas
c.       Rata-rata repirasi dalam batas normal
d.      Pengeluaran sputum melalui jalan nafas
e.       Tidak ada suara nafas tambahan
f.       Mudah dalam bernafas.
g.      Tidak menunjukkan kegelisahan.
h.      Tidak adanya sianosis.
i.        PaCO2 dalam batas normal.
j.        PaO2 dalam batas normal.
k.      Keseimbangan perfusi ventilasi
1.      Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
2.      Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction.

3.      Beritahu keluarga tentang suction.

4.      Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai dilakukan.
5.      Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction
1.      Untuk memungkinkan reoksigenasi.

2.      Pernapasan bising, ronki dan mengi menunjukkan tertahannya secret.

3.      Membantu memberikan informasi yang benar pada keluarga.
4.      Mencegah obstruksi/aspirasi.


5.      Membantu untuk mengidentifikasi perbedaan status oksigen sebelum dan sesudah suction.
2.
Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pola nafas menjadi efektif
Kriteria hasil :
a.       Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif
b.      Ekspansi dada simetris
c.       Tidak ada bunyi nafas tambahan
d.      Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal
1.      Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender

2.      Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi


3.      Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
1.      Untuk menghilangkan mucus yang terakumulasi dari nasofaring, tracea.


2.      Bunyi nafas menurun/tak ada bila jalan nafas obstruksi sekunder. Ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.

3.      Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
3.
Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi
Kriteria hasil :
a.       Tidak sesak nafas
b.      Fungsi paru dalam batas normal
1.      Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum





2.      Pantau saturasi O2 dengan oksimetri





3.      Berikan oksigen tambahan yang sesuai.
1.      Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis. Ronki, mengi menunjukkan akumulasi secret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan peningkatan kerja pernafasan.

2.      Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/atau saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi/perubahan program terapi.
3.      Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan alveolar paru.
4.
Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah
Kriteria hasil :
a.       Bebas dari cidera/ komplikasi
b.      Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak
c.       Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama
1.      Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah merawat bayi


2.      Pakai sarung tangan steril


3.      Lakukan pengkajian fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali pusat dan adanya anomaly

4.      Ajarkan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan
5.      Berikan agen imunisasi sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis B bila serum ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag), antigen inti hepatitis B (Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).
1.      Mengurangi kontaminasi silang.



2.      Mencegah penyebaran infeksi/kontaminasi silang.


3.      Untuk mengetahui apakah ada kelainan pada bayi.










4.      Membantu keluarga untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang benar tentang tanda dan gejala infeksi begitu juga dengan penanganan yang benar.

5.      Membantu memberi kekebalan anak terhadap agen infeksi.













5.
Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal
Kriteria hasil :
a.       Temperatur badan dalam batas normal
b.      Tidak terjadi distress pernafasan
c.       Tidak gelisah
d.      Perubahan warna kulit
e.       Bilirubin dalam batas normal
1.      Hindarkan pasien dari kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
2.      Monitor temperatur dan warna kulit.
3.      Monitor TTV.




4.      Jaga temperatur suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
5.      Tempatkan BBL pada inkubator bila perlu.
1.      Menghindari terjadinya hipitermia.



2.      Mengetahui terjadinya hipotermi.

3.      Perubahan tanda-tanda vital yang signifikan akan mempengaruhi proses regulasi ataupun metabolisme dalam tubuh.
4.      Menghindari terjadinya hipitermia.


5.      Mambantu BBL tetap berada pada keadaan yang sesuai dengan keadaannya.
6.
Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat
Kriteria Hasil :
a.       Percaya dapat mengatasi masalah.
b.      Kestabilan prioritas.
c.       Mempunyai rencana darurat.
d.      Mengatur ulang cara perawatan.
e.       Status kekebalan anggota keluarga.
f.       Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan.
g.       Akses perawatan kesehatan.
h.      Kesehatan fisik anggota keluarga
1.      Buat hubungan dan akui kesulitan situasi pada keluarga.



2.      Tentukan pengetahuan akan situasi sekarang.










3.      Ikutsertakan orang terdekat dalam pemberian informasi, pemecahan masalah dan perawatan pasien sesuai kemungkinan.
1.      Mambantu orang terdekat untuk menerima apa yang terjadi dan berkeinginan untuk membagi masalah dengan staf.
2.      Sediakan informasi untuk memulai perencanaan perawatan dan membuat keputusan. Kurangnya informasi dapat mengganggu respons pemberi/penerima asuhan terhadap situasi penyakit.

3.      Informasi dapat mengurangi perasaan tanpa harapan dan tidak berguna. Keikutsertaan dalam perawatan akan meningkatkan perasaan kontrol dan harga diri.