Minggu, 29 Maret 2015

Asuhan Keperawatan tentang Tumor Mata, di dalam Keperawatan/ Nursing Care Plan about Eye Tumor, in Nurse


Source/ Sumber:
1)  Eva, Paul Riordan. John P. Whitcher.2012.Oftalmologi Umum Edisi 17.Jakarta:EGC. 
2) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)

A.    Definisi
Tumor orbita mata adalah tumor yang menyerang rongga orbita (tempat bola mata) sehingga merusak jaringan lunak mata, seperti otot mata, syaraf mata dan kelenjar air mata. Rongga orbital dibatasi sebelah medial oleh tulang yang membentuk dinding luar sinus ethmoid dan sfenoid. Sebelah  superior oleh lantai fossa anterior,  dan  sebelah lateral  oleh zigoma, tulang frontal dan sayap  sfenoid besar. Sebelah inferior oleh atap sinus maksilaris. (Dr. Syaiful Saanin, Neurosurgeon)      
Tumor sendiri dibagi menjadi jinak dan ganas. Tumor ganas sering disebut sebagai kanker. Tumor pada mata disebut juga tumor orbita. Berdasarkan posisinya tumor mata dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Tumor external yaitu tumor yang tumbuh di bagian luar mata seperti :
a.       tumor palpebra (tumor yang tumbuh pada kelopak mata)
b.      tumor konjungtiva (tumor yang tumbuh pada lapisan konjungtiva yang melapisi mata bagian depan)
2.      Tumor intraokuler yaitu tumor yang tumbuh di dalam bola mata
  1. Tumor retrobulber yaitu tumor yang tumbuh dibelakang bola mata
Apabila ada massa tumor yang mengisi rongga mata maka bola mata akan terdorong ke arah luar yang dalam bahasa kedokteran disebut proptosis (mata menonjol). Arah tonjolan bola mata bergantung pada asal massa tumor. Tumor mata bisa berasal dari semua jaringan disekitar bola mata atau karena penyebaran dari sinus, otak, rongga hidung atau penyebaran dari organ lain ditubuh. Tumor mata dapat terjadi pada orang dewasa ataupun anak-anak.


B.     Etiologi
Gejala tumor orbita sulit diketahui karena tumbuh di belakang bola mata. Umumnya diketahui setelah terjadi penonjolan pada mata, gangguan pergerakan mata, atau terasa sakit. Tumor orbita dapat disebabkan oleh berbagai factor. Penyebab tumor mata terutama faktor genetik. Selain itu sinar matahari, terutama sinar ultraviolet dan infeksi virus Papiloma. Tumor mata juga bisa akibat penjalaran dari organ tubuh lain, seperti dari paru, ginjal, payudara, otak sinus, juga leukemia dan getah bening. Sebaliknya, sel tumor mata yang terbawa aliran darah sering mencapai organ vital lain seperti paru, hati atau otak, dan menyebabkan kanker di organ itu. Penderita tumor mata, kecuali retino blastoma, umumnya berusia 24-85 tahun.Sebagian besar tumor orbita pada anak-anak bersifat jinak dan  karena  perkembangan  abnormal. Tumor  ganas  pada  anak-anak  jarang, tetapi  bila  ada  akan menyebabkan pertumbuhan tumor yang cepat dan prognosisnya jelek.
1.      Mutasi gen pengendali pertumbuhan (kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel dominan protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14)
2.      Malformasi congenital
3.      Kelainan metabolism
4.      Penyakit vaskuler
5.      Inflamasi intraokuler
6.      Neoplasma. dapat bersifat ganas atau jinak Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan  disekitarnya dan biasanya tidak mengalami metastasis
7.      Trauma

C.    Epidemologi
Tumor secara umum dibedakan menjadi neoplasma dan non-neoplasma. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Tumor ganas terjadi akibat berkembang biaknya sel jaringan sekitar infiltrat, sambil merusakkan. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan  disekitarnya dan biasanya tidak mengalami metastasis.
Apabila ada massa tumor yang mengisi ronggga  orbita  maka  bola mata akan terdorong  ke arah luar yang dalam bahasa kedokteran di sebut proptosis (mata menonjol). Arah tonjolan bola mata bergantung pada asal massa tumor. Tumor orbita bisa berasal dari semua jaringan di sekitar bola mata atau karena penyebaran dari sinus, otak, rongga hidung atau penyebaran dari organ lain ditubuh. Tumor orbita dapat terjadi pada orang dewasa ataupun anak-anak. Tumor orbital dapat jinak atau ganas. Mereka dapat terjadi baik pada anak dan dewasa.
Anak
Dewasa

Jinak
Ganas
Jinak
Ganas

Kista Dermoid
Rhabdomiosarkoma
Meningioma
Limphoma

Fibrous dysplasia
Sarkoma Ewings
Glioma saraf optik
Mestatases

Seperti ditunjukkan contoh diatas, CT scan berguna dalam diagnosis dan biopsy sering kali memberikan garansi untuk membantu diagnosis dan manajemen pasien. Tumor orbita relatif jarang dijumpai. Pada proses pengambilan ruangan di orbita penderita biasanya datang dengan keluhan seperti ada benjolan yang menyebabkan perubahan bentuk wajah, protopsis, nyeri peri okular, inflamasi, keluarnya air mata, massa tumor yang jelas  nampak. Insiden tumor orbita bervariasi, tergantung pada metode pemeriksaan yang dipakai. Frekwensi relatif benigna dan maligna menurut handerson (1984); disebutkan sebagai berikut : karsinoma (primer metastasis dan pertumbuhan terus 21 %, kista 12 %, tumor vaskular 10 %, meningioma 9 %, malformasi vaskuler 5% dan tumor saraf tengkorak 4%, serta glioma optikus dan neurisistik 5%.
Prognosis atau angka keberhasilan kelangsungan hidup penderita tumor orbita mencapai 80%, artinya masih ada harapan hidup yang cukup baik.  Angka  kematian  sangat dipengaruhi oleh stadium dari tumor itu sendiri. Tentu saja pada stadium lanjut  angka  kelangsungan  hidupnya  lebih  buruk. Pada jenis-jenis tertentu angka kekambuhannya juga cukup tinggi.
D.    Patologi
Tumor orbita dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik yang diyakini ikut berpengaruh terhadap tumbuhnya tumor. Sebagian besar tumor orbita pada anak-anak bersifat jinak dan karena perkembangan abnormal. Tumor ganas pada anak-anak jarang, tetapi bila ada akan menyebabkan pertumbuhan tumor yang cepat dan prognosisnya jelek. Tumor Orbita meningkatkan volume intraokular dan mempengaruhi masa. Meskipun masa secara histologis jinak, itu dapat mengganggu pada struktur orbital atau yang berdekatan dengan mata. Dan bisa juga dianggap ganas apabila mengenai struktur anatomis. Ketajaman visual atau kompromi lapangan, diplopia, gangguan motilitas luar mata, atau kelainan pupil dapat terjadi dari invasi atau kompresi isi intraorbital sekunder untuk tumor padat atau perdarahan. Tidak berfungsinya katup mata atau disfungsi kelenjar lakrimal dapat menyebabkan keratopati eksposur, keratitis, dan penipisan kornea. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui nervus optikus ke otak, melalui sklera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat menonjol ke dalam badan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi dan pendarahan. Warna iris tidak normal.
Tumor  bisa tumbuh dari struktur yang terletak  didalam atau sekitar orbit:
1.      Kelenjar lakrimal:
Adenoma fleomorfik: tumor kelenjar saliva dan paling umum di jumpai pada kelenjar parotid biasanya jinak, tapi rekurensi terjadi bila tidak dilakukan eksisi lengkap.
2.      Karsinoma
a.      Jaringan limfoid: 
Limfoma: kanker sel darah putih yang disebut limfosit-B, atau sel-B
b.      Retina: 
Retinoblastoma: Tumor anak-anak yang sangat ganas.
3.      Melanoma
               Tulang:
a.       Osteoma: biasanya mengenai sinus frontal atau  ethmoid, bisa menyebabkan mukosel frontal.
b.       Kista dermoid, adalah suatu kista atau tumor yang berisi cairan kental seperti bubur yang disebut sebum, bisa berisi rambut, dimana kantungnya dilapisi oleh dermis. Umumnya letaknya pada bidang garis tengah tubuh. Dapat tumbuh di kepala, badan atau perut . Didapatkan pada anak-anak atau pada bayi sejak lahir.
c.       Kista epidermoid adalah suatu kista yang kantungnya dilapisi epidermis berisi massa kental. Sering terdapat di kulit telapak kaki atau tangan. Penyebabnya diduga trauma dimana sel epidermis masuk ke subkutan dan tumbuh disana.
4.      Sinus paranasal, nasofaring:
Karsinoma: Sering menginvasi dinding medial  orbit pada tahap dini penyakit.
5.      Selubung saraf optik:
Meningioma: sering meluas keintrakranial melalui  foramen optik.
6.       Saraf optik:
Glioma (astrositoma pilositik): tumor yang tumbuh di berbagai bagian otak. Tumbuh sangat lambat.
Neurofibroma/neurinoma: benjolan seperti daging yang lembut, yang berasal dari jaringan saraf.
7.      Jaringan ikat: 
Rabdomiosarkoma: Tumor  anak-anak ganas dengan  pertumbuhan dan penyebaran lokal cepat.
8.       Metastasis melalui darah:
Dewasa: 
a.       Karsinoma 'breast'
b.      Karsinoma bronchial
Anak-anak: 
a.       Neuroblastoma
b.      Sarkoma Ewing
c.        Leukemia
d.      Tumor testikuler
9.       Lesi orbital non-neoplastik:
a.  Hemangioma/limfangioma  kavernosa: Lesi jinak yang  sering terjadi pada dewasa.
b. Pseudotumor
c.  Eksoftalmos endokrin
d. Granulomatosis Wagener
e.  Histiositosis X
f.  Sarkoidosis
g. Fistula  karotid-kavernosa  tampil  dengan  eksoftalmos pulsatif.

E.     Tanda dan Gejala
1.      Nyeri orbital: jelas  pada tumor ganas yang tumbuh  cepat,  namun juga merupakan gambaran khas  'pseudotumor' jinak dan fistula karotid-kavernosa. 
2.       Proptosis: pergeseran bola mata kedepan adalah gambaran yang  sering dijumpai, berjalan bertahap dan tak  nyeri dalam beberapa bulan atau tahun (tumor jinak) atau  cepat (lesi ganas).
3.       Pembengkakan kelopak: mungkin  jelas pada  pseudotumor, eksoftalmos endokrin atau fistula karotid-kavernosa.
4.      Palpasi: bisa  menunjukkan massa yang menyebabkan  distorsi kelopak atau bola mata, terutama dengan tumor kelenjar lakrimal atau dengan mukosel.
5.       Pulsasi:  menunjukkan lesi vaskuler;  fistula  karotidkavernosa atau malformasi arteriovenosa, dengarkan adanya bruit.
6.      Gerak mata: sering  terbatas oleh sebab mekanis,  namun bila nyata, mungkin akibat oftalmoplegia endokrin  atau dari  lesi  saraf III, IV, dan VI pada  fisura  orbital (misalnya sindroma Tolosa Hunt) atau sinus kavernosus.
7.      Ketajaman penglihatan: mungkin terganggu langsung  akibat terkenanya saraf optik atau retina, atau tak  langsung akibat kerusakan vaskuler. (Dr. Syaiful Saanin, Neurosurgeon)

F.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan radiologik : untuk melihat ukuran rongga orbita, terjadinya kerusakan tulang, terdapat perkapuran pada tumor dan kelainan foramen optik.
2.      Pemeriksaan ultrasonografi : untuk mendapatkan kesan bentuk tumor, konsistensi tumor, teraturnya susunan tumor dan adanya infiltrasi tumor.
3.      CT-scan : untuk menentukan ganas atau jinak tumor, adanya vaskularisasi pada tumor dan terjadinya perkapuran pada tumor.
4.      Arteriografi : untuk melihat besar tumor yang mengakibatkan bergesernya pembuluh darah disekitar tumor, adanye pembuluh darah dalam tumor. (Sidarta, ilyas. 2005)
5.       Foto polos orbit
  Menunjukkan erosi lokal  (keganasan),  dilatasi foramen optik  (meningioma,  glioma saraf optik) dan terkadang kalsifikasi (retinoblastoma, tumor kelenjar lakrimal). Meningioma sering menyebabkan sklerosis lokal.

6.      Pencitraan tomografi terkomputer pada tumor orbita

Tomografi terkomputer ini sangat membantu karena dengan alat itu dapat terlihat dengan jelas seluruh jaringan lunak orbita dan tulang-tulangnya sekalipun. Dengan tomografi terkomputer diperoleh kesehatan nilai akurasi sampai sekitar 80-85 %, hal ini dapat dicapai, oleh karena dengan pemeriksaan tomografi terkomputer tampak perbedaan densitas jaringan yang rnembentuk jenis tumor tersehut Untuk lesi yang terletak di retrobulbair dengan pemeriksaan tomografi terkomputer didapatkan nilai akurasi 99.4 %. Hasil pemeriksaan tomografi terkomputer yang negatif palsu dapat terjadi bila lesi terbatas di daerah bulbus okuli.

   Pemeriksaan diagnostik pada mata secara umum sebagai berikut :
1.      Kartu mata Snellen/ mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) ; mungkin terganggu dengan kerusaakan kornea, lensa, aqueus atau vitreus Humour, kesalahan refraksi atau penyakit system saraf atau penglihatan ke retina atau jalan optic.
2.      Lapang penglihatan ; penurunanan yang disebabkan oleh CSV, massa tumor pada hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau Glaukoma.
3.      Tonografi ; mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
4.      Gonioskopi ; membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup pada glaukoma.
5.      Oftalmoskopi ; mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optic, papiledema, perdarahan retina dan mikroanurisme.

G.    Penatalaksanaan
         Penanganan tumor orbita bervariasi bergantung pada ukuran, lokasi, dan tipe tumor. Sebagian tumor orbita hanya membutuhkan terapi medis (obat-obatan) dan sebagian membutuhkan tindakan  yang  lebih  radikal  yaitu  mengangkat  secara  total  massa  tumor, sebagian  lainnya  tidak membutuhkan terapi.  Kadang-kadang  setelah pengangkatan massa tumor pasien masih membutuhkan terapi tambahan seperti radioterapi (sinar) dan kemoterapi.
1.      Tumor jinak
         Memerlukan  eksisi, namun bila  kehilangan penglihatan merupakan hasil yang tak dapat dihindarkan, dipikirkan pendekatan konservatif.
 
2.      Tumor ganas
         Memerlukan biopsi dan radioterapi. Limfoma juga berreaksi baik dengan khemoterapi. Terkadang  lesi terbatas (misal karsinoma kelenjar lakrimal) memerlukan reseksi radikal.

Pendekatan Perioperatif
Pengobatan tumor mata umumnya bersifat operatif. Kadang-kadang diperlukan pemberian obat antikanker (sitostatika) atau penyinaran. Organ mata relatif kecil, sehingga operasi tumor sering sulit dilakukan tanpa mengorbankan mata, apalagi jika datang pada stadium lanjut. Selain itu, penanganan tumor harus tuntas, operasi tidak bersih menyebabkan kekambuhan.
1.      Orbital medial,  untuk tumor anterior, terletak dimedial saraf optik.
2.      Transkranial-frontal,  untuk tumor dengan perluasan intrakranial atau terletak posterior dan medial dari saraf optik.
3.      Lateral,  untuk tumor yang terletak superior, lateral, atau inferior dari saraf optik. 
Pendekatan Keperawatan
1.      Mencegah penyimpangan penglihatan lanjut
2.      Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan / penurunan ketajaman penglihatan
3.      Mencegah komplikasi
4.      Memberikan informasi tentang proses penyakit/ prognosis dan kebutuhan pengobatan
H.    Komplikasi
1.      Glaukoma, adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal atau lebih tinggi dari pada normal yang mengakibatkan kerusakan saraf penglihatan dan kebutaan.
2.      Keratitis ulseratif, yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu  terdapatnya destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea.
3.      Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh.
















I.       Pathway
 




















BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
1.      Riwayat Kesehatan
a.       Keluhan Utama
Apakah klien mengalami gangguan penglihatan/adanya benjolan pada mata.
b.      Riwayat kesehatan Sekarang
Apakah ada benjolan pada daerah sekitar mata/dahi, ada perasaan yang tidak nyaman akibat adanya benjolan, nyeri, takut. Tampak benjolan pada daerah orbita, kaji ukuran benjolan, jenis benjolan (keras, lunak, mobile/tidak ).
c.       Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah klien punya riwayat trauma pada mata atau riwayat penyakit tumor, memiliki faktor resiko penyakit mata (memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, riwayat penyakit mata dalam keluarga seperti glaukoma, atau mengkonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi mata).
d.      Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang juga pernah terkena penyakit tumor mata, tumor lain, atau penyakit degeneratif lainnya

2.      Pemeriksaan Fisik Fokus
Pemeriksaan Mata       : Status lokalis (Visus, koreksi, skiaskopi, tonometri, kedudukan, pergerakan, Palpebrae Superior, Palpebrae inferior, Konjungtiva palpabrae, Konjungtiva bulbi, Konjungtiva forniks, skera, iris, pupil, lensa, funduskopi, refleks fundus, Corpus Vitreum, tens oculi, Sistem Lakrimalis
3.      Pengkajian 11 Fungsional Gordon
a.       Berdasarkan pola fungsional Gordon pre operasi
1)      Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
a)      Tanyakan pada klien bagaimana pemahaman pasien dan keluarga tentang rencana prosedur bedah dan kemungkinan gejala sisanya yang dikaji bersamaan dengan reaksi pasien terhadap rencana pembedahan mata.
b)      Menanyakan pada klien tentang pengalaman pembedahan, pengalaman anestesi, riwayat pemakaian tembakau, alkohol, obat-obatan.
c)      Biasanya klien mengalami perubahan status kognitif karena pembedahan yang akan dihadapi.
2)      Pola nutrisi metabolik
a)      Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan pola makan setelah sakit?
b)      Apakah ada perubahan pola makan klien?
c)      Kaji apa makanan kesukaan klien?
d)     Kaji riwayat alergi makanan maupun obat-obatan tertentu.
e)      Tanyakan kebiasaan makanan yang dikonsumsi klien, apakah klien sebelumnya jarang mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A, dan vitamin E
f)       Biasanya klien dengan glaukoma akut akan merasa mual / muntah
3)        Pola eliminasi
a)      Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien apakah mengalami gangguan?
b)      Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?.
4)      Pola aktivas latihan
a)      Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum menghadapi pembedahan, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga?
b)      Apakah aktivitas terganggu karena gangguan penglihatan yang dihadapinya?
5)      Pola istirahat tidur
a)      Kaji perubahan pola tidur klien sebelum menghadapi oprasi, berapa lama klien tidur dalam sehari?
b)      Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur, seperti nyeri pada mata, pusing, dan lain lain.
c)      Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat (Ruth F. Craven, Costance J Himle, 2000). Pada pasien preoperasi yang terencana mengalami kecemasan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pola tidur antara 3 – 5 jam, sedangkan kebutuhan tidur dan istirahat normal adalah antara 7 – 8 jam. (Gunawan L, 2001).
6)      Pola kognitif persepsi
a)      Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan penglihatan
b)      Apakah klien mengalami kesulitan saat membaca atau melihat
c)        Apakah menggunakan alat bantu melihat
d)     Bagaimana hasil visus
e)      Apakah ada keluhan pusing dan bagaimana gambarannya
f)       Klien akan mengalami gangguan penglihatan (kabur/ tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa di ruang gelap. Penglihatan berawan/ kabur, tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia. Perubahan kacamata / pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
g)      Pada mata tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak). Pupil menyempit dan merah / mata keras dengan kornea berawan (glaucoma akut). Peningkatan air mata.
h)      Adanya ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis). Nyeri tiba-tiba/ berat menetap atau tekanan pada sekitar mata, sakit kepala (glaucoma akut)
7)      Pola persepsi diri dan konsep diri
a)      Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya apakah klien merasa rendah diri ?
b)      Biasanya klien akan takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan setelah operasi.
c)      Apakah sering merasa marah, cemas, takut, depresi, karena terjadi perubahan dalam penglihatan.
8)      Pola peran hubugan
a)      Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit dan bagaimana hubungan sosial klien dengan masyarakat sekitarnya?
b)      Pola peran hubungan klien dengan orang lain tergantung dengan kepribadiannya. Klien dengan kepribadian tipe ekstrovert pada orang biasanya memiliki ciri-ciri mudah bergaul, terbuka, hubungan dengan orang lain lancar dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Hal ini akan menyebabkan seseorang lebih terbuka, lebih tenang serta dapat mengurangi rasa cemas dalam menghadapi pra operasi.
9)      Pola reproduksi dan seksualitas
a)      Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan?
b)      Apakah ada perubahan kepuasan pada klien berkaitan dengan kecemasan dan ketakutan sebelum operasi?
c)      Pada pasien baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya
10)  Pola koping dan toleransi stress
a)      Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah?
b)      Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?
c)      Pada pasien pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan . Takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuaan atau takut tentang derformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Smeltzer and Bare, 2002).
11)  Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi pembedahan?
b.      Pengkajian pola fungsional Gordon Post operasi
1)      Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
a)      Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien?
b)      Bagaimana pandangan klien tentang penyakitnya setelah pembedahan?
c)      Apakah klien merasa lebih baik setelah pembedahan?
d)     Apakah klien mengetahui cara merawat matanya pasca operasi?
2)      Pola nutrisi metabolik
a)      Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan pola makan setelah sakit?
b)      Apakah ada perubahan pola makan klien?
c)      Kaji apa makanan kesukaan klien?
d)     Kaji riwayat alergi klien.
e)      Kaji apakah klien mengetahui makanan yang dapat mempengaruhi proses kesembuhan matanya?
f)       Biasanya klien akan dipasangi infus, monitor, respirator pasca operasi
3)      Pola eliminasi
a)      Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien setelah pembedahan?
b)      Apakah mengalami gangguan?
c)      Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?.
4)      Pola aktivas latihan
a)      Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga?
b)      Ada beberapa aktivitas atau kegiatan yang dilarang dalam waktu tertentu pasca operasi.
c)      pasca operasi klien dalam posisi tertelentang dan monitor jika terjadi perdarahan dan adanya penurunan kesadaran
5)      Pola istirahat tidur
a)      Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam sehari?
b)      Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur pasca operasi seperti nyeri dan lain lain. Biasanya pasien mengalami gangguan tidur karena nyeri pasca operasi dan menjaga posisi saat tidur.
6)      Pola kognitif persepsi
Kaji apakah ada komplikasi pada kognitif, sensorik, maupun motorik setelah pembedahan, terutama pada mata klien.
7)      Pola persepsi diri dan konsep diri
a)      Kaji bagaimana klien memandang dirinya pasca operasi?
b)      Apakah klien merasa optimis dengan kesembuhan pada matanya?
8)      Pola peran hubugan
a)      Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit pasca operasi?
b)      agaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya?
9)      Pola reproduksi dan seksualitas
a)      Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan?
b)      Apakah ada perubahan kepuasan pada klien?
c)      Pada klien baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya
10)  Pola koping dan toleransi stress
a)      Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah, terutama cemas karena tidak tahu kepastian kesembuhan matanya?
b)      Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?
11)  Pola nilai dan kepercayaan
a)      Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya?
b)      Apakah ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien?

B.     Intervensi
Nyeri  b.d adanya massa pada mata

Tujuan: setelah mendapat tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri klien berkurang atau hilang
Kontrol Resiko
Kriteria hasil :
1) Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 2-3
2) Ekspresi wajah tenang
3) klien dapat istirahat dan tidur
v/s dbn
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1
Pantau nyeri secara komprehensif ( lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi ).

Mengevaluasi dan memantau nyeri yang dirasakan klien
2
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya

Memantau keadaan nyeri klien
3
Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengatasi nyeri.

Mengalihkan rasa nyeri klien
4
Memantau keadaan TTV klien
Memantau keadaan klien
5
Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.

Memberikan terapi yang tepat


Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori dari organ penerima.
Tujuan: Setelah mendapat tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mempertahankan ketajaman lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.
Kriteria Hasil:
  1. Berpartisipasi dalam program pengobatan.
  2. Mengenal gagguan sensori dan berkompensasi terhadap pengobatan.
  3. Mengidentifikasi/ memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
  4. Tanda-tanda vital normal (Tekanan darah: 110-130 mmHg, suhu: 36,5-37,5 derajat Celsius, nadi: 60-90 x/menit, Respirasi rate: 16-24x/menit)
NO
INTERVENSI
RASIONAL

Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.
memberikan peningkatan, kenyamanan, dan kekeluargaan, serta mampu menurunkan cemas.

Letakkan barang yang dibutuhkan atau posisi bell pemanggil dalam jankauan.
memungkinkan pasien melihat objek lebih muda dan memudahkan panggilan untuk pertolongan bila dibutuhkan.

Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan atau kemungkinan kehilangan penglihatan.
sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi kemungkinan atau mengalami pengalaman kehilangan penglihatan sebagian atau total. Meskipun kehilangan penglihatan telah terjadi dan tidak dapat diperbaiki, kehilangan lebih lanjut dapat dicegah.

Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan, contoh : atur perabot/ permainan, terutama perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam.
menurunkan bahaya, keamanan, berhubungan dengan perubahan lapang pandang atau kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan.

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping    penanganan, factor budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam, klien tidak terjadi gangguan citra diri
Kriteria hasil:
1)      Menyatakan penerimaan situasi diri.
2)      Memasukkan perubahan konsep diri tanpa harga diri negatif.
3)      Tanda-tanda vital normal (Tekanan darah: 110-130 mmHg, suhu: 36,5-37,5 derajat Celsius, nadi: 60-90 x/menit, Respirasi rate: 16-24x/menit)
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1
Gali perasaan dan perhatian anak terhadap penampilannya.
meningkatkan keterbukaan klien
2
Dukung sosialisasi dengan orang-orang disekitar klien.
meningkatkan harga diri klien.
3
Anjurakan untuk memakai kacamata hitam.

menutupi kekurangan dan meningkatkan citra diri klien
4
Beriakan umpan balik positif terhadap perasaan anak.
umpan balik dapat membuat klien berusaha lebih keras lagi mengatasi masalahnya.