Selasa, 16 Juni 2015

Ablasio Retina pada Asuhan Keperawatan/ Ablasio Retina in Nursing Care Plan



1 Definisi
Ablasio berasal dari bahasa Latin ablatio yang berarti pembuangan atau terlepasnya salah satu bagian badan. Menurut Vera H. Darling dan Margaret R. Thorpe (1996) menjelaskan bahwa ablasio retina lebih tepat disebut dengan separasi retina. Disebutkan demikian karena terdapat robekan retina sehingga terjadi pengumpulan cairan retina antara lapisan basilus (sel batang) dan komus (sel kerucut) dengan sel-sel epitelium pigmen retina.
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya lapisan sensorik retina dari lapisan epitel pigmen retina (Daniel, 2000).
Ablasi retina adalah merupakan keadaan terlepasnya retina yang diikuti dengan penimbunan cairan pada ruang potensial antara retina dengan sel pigmen epitel koroid (Sidarta Ilyas, 2003).
Ablasio Retina adalah pelepasan retina dari lapisan epitelium neurosensoris retina dan lapisan epitelia pigmen retina (Donna D. Ignativicius, 1991) Ablatio Retina juga diartikan sebagai terpisahnya khoroid di daerah posterior mata yang disebabkan oleh lubang pada retina, sehingga mengakibatkan kebocoran cairan, sehingga antara koroid dan retina kekurangan cairan (Barbara L. Christensen 1991).
2.2 Anatomi Fisiologi Mata
Mata adalah suatu organ komplek yang berkembang sangat fotosensitif yang memungkinkan analisa dengan tepat bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan dari obyek (Loise Junquend, MD dan Jose Larneiro, 1997 :195).
Indera penglihatan terdiri atas 3 bagian, yaitu :
1.      Bola mata (bulbus okuli) dengan saraf optik (nervus optikus)
2.      Alat penunjang (adnexa)
3.      Rongga orbita (cavum orbitae)

a)        Bola mata, terdiri dari 3 lapisan :
(1)      Sklera.
Merupakan lapisan fibrous yang elastis yang merupakan bagian dinding luar bola mata dan membentuk bagian putih mata. Bagian depan sklera tertutup oleh kantong konjungtiva (Syaifuddin, 1997 :147).
(2)      Khoroid.
Suatu membran berpigmen yang berada dibawah sklera yang membantu perpendaran cahaya. Tepat dibawah kornea, khoroid berubah menjadi iris (Elizabeth J. Corwin, 2000 :201).
(3)      Retina.
Retina mencakup duapertiga bagian dalam dinding belakang bola mata. Retina merupakan lembaran jaringan neural berlapis banyak yang melekat erat pada satu lapis sel epitel berpigmen yang kemudian menempel pada membran Brunch. Bagian anterior retina melekat erat pada epitel pigmen. Di bagian belakang, saraf optik melekatkan retina ke dinding bola mata. Di lain tempat retina mudah dipisahkan dari epitel pigmen. Pada orang dewasa, ora serata di bagian temporal bola mata letaknya kurang lebih 6,5 mm dibelakang garis Schwalbe, sedangkan di bagian nasalnya kurang lebih 5,7 mm di belakang garis yang sama. Di ora serata tebal retina 0,1 mm, sedangkan di polus posterior 0,23 mm. Yang paling tipis adalah fovea sentral yaitu bagian tengah makula. Retina normal bersifat bening dan sebagian cahaya di pantulkan di batas vitreoretina. Pada pemeriksaan oftalmoskopis direk, permukaan fovea yang cekung menghasilkan bayangan lampu terbalik dan nyata. Fovea sentral yang terletak kira-kira 3,5 mm di sebelah lateral papil optik khusus untuk membedakan penglihatan yang halus. Di fovea, semua reseptor adalah sel kerucut, lapisan nuklear luar tipis, lapisan parenkim lainnya bergeser sentrifulgar, dan membran limitans dalam tipis. Hampir di seluruh retina akson sel-sel reseptor melintas langsung ke bagian dalam lapisan pleksiform luar berhubungan dengan dendrit sel-sel lapisan horisontal dan sel-sel bipolar yang menuju keluar dari lapisan nuklear dalam, tetapi di makula akson sel-sel reseptor miring arahnya dan dinamakan lapisan serabut Henle.
Akson sel-sel bipolar berhubungan dengan sel amakrin dan sel ganglion di lapisan pleksiform dalam yang teranyam dengan rapat. Akson panjang sel-sel ganglion berjalan melalui lapisan serabut saraf menuju saraf optik.
Retina di pasok darah dari 2 sumber. Lapisan koriokapiler adalah lapisan tunggal yang terdiri atas kapiler-kapiler dengan rongga-rongga yang tersusun rapat dan melekat erat pada permukaan luar membran Brunch. Koriokapiler memasok darah pada sepertiga bagian luar retina, termasuk lapisan-lapisan pleksiform luar dan nuklear luar, fotoreseptor dan epitel pigmen. Duapertiga bagian dalam retina menerima cabang-cabang arteri retina sentral. Karena koriokapiler adalah satu-satunya pemasok darah ke fovea sentral, sedangkan fovea sentral adalah bagian terpenting dari retina, maka apabila retina di daerah ini terlepas dari dasarnya, maka akan terjadi kerusakan  fovea untuk selama-lamanya (Daniel Vaughan dan Tailor Asbury, 1995 : 191).
b)        Alat Penunjang (Adnexa)
(1)      Kelopak mata (palpebra)
Merupakan lipatan jaringan yang mudah digerakkan dan berfungsi melindungi mata. Merupakan kulit tubuh tertipis, longgar dan lentur, sehingga mudah mengalami pembengkakan hebat dan kemudian bisa normal kembali ke ukuran semula (Daniel Vaughan dan Taylor Asbury, 1995 : 69).
(2)      Kelenjar air mata (Aparatus lakrimalis)
Aparatus lakrimalis menghasilkan airmata yang terdiri atas : kelenjar lakrimalis, duktus lakrimalis atas dan bawah, kantung lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis (John Gibson, MD, 1995 : 250).
(3)      Otot-otot penggerak rongga mata (Muskulus okuli)
Merupakan otot ekstrinsik mata yang terdiri dari 7 buah otot, 6 buah otot diantaranya melekat dengan os kavum orbitalis, 1 buah mengangkat kelopak mata ke atas. Muskulus rektus okuli berorigo pada anulus tendineus komunis, yang merupakan sarung fibrosus yang menyelubungi nervus optikus (Syaifuddin, 1997 : 146).
c)         Rongga Orbita
Secara skematik rongga orbita digambarkan sebagai piramid dengan 4 dinding yang puncaknya di belakang. Dinding lateral dan dinding medial orbita membentuk sudut 45 derajat, sehingga terbentuk sudut tegak lurus antara kedua dinding lateral tersebut. Bentuk orbita seperti buah pear, dengan saraf optik sebagai batangnya (Daniel Vaughan dan Taylor Asbury, 1995 : 265).
2.3  Klasifikasi
1.      Rhegmatogenous Retina Detachmen/ablasi retina regmatogenosa.
Terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga corpus vitreous yang mengalami pencairan akan masuk ke belakang antara sel pigmen dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga sub retina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapisan epitel pigmen koroid.
Bentuk robekan retina:
1.      Robekan bentuk U
2.      Robekan bentuk U tidak sempurna
3.      Robekan bentuk bulat akibat operculum semua terlepas.
4.      Dialisis
Sering terjadi pada pasien:
1.      Miopia degenerative
2.      Degenerasi retina
2.      Non Rhegmatogenous Retina Detachmen (Tidak ada robekan)
a.       Tractional/ traksi
Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca. Sering terjadi pada pasien terdapatnya jaringan fibrosis disebabkan oleh:
1)         DM proliferatif
2)         Trauma          
3)         Perdarahan badan kaca akibat bedah atau infeksi
b.      Exudative / eksudatif
Ablasi retina eksudatif adalah ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan sub retina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid. Sering terjadi pada:
1)         Peradangan pada bagian mata. Misal : Skleritis, koroiditis
2)         Tumor retrobulbar.
Gambaran diagnosis dari tiga tipe ablasio retina.

Regmatogenus
Traksi
Eksudatif
Riwayat Penyakit
Afaksia, myopia, trauma tumpul, photopsia, floaters, gangguan lapang pandang yang progresif, dengan keadaan umum baik.
Diabetes, prematur, trauma tembus, penyakit sel sabit, oklusi vena.
Faktor-faktor sistemik seperti hipertensi maligna, eklampsia, gagal ginjal.
Kerusakan retina
Terjadi pada 90-95 % kasus.
Kerusakan primer tidak ada.
Tidak ada.
Perluasan ablasi
Meluas dari oral ke diskus, batas dan permukaan cembung tergantung gravitasi.
Tidak meluas, dapat sentral atau perifer.
Tergantung volume dan gravitasi, perluasan menuju oral bervariasi, dapat sentral atau perifer.
Pergerakan retina
Bergelombang atau terlipat.
Retina tegang, batas dan permukaa cekung, meningkat pada titik tarikan.
Smoothly elevated bullae, biasanya tanpa lipatan.
Bukti kronis.
Terdapat garis pembatas, makrosis intra retinal, atropik retina.
garis pembatas.
Tidak ada
Pigmen pada vitreous.
Terlihat pada 70 % kasus.
Terlihat pada kasus trauma.
Tidak ada.
Perubahan vitreous.
Sineretik, PVD, tarikan pada lapisan yang robek.
Penarikan vitreoretina.
Tidak ada, kecuali pada uveitis
Cairan Sub Retinal.
jernih
Jernih atau tidak ada perpindahan.
Dapat keruh dan berpindah secara cepat tergantung pada perubahan posisi kepala.
Massa koroid
Tidak ada
Tidak ada
Bisa ada.
Tekanan intraokular
Rendah
Normal
Bervariasi
Transluminasi
Normal
Normal
Transluminasi terblok apabila ditemukan lesi pigmen koroid.
Keadaan yang menyebabkan ablasio.
Robeknya retina
Retinopati diabetikum proliferase, post traumatis vitreus traction.
Uveitis, metastasis tumor, melanoma maligna, retinoblastoma, hemangioma koroid, makulopati eksudatif senilis, ablasi eksudatif post cryotherapy atau dyathermi.

2.4  Etiologi
Ablasio retina dapat terjadi secara spontan  atau sekunder setelah trauma, akibat adanya robekan pada retina, cairan masuk kebelakang dan mendorong retina (rhematogen) atau terjadi penimbunan eksudat dibawah retina sehingga retina terangkat (non rhegmatogen), atau tarikan jaringan parut pada badan kaca (traksi).  Penimbunan eksudat terjadi akibat penyakit koroid, misalnya skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, uveitis dan toksemia gravidarum.  Jaringan parut pada badan kaca dapat disebabkan DM,  proliferatif, trauma, infeksi atau pasca bedah.


2.5  Manifestasi Klinis
1.      Visus menurun
2.      Defek lapang pandang
3.      Floaters : Keluhan adanya bayangan yang bergerak oleh karena adanya robekan retina lalu robekan sel-sel masuk ke korpus vitreous (terutama bila corpus vitreous mencair) kemudian  bila melewati area penglihatan terlihat bayangan hitam atau seperti ada  serangga.
4.      Fotopsia : Kilatan cahaya karena regangan retina
5.      Bayangan retina keabuan pada lokasi
6.      Terlihat gejala sesuai penyebabnya

2.6  Patofisiologi
Longgarnya perlekatan antara epitel pigmen dan retina menyebabkan keduanya bisa terlepas satu terhadap yang lain, sehingga cairan bisa terkumpul diantaranya. Cairan tersebut biasanya berasal dari bagian badan kaca yang cair yang dengan bebas melewati lubang di retina menuju kedalam rongga yang terbentuk karena terlepasnya epitel pigmen dari retina tersebut (Daniel Vaughan dan Taylor Asbury, 1995 : 205).
Penyebab ablasio retina pada orang muda yang matanya tampak sehat dan refraksi lensanya normal adalah karena adanya kelemahan perlekatan bagi retina untuk melekat dengan lapisan dibawahnya. Kelemahan yang biasanya tidak terdiagnosis  letaknya di pinggiran bawah retina. Kadang-kadang di tempat yang sama terdapat kista retina kecil. Jika pinggiran retina terlepas dari perlekatannya maka akan terbentuk suatu lubang seperti yang disebutkan diatas (Robert Youngson, 1985 : 120).
Pada ablasio retina, bagian luar retina yang sebelumnya mendapat nutrisi dari pembuluh darah koriokapiler tidak lagi mendapat nutrisi yang baik dari koroid. Akibatnya akan terjadi degenerasi dan atropi sel reseptor retina. Pada saat degenerasi retina terjadi kompensasi sel epitel pigmen yang melakukan serbukan sel ke daerah degenerasi. Akibat reaksi kompensasi akan terlihat sel epitel pigmen di depan retina. Selain itu juga akan terjadi penghancuran sel kerucut dan sel batang retina. Bila degenerasi berlangsung lama, maka sel pigmen akan bermigrasi ke dalam cairan sub retina dan ke dalam sel reseptor kerucut dan batang.
Bila pada retina terdapat ruptur besar maka badan kaca akan masuk ke dalam cairan sub retina. Apabila terjadi kontak langsung antara badan kaca dan koroid maka akan terjadi degenerasi koroid. Apabila terjadi degenerasi sel reseptor maka keadaan ini akan berlanjut ke dalam jaringan yang lebih dalam, yang kemudian jaringan ini diganti dengan jaringan glia.
Apabila proses diatas belum terjadi dan ablasio retina ditemukan dini dan kemudian kedudukan retina dikembalikan ke tempat asalnya, maka akan terjadi pengembalian penglihatan yang sempurna (Dr Sidarta Illyas, 1984 : 108).

2.7     Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan Visus.
Dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlihatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau badab kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat menurun bila makula lutea ikut terangkat.
b.      Pemeriksaan lapang pandang.
Akan terjadi lapang pandang seperti tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina. Pada lapang pandang akan terlihat pijaran api seperti halilintar kecil dan fotopsia.
c.       Pemeriksaan Funduskopi.
Pada pemeriksaan Funduskopi terlihat retina yang terangkat berwarna pucat dan adanya retina yang berwarna merah, sering ditemukan pada daerah temporal superior. Bila bola mata bergerak terlihat robekan retina bergoyang, terdapat defek aferen pupil tekanan bola mata rendah. Bila tekanan bila mata meningkat maka terjadi glaukoma neomuskular pada ablasi yang lama.
d.      Pemeriksaan Ultrasonografi.
OkularB-Scan ultrasonografi juga digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proliveratif vitreorenopati, benda asing intraokuler. Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.
e.       Pemeriksaan angiografi flouresin.
Kebocoran dodaerah parapilar dan dan daerah yang berdekatan dengan tempatnya ruptur juga dapat terlihat.
2.8     Penatalaksanaan
Pengobatan pada ablasio retina adalah dengan tindakan pembedahan atau operasi. Tujuan operasi adalah untuk mengeluarkan cairan sub retina, menutup lubang atau robekan dan untuk melekatkan kembali retina. Hal ini dikarenakan jarang terjadi pertautan kembali secara spontan. Apabila diagnosis ablasio retina telah ditegakkan maka pasien harus MRS dan dipersiapkan untuk menjalani operasi.

Operasi ablasio retina tersebut antara lain :
1.       Elektrodiatermi
Dengan menggunakan jarum elektroda, melalaui sclera untuk memasukkan cairan subretina dan mengeluarkan suatu bentuk eksudat dari pigmen epithelium yang menempel pada retina.
2.       Sclera Buckling
Suatu bentuk tehnik dengan jalan sclera dipendekkan, lengkungan terjadi dimana kekuatan pigmen epithelium lebih menutup retina, mengatasi pelepasan retina dan menempatkan posisi semula, maka sebuah silikon kecil diletakkan pada sclera dan diperkuat dengan membalut melingkar. Peralatan tersebut dapat mempertahankan agar retina tetap berhubungan dengan koroid dan sclera eksudat dari pigmen epithelium lebih menutup sclera.
3.       Photocoagulasi
Suatu sorotan cahaya dengan laser menyebabkan dilatasi pupil. Dilakukan dengan mengarahkan sinar laser pada epithelium yang mengalami pigmentasi. Epithelium menyerap sinar tersebut dan merubahnya dalam bentuk panas. Metode ini digunakan untuk menutup lubang dan sobekan pada bagian posterior bola mata.
4.       Cyro Surgery
Suatu pemeriksaan super cooled yang dilakukan pada sclera, menyebabkan kerusakan minimal seperti suatu jaringan parut, pigmen epithelium melekat pada retina.
5.       Cerclage
Operasi yang dikerjakan untuk mengurangi tarikan badan kaca. Pada keadaan cairan retina yang cukup banyak dapat dilaksanakan phungsi lewat sclera.

1.      Usaha Pre Operatif
Sedikitnya 5 – 7 hari sebelum operasi, penderita sudah harus masuk rumah sakit, harus tirah baring sempurna (Bedrest total).  Kepala dan mata tidak boleh digerakan, mata harus di tutup segera, segala keperluan pen-derita dibantu. Kedua mata ditetesi midriatik sikloplegik seperti: Atropin tetes 1 % jangan menggunakan obat-obat mata dalam bentuk salep mata karena akan menghalangi jalannya operasi (kornea akan keruh akibat salep).  Persiapan lainnya sama dengan persiapan operasi katarak, operasi ablasio retina mengguna kan anestesi umum tetapi bila menggunakan anestesi lokal maka 1 jam sebelum operasi diberikan luminal (100 mg) atau largactil (100 mg) IM, kemudian ½ jam sesudahnya diberi pethidine (50 mg) dan phenergan (25 mg) IM.
2.      Usaha Post Operatif
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perawatan adalah posisi kepala, per-gerakan mata, obat-obat, lamanya mobilisasi dan pemeriksaan lanjutan (follow –up). Posisi kepala dan badan, arah miringnya kepala, tergantung posisi/keadaan sewaktu operasi yaitu kearah mana punksi cairan subretina dilakukan. Pada robekan yang sangat besar, posisi kepala dan badan  dipertahankan sedikitnya 12 hari.  Pergerakan mata, bila operasi dilakukan dengan kombinasi cryo atau diathermi koagulasi dengan suatu implant atau scleral buckling, maka kedua mata ditutup selama 48 – 72 jam sedang badan boleh bergerak untuk mencegah pergerakan matanya. Bila hanya menggunakan cryo atau diathermi saja mata ditutup selama 48 jam samapai cairan subretina diabsobsi. Bila robekan belum semua tertutup, maka kedua mata harus ditutup selama 12 – 14 hari, retina menempel kembali dengan kuat pada akhir minggu ketiga setelah operasi, karena itu selama periode 3 minggu itu diberikan instruksi sebagai berikut :
1.      Jangan membaca.
2.      Melihat televisi hanya boleh dari jarak 3 meter.
3.      Mata diusahakan untuk melihat lurus kedepan, bila berkendaran hendaknya mata di tutup.
3.      Penatalaksanaan Farmakologi
Selama 24 jam post-operasi diberikan obat anti nyeri (analgesik) 3 X 500 mg, bila mual muntah berikan obat anti muntah.  Sesudah 24 jam tidak perlu diberikan obat-obat, kecuali bila merasa sakit.  Penggantian balut dilakukan setelah 24 jam, saat itu mata ditetesi dengan Atropin tetes steril 1 %. Bila kelopak mata bengkak, diberikan Kortikosteroid lokal disertai babat tindih (druk verban) dan kompres dingin.
4.      Follow Up
Setelah pulang, penderita kontrol tiap 1 minggu, 3 minggu, 6 minggu kemudian tiap 3, 6 dan 12 bulan.  Refraksi stabil setelah 3 bulan pasca bedah.  Visus terlihat kemajuannya setelah 1 tahun pasca bedah.
2.9        Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi setelah pembedahan.
a.       Infeksi
b.      Perdarahan
c.       Ablasio retina kembali, sebagai komplikasi operasi
d.      Penglihatan yang menurun
e.       Peningkatan tekanan bola mata
f.       Glaukoma
g.      Katarak timbulnya akan lebih awal. 50% pasien yang telah menjalani operasi vitrektomi. Selanjutnya, pasien ini akan menjalani operasi katarak beberapa tahun kemudian.
h.      Komplikasi akibat pembiusan dapat saja terjadi. Pembiusan lokal kadang-kadang menimbulkan perdarahan di sekeliling mata tapi jarang berakibat langsung pada mata. Pembiusan umum berpotensi menghadapi resiko serius. Bila anda akan mendapatkan pembiusan umum, anda akan ditangani oleh spesialis anestesiologi sebelum operasi.
Komplikasi lanjut.
a.       Infeksi.
b.      Lepasnya bahan bucking melalui konjungtiva atau erosi melalui bola mata.
c.       Vitreo retinpati proliverastif (jaringan parut yang mengenai retina).
d.      Diplobia.
e.       Kesalahan retraksi.
f.       Astigmatisme.


2.10 Prognosis
a.       Prognosis ablasi retina baik bila:
1.      Robekan kecil
2.      Adanya garis demarkasi ablasi pada retina
3.      Cairan subretina sangat sedikit
b.      Prognosis kurang memuaskan bila:
1.      Ablasi dengan afakia
2.      Ablasi total
3.      Ablasi tidak dengan bibir rupture melipat
c.       Prognosis buruk pada:
1.      Ablasi retina dengan ablasi koroid macula
2.      Ablasi retina dengan rupture besar
3.      Tanpa pengobatan retina akan terlepas total dalam 6 bulan
4.      30 % kasus tanpa komplikasi sembuh 1x operasi
5.      15 % memerlukan operasi kedua
6.      Anjurkan pada penderita yang baru mengalami pembedahan ablasi untuk mengurangi olahraga terutama yang melakukan gerakan kepala yang cepat.
.














2.11      
Perubahan degeneratif dalam vitreus
Inflamasi intraokuler/ tumor
Pathway

Peningkatan cairan eksudatif/ serrosa
Robekan retina
Resti infeksi
Tarikan retina
Vitreus menjadi kolaps dan bengkak ke depan.
Vitreus menjadi makin cair.
Konsentrasi asam hidrorunat berkurang
ABLASIO RETINA
 










Retina terlepas dari epitel berpigmen
Gangguan persepsi penglihatan
Perdarahan
Penurunan tajam pandang sentral
Sel-sel retina dan darah terlepas
Resiko tinggi Cidera
Tindakan Pembedahan
Luka operasi
Kurang pengetahuan
Pelepasan mediator nyeri
Nyeri
Mendepresi sistem saraf
Ketidakefektifan penatalaksanaan regimen
Ablasio retina kembali
Ditangkap reseptor nyeri
Resiko perrluasaan cidera
 












BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1        Pengkajian
Kasus
Ny C berumur 39 tahun datang ke Rumah sakit  pada tanggal 19 Maret 2015 pukul 09.00 WIB dengan keluhan kedua mata kabur sejak 10 hari yang lalu, tidak dapat melihat dengan jelas walau jaraknya dekat,  terutama mata kiri hanya terlihat bayangan hitam, kilatan cahaya tidak tampak. Sejak 2 tahun yang lalu mata kanan kabur ada bintik putih ditengah-tengah bola mata. Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan didapatkan keadaan umum klien komposmentis, kedua mata klien kabur. Pada pemeriksaan visus diperoleh mata kanan 1/300  PI BSA dan mata kiri 1/300  PI BSA . TD= 110/80mmHg, RR= 18 X/menit, Nadi 80 X/menit dan Suhu = 36,5 ˚C.
Analisa Data
a.      Identitas
Nama                                    : Ny.C
Umur                         : 39 tahun
TTL                           : 12 Mei 1976
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat                      : Jl.Gubeng kertajaya III /No.3R.
Agama                      : Islam
Suku                          : Jawa
Pendidikan                : SMA
Pekerjaan                  : Ibu Rumah tangga.
MRS                         : 19 Maret 2015.
b.      Riwayat Kesehatan
1.      Keluhan Utama
Klien mengeluh kedua mata kabur sejak 10 hari yang lalu, tidak dapat melihat dengan jelas walau jaraknya dekat,  terutama mata kiri hanya terlihat bayangan hitam, kilatan cahaya tidak tampak.
2.      Riwayat Penyakit Sekarang
Kedua mata kabur tidak dapat melihat dengan jelas terutama mata kiri hanya terlihat bayangan hitam, kilatan cahaya tidak tampak.
3.      Riwayat Penyakit Dahulu
Sejak 2 tahun yang mata kanan kabur ada bintik putih ditengah-tengah bola mata.
4.      Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak terdapat anggota keluarga yang menderita serupa dengan klien.
c.       Pemeriksaan Fisik/ Keadaan Umum
1.      Status kesehatan umum
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital
TD       :    110/80mmHg
Nadi    :    80 X/menit.
RR      :    18 X/menit
Suhu    :    36,5 ˚C
Fungsi penglihatan : kabur,terlihat bayangan hitam, tidak ada rasa sakit.
Pernapasan   :    RR= 18 X/menit, pola napas baik.
Sirkulasi        :    Nadi 80 X/menit, pusing kadang-kadang bila dipaksakan melihat lama.
Neurologis    :    Tingkat kesadaran GCS : 456, orientasi baik, bisa mengingat orang, waktu  dan tempat.
Nutrisi          :    Diet biasa, nafsu makan baik,mual-muntah tak ada, intake cairan 1 – 2 liter.
Eliminasi       :    tak ada kelainan
Reproduksi   :    tak ada kelaianan

2.      Pemeriksaan mata
Mata kanan                                                                               Mata kiri
1/300  PI BSA                               Visus                                  1/300  PI BSA  
14,6   mmHg                            Tekanan okuli                         10,2  mmHg
Spasme (-) Oedema(-)                 Palpebra                             Sapsme(-), Oedema(-)
CVI(-), PCVI(-)                         Konjunctiva                           CVI(-), PCVI(-)
Jernih                                           Kornea                                Jernih
Dalam                                            BMD                                Dalam
Reguler                                           Iris                                   Reguler
2 mm                                             Pupil                                 Bulat, VC (+) 3mm
Keruh                                           Lensa                                  Jernih
FR (-)                                        Funduskopi                           FR (+)  pupil N II     
Batas tegas, warna normal, retina blass (+), makula Reff ¯, eksudat (-).                            



3.2        Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada Ablasio Retina Sebelum Operasi (Pre Operasi) dan Sesudah Operasi (Post Operasi) :
1.         Penurunan persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan penurunan ketajaman dan kejelasan penglihatan
2.         Resiko perluasan cidera yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas, kurangnya pengetahuan.
3.         Risiko cedera berhubungan dengan perdarahan, kehilangan vitreus, kegagalan pelekatan retina.
4.         Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi
5.         Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, pembatsan aktivitas pascaoperasi.
6.         Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kuraang pengetahuan.


3.3     Intervensi Keperawatan
Diagnosa: Penurunan persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan penurunan ketajaman dan kejelasan penglihatan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 7x24 jam klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengomunikasikan perubahan visual.
Kriteria hasil:
a.       Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi fungsi penglihatan.
b.      Klien mengidentifikasi dan menunjukkan pola-pola alternatif untuk meningkatkan penerimaan rangsang penglihatan.
Intervensi
Rasional
Kaji ketajaman penglihatan klien

Mengidentifikasi kemampuan visual pasien

Identifikasi alternatif untuk optimalisasi sumber rangsangan

Memberikan keakuratan penglihatan dan perawatannya

Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan :
-        Orientasikan klien terhadap ruang rawat
-        Letakkan alat yang sering digunakan didekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat
-        Berikan pencahayaan cukup
Hindari cahaya menyilaukan
Meningkatkan kemampuan persepsi sensori

Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat diterima: auditorik,taktil
Meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan



Diagnosa: Resiko perluasan cidera yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas, kurangnya pengetahuan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2dalam 3x24 jam kehilangan penglihatan tidak berlanjut
Kriteria hasil :
a.      Klien menyebutkan faktor risiko meluasnya kehilangan penglihatan.
b.      Klien memeragakan penurunan aktivitas total.
Intervensi
Rasional
Kaji lapang pandang klien pada mata yang sakit dan sehat setiap hari.

Mengidentifikasi perkembangan  kerusakan (pelepasan retina). Gangguan lapang pandang menunjukkan kerusakan (pelepasan retina) pada sisi area yang berlawanan.
Intruksikan klien untuk melakukan tirah baring total dengan posisi khusus sesuai penyakit

Tirah baring preoperasi dilakukan dalam posisi telentang atau miring, sesuia dnegan lokasi kerusakan, dengan mengusahakan rongga retina dalam posisi menggantung, salah satu atau kedua mata ditutup.
Terangkan pada klien untuk meminimalkan pergerakan, menghindari pergerakan tiba-tiba serta melindungi mata dari cidera
(terbentur benda).

Gerakan tiba-tiba dan trauma dapat memicu kerusakan berlanjut. Tirah baring diusahalan seminimal mungkin dan posisi anjuran diusahakan sebagai posisi dominan.

Anjurkan klien untuk segera melaporkan pada petugas bila terjadi gangguan lapang pandang yang meluas dang tibatiba.
Perluasan kehilangan lapang pandang secara masif mungkin terjadi akibat perluasan pelepepasan retina





Diagnosa: Risiko cedera berhubungan dengan perdarahan, kehilangan vitreus, kegagalan pelekatan retina.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 4x24 jam tidak terjadi cidera pascaoperasi
Kriteria Hasil:
a.       Klien menyebutkan faktor faktor yang menyebabkan cidera.
b.      Klien tidak melakukan aktivitas yang emningkatkan resiko cidera.
Intervensi
Rasional
Diskusikan rasa sakit, pembatasan aktivitas dan pembalutan mata.
Meningkatkan kerja sama dan pembatasan yang diperlukan.
Tempatkan klien pada tempat tidur yang lebih rendah dan anjurkan untuk membatasi pergerakan mendadak/tiba-tiba serta menggerakkan kepala berlebih.

Istirahata ditempat tidur dilakukan selama 3-7 hari pascaoperasi, bergantung pada kondisi dan jenis operasi yang dijalani. Aktivitas ditempat tidur dapat dimulai lebih dini dengan tetap memperhatikan posisi retina.
Bantu aktivitas selama fase istirahat. Ambulasi dilakukan dengan hati hati.
Mencegah/menurunkan risiko komplikasi cedera. Klien dianjurkan untuk istirahat ditempat tidur selama 3-7 hari pascaoperasi, apabila operasi dengan penyuntikan gas(SF6,C3F8,maupun udara steril)

Diagnosa: Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi
Tujuan : nyeri berkurang , hilang dan terkontrol.
Kriteria hasil :
a.      Klien mendemonstrasikan teknik penurunan nyeri.
b.      Melaporkan nyeri berkurang
Intervensi

Rasional
Kaji derajat nyeri setiap hari

Normlanya nyeri terjadi dalam waktu kurang dari lima hari setelah operasi dan berangsur menghilang . Nyeri dapat meningkat karena peningkatan TIO 2-3 hari
Anjurkan untuk melaporkan perkembangan nyeri setiap hari atau segera saat terjadi peningkatan nyeri mendadak.
Meningkatkan kolaborai ; memberikan rasa aman untuk peningkatan dukungan psikologis.
Anjurkan pada klien untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat menyebabkan nyeri.

Beberapa kegiatan klien dapat meningkatkan nyeri, seperti gerakan tiba-tiba ,membungkuk,mengucek mata, batuk dan mengejan.
Ajarkan tehnik relaksai dan distraksi

Menurunkan ketegangan dan mengurangi nyeri.
Lakukan tindakan kolaboratif dalam pemberian analgesik topikal/sistemik
Mengurangi nyeri dengan meningkatkan ambang nyeri.

Diagnosa : Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, pembatsan aktivitas pascaoperasi.
Tujuan : Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
Kriteria hasil :
a.       Klien mendapatkan bantuan parsial dalam pemenuhan kebutuhan diri.
b.      Klien memeragakan perilaku perawatan diri secara bertahap.
Intervensi
Rasional
Terangkan pentingnya perawatan diri dan pembatsan aktivitas selama fase pascaopersi.

Klien dianjurkan untuk istirahat ditempat tidur pada 2-3 jam pertama pscaoperasi atau 12 jam, jika ada komplikasi. Selam fase ini, bantuan total diperlukan bagi klien.
Bantu klien memenuhi kebutuhan perawatan diri
Memenuhi kebutuhan perawatan diri.

Secara bertahap, libatkan klien dalam memenuhi kebutuhan diri.
Keterlibatan klien dalam aktivitas perawatan dirinya dilakukan bertahap, dengan berpedoman pada prinsip bahwa aktivitas tidak memicu peningkatan TIO dan menyebabkan cedera mata. Kontrol klinis dilakukan dengan

Diagnosa : Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kuraang pengetahuan.
Tujuan : perawtan rumah berjalan efektif
Kriteria hasil :
a.       Klien mampun mengidentifikasi kegiatan perawatan rumah yang diperlukan.
b.      Keluarga menyatakan siap untuk mendampingi klien dalam melakukan perawatan.

Intervensi
Rasional
Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawtan pasca hospitalisasi.

Sebagai modalitas dalam pemberian pendidikan kesehatan tentang perawatan pulang
Terangkan aktivitas yang diperbolehkan dan dihindari untuk mencegah komplikasi pascaoperasi.

Aktivitas yang diperbolehkan:
-       Menonton tv, membaca tetapi jangan terlalu lama
-       Tidur dengan perisai pelindung mata logam pda malam hari, mengenakan kacamata pda siang hari
-       Berlutut atau jongkok saat mengambil sesuatu dari lantai

Terangkan berbagai kondisi yang perlu dikonsultasikan

Kondisi yang harus segera dilaporkan:
-              Nyeri pada dan disekitar mata, sakit kepala menetap
-              Nyeri disertai mata merah, bengkak, atau keluar cairan ; inflamasi dan cairan dari mata
Terangkan cara penggunaan obat-obatan

Klien mungkin mendapatkan obat tetes mata atau salep (topikal)
Berikan kesempatan bertanya

Respons verbal untuk meyakinkan kesiapan klien dalam perawatan pasca hospitalisasi
Identifikasi kesiapan keluarga dalam perawatan diri klien pascahospitalisasi
Kesiapan keluarga meliputi orang yang bertanggung jawab dalam perawatan, pembagian peran dan tugas serta penghubung klien dan institusi pelayanan kesehatan.