Selasa, 16 Juni 2015

Amputasi, di dalam Asuhan Keperawatan/ Amputation, in Nursing Care Plan

Source/ Sumber:

1) Burnert, Suddart. 2002.Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
 
  2) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)


2.1  Pengertian
Amputasi adalah pengangkatan atau pemotongan sebagian anggota tubuh/anggota gerak yang disebabkan oleh adanya trauma, gangguan peredaran darah, osteomielitis, kanker (PSIK FKUI, 1996). Amputasi adalah pengangkatan melalui bedah/traumatik pada tungkai (Doenges, 2000). Dalam kamus kedokteran Dorland, amputation adalah memotong atau memangkas, pembuangan suatu anggota badan atau suatu penumbuhan dari badan.
      Dengan melihat beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa amputasi adalah pengangkatan/pemotongan/pembuangan sebagian anggota tubuh/anggota gerak yang disebabkan oleh adanya trauma, gangguan peredaran darah, osteomyelitis, dan kanker melalui proses pembedahan.
Tingkat/batas amputasi sebagai berikut :
Batas amputasi ditentukan oleh luas dan jenis penyakit. Batas amputasi pada cedera ditentukan oleh peredaran darah yang adekuat. Batas amputasi pada tumor maligna ditentukan oleh daerah bebas tumor dan bebas risiko kekambuhan lokal. Sedangkan pada penyakit pembuluh darah ditentukan oleh vaskularisasi sisa ekstremitas dan daya sembuh luka sisa tungkai (puntung). (Sjamsuhidajat, 2005).
Mengutip pendapat Smeltzer (2002), tempat amputasi ditentukan berdasarkan dua faktor, yaitu peredaran darah pada bagian itu dan kegunaan fungsional, misalnya sesuai kebutuhan prosthesis. Amputasi dilakukan pada titik paling distal yang masih dapat mencapai penyembuhan.
Batas/tingkat amputasi ekstremitas bawah yang lazim dipakai, yang disebut batas amputasi. Sedang untuk ektremitas atas tidak dipakai batas amputasi tertentu, tetapi dianjurkan sedistal mungkin. Menurut Smeltzer (2002), amputasi ekstremitas atas dilakukan pada atas siku (AS) dan bawah siku (BS). Sedangkan amputasi ekstremitas bawah dilakukan pada atas lutut, bawah lutut, dan syme.
Lima tingkatan amputasi yang sering digunkan pada ekstremitas bawah menurut Doenges (2000) adalah telapak dan pergelangan kaki, bawah lutut, disartikulasi dan atas lutut, disartikulasi lutut-panggul, dan hemipelyiktomi, dan amputasi translumbar. Tipe amputasi ada dua yaitu, terbuka (provisional) yang memerlukan teknik aseptik ketat dan revisi lanjut, serta tertutup atau flap.
Jenis Amputasi yang dikenal adalah :
1.      Amputasi terbuka
Dilakukan untuk infeksi berat, yang meliputi pemotongan tulang dan jaringan otot.
2.      Amputasi tertutup
Menutup luka dengan flap kulit yang dibuat dengan memotong tulang kira-kira 2 inci lebih pendek dari pada kulit dan otot.
Berdasarkan pelaksanaan Amputasi, dibedakan menjadi :
1.       Amputasi selektif/terencana
Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir
2.      Amputasi akibat trauma
Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak di rencanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.
3.      Amputasi darurat
Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.

Teknik amputasi :
1.      Closed Amputation (Definitive Amputation)
Dikenal :
a.       Definitive end-bearing amputation
Digunakan pd level dimana→beban tubuh
bertumpu ujung stump.
b.      Definitive non-end-bearing amputation
Beban tubuh tdk bertumpu pd ujung stump.
Beberapa hal yg perlu diperhatikan
a.       Penggunaan torniket
Sangat membantu (kecuali pd tungkai yg iskemik)
b.      Level Amputasi
Berhub.dgn prostesis yg tersedia(dulu)
c.       Flap dari kulit
Penting dibanding dgn level amputasi
d.      Otot
Otot-otot dipotong kurang lebih 5 cm distal dari level tulang yg diamputasi.
e.       Syaraf
>> ahli bedah →terbaik→setelah dibebaskan dari jar.sekitar, syaraf ditarik ke distal & dipotong.
f.       Pembuluh darah
Dipisahkan→diligasi dua kali.
g.      Tulang
Tonjolan tulang yg tdk dapat tertutup jaringan lunak sekitar harus direseksi.
h.      Penggunaan drain

2.      Open Amputation
a.    Ujung stump amputasi tdk ditutup kulit
b.    Operasi dilakukan > satu kali.

Penanganan post operasi :
a.       Pembalutan yg rigid
b.      Pemasangan prostesis sementara

Amputasi berdasarkan level :
a.    Amputasi interscapulo-thoracic
b.    Disartikulasi sendi bahu
c.    Disartikulasi sendi siku
d.      Amputasi transradial
e.       Amputasi tangan
f.       Amputasi hemipulvectomy (hindquarter)
g.      Amputasi sendi panggul

h.      Amputasi transfemoral (above knee amputation)
Jenis ini tersering nomor 2 yg dilakukan setelah below knee amp. No.1

i.        Amputasi transtibial (below knee amputation)
>> sering dilakukan
j.        Syme’s amputation

k.      Partial Foot amputation
a)      Chopart (midtarsal amputation)
b)      Lisfranc (tarsometatarsal amputation)
c)      Amputasi metatarsal
d)     Disartikulasi metatarsophalangeal




2.2  Etiologi
Penyakit vaskular perifer progresif (sering terjadi sebagai gejala sisa diabetes melitus), gangrene, trauma (cedera remuk, luka bakar), deformitas kongenital, atau tumor ganas. Penyakit vaskular perifer merupakan penyebab tertinggi amputasi ekstremitas bawah (Smeltzer, 2002). Footner (1992) mengemukakan alasan diperlukannya amputasi terjadi pada penyakit vaskular perifer, trauma, neoplasma malignan (misalnya steosarkoma), infeksi (misalnya infeksi akut; gangrene, infeksi kronik; osteomilitis), deformitas, dan paralisis. Secara umum penyebab amputasi menurut Doenges (2000) adalah kecelakaan, penyakit, dan gangguan kongenital.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan penyebab amputasi adalah penyakit vaskular perifer, infeksi, trauma, deformitas, tumor ganas, dan paralisis.

2.3  Patofisiologi
Penyakit pembuluh darah perifer merupakan penyebab terbesar dari amputasi anggota gerak bagian bawah. Biasanya penyebab dari penyakit pembuluh darah perifer adalah hipertensi, diabetes, hiperlipidemia. Penderita neuropati perifer terutama klien dengan diabetes melitus mempunyai resiko untuk amputasi. Pada neuropati perifer biasanya kehilangan sensor untuk merasakan adanya luka dan infeksi. Tidak terawatnya luka dapat infeksi dapat menyebabkan terjadinya gangren dan membutuhkan tindakan amputasi.
Insiden amputasi paling tinggi terjadi pada laki-laki usia muda. Biasanya amputasi di indikasikan karena kecelakaan kendaraan terutama motor, atau kecelakaan penggunaan mesin saat bekerja. Kejadian ini juga dapat terjadi pada orang dewasa namun presentasinya lebih sedikit dibanding dengan kalangan muda. Amputasi di indikasikan bagi klien dengan gangguan aliran darah baik akut maupun kronis. Pada situasi trauma akut, dimana anggota tubuhnya terputus sebagian atau seluruhnya akan mengalami kematian jaringan. Walaupun replantasi jari, bagian tubuh yang kecil, atau seluruh anggota tubuh sukses. Pada proses penyakit kronik,sirkulasi mengalami gangguan sehingga terjadi kebocoran protein pada intersisium sehingga terjadi edema. Edema menambah resiko terjadinya cedera dan penurunan sirkulasi. Ulkus yang ada menjadi berkembang karena terinfeksi yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan yang membuat bakteri mudah berkembangbiak. Infeksi yang terus bertumbuh membahayakan sirkulasi selanjutnya dan akhirnya memicu gangren, dan dibutuhkan tindakan amputasi (LeMone, 2011).
Selain dari data diatas, penyebab atau faktor predisposisi terjadinya amputasi diantaranya ialah terjadinya fraktur multiple organ tubuh yang yang tidak mungkin dapat diperbaiki, kehancuran jaringan kuli yang tidak mungkin diperbaiki, gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat, infeksi yang berat atau berisiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya, ada tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif, deformitas organ (Bararah dan Jauhar, 2013).
Berdasarkan pelaksanaannya amputasi dibedakan menjadi amputasi selektif/terencana diamana amputasi ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penangan yang terus menerus, biasanya dilakukan sebagai salah satu tindakan terakhir, sedangkan amputasi akibat trauma tidak direncanakan. Amputasi darurat merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat, seperti pada trauma multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.
Menurut jenisnya amputasi dibagi menjadi dua macam, yaitu amputasi jenis terbuka dan tertutup. Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan tulang dan otot pada tingkat yang sama sedangkan amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 centimeter dibawah potongan otot dan tulang.
Amputasi dilakukan pada titik paling distal yang masih dapat mencapai penyembuhan dengan baik. Tempat amputasi ditentukan berdasarkan dua faktor peredaran darah pada bagian itu dan kegunaan fungsional (sesuai kebutuhan protesis). Amputasi jari kaki dan sebagian kaki hanya menimbulkan perubahan minor dalam gaya jalan dan keseimbangan. Amputasi syme (memodifikasi amputasi disartikulasi pergelangan kaki) dilakukan paling sering pada trauma kaki ekstensif dan menghasilkan ekstremitas yang bebas nyeri dan kuat dan dapat menahan beban berat badan penuh. Amputasi dibawah lutut lebih disukai dibanding amputasi diatas lutut karena pentingnya sendi lutut dan kebutuhan energi untutk berjalan. Dengan mempertahankan lutut bagi lansia antara ia bisa berjalan dengan alat bantu dan atau bisa duduk di kursi roda. Diartikulasi sendi lutut paling berhasil pada klien muda, aktif yang masih mampu mengembangkan kontrol yang tepat sebanyak mungkin panjangnya, otot dibentuk dan distabilkan, dan disupervisi pinggul dapat dicegah untuk potensi supervise maksimal. Bila dilakukan amputasi disartikulasikan sendi pinggul kebanyakan orang akan tergantung pada kursi roda untuk mobilisasinya.
Amputasi ekstremitas atas dilakukan dengan mempertahankan panjang fungsional maksimal. Protesis segera diukur dengan fungsinya bisa maksimal (Bararah dan Jauhar, 2013). Perdarahan infeksi, dan kerusakan integritas kulit merupakan komplikasi amputasi. Perdarahan dapat terjadi akibat pemotongan pembuluh darah besar dan dapat menjadi massif. Infeksi dapat terjadi pada semua pembedahan, dengan perdaran darah yang buruk atau adanya kontaminasi serta dapat terjadi kerusakan kulit akibat penyembuhan luka yang buruk dan iritasi penggunaan prosthesis (Lukman dan Ningsih, 2009).

2.4  Manifestasi Klinis
a.       Kehilangan anggota gerak (ektremitas atas atau bawah)
b.      Nyeri pada bagian yang diamputasim yang berasal dari neuroma ujung saraf yang dekat dengan permukaan.
c.       Edema yang apabila tidak ditangani menyebabkan hiperplasia varikosa dengan keronitis.
d.      Dermatitis pada tempat tekanan ditemukan kista (epidermal atau aterom)
e.       Busitis (terbentuk bursa tekanan antara penonjolan tulang dan kulit)
f.       Bila kebersihan kulit diabaikan terjadi folikulitis dan furunkulitis.
g.      Sedih dan harga diri rendah (self esteem) dan diikuti proses kehilangan

2.5  Pemeriksaan Penunjang
a.       Foto Rontgen
b.      CT Scan
c.       Angiografi dan pemeriksaan aliran
d.      Ultrasound Doppler, Flowmetri
e.       Tekanan O2 etranskutaneus
f.       Termografi
g.      Pletismografi
h.      LED
i.        Kultur luka
j.        Biopsi
k.      Hitung darah lengkap/diferensial

2.6  Komplikasi
Perdarahan, infeksi, dan kerusakan kulit merupakan komplikasi amputasi. Perdarahan dapat terjadi akibat pemotongan pembuluh darah besar dan dapat menjadi masif. Infeksi dapat terjadi pada semua pembedahan, dengan peredaran darah yang buruk atau adanya kontaminasi serta dapat terjadi kerusakan kulit akibat penyembuhan luka yang buruk dan iritasi penggunaan prosthesis. Menurut Pusdiknakes (1995), komplikasi yang dapat terjadi pada amputasi adalah infeksi, nyeri phantom, (phantom limp-pain), neuroma, dan fleksi kontraktur.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa komplikasi yang dapat terjadi pada amputasi adalah perdarahan, infeksi, nyeri phantom, neuroma, kerusakan kulit, dan fleksi kontraktur.

2.7  Penatalaksanaan
Tujuan utama pembedahan adalah mencapai penyembuhan luka amputasi, menghasilkan sisa tungkai (puntung) yang tidak nyeri tekan dengan kulit yang untuk penggunaan prosthesis. Lansia mungkin mengalami keterlambatan penyembuhan, karena nutrisi yang buruk dan masalah kesehatan lain. Percepatan penyembuhan dapat dilakukan dengan penanganan yang lembut terhadap sisa tungkai, pengontrolan edema sisa tungkai dengan balutan kompres lunak atau rigid, dan menggunakan teknik aseptik dalam perawatan luka untuk menghindari infeksi.
1. Terapi obat / farmakologis
a.       Antibiotik
b.      Analgetik
c.       Antipiretik (bila diperlukan)
2.      Medis
a.       Balutan Rigid Tertutup
Digunakan untuk mendapatkan kompresi yang merata, menyangga jaringan lunak dan mengontrol nyeri, serta mencegah kontraktur. Segera setelah pembedahan balutan gips rigid dipasang dan dilengkapi tempat memasang ekstensi prostesis sementara (pylon), dan kaki buatan. Pasang kaos kaki steril pada sisi steril dan bantalan dipasang pada daerah peka tekanan. Sisa tungkai (puntung) kemudian dibalut dengan gips elastis yang ketika mengeras akan memberikan tekanan yang merata. Gips diganti sekitar 10-14 hari. Bila terjadi peningkatan suhu tubuh, nyeri berat atau gips mulai longgar harus segera diganti.
d.      Balutan Lunak
Balutan lunak dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan  bila diperlukan inspeksi berkala sisa tungkai (puntung) sesuai kebutuhan. Bidai imobilisasi dapat dibalutkan pada balutan. Hematoma puntung dikontrol dengan alat drainase luka untuk meminimalkan infeksi.
e.       Amputasi Bertahap
Amputasi bertahap dilakukan bila ada gangren atau infeksi. Pertama-tama dilakukan amputasi guillotine untuk mengangkat semua jaringan nekrosis dan sepsis. Luka didebridemen dan dibiarkan mongering. Sepsis ditangani dengan antibiotik. Dalam beberapa hari, bila infeksi telah terkontrol dan klien telah stabil, dilakukan amputasi definitive dengan penutupan kulit.
f.       Prostesis
Prostesis sementara kadang diberikan pada hari pertama pascabedah, sehingga latihan segera dapat dimulai. Keuntungan menggunakan prostesis sementara adalah membiasakan klien menggunakan prostesis sedini mungkin. Kadang prostesis darurat baru diberikan setelah satu minggu luka menyembuh tanpa penyulit. Pada amputasi karena penyakit pembuluh darah, prostesis sementara diberikan setelah empat minggu.
Prostesis bertujuan untuk mengganti bagian ekstremitas yang hilang. Artinya defek sistem muskuloskeltal harus diatasi, termasuk defek faal. Pada ekstremitas bawah, tujuan prostesis ini sebagian besar dapat dicapai. Sebaliknya untuk ekstremitas atas, tujuan itu sulit dicapai, bahkan dengan tangan miolektrik canggih yang bekerja atas sinyal miolektrik dari otot biseps dan triseps.

2.8  Faktor yang Mempengaruhi
Klien yang memerlukan amputasi biasanya usia muda dan lansia. Amputasi yang terjadi pada usia muda biasanya akibat trauma ekstremitas berat, sedangkan pada lansia biasanya karena penyakit vaskular perifer. Usia muda dapat melalui proses penyembuhan dengan cepat dan segera berpartisipasi dalam program rehabilitasi. Namun, klien memerlukan banyak dukungan psikologis untuk menerima perubahan mendadak terkait citra diri klien dan menerima stres akibat hospitalisasi, rehabilitasi jangka panjang, dan penyesuaian gaya hidup yang berubah. Klien juga memerlukan waktu untuk mengatasi perasaan kehilangan yang permanen. Reaksi klien sudah diduga dan dapat berupa reaksi marah, depresi, berduka disfungsional, isolasi sosial, dan bermusuhan.
Pada lansia dengan penyakit vaskular perifer sering diiringi dengan masalah kesehatan lain, seperti diabetes mellitus dan asteriosklerosis. Amputasi yang sudah lama dapat menghilangkan klien dari nyeri, disabilitas, dan ketegantungan. Berbeda dengan orang muda, lansia sudah siap mengatasi perasaannya dan siap menerima amputasi. Rehabilitasi psikologik dan fisiologik dimulai sebelum amputasi dilaksanakan. Namun, kemajuan rehabilitasi mungkin terhambat akibat kelainan kardiovaskular, respirasi atau neurologik yang diderita oleh lansia.






















 
















BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1  Pengkajian
Menurut Bararah Da Jauhar (2013), hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan pre dan post amputasi yaitu :
1.      Pre Operatif
Mempersiapkan kondisi fisik dan psikologis klien dalam menghadapi kegiatan operasi. Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang berkaitan dengan kondisi fisik khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi. Pengkajian pada klien dengan pre operatif (Bararah dan Jauhar, 2013)
a.       Pengkajian riwayat kesehatan dahulu dan sekarang
Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru, perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.
b.       Pengkajian fisik
Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat.
c.       Pengkajian psikologis, sosial, spiritual
Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis (respon emosi) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul.
Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkatr persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan penampilan peran dan gangguan identitas. Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif. Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif.
2.      Pengkajian Intra Operatif
Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klien. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi optimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan.
Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan, pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas, pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. Khusus untuk tindakan perawatan luka, perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka, posisi jahitan dan pemasangan drainage. hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa post operatif.
3.      Pengkajian Post Operatif
Pada masa post operatif, perawat harus berusaha untuk mempertahankan tanda-tanda vital, karena pada amputasi khususnya amputasi ekstremitas bawah diatas lutut merupakan tindakan yang mengancam jiwa. yang perlu diperhatikan selain tanda-tanda vital klien adalah, daerah luka, adanya nyeri, dan kondisi yang menimbulkan depresi.
 Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas, mempertahankan oksigenisasi jaringan, memenuhi mkjkebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri. Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah, terlepas atau terlalu ketat. selang drainase benar-benar tertutup. kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah. awal masa postoperatif, perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien. perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien, khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien. berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri panthom limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa ‘tidak sehat akal’ karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya.
a.      Identitas klien / biodata
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b.      Keluhan utama
Keterbatasan aktivitas, gangguan sirkulasi, rasa nyeri dan gangguan sensori.
c.       Riwayat kesehatan sekarang
Kapan timbul masalah, riwayat trauma, penyebab, gejala (tiba-tiba/perlahan), lokasi, obat yang diminum, dan cara penanggulangan.
d.      Riwayat kesehatan masa lalu
Kelainan muskuloskeletal (jatuh, infeksi, trauma, fraktur), cara penanggulangan dan penyakit (diabetes mellitus).
e.       Pemeriksaan Fisik
B1 (breath)            :Hipoksia, takipnea/bradipnea, sianosis, penurunan kapasitas paru
B2 (blood)             :Peningkatan denyut nadi/takikardia, hipotensi ortostastik, penurunan cardiac reserve.
B3 (brain)              :Pusing, kadang juga pingsan
B4 (Blader)           :Pengeluaran urine menurun, ISK
B5 (Bowel)           :Anoreksia, konstipasi
B6 (Bone)                         :Penurunan kekuatan otot, atropi otot, kontraktur sendi, osteoporosis.



f.       Pola kebutuhan dasar
1.      Aktivitas / Istirahat
Gejala  :  Keterbatasan/antisipasi yang dimungkinkan oleh kondisi atau amputasi.
2.      Integritas Ego
Gejala  :  Masalah tentang antisipasi perubahan pola hidup, situasi finansial, reaksi orang lain, perasaan putus asa, tidak berdaya.
Tanda  :  Ansietas, ketakutan, sensitif, marah, menarik diri, keceriaan semu.
3.      Seksualitas
Gejala  :  Masalah tentang keintiman hubungan dengan pasangan.
4.      Interaksi Sosial
Gejala  :  Masalah sehubungan dengan penyakit.
                 Masalah tentang peran-fungsi, reaksi orang lain, gangguan konsep diri.
g.      Pemeriksaan Diagnostik
1.      Foto Rontgen : mengidentifikasi abnormalitas tulang.
2.      CT Scan : mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomyelitis, pembentukan hematoma.
3.      Angiografi dan pemeriksaan aliran : mengevaluasi perubahan sirkulasi / perfusi jaringan dan membantu memperkirakan potensi penyembuhan jaringan setelah amputasi.
4.      Ultrasound Doppler, Flowmetri Doppler : dilakukan untuk mengkaji dan mengukur aliran darah.
5.      Tekanan O2 transkutaneus : memberi peta pada area perfusi paling besar dan paling kecil dalam keterlibatan ekstremitas.
6.      Termografi : mengukur perbedaan suhu pada tingkat iskemik di dua sisi dari jaringan kutaneus ke tengah tulang. Perbedaan yang rendah antara dua pembacaan, makin besar untuk sembuh.
7.      Pletismografi : mengukur TD segmental bawah terhadap ekstremitas bawah mengevaluasi aliran darah arterial.
8.      LED : peningkatan mengidentifikasikan respons inflamasi.
9.      Kultur luka : mengidentifikasi adanya infeksi dan organisme penyebab.
10.     Biopsi :  mengonfirmasi diagnosis massa benigna/maligna.
11.     Hitung darah lengkap/diferensial : peninggian dan pergeseran ke kiri diduga proses infeksi
3.2  Diagnosa Keperawatan
Enam diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh Doenges (2002), yaitu: 1)gangguan harga diri/citra diri, penampilan peran berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh, 2)nyeri (akut) berhubungan dengan cedera fisik/jaringan dan trauma saraf, 3)risiko tinggi perubahan perfusi jaringan perifer, 4)risiso tinggi infeksi, 5)kerusakan mobilitas fisik, dan 6)kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, kurang terpajan informasi, kesulitan mengingat.
Sedangkan Smeltzer (2002), merumuskan tujuh diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada klien amputasi, yaitu: 1)nyeri berhubungan dengan amputasi, 2)perubahan sensori/persepsi: nyeri tungkai phantom berhubungan dengan amputasi, 3)kerusakan integritas kulit berhubungan dengan amputasi bedah, 4)gangguan citra tubuh berhubungan dengan amputasi bagian tubuh, 5)berduka disfungsional berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh, 6)kurang perawatan diri: makan, mandi, berpakaian, berdandan berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh, dan 7)gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan ekstremitas.
1.      Diagnosa pre operasi
a.       Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan, krisis situasi.
b.      Nyeri (akut) berhubungan dengan cedera fisik/jaringan trauma saraf.
c.        Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan/kerusakan, adanya cedera/manipulasi intraoperasi, faktor mekanikal(alat fiksasi).
d.      Berduka antisipasi (anticipated grieving) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi.
e.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan salah satu interprestasi informasi, kurang terpajan informasi, dan kesulitan mengingat.

2.      Diagnosa keperawatan yang muncul pada post operasi adalah :
a.       Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan cedera fisik/jaringan dan trauma saraf
b.      Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan perubahan citra tubuh sekunder terhadap amputasi
c.       Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan aliran darah vena/arterial; edema jaringan; pembentukan hematoma
d.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan ekstremitas
e.       Resiko tinggi infeksi  berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer (kulit robek, jaringan traumatik)
f.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis , dan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, kurang terpajan informasi, kesulitan mengingat.        

3.3  Rencana Asuhan Keperawatan
a.       Pre operasi
1.      Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan, krisis situasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, kecemasan pada klien dapat berkurang.
Kriteria Hasil :
a.       Tampak rileks
b.      Melaporkan ansietas menurun sampai dengan dapat ditangani
c.       Mengakui dan mendiskusikan rasa takut
d.      Menunjukkan rentang respon yang tepat
Intervensi
Rasional
a.   Memberikan bantuan secara fisik dan psikologis, memberikan dukungan moral.
b.  
Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan meningkatkan rasa saling percaya
Menerangkan prosedur dengan sebaik-baiknya

meningkatkan/memperbaiki pengetahuann/persepsi klien
Mengatur waktu kusus dengan klien untuk mendiskusikan tentang kecemasan klien.
meningkatkan rasa aman dan memungkinkan klien melakukan
Dorong klien menggunakan manajemen stress seperti nafas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi
membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatan relaksasi, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.


2.      Nyeri (akut) berhubungan dengan cedera fisik/jaringan trauma saraf.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
a.       Menyatakan nyeri hilang
b.      Tampak rileks
c.       Mampu tidur / beristirahat dengan tepat

Intervensi
Rasional
Kaji nyeri sesuai PQRST
Membantu dalam evaluasi kebutuhan dan keefektifan            intervensi.
Ajarkan dan anjurkan teknik relaksasi distraksi
Untuk mengurangi nyeri secara mandiri.

Observasi keadaan luka
Untuk mengetahui tingkat luka yang menyebabkan nyeri.
 Kolaborasi dalam pemberian analgetik.
Analgetik dapat menghambat stimulus nyeri pada pusat reseptor nyeri sehingga dapat mengurangi nyeri
Observasi keluhan nyeri local/kemajuan yang tak hilang dengan analgetik.
Dapat mengindikasikan adanya sindrom kompartemen khususnya cedera traumatik.

3.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan/kerusakan, adanya cedera/manipulasi intraoperasi, faktor mekanikal(alat fiksasi).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, kerusakan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
a.       Menyatakan ketidaknyamanan hilang
b.      Mencapai penyembuhan luka sesuai dengan waktu.


Intervensi
Rasional
a.  Observasi tanda-tanda vital .
c.  
Untuk mengetahui adanya indikasi nyeri atau infeksi.
b.
Kaji /catat ukuran, warna , kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
Memberikan informasi dasar tentang keadaan luka
Perhatikan peningkatan atau berlanjutnya nyeri.
Peningkatan nyeri dapat mengindikasikan infeksi
Berikan perawatan luka local.
Menurunkan risiko infeksi
Kolaborasi dalam pelaksanaan tindakan amputasi.
Tindakan kolaboratif medis terakhir bila therapy obat dan rekonstruksi bedah ortopedik tidak berhasil.

4.      Berduka antisipasi (anticipated grieving) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, klien dapat mendemonstrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri
Kriteria Hasil :
a.       Mengungkapkan perasaan bebas
b.      Tidak takut
c.       Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yang baru.

Intervensi
Rasional
a.   Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan tentang dampak pembedahan terhadap gaya hidup.

Mengurangi rasa tertekan pada diri klien, menghindarkan  depresi, meningkatkan dukungan mental
Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan amputasi.
Membantu klien menggapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.
Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan  atau kondisi yang lebih parah.  
Meningkatkan dukungan mental.

Fasilitasi klien bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi.
Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri.


5.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan salah satu interprestasi informasi, kurang terpajan informasi, dan kesulitan mengingat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam, klien dapat memahami tentang kondisi penyakitnya dan pengobatannya.
Kriteria Hasil :
a.       Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan
b.      Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam    program pengobatan

Intervensi
Rasional
Kaji ulang proses penyakit/prosedur bedah dan harapan klien yang akan datang
Memberikan dasar pengetahuan di mana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
Tunjukkan cara perawatan prostese, tekankan pentingnya pemeliharaan secara rutin
dorong pemasangan yang tepat/pas, mengurangi resiko           komplikasi dan memperpanjang pengguan prostese
Berikan penjelasan mengenai kondisi, prognosis, dan pengobatan
Memberikan pengertian dan pemahaman keepada klien.




b.      Intervensi Keperawatan post Operasi
1.      Nyeri (akut) berhubungan dengan cedera fisik/jaringan dan trauma saraf.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri pasien berukurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
a.       Skala nyeri 0-1
b.      Wajah rileks
c.       TTV normal
Intervensi
Rasional
Mandiri
Catat lokasi, frekuensi dan intensitas nyeri (skala 0-10). Amati perubahan karakteristik nyeri, misal kebas, kesemutan .

Membantu dalam evaluasi kebutuhan dan keefektifan intervensi. Perubahan dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi, misal nekrosis/infeksi.
Tinggikan bagian yang sakit dengan meninggikan tenpat tidur atau menggunakan bantal/guling sebagai penyangga.
Mengurangi terbentuknya edema dengan peningkatan aliran balik vena, mengurangi kelelahan otot dan tekanan pada kulit / jaringan.
Tingkatkan Kenyamanan klien (misal rubah posisi sesering mungkin, pijatan punggung). Dorong penggunaan teknik manajemen stress (misal napas dalam, visualisasi).
Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping, dan dapat menurunkan terjadinya nyeri.
Berikan pijatan lembut pada sisi tungkai (puntung) sesuai toleransi bila balutan telah dilepas.
Meningkatkan sirkulasi, mengurangi ketegangan otot.
Amati keluhan nyeri yang tidak hilang dengan analgesic.
Dapat mengindikasikan sindrom kompartemen, khususnya cedera traumatic.

Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi, misal analgesic, relaksasi otot.

Mengurangi nyeri/spasme otot.
Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
Mungkin diperlukan untuk meningkatkan relaksasi otot, sirkulasi, dan membantu perbaikan edema.

2.      Gangguan konsep diri (body image) , penampilan peran berhubungan dengan perubahan citra tubuh.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien dapat mendemonstrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru.
Kriteria hasil :
a.       Menyatakan penerimaan terhadap situasi diri
b.      mengenali dan menyatu dengan perubahan dalam konsep diri yang akurat tanpa harga diri negatif
c.       membuat rencana untuk melanjutkan gaya hidup
Intervensi
Rasional
Mandiri
Kaji/pertimbankan persiapan klien dan pandangannya terhadap amputasi.

Klien memandang amputasi sebagai rekonstruksi hidup akan menerima diri yang baru dengan cepat. Klien dengan amputasi traumatik mempertimbangkan amputasi sebagai kegagalan dan berada pada resiko tinggi gangguan konsep diri.
Dorong klien mengekspresikan ketakutan, perasaan negative, dan kehilangan bagian tubuh.
Ekspresi perasaan membantu klien mulai menerima kenyataan dan realitas hidup tanpa tungkai.
Beri penguatan informasi pascaoperasi termasuk tipe/lokasi amputasi, tipe protese, harapan setelah operasi, tindakan setelah operasi termasuk control nyeri dan rehabilitasi.
Memberikan kesempatan untuk menanyakan dan mengasimilasi informasi dan mulai menerima perubahan gambaran diri dan fungsi, yang dapat membantu penyembuhan.
Kaji sistem pendukung (support system) dukungan orang lain yang ada untuk klien.
Dukungan yang cukup dari orang yang terdekat dan teman dapat membantu proses rehabilitasi.
Diskusikan persepsi klien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana klien melihat dirinya dalam pola/peran fingsi yang biasanya.
Membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya dan membantu pemecahan masalah. Sebagai contoh takut kehilangan kemandirian, kemampuan bekerja, dan sebagainya.
Dorong partisipasi klien dalam aktivitas sehari-hari. Berikan kesempatan untuk memandang/merawat sisa tungkai (punting), dan menunjukkan tanda positif penyembuhan.
Meningkatkan kemandirian dan perasaan harga diri. Meskipun penyatuan sisa tungkai dalam gambaran diri dapat memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Melihat sisa tungkai dan mendengar pernyataan positif daoat membantu klien dalam penerimaan.
Dorong/berikan kunjungan oleh orang yang telah diamputasi, khususnya yang telah berhasil dalam rehabilitasi.
Teman senasib yang telah mengalami hal yang sama bertindak sebagai model peran dan dapat memberikan keabsahan pernyataan, juga harapan untuk pemulihan dan masa depan normal.
Berikan lingkungan yang terbuka pada klien untuk mendiskusikan masalah tentang seksualitas.
Meningkatkan pernyataan keyakinan,nilai tentang subjek positif dan mengidentifikasi kesalahan konsep/mitos yang dapat memengaruhi penilaian situasi.
Perhatikan prilaku menarik diri, membicarakan hal negative dari diri, menyangkal atau terus menerus melihat perubahan nyata (amputasi).



Mengidentifikasi tahap berduka/kebutuhan untuk intervensi.
Kolaborasi
Diskusikan tersedianya berbagai sumber, misal konseling psikiatrik/seksual, terapi kejujuran.

Membantu adaptasi lanjut yang optimal dan rehabilitasi.

3.      Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan edema jaringan, hematoma, penurunan aliran darah vena, arteri.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat  mempertahankan  perfusi jaringan yang adekuat.
Kriteria hasil :
a.       Nadi perifer teraba
b.      Kulit hangat/kering
c.       Penyembuhan luka tepat waktu
d.      TTV normal (RR 16-24x/menit), TD 110/60 mmHg – 130/90 mmHg, suhu: 36,5 0C – 37,50C, nadi 60-100x/menit )
Intervensi
Rasional
Mandiri
Pantau tanda vital, palpasi nadi perifer, perhatikan kekuatan dan kesamaan.

Indikator umum status sirkulasi dan keadaan perfusi.
Lakukan pengkajian neurovaskuler periodic, misal sansasi, gerakan, nadi, warna, kilit dan suhu.
Edema jaringan pascaoperasi, pembentukan hematoma atau balutan terlalu ketat mengganggu sirkulasi pada sisa tungkai (puntung), yang dapat mengakibatkan nekrosis jaringan.
Inspeksi balutan/drainase, perhatikan jumlah, dan karakterisitik balutan.
Kehilangan darah terus menerus mengindikasikan kebutuhan untuk penggantian cairan evaluasi gangguan koagulasi atau intervensi bedah untuk ligasi pembedahan.
Berikan tekanan langsung pada sisi perdarahan, bila terjadi perdarahan hubungi dokter segera.
Tekanan langsung pada perdarahan dapat diteruskan dengan penggunaan balutan serat pengaman, balutan elastis bila perdarahan terkontrol.
Evaluasi tungkai bawah yang tidak dioperasi dari adanya inflamasi, tanda human positif.
Peningkatan insiden pembentukan thrombus pada klien penyakit vaskuler perifer sebelumnya/perubahan diabetic.
Kolaborasi
Berikan cairan IV/produk darah sesuai order.

Mempertahankan volume sirkulasi untuk memaksimalkan perfusi jaringan.
Gubakan kaos kaki antiembolitik untuk kaki yang tidak dioperasi.
Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan thrombus tanpa peningkatan risiko perdarahan pascaoperasi / pembentukan hematoma.
Pantau pemeriksaan laboratorium:
-          Hb.Ht.
                   

-          PT/APTT
Hasil pemeriksaan laboratorium berguna :
-          Indicator hipovolemia/dehidrasi yang dapat mengganggu perfusi jaringan.
-          Mengevaluasi kebutuhan / efektifitas terapi antikoagulan dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi.

4.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan anggota/bagian tubuh.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, peningkatan mobilitas fisik klien pada tingkat yang paling mungkin.
Kriteria Hasil :
a.       Tidak adanya kontraktur
b.      Menunjukkan peningkatan kekuatan sendi dan otot


Intervensi
Rasional
Mandiri
Berikan perawatan puntung secara teratur, misal inspeksi area, bersihkan dan keringkan dan tutup kembali puntung dengan balutan elastis.

Memberikan kesempatan untuk mengevaluasi penyembuhan dan komplikasi. Penutupan puntung mengontrol edema dan membantu pembentukan puntung.
Segera tinggikan gips, bila gips berubah posisi.
Edema terjadi dengan cepat dan rehabilitasi dapat terhambat.
Bantu latihan rentang gerak, khususnya area yang sakit dan mulai sedini mungkin pascaoperasi.
Mencegah kontraktur, perubahan bentuk yang dapat terjadi dengan cepat dan dapat memperlambat penggunaan prostese.
Dorong latihan aktif / isometric untuk paha atas dan lengan.
Meningkatkan kekuatan otot untuk membantu pemindahan/ambulasi.
Berikan gulungan pada paha sesuai indikasi.
Mencegah rotasi eksternal puntung tungkai.
Anjurkan klien untuk berbaring posisi tengkurap sesuai toleransi sedikitnya dua kali sehari dengan bantal di bawah abdomen dan puntung ekstremitas.
Menguatkan otot ekstensor dan mencegah kontraktur fleksi pada panggul.
Waspadai tekanan bantal di bawah ekstremitas terhadap puntung untuk menggantung secara dependen di samping tempat tidur atau kursi.
Penggunaan bantal dapat menyebabkan kontraktur fleksi permanen pada panggul dan posisi dependen puntung mengganggu aliran vena dan dapat meningkatkan pembentukan edema.
Tunjukkan/bantu ambulasi dan penggunaan alat mobilitas, contohnya kruk atau walker.
Membantu perawatan diri dan kemandirian klien. Teknik pemindahan/ambulasi yang dapat mencegah cedera abrasi.
Bantu dengan ambulasi.
Menurunkan risiko sedera. Ambulasi setelah amputasi tungkai bawah bergantung pada waktu pemasangan protese.
Bantu kien melanjutkan latihan otot preoperasi sesuai kemampuan, misal berdiri pada telapak, berdiri pada ibu jari.
Membantu meningkatkan perbaikan rasa keseimbangan dan kekuatan kompensasi tubuh.
Kolaborasi
Rujuk ke tim rehabilitasi, misal ahli terapi fisik/fisioterapi.

Memberikan bentuk latihan/program aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan kekuatan individu serta mengidentifikasi mobilitas fungsional, membantu meningkatkan kemandirian.
Berikan tempat tidur busa.
Menurunkan tekanan pada kulit/jaringan yang dapat mengganggu sirkulasi, risiko iskemia/kerusakan jaringan.

5.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer (kulit robek, jaringan traumatik)
Tujuan       : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien terhindar dari resiko terkena infeksi.
Kriteria hasil :
a.       TTV normal (RR 16-24x/menit), TD 110/60 mmHg – 130/90 mmHg, suhu: 36,5 0C – 37,50C, nadi 60-100x/menit )
b.      Leukosit dalam batas normal (4000-10.000 sel/ul darah),
Tindakan
Rasional
Mandiri
Pertahankan teknik antiseptic bila mengganti balutan/merawat luka

Meminimal kesempatan introduksi bakteri
Inspeksi balutan dan luka, perhatikan karakteristik drainase
Deteksi dini terjadinya infeksi memberikan kesempatan untuk intervensi tepat waktu dan mencegah komplikasi lebih serius (missal ostemielitis)
Pertahankan potensi dan pengosongan alat drainase secara rutin
Hemovac, drain jakcson-partt membantu membuang drainase,meningkatkan penyembuhan luka dan menghurangi resiko infeksi
Tutup balutan dangan plastik bila klien menggunakan pispot atau bila terjadi inkontinensia
Mencegah kontaminasi pada amputasi tungkai
Buka puntung terhadap udara, pencucian sabun ringan dan air setelah pembalutan setelah indikasi
Mempertahankan kebersihan, meminimalkan kontaminasi kulitdan meningkatkan pembuluh kulit yang lunak / kulit rapuh
Awasi tanda vital
Peningkatan suhu dan takikardi dapat menunjukan terjadinya sepsis
Kolaborasi
Kultur luka/drainase dengan tepat

Mengidentifikasi adanya infeksi / orgasme khusus
Berikan antibiotic sesuai dengan indikasi
Antibiotic spectrum luas dapat digunakan secara profilaksis atau terapi antibiotic mungkin disesuaikan terhadap organisme penyebab

6.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis , dan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, kurang terpajan informasi, kesulitan mengingat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, pasien dapat mengetahui cara merawat luka setelah amputasi.
Kriteria hasil :
a.       Pasien mengerti dan paham mengenai kondisinya.
b.      Pasien dapat merawat luka (puntung) secara mandiri



Intervensi
Rasional
Kaji ulang proses penyakit/prosedur bedah dan harapan klien yang akan dating
Memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
Anjurkan perawatan balutan / luka inspeksi putung menggunakan cermin untuk melihat semua area pijat kulit dan tutup puntung dengan cepat
Meningkatkan perawatan diri , membantu penyembuhan dan pemasangan protese serta mengurangi resiko komplikasi
Masase puntung setelah balutan dilepas dan garis hitam sembuh
Melembutkan jaringan parut dan mencegah perlengketan pada tulang mengurangi nyeri tekan dan merangsang sirkulasi
Hindari penggunaan losion/bedak
Meski dalam jumlah kecil mungkin pemberian lotion diindikasikan bila kulit kering, krim pelembut kulit dapat menyebabkan laserasi bila protese dipakai. Bedak dapat mengeringkan dan dapat mengakibatkan resiko iritasi kulit
Gunakan kaus kaki yang pas bersih tidak berkerut pada tungkai
Puntung dapat terus mengisut/atropi selama atau sampai 2 tahun, dan kaos kaki yang tidak pas kotor dapat menyebabkan iritasi kulit
Gunakan T-shirt katun bersih untuk protese tungkai atas
Mengabsorbsi keringat , mencegah iritasi kulit dari peningkat
Tunjukan cara perawatan protse , tekankan pentingnya pemeliharaan secara rutin
Dorong pemasangan yang tepat / pas, mengurangi resiko komplikasi dan memperpanjang penggunaan protese
Dorong kesinambungan program latihan pasca oprasi
Meningkatkan sirkulasi/penyembuhan dan fungsi bagian yang sakit, membantu adaptasi terhadap alat protese
Identifikasi teknik untuk mengatasi nyeri phantom latihan relaksasi , dan obata yang mungkin digunakan
Mengurangi ketegangan dengan otot dan meningkatkan control situasi dan kemampuan koping
Tekankan pentingnya diet seimbang dan pemasukan cairan yang adekuat
Memenuhi kebutuhan nutrient untuk regernasi jaringan, membantu pertahankan volume sirkulasi, dan oksigenasi jaringan.
Anjurkann klien untuk berhenti merokok
Merokok berpotensi fase kontriksi perifer gangguan sirkulasi dan oksigenasi jaringan
Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evakuasi medic, missal edema, eritema, nyeri phantom menetap
Tindakan yang cepat mencegah komplikasi serius dan atau kehilangan fungsi. Missal nyeri phantom tungkainkronis indikasi neuromadan memerlukan reseksi pembedahan.
Identifikasi dukungan masyarakat dan rehabilitasi, missal ortotiprotesis bersertifikat, kelompok amputasi, pelayanan perawatan rumah sesuai kebutuhan.
Membantu pemindahan ke rumah, mendukung kemandirian, dan meningkatkan koping


3.4  Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Midar H, dkk, 1989).
A.    Evaluasi pre operasi
Kriteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien :
a.       Mampu menerima keadaan sehingga tidak terjadi kecemasan.
b.      Mampu mengurangi rasa nyeri.
c.       Mampu mencegah kerusakan integritas kulit.
d.      Mampu mendemonstrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri.
e.       Mampu memahami tentang kondisi penyakitnya dan pengobatannya.
B.     Evaluasi post Operasi
Kriteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien :
a.       Mampu mengurangi terhadap rasa nyeri yang timbul.
b.      Mampu mendemonstrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru dan mampu menjalankan aktivitas dengan  gaya hidup yang baru.
c.       Mampu mempertahankan  perfusi jaringan yang adekuat.
d.      Mampu meningkatkan mobilitas fisik klien pada tingkat yang paling mungkin.
e.       Mampu mencegah dari resiko terkena infeksi.
f.       Mampu memahami dan  mengetahui cara merawat luka setelah amputasi.


.