Selasa, 16 Juni 2015

Osteomielitis di dalam Keperawatan/ Osteomielitis in Nursing Care Plan



 Source/ Sumber:


1) Doenges M.E., Moorhouse M.F., dan Geissler A.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
2) Lukman dan Nurna Ningsih. 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.
3) Mansjoer, Arif, Suprohaita, Setiowulan, Wiwiek, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapitus.
4) Muttaqin, Arif. 2011. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.

5) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)

6) Suratun, Heryati, Santa Manurung, dkk. 2008. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.



A.  Konsep Dasar
1.    Definisi
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan bila dibandingkan degan infeksi jaringan lunak, karena terbatasnya asupan darah, respon jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (Smeltzer, 2002). Mengutip pendapat Reeves (2001), osteomielitis adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan atau korteks tulang, dapat berupa eksogenus (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenus (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Sementara menurut Noer S (1996), osteomilitis adalah infeksi pada tulang yang biasanya menyerang menyerang metafisis tulang panjang dan banyak terdapat pada anak-anak.
Berdasarkan pendapat dia atas dapat disimpulkan bahwa osteomielitis adalah infeksi tulang yang mencakup sumsum dan atau korteks tulang yang terjadi secara eksogen dan hematogen, akut atau kronis, dan biasanya menyerang metafisis tulang panjang.

2.    Etiologi
Infeksi ini dapat disebabkan oleh penyebaran hematogen, dari focus infeksi di tempat lain (missal tonsil yang terinfeksi, gigi terinfeksi, infeksi saluran pernapasan atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi di tempat trauma yang terdapat resistensi rendah. Infeksi dapat juga dapat berhubungan dengan infeksi jaringan lunak, misal ulkus dekubitus atau ulkus vaskuler, atau kontaminasi langsung pada tulang (misal fraktur terbuka, luka tembak, dan pembedahan tulang).
Staphylococcus merupakan penyebab 70%-80% infeksi tulang. Organism lain meliputi Proteus, Pseudomonas, dan Escherichia coli. Pada anak-anak infeksi tulang sering kali timbul sebagai komplikasi dari infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga (otitis media) dan kulit (impetigo). Bakterinya Staphylococcus aureus, Streptococcus, Haemophylus influenza) berpindah melalui aliran darah metuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid. Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan , maka tempat peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan.
Mikroorganisme yang menginfeksi tulang akan membentuk koloni pada tulang perivaskular, menimbulkan edema, infiltrasi seluler, dan akumulasi produk-produk inflamasi yang akan merusak trabekula tulang dan hilangnya matriks dan mineral tulang.
Tulang, yang biasanya terlindung dengan baik dari infeksi, bisa mengalami infeksi melalui 3 cara:
a.    Aliran darah
1)   Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang.
2)   Infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan lengan (pada anak-anak) dan di tulang belakang (pada dewasa).
3)   Orang yang menjalani dialisa ginjal dan penyalahguna obat suntik ilegal, rentan terhadap infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral).
4)   Infeksi juga bisa terjadi jika sepotong logam telah ditempelkan pada tulang, seperti yang terjadi pada perbaikan panggul atau patah tulang lainnya.
5)   Bakteri yang menyebabkan tuberkulosis juga bisa menginfeksi tulang belakang (penyakit Pott).
b.    Penyebaran langsung
1)   Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka, selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus tulang.
2)   Infeksi ada sendi buatan, biasanya didapat selama pembedahan dan bisa menyebar ke tulang di dekatnya.
c.    Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya.
1)   Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis).
2)  



Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa menyebar ke tulang tengkorak.

3.    Klasifikasi
Klasifikasi osteomielitis dibagi menjadi dua macam, yaitu osteomielitis primer dan osteomielitis sekunder. Osteomielitis primer, penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari fokus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. Osteomielitis sekunder (osteomielitis perkontinuitatum), terjadi akibat peyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur, dan sebagainya.
Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:
a.     Osteomielitis akut
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam darah. (osteomielitis hematogen) Osteomielitis akut terbagi menjadi 2, yaitu:
1)   Osteomielitis hematogen
Merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis hematogen akut biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai perkembangan klinis dan onset yang lambat.
2)   Osteomielitis direk
Disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri yang menyebabkan oleh trauma, yang menyebar dari focus infeksi atau sepsis setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih terlokasasi dan melibatkan banyak jenis organisme.
b.    Osteomielitis sub-akut
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.
c.    Osteomielitis kronis
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis sub-akut dan kronis biasanya terjadi pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena ada luka atau trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya osteomielitis yang terjadi pada tulang yang fraktur.
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering:
a.    Staphylococcus (orang dewasa)
b.    Streplococcus (anak-anak)
c.    Pneumococcus dan Gonococcus
Berdasarkan lokasi tulang yang terkena osteomielitis terjadi pada:
a.    Tengkorak
Biasanya osteomielitis pada tulang tengkorak terjadi sebagai akibat perluasan infeksi di kulit kepala atau sinusitis frontalis. Proses destruksi bisa setempat atau difus. Reaksi periosteal biasanya tidak ada atau sedikit sekali. Di bawah ini adalah gambaran CT scan kepala pada pasien dengan osteomielitis tuberculosis.
b.    Mandibula
Biasanya terjadi akibat komplikasi fraktur, abses gigi, atau ekstraksi gigi. Namun, infeksi osteomielitis juga dapat menyebabkan fraktur pada mulut. Infeksi terjadi melalui kanal pulpa merupakan yang paling sering dan diikuti hygiene oral yang buruk dan kerusakan gigi.



c.    Pelvis
Osteomielitis pada tulang pelvis paling sering terjadi pada bagian sayap tulang ilium dan dapat meluas ke sendi sakroiliaka (jarang terjadi). Pada foto terlihat gambaran destruksi tulang yang luas, bentuk tak teratur, biasanya dengan sekuester yang multiple. Sering terlihat sklerosis pada tepi lesi. Secara klinis sering disertai abses dan fistula.



Bedanya dengan tuberculosis, ialah destruksi berlangsung lebih cepat, dan pada tuberculosis abses sering mengalami kalsifikasi. Dalam diagnosis diferensial perlu dipikirkan kemungkinan keganasan

d.  



Vertebrae
Vertebrae adalah tempat yang paling umum pada orang dewasa terjadi osteomielitis seara hematogen. Organism mencapai badan vertebrae yang memiliki perfusi yang baik melalui arteri tulang belakang dan menyebar dengan cepat dari ujung pelat ke ruang diskus dan kemudian ke badan vertebrae. Sumber bakteremia termasuk dari saluran kemih (terutama di kalangan pria di atas usia 50 tahun), abses gigi, infeksi jaringan lunak, dan suntikan IV yang terkontaminasi, tapi sumber bakteremia tersebut tidak tampak pada lebih dari setengah pasien. Banyak pasien memiliki riwayat penyakit sendi degenerative yang melibatkan tulang belakang, dan beberapa melaporkan kejadiannya trauma yang mendahului onset dari infeksi. Luka tembus dan prosedur pembedahan yang melibatkan tulang belakang dapat menyebabkan osteomielitis vertebral nonhematogen atau infeksi local pada diskus vertebrae.

4.    Patofisiologi
Osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi pada tiga bulan pertama (akut fulminan-satadium satu) dan sering berhubungan denga penumpukan hematoma atau infeksi superficial. Infeksi awitan lambat terjadi antara 4-24 bulan setelah pembedahan (stadium dua), dan osteomielitis yang terjadi dalam waktu lama terjadi 24 bulan atau lebih setelah pembedahan (stadium tiga).
Respons awal dari infeksi adalah inflamasi, peningkatan vaskularisasi, dan edema. Dua atau tiga hari setelah pembedahan, dapat terjadi thrombosis pada pembuluh darah tersebut, yang mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang yang berhubungan dengan peningkatan tekanan jaringan dan medulla. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi sekitar. Bila proses infeksi dapat dikontrol lebih awal, pembentukan abses tulang dapat dicegah.
Biasanya abses dapat keluar secara spontan, namun lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya membentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Selain itu rongga juga tidak dapat mengempis dan sembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak tetapi yang terjadi adalah pertumbuhan tulang baru (involukrum) yang mengelilingi sequestrum. Jadi, meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang ada tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup klien, dan ini dinamakan osteomielitis tipe kronik.


Faktor penyebab atau faktor risiko


Setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi:
Akut fulminan (Stadium I), terjadi dalam 3 bulan
Awitan Lambat (Stadium II), terjadi dalam 4-24 bulan
Awitan lama (Stadium III), terjadi dalam 2 tahun, penyebaran hematogen


Respons infeksi, inflamasi, peningkatan vaskularisasi dan edema, 2-4


 


Thrombosis pada pembuluh darah
 


Peningkatan tekanan jaringan dan medulla
 


Iskemia dengan nekrosis tulang


Infeksi berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum


Terbentuk abses tulang


Menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya


5.    Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis tergantung pada etiologi dan lokasi tulang yang cedera, dapat berkembang secara progresif atau cepat. Infeksi hematogen akut, sering terjadi dengan manifestasi klinis septicemia yaitu menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat, dan malaise umum, sedangkan gejala lokal yang terjadi berupa rasa nyeri, nyeri tekan, bengkak, dan kesulitan menggerakkan anggota tubuh yang sakit (Smeltzer, 2002 dan Sjamsuhidayat, 1997). Klien menggambarkan nyeri konstan berdenyut, semakin nyeri bila digerakkan, dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Osteomielitis yang terjadi akibat penyebaran infeksi di sekitarnya atau kontaminasi, tidak akan ada gejala septicemia. Daerah terinfeksi membengkak, teraba hangat, rasa nyeri, dan nyeri tekan. Sementara osteomielitis kronik akan ditandai dengan pus yang mengalir keluar, periode nyeri berulang, inflasi, dan pembengkakan.
Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, menyebabkan demam dan kadang-kadang di kemudian hari, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri.
Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan nyeri punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat, pemanasan atau minum obat pereda nyeri. Demam, yang merupakan tanda suatu infeksi, sering tidak terjadi.
Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri dan pembengkakan di daerah diatas tulang, dan abses bisa terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini tidak menyebabkan demam, dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang normal. Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak, biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut. Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi osteomielitis menahun (osteomielitis kronis).
Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk dari tulang menuju kulit.
Jika infeksi hematogen, pasien mengalami demam tinggi, pasien menggigil, denyut nadi cepat, dan malaise umum. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak. Bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak, dan sangat nyeri tekan. Jika infeksi terjadi akibat penyebaran infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak ada gejala septicemia. Gejalanya, yaitu daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri, dan nyeri tekan.
6.    Pemeriksaan Penunjang
a.    Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 gr/dl disertai peningkatan laju endap darah.
b.    Pemeriksaaan titer antibodi-antistaphylococcus.
Pemeriksaan kultur darah untuk menetukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas.
c.    Pemeriksaan feses
Pemeriksaan kultur feses dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri Salmonella.
d.   Pemeriksaan biopsy tulang
e.    Pemeriksaan ultrasound.
Pemeriksaan ini untuk memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
f.     Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan foto polos dalam 10 hari pertama biasanya tidak ditemukan kelainan radiologic, setelah dua minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difuse.
7.    Penatalaksanaan
Prinsip pentalaksanaan osteomielitis, yaitu istirahat dan pemberian analgetik untuk menghilangkan nyeri, pemberian cairan intravena dan kalau perlu transfusi darah, istirahat lokal dengan pemasangan bidai atau traksi, pemberian antibiotika secepatnya sesuai penyebab, dan drainase bedah.
Tujuan terapi adalah untuk mengontrol dan menghentikan proses infeksi, manajemen nyeri, dan pencegahan komplikasi imobilitas. Tulang yang sakit harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Lakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran darah. Perawat harus terus mendorong klien untuk melakukan ROM, latihan isotonic dan isometric untuk menjaga kekuatan otot dan fleksibilitas sendi.  Juga perlu diajarkan teknik relaksasi, untuk mengurangi nyeri dan  meningkatkan kenyamanan klien.
Pemberian antibiotik sesuai dosis, waktu, dan order sangat penting untuk mencapai kadar antibiotik dalam darah yang adekuat. Antibiotik parenteral harus diberikan sesuai dosis yaitu selama enam minggu (Reeves, 2001). Sebelum pemberian antibiotik, sebaiknya dilakukan kultur darah dan kultur abses untuk mengetahui organisme penyebab. Bila infeksi tampak terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan diberikan selama tiga bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotik oral, jangan diminum bersama makanan.
Squestrektomi, dengan pengangkatan involukrum secukupnya dapat dilakukan. Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi proses penyembuhan yang permanen. Luka ditutup rapat atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat juga dipasang drainase untuk mengontrol hematoma dan mengangkat debris. Irigasi larutan salin normal dapat diberikan



selama 7-8 hari.
8.    Pencegahan
Beberapa tindakan dan upaya yang dapat mencegah terjadinya osteomielitis antara lain sebagai berikut.
a.    Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen.
b.    Penanganan infeksi jaringan lunak dapat mengontrol erosi tulang.
c.    Pemeriksaan klien secara teliti, perhatikan lingkungan pembedahan, dan teknik pembedahan.
d.   Penggunaan antibiotik profilaksis, untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24-48 jam setelah operasi.
e.    Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptic.

9.    Komplikasi
a.    Infeksi yang bersifat metastatic
Infeksi dapat bermetastase ke tulang atau sendi lainnya, otak, dan paru-paru, dapat bersifat multifocal dan biasanya terjadi pada penderita dengan status gizi yang buruk.
b.    Arthritis supuratif
Arthritis supuratif dapat terjadi pada bayi muda karena lempeng epifisis bayi (yang bertindak sebagai barier) belum berfungsi dengan baik. Komplikasi terutama terjadi pada osteomielitis hematogen akut di daerah metafisis yang bersifat intra-kapsuler (misalnya pada sendi panggul) atau melalui infeksi metastatic
c.    Gangguan pertumbuhan
Osteomielitis hematogen akut pada bayi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, sehingga tulang yang terkena akan menjadi lebih pendek. Pada anak yang lebih besar akan terjadi hipertermi pada daerah metafisis yang merupakan stimulasi bagi tulang untuk bertumbuh. Pada keadaan ini tulang tumbuh lebih cepatdan menyebabkan terjadinya pemanjangan tulang.
d.   Osteomielitis kronik
Apabila diagnosis dan terapi yang tepat tidak dilakukan, maka osteomielitis akut akan berlanjut menjadi osteomielitis kronis.

10.     Prognosis
Setelah mendapatkan terapi, umumnya osteomielitis akut menunjukkan hasil yang memuaskan. Prognosis osteomielitis kronik umumnya buruk walaupun dengan pembedahan, abses dapat terjadi beberapa minggu, bulan, atau tahun setelahnya. Amputasi mungkin dibutuhkan, khususnta dengan pasien diabetes atau berkurangnya sirkulasi darah. Pada penderita yang mendapatkan infeksi dengan penggunaan alat bantu prosetetik perlu dilakukan monitoring lebih lanjut. Mereka perlu mendapatkan terapi antibiotic profilaksis sebelum dilakukan operasi karena memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan osteomielitis.
11.     Pohon Masalah
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.  Pengkajian
1.    Identitas
Nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, dan lain-lain. Kejadian pada laki-laki lebih sering dibandingkan dengan perempuan dengan perbandingan 4:1. Pada keseluruhan insiden terbanyak pada Negara berkembang, osteomielitis vertebral lebih sering terjadi pada orang tua ≥45 tahun. Osteomielitis pada anak-anak sering bersifat akut dan menyebar secara hematogen, sedangkan osteomielitis pada orang dewasa merupakan infeksi subakut atau kronik yang berkembang sekunder dari fraktur terbuka dan meliputi jaringan lunak. Post traumatic insedennya 47% dari kasus osteomielitis.

2.    Riwayat Kesehatan
a.    Keluhan Utama
Biasanya pasien osteomilitis ditandai dengan nyeri konstan pada salah satu tulang, panas.
b.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji adanya riwayat trauma fraktur terbuka, riwayat operasi tulang dengan pemasangan fiksasi internal dan fiksasi eksternal dan pada osteomielitis kronis penting ditanyakan apakah pernah mengalami osteomielitis akut yang tidak diberi perawatan adekuat sehingga memungkinkan terjadinya supurasi tulang.
c.    Riwayat Kesehatan Dahulu
Ada riwayat infeksi tulang, biasanya pada daerah vertebra torakolumbal yang terjadi akibat torakosentesis atau prosedur urologis. Dapat ditemukan adanya riwayat diabetes melitus, malnutrisi, adiksi obat-obatan, atau pengobatan imunosupresif.

3.    Pola Kegiatan
a.    Pola Persepsi dan Tatalaksana Hidup Sehat
Meliputi kebiasaan merokok, menggunakan alkohol, kebiasaan berolahraga.
b.    Pola Nutrisi dan Metabolisme
Biasanya pasien tidak nafsu makan, fluktuasi berat badan.
c.    Pola Tidur dan Istirahat
Biasanya pasien mengalami gangguan waktu tidur dikarenakan nyeri dan suhu badan yang meningkat.
d.   Pola Aktivitas dan Latihan
Biasanya pasien mengalami gangguan pada pola aktivitas dan latihannya.
e.    Pola Persepsi Pola dan Konsep Diri
Pasien dengan osteomilitis merasa malu akan penyakitnya.
f.     Pola Reproduksi Sosial
Biasanya penyakit pasien tidak mempengaruhi pada pola reproduksi seksual.
g.    Pola Sensori dan Kognitif
Pasien tidak ada gangguan pada kelima panca indranya, dan biasanya kognitif pasien baik.
h.    Pola Hubungan Peran
Biasanya pasien dapat berinteraksi dengan baik terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya.

4.    Pemeriksaan Fisik
Pengkajian dilakukan terhadap adanya gejala akut, missal nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam, adanya pus. Perlu juga dikaji faktor risiko, (misal lansia, diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang), cedera, infeksi, atau riwayat bedah ortopedi sebelumnya. Observasi klien jika terlihat selalu menghindari dari tekanan di daerah yang sakit, dan tampak lemah akibat reaksi sistemik infeksi. Klien akan mengalami peningkatan suhu tubuh. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal dan biasanya terjadi pada sore dan malam hari.
a.    Keadaan Umum
Tingkat kesadaran (apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis yang bergantung pada keadaan klien). Kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, dan paa kasus osteomielitis biasanya akut). Tanda-tanda vital tidak normal
b.    Sistem Pernafasan
Pada inspeksi, didapatkan bahwa klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pernafasan. Pada palpasi toraks, ditemukan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi, tidak didapatkan suara nafas tambahan.
c.    Sistem Kardiovaskuler
Pada inspeksi, tidak tampak iktus jantung. Palpasi menunjukkan nadi meningkat, iktus tidak teraba. Pada auskultasi, didapatkan suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur.
d.   Sistem Muskuloskeletal
Adanya osteomielitis kronis dengan proses supurasi di tulang dan osteomielitis yang menginfeksi sendi akan mengganggu fungsi motorik klien. Kerusakan integritas jaringan pada kulit karena adanya luka disertai dengan pengeluaran pus atau cairan bening berbau khas.
e.    Sistem perkemihan
Pengkajian keadaan urine meliputi warna, jumlah, karakteristik, dan berat jenis. Biasanya klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pada sitem ini.
f.     Pengkajian Skeletal Tubuh
Hal-hal yang perlu dikaji pada skelet tubuh, yaitu:
1)   Adanya deformitas dan ketidaksejajaran yang dapat disebabkan oleh penyakit sendi.
2)   Pertumbuhan tulang abnormal. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya tumor tulang.
3)   Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak sejajar secara anatomis.
4)   Angulasi abnormal pada tulang panjang, gerakan pada titik bukan sendi, teraba krepitus pada titik gerakan abnormal, menunjukkan adanya patah tulang.
g.    Pengkajian Tulang Belakang
Deformitas tulang belakang yang sering terjadi perlu diperhatikan yaitu:
1)   Skoliosis (deviasi kurvantura lateral tulang belakang)
Bahu tidak sama tinggi, garis pinggang yang tidak simetris, scapula yang menonjol. Skoliosis tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), kelaian congenital, atau akibat kerusakan otot para-spinal, seperti poliomyelitis.
2)   Kifosis (kenaikan kurvantura tulang belakang bagian dada). Sering terjadi pada lansia dengan osteoporosis atau penyakit neuromuscular.
3)   Lordosis (membebek, kenaikan kurvantura tulang bagian pinggang yang berlebihan. Lordosis bisa di temukan pada wanita hamil.
Pada saat inspeksi tulang belakang sebaiknya baju pasien dilepas untuk melihat seluruh punggung, bokong, dan tungkai. Pemeriksaan kurvatura tulang belakang dan kesimetrisan batang tubuh dilakukan dari pandangan anterior, posterior, dan lateral. Dengan berdiri di belakang pasien, perhatikan setiap perbedaan tinggi bahu dan Krista iliaka. Lipatan bokong normalnya simetris. Kesimetrisan bahu, pinggul, dan kelurusan tulang belakang diperiksa dalam posisi pasien berdiri tegak dan membungkuk ke depan.
h.    Pengkajian Sistem Persendian
Pengkajian sistem persendian dengan pemeriksaan luas gerak sendi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan. Pemeriksaan sendi menggunakan alat goniometer, yaitu busur derajat yang dirancang khusus untuk evakuasi gerak sendi.
1)   Jika sendi diekstensikan maksimal namun masih ada sisa fleksi, luas gerakan ini dianggap terbatas. Keterbatasan ini dapat disebabkan oleh deformitas skeletal, patologik sendi, kontraktur otot, dan tendon sekitar.
2)   Jika gerakan sendi mengalami gangguan atau nyeri, harus diperiksa adanya kelebihan cairan dalam kapsulnya (efusi), pembengkakan dan inflamasi. Tempat yang paling sering terjadi efusi adalah pada lutut.
Palpasi sendi sambil sendi digerakkan secara pasif akan membei informasi mengenai integritas sendi. Suara “gemeletuk” dapat menujukkan adanya ligament yang tergelincir diantara tonjolan tulang. Adanya krepitus karena permukaan sendi yang tidak rata ditemukan pada arthritis. Jaringan sekitar sendi terdapat benjolanyang khas ditemukan pada pasien:

i.      Pengkajian Sistem Otot
Pengkajian sistem otot meliputi kemampuan mengubah posisi, kekuatan dan koordinasi otot, serta ukuran masing-masing otot. Kelemahan sekelompok otot menunjukkan berbagai kondisi seperti polineuropati, gangguan elektrolit, miastenia grafis, poliomyelitis, dan distrofi otot.
Palpasi otot dilakukan ketika ekstremitas rileks dan digerakkan secara pasif, perawat akan merasakan tonus otot. Kekuatan otot dapat diukur dengan meminta pasien menggerakkan ekstremitas dengan atau tanpa tahanan. Misalnya, otot bisep yang diuji dengan meminta klien meluruskan lengan sepenuhnya, kemudian fleksikan lengan melawan tahanan yang diberikan oleh perawat.
Tonus otot (kontraksi ritmik otot) dapat dibangkitkan pada pergelangan kaki dengan dorso-fleksi kaki mendadak dan kuat, atau tangan dengan ekstensi pergelangan tangan.
Lingkar ekstremitas harus diukur untuk memantau pertambahan ukuran atrofi dan dibandingan ekstremitas yang sehat. Pengukuran otot dilakukan di lingkaran terbesar ekstremitas, pada lokasi yang sama, pada posisi yang sama, dan otot dalam keadaan istirahat.

B.  Diagnosa Keperawatan
1.    Nyeri yang berhubungan dengan kompresi saraf, kerusakan neuromuskuloskeletal.
2.    Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan terbentuknya kloaka, drainase pus dari medula tulang.
3.    Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan respon nyeri, kerusakan neuromuskuloskeletal.
4.    Risiko tinggi penyebaran infeksi yang berhubungan dengan pembentukan abses tulang.
5.    Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
6.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.
7.    Kurang pengetahuan mengenai program pengobatan.

C.  Intervensi Keperawatan
Nyeri yang berhubungan dengan kompresi saraf, kerusakan neuromuskuloskeletal.
Tujuan:
Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang atau teradaptasi.
Kriteria Hasil:
Secara subjektif, klien melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi, dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri, klien tidak gelisah, skala nyeri 0-1 atau teradaptasi.
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji nyeri pada klien
Nyeri merupakan respon subjektif yang dapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri. klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cidera.
2.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan:
a.     Atur posisi imobilisasi pada tungkai bawah dan jika perlu pasang gips spalk


Imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri.
b.    Manajemen lingkungan; lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan istirahatkan klien.
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung.
c.     Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam ketika nyeri muncul.
Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri sekunder akibat iskemia
d.    Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorfin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri agar tidak dikirimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
e.     Lakukan manajemen sentuhan
Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplay darah dan oksigen ke area nyeri.   
3.
Kolaborasi :
a.     Pemberian analgesic.

Analgesic memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.
b.     Pemberian antiinflamasi.
Antiinflamasi jenis metilptednisolon bertujuan menurunkan respons infamasi dan meredakan nyeri.
c.     Pemberian antimikroba
Pemberian rasional antimikroba berdasarkan uji sensitivitas dapat meningkatkan uji sensitivitas dapat meningkatkan kesembuhan osteomielitis
d.   Pemeriksaan kultur pus uji sensitivitas antimikroba
Pemeriksaan kultur pus uji sensitivitas antimikroba dilakukan selama 1 minggu untuk melihat jenis antimikroba yang masih sensitive terhadap kuman yang menginvasi tulang

e.    Bedah perbaikan
Bedah perbaikan dengan melakukan eksisi sekuestrum dapat menurunkan risiko nekrosis tulang sehingga dapat mengurangi kerusakan jaringan saraf.
Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan proses supurasi di tulang, terbentuknya kloaka pada drainase pus dari tulang sekunder akibat infeksi inflamasi tulang.
Tujuan:
Dalam waktu 7x24 jam, integritas jaringan membaik secara optimal.
Kriteria Hasil:
Pertumbuhan jaringan meningkat, keadaan luka membaik, pengeluaran pus pada luka tidak ada lagi, luka menutup.
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji kerusakan jaringan lunak yang terjadi pada klien.
Menjadi data dasar untuk memberikan informasi intervensi perawatan luka, alat apa yang akan dipakai, dan jenis larutan apa yang akan digunakan.
2
Lakukan perawatan luka:
a. Lakukan perawatan luka dengan teknik steril.

Perawatan luka dengan teknik steril dapat mengurangi kontaminasi kuman langsung ke area luka. 
b.  Kaji keadaan luka dengan teknik membuka balutan, mengurangi stimulus nyeri. Jika perban melekat kuat, diguyur dengan NaCl
Manajemen membuka dengan mengguyur larutan NaCl ke kasa dapat mengurangi stimulus nyeri dan dapat menghindari terjadinya perdarahan pada luka osteomielitis kronis akibat kasa yang kering karena ikut mongering bersama pus.
c.  Tutup luka dengan kasa steril atau dikompres dengan NaCl yang dicampur antibiotik
NaCl merupakan larutan fisiologis yang lebih mudah diabsorpsi oleh jaringan dibandingkan larutan antiseptic dan dengan dicampur antibiotic dapat mempercepat penyembuhan luka akibat infeksi osteomielitis
d. Lakukan nekrotomi pada jaringan yang mati
Jaringan nekrotik dapat menghambat proses penyembuhan luka
e.  Hindari pemakaian peralatan perawatan luka yang sudah kontak dengan osteomielitis. Jangan gunakan lagi peralatan tersebut untuk melakukan perawatan luka pada klien lain
Pengendalian infeksi nosokomial dengan menghindari kontaminasi langsung dari perawatan luka yang tidak steril.
3
Evaluasi kerusakan jaringan dan perkembangan pertumbuhan jaringan dan lakukan perubahan intervensi jika setelah waktu yang ditetapkan, tidak ada perkembangan pertumbuhan jaringan yang optimal
Adanya batasan waktu selama 7x24 jam dalam melakukan perawatan luka klien osteomielitis menjadi tolok ukur keberhasilan dari intervensi yang diberikan. Apabila masih belum mencapai kriteria evaluasi, sebaiknya perlu dikaji ulang faktor-faktor apa yang menghambat pertumbuhan jaringan luka.
4
Kolaborasi dengan tim bedah untuk melakukan bedah perbaikan pada kerusakan jaringan agar tingkat kesembuhan dapat dipercepat.
Bedah perbaikan biasanya dilakukan setelah masalah infeksi osteomielitis teratasi.
Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan kartilago sendi bahu .
Tujuan :
Dalam waktu 3x24 jam, klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil :
Klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot, klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
1.
Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
2.
Atur posisi imobisasi pada bahu.
Imobilitas yang adekuat dengan perban elastis dapat meningkatkan mobilitas bahu.
3.
Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit.
Gerakan aktif memberikan massa, tonus, dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
4.
Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
Untuk memelihara fleksibitas sendi sesuai kemampuan.
5.
Kolaborasi :
Pembedahan atrodesis.
Jika rotator cuff hancur atau erosi tulang samgat parah, lebih baik dilakukan artrodesis; meskipun keterbatasannya jelas, artrodesis dapat meningkatkan fungsi karena gerakan skapulotoraks biasanya tidak terganggu.
Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan respon nyeri, kerusakan neuromuskuloskeletal.
Tujuan:
Dalam waktu 3x24 jam, klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria Hasil:
Klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
2
Atur posisi imobilisasi pada lengan dengan kain bergantung yang disokong dengan bantal
Imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan bahu dan adanya bantal yang menyangga dapat membantu meningkatkan kemampuan mobilisasi.
3
Lakukan pemasangan gips spalk atau gips sirkular.
Fiksasi tertutup dengan gips mengurangi pergerakan fragmen tulang sehingga dapat mengurangi respons atau stimulus nyeri dan dapat meningkatkan mobilitas
4
Ajarkan latihan rentang gerak sejak dini
Dengan mempraktikkan latihan aktif pada bahu, siku, dan jari sejak dini setelah terjadi perbaikan fragmen tulang, sendi-sendi lengan tidak mengalami kontraktur.
5
Lakukan support system
Dukungan psikologis dapat memberikan motivasi pada klien untuk melakukan mobilisasi sesuai batas toleransi
Risiko tinggi penyebaran infeksi yang berhubungan dengan pembentukan abses tulang.
Tujuan:
Dalam waktu 3x24 jam  setelah tindakan perawatan tidak terjadi perluasan infeksi
Kriteria Hasil:
Infeksi tidak terjadi yang ditandai dengan, klien menggunakan antibiotic sesuai resep, suhu badan normal, pembengkakan tidak ada, pus tidak ada, angka leukosit dan LED kembali normal, biakan darah negatif.
No
Intervensi
Rasional
1
Pantau TTV
Suhu tubuh yang meningkat merupakan tanda adanya proses infeksi
2
Pertahankan tirah baring dalam posisi yang di programkan
Gangguan mobilitas fisik dapat berkurang
3
Pantau hasil pemeriksaan laboratorium
Leukosit dapat meningkat apabila terjadi infeksi
4
Pertahankan sistem kateter steril
Mencegah masuknya bakteri dari infeksi atau sepsis lebih lanjut
5
Gunakan pelindung kulit tipe ostomi
Memberikan perlindungan untuk kulit sekitar, mencegah ekskoriasi dan menurunkan risiko infeksi
6
Ganti balutan dengan sering
Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi luka
7
Berikan antibiotic sesuai indikasi
Mungkin diberikan secara profilaktik sehubung dengan peningkatan resiko infeksi
Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan:
Dalam waktu 2x24 jam suhu tubuh klien dapat kembali normal
Kriteria Hasil:
Klien tidak mengalami dehidrasi, suhu tubuh normal (36,5oC-37oC)
No
Intervensi
Rasional
1
Pantau suhu tubuh, warna kulit, TD, nadi, pernapasan, dan hidrasi
Peningkatan suhu tubuh dapat mengindikasikan terjadinya infeksi.
2
Lepaskan pakaian yang berlebihan
Pakaian yang berlebihan dapat mengurangi peningkatan suhu tubuh dan dapat memberikan rasa nyaman pada  klien
3
Lakukan kompres dingin untuk menurunkan kenaikan suhu
Menurunkan panas melalui proses konduksi serta evaporasi, dan meningkatkan kenyamanan klien
4
Berikan minuman adekuat
Dehidrasi dapat terjadi akibat pengeluaran cairan yang berlebih
5
Monitor suhu lingkungan
Mengetahui respon tubuh terhadap shu lingkungan yang signifikan
6
Berikan obat antipiretik sesuai dengan anjuran
Antipiretik membantu mengontrol peningkatan suhu tubuh
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan tidak adekuat, kebutuhan nutrisi meningkat sekunder akibat peningkatan metabolisme umum.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 nutrisi klien dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil:
Nafsu makan klien dapat meningkat, porsi makan sesuai dengan kebutuhan, tidak terjadi malnutrisi, tidak mengalami penurunan BB.
No
Intervensi
Rasional
1
Monitor intake makanan
Memonitor intake dan insufisiensi kualitas konsumsi makanan
2
Mengkaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan
Menentukan intervensi selanjutnya
3
Memberikan oral hygiene sebelum dan sesudah makan
Mengurangi rasa tidak nyaman dan menambah nafsu makan
4
Sajikan makanan yang menarik, merangsang selera dan dalam suasana yang menyenangkan. untuk menetapkan diet dan merencanakan pertemuan secara individual bila diperlukan
Meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan intake makanan.
5
Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Makan dalam porsi besar atau banyak lebih sulit dikonsumsi saat pasien anoreksia.
6
Auskultasi bising usus
Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan
Kurang pengetahuan tentang pengobatan
Tujuan:
Setelah diberikan tindakan keperawatan selam 2x24 jam diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang bersangkutan.
Kriteria Hasil:
Klien melaporkan pemahaman mengenai penyakit yang dialami, menanyakan tentang pilihan terapi yang merupakan petunjuk kesiapan belajar
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji tingkat pengetahuan pasien
Mengetahui tingkat pemahaman dan pengetahuan pasien tentang penyakitnya serta indicator dalam melakukan intervensi
2
Berikan informasi pada pasien tentang perjalanan penyakitnya
Meningkatkan pemahaman klien tentang kondisi kesehatan
3
Berikan penjelasan pada pasien tentang setiap tindakan keperawatan yang diberikan
Mengurangi tingkat kecemasan dan membantu meningkatkan kerjasama dalam mendukung program terapi yang diberikan
4
Berikan klien untuk bertanya apabila belum jelas
Klien akan lebih mengetahui kondisinya
5
Gunakan bahasa yang mudah dipahami klien
Setiap klien memiliki kadar pemahaman yang berbeda-beda, Karena latar belakang pendidikan juga berbeda

D.  Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana tindakan dan perencanaan berhasil di capai.
Ada dua komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan:
1.    Proses (Sumatif)
Fokusnya adalah aktifitas dari proses keperawatan dan kualitas tindakan evaluasi dilaksanakan sesudah perencanaan keperawatan.
2.    Hasil (Formatif)
Fokusnya adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir tindakan keperawatan.
Evaluasi yang dilakukan pada klien dengan osteomielitis meliputi:
Dx
Hari Tanggal
Evaluasi
TTD
1
Senin, 2 Maret 2015
S:
Klien mengatakan nyeri yang dirasakan berkurang, skala nyeri 4.
O:
Klien tampak lebih rileks, nyeri tekan berkurang.
A:
Masalah tercapai sebagian
P:
Lanjutkan intervensi no 1, 2c, 2d, 3

2
Sabtu, 6 Maret 2015
S:
Klien mengatakan luka perlahan membaik
O:
Pertumbuhan jaringan meningkat, keadaan luka membaik, pengeluaran pus pada luka sedikit, luka mulai menutup.
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi 2, 3.

3
Selasa, 3 Maret 2015
S:
Klien mengatakan dapat melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
O:
Klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
A:
Masalah teratasi
P:
Pertahankan intervensi

4
Selasa, 3 Maret 2015
S:
Klin mengatakan luka membaik.
O:
Infeksi tidak terjadi yang ditandai dengan, klien menggunakan antibiotic sesuai resep, suhu badan normal (36,5oC-37oC), pembengkakan tidak ada, pus tidak ada, angka leukosit dan LED kembali normal, biakan darah negatif.
A:
Masalah teratasi
P:
Pertahankan intervensi

5
Senin, 2 Maret 2015
S:
Klien mengatakan tubuh tidak panas, dan tidak berkeringat belebih
O:
Klien tidak mengalami dehidrasi, suhu tubuh normal (36,5oC-37oC),CRT <2 detik
A:
Masalah teratasi.
P:
Pertahankan intervensi

6
Rabu, 4 Maret 2015
S:
Klien mengatakan nafsu makan sedikit membaik.
O:
BB stabil, nafsu makan klien sedikit meningkat, porsi makan sesuai dengan kebutuhan, tidak terjadi malnutrisi.
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi 2, 3, 5

7
Senin, 2 Maret 2015
S:
Klien mengetahui tentang keadaannya dan penyakitnya.
A:
Klien mengetahu tentang pengobatan dan perawatan sakitnya, mengetahui faktor risiko dan komplikasi, serta pencegahan
A:
Masalah teratasi
P:
Pertahankan intervensi

BAB IV
PENUTUP

A.  Simpulan
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan bila dibandingkan degan infeksi jaringan lunak, karena terbatasnya asupan darah, respon jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (Smeltzer, 2002).
Infeksi ini dapat disebabkan oleh penyebaran hematogen, dari focus infeksi di tempat lain (missal tonsil yang terinfeksi, gigi terinfeksi, infeksi saluran pernapasan atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi di tempat trauma yang terdapat resistensi rendah. Infeksi dapat juga dapat berhubungan dengan infeksi jaringan lunak, misal ulkus dekubitus atau ulkus vaskuler, atau kontaminasi langsung pada tulang (misal fraktur terbuka, luka tembak, dan pembedahan tulang).
Manifestasi klinis tergantung pada etiologi dan lokasi tulang yang cedera, dapat berkembang secara progresif atau cepat. Infeksi hematogen akut, sering terjadi dengan manifestasi klinis septicemia yaitu menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat, dan malaise umum, sedangkan gejala lokal yang terjadi berupa rasa nyeri, nyeri tekan, bengkak, dan kesulitan menggerakkan anggota tubuh yang sakit (Smeltzer, 2002 dan Sjamsuhidayat, 1997).
Beberapa tindakan dan upaya yang dapat mencegah terjadinya osteomielitis antara lain sebagai berikut.
1.    Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen.
2.    Penanganan infeksi jaringan lunak dapat mengontrol erosi tulang.
3.    Pemeriksaan klien secara teliti, perhatikan lingkungan pembedahan, dan teknik pembedahan.
4.    Penggunaan antibiotik profilaksis, untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24-48 jam setelah operasi.
5.    Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptic.