Selasa, 16 Juni 2015

Penyakit Keropos Tulang (Osteoporosis) di dalam Keperawatan/ Osteoporosis in Nursing Care Plan



Source/ Sumber:


1) Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan Diagnosa Keperawatan & Masalah Kolaboratif. Jakarta : EGC

2) Knele, Julie D. 2011. Keperawatan Ortopedik dan Trauma Edisi . Jakarta : EGC.
Lukman & Ningsih, Nurna. 2012. Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.

3)(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)
 
4)Wirakusuma, Elma. 2007. Mencegah Osteoporosis. Jakarta : Penebar Swadaya.
 


 
2.1         DEFINISI
       Osteoporosis yang dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap tulang patah. Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan massa tulang total.
       Menurut konsesus di Kopenhagen 1990, osteoporosis didefinisikan sebagai suatu penyakit dengan karakteristik massa tulang yang berkurang dengan kerusakan mikroarsitektur jaringan yang menyebabkan kerapuhan tulang dan resiko fraktur yang meningkat. (gonda, P 1996).
       Osteoporosis merupakan gangguan metabolik tulang dengan meningkatkan kecepatan resorbsi tulang, tetapi kecepatan pembentukannya berjalan lambat sehingga terjadi kehilangan massa tulang (Kowalak, Jenifer P. 2011).

          Klasifikasi osteoporosis :
       Klasifikasi osteoporosis dibagi ke dalam dua kelompok yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. Istilah”osteoporosis primer” mengacu pada tidak adanya penyakit lain yang terus menyebabkan gangguan ini. Definisi ini, terutama mengacu pada defisiensi estrogen pasca menopause yang selanjutnya menyebabkan penurunan densitas tulang. Keadaan ini banyak dialami oleh pasien wanita yang mengalami osteoporosis.
       Osteoporosis primer terdapat pada wanita postmenopause (postmenopause osteoporosis) dan pada laki-laki lanjut usia (senile osteoporosis). Penyebab osteoporosis belum diketahui dengan pasti.
       Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan Kelainan endokrin misalnya Chusing’s disease, hipertiriodisme, hiperparatiriodisme, diabetes melitus, hopogonadisme pada pria.  Karena obat misalnya terapi kortikosteroid, terapi heparin (jangka panjang), anikonvulsan. Masalah neoplastik misalnya mieloma multipel, metastasis tulang. Penyebab lainnya : alkoholisme, anoreksia nervosa, pascatransplantasi, sindrom malabsorbsi misalnya penyakit coeliac..
       Djuantoro (1996), membagi osteoporosis menjadi osteoporosis postmenopause (Tipe I), Osteoporosis involutional (Tipe II), osteoporosis idiopatik, osteoporosis juvenil dan osteoporosis sekunder.
1.        Osteoporosis Postmenopause (Tipe I)
       Merupakan bentuk yang paling sering ditemukan pada wanita kulit putih dan asia. Bentuk osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resopsi tulang yang berlebihan dan lama setelah penurunan sekresi hormon estrogen pada masa menopause.
2.        Osteoporosis involutional (Tipe II)
       Terjadi pada usia diatas 75 tahun pada perempuan maupun laki-laki. Tipe ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan resorpsi tulang dengan kecepatan pembentukan tulang.
3.        Osteoporosis idiopatik
       Adalah tipe osteoporosis primer yang jarang terjadi pada wanita premenopouse dan pada laki-laki yang berusi di bawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan penyebab sekunder atau faktor resiko yang mempermudah timbulnya penurunan densitas tulang.
4.        Osteoporosis juvenil
       Merupakan bentuk yang paling jarang terjadi dan bentuk osteoporosis yang terjadi pada anak-anak prepubertas.
5.        Osteoporosis sekunder.
       Penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menyebabkan fraktur atraumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan kortikosteroid, atraumatik reumatoid, kelainan hati/ ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastisitosis sistemik, hipertiriodisme , varian status hipogonade dan lain-lain.
2.2     Etiologi
       Osteoporosis postmenopouse terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki resiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopouse, pada wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam,.
       Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kasium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan masa tulang yang hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan postmenopouse.
       Kurang dari lima persen penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obet-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) dan obat- obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang, hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yanh berlebihan dan kebiasaan merokok bisa memperburuk keadaan ini.
       Osteoporosis juvenil ideopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
       Faktor genetik juga berpengaruh terhadap timbulnya osteoporosis. Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur daripada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu memiliki ketentuan normal sesuai dengan sifat genetiknya beban mekanis dan besar badannya. Apabila individu dengan tulang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak daripada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
Faktor Risiko osteoporosis
       Sejumlah faktor diketahui meningkatkan risiko osteoporosis. Selain gangguan dan obat, faktor risiko yang paling sering dimiliki wanita adalah amenorea selama 6 bulan atau lebih dan menopause alami yang dini atau menopause pembedahan sebelum usia 45 tahun. Faktor resiko osteoporosis digolongkan menjadi 2 kelompok besar yaitu resiko yang tidak dapat dikendalikan dan resiko yang dapat dikendalikan.
1.        Faktor resiko yang dapat dikendalikan
a.         Jenis kelamin
       Wanita mempunyai resiko osteoporosis lebih besar dari para pria. Sekitar 80 % diantara penderita osteoporosis adalah wanita. Secara umum, wanita menderita osteoporosis 4x lebih banyak dari pada pria. 1 dari 3 wanita memiliki kecenderungan osteoporosis. Hal ini terjadi antara lain karena masa tulang wanita lebih kecil dibanding dengan pria (hanya sekitar 800 gram lebih kecil dibandingkan pria yaitu sekitar 1200 gram )
b.         Umur
       Semakin tua umur seseorang, resiko terkena osteoporosis semakin besar. Proses densitas tulang hanya berlangsung sampai seseorang berusia 25 tahun. Selanjutnya, kondisi tulang akan konstan hingga usia 40 tahun. Setelah umur 40 tahun, densitas tulang akan bertulang secara berlahan.
c.         Ras
       Semakin terang kulit seorang maka resiko osteoporosis menjadi semakin tinggi. Ras kaukasia dan Asia memiliki insiden terkena osteoprosis lebih besar dibandingkan dengan ras Afrika – Amerika. Antara masa tulang dan massa otot terdapat kaitan yang erat. Semakin besar otot, tekanan pada tulang semakin tinggi dan tulng semakin besar. Ditambah lagi kadar hormone estrogen ras Afrika – Amerika lebih tinngi dari ras yang lain sehingga wanita Afrika – Amerika cendrung lebih lambat menua dari pada kulit putih. Pigmentasi kulit dan tempat tinggal juga mempengaruhi terjadinya osteoporosis. Wanita Afrika berkulit gelap yang bertempat tinggal dekat dengan garis katulistiwa memiliki resiko osteoporosis yang lebih rendah dari pada wanita yang berkulit putih yang tinggal jauh dari garis katulistiwa.
2.        Faktor resiko yang dapat dikendalikan
a.         Kurang aktifitas
              Semakin rendah aktifitas fisik, semakin besar resiki terkena osteoporosis. Hal ini terjadi karena aktifitas fisik ( olah raga ) dapat membangun tulang dan otot menjadi tebih kuat, juga meningkatkan keseimbangan metabolisme.


b.         Diet yang buruk
              Bila makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan tulang. Makanan sumber kalsium, fosfor, dan vitamin D yang dikonsumsi cukup sejak usia dini dapat memperkuat masa tulang.
c.         Merokok
                 Pada wanita perokok ada kecenderungan kadar estrogen dalam tubuhnya lebih rendah dan kemungkinan memasuki masa menaupose lima tahun lebih awal dibanding dengan bukan perokok. Asap rokok dapat menghambat kerja ovarium. Disamping itu, nikotin juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap dan mengeluarkan kalsium.
d.        Minun minuman beralkohol
                 Alkohol dapat menyebabkan luka – luka kecil pada lambung yang terjadi pada saat setelah minum minuman beralkohol. Banyaknya luka kecil akibat minum minuman beralkohol menyebabkan tubuh kehilangan kalsium karena kalsium banyak trdapat dalam darah.
2.3     MANIFESTASI KLINIS
       Kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala pada beberapa penderita. Jika kepadatan tulang sangat berkurang yang menyebabkan tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Tulang-tulang yang terutama terpengaruh pada osteoporosis adalah radius distal, korpus vertebra terutama mengenai T8-L4, dan kollum femoris
       Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari pungung yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk), yang menyebabkan terjadinya ketegangan otot dan rasa sakit.
       Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Selain itu , yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami penyembuhan secara perlahan. Tinggi badan berkurang
2.4     PATOFISIOLOGI
       Genetik, nutrisi, gaya hidup (misal merokok, konsumsi kafein, dan alkohol), dan aktivitas mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan masa tulang mulai terjadi setelah tercaipainya puncak massa tulang. Pada pria massa tulang lebih besar dan tidak mengalami perubahan hormonal mendadak. Sedangkan pada perempuan, hilangnya estrogen pada saat menopouse  dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan resorpsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pasca menopouse.
       Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk mempertahankan remodelling tulang selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan fungsi tubuh. Asupan kasium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis. Asupan harian kalsium yang dianjurkan (RDA : recommended daily allowance) meningkat pada usia 11 – 24 tahun (adolsen dan dewasa muda) hingga 1200 mg per hari, untuk memaksimalakan puncak massa tulang. RDA untuk orang dewasa tetap 800 mg, tetapi pada perempuan pasca menoupose 1000-1500 mg per hari. Sedangkan pada lansia dianjurkan mengkonsumsi kalsium dalam jumlah tidak terbatas. Karena penyerapan kalsium kurang efisisien dan cepat diekskresikan melalui ginjal (Smeltzer, 2002).
       Demikian pula, bahan katabolik endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen dapat menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindron Cushing, hipertiriodisme dan hiperparatiriodisme menyebabkan kehilangan massa tulang. Obat- obatan seperti isoniazid, heparin tetrasiklin, antasida yang mengandung alumunium, furosemid, antikonvulsan, kortikosteroid dan suplemen tiroid mempengaruhi penggunaan tubuh dan metabolisme kalsium.
       Imobilitas juga mempengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika diimobilisasi dengan gips, paralisis atau inaktivitas umum, tulang akan diresorpsi lebih cepat dari pembentukannya sehingga terjadi osteoporosis.
2.5    KOMPLIKASI
          Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum vemoris dan daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan.

2.6    PEMERIKSAAN PENUNJANG
       Terdapat kemajuan pesat dalam penegakkan diagnosis osteoporosis, terutama dalam kemampuan untuk mendeteksi dan mengukur masa tulang sebelum fraktur terjadi pada area yang sering mengalami fraktur: vertebra, pinggul, dan pergelangan tangan.
       Puncak massa tulang terjadi pada saat dewasa awal, sekitar usia 30 tahun. Pencapaian massa tulang yang optimal dipengaruhi oleh faktor genetik, asupan kalsium yang adekuat, latihan menopang berat, dan tidak adanya faktor risiko. Prubahan massa tulang dikelompokkan berdasarkan nilai statistik densitas tulang:
a.         Osteopenia: standar deviasi -1,00 hingga -2,5 di bawah rata-rata dewasa muda.
b.        Osteoporosis: standar deviasi lebih dari -2,5 di bawah rata-rata dewasa muda.
       Densinometri tulang merupakan kunci untuk menegakkan diagnosis meskipun juga memiliki keterbatasan. Beberapa upaya awal untuk mengukur densitas mineral tulang (bone mineral density,BMD) menggunakan sinar X skeletal; upaya ini mempunyai nilai terbatas karena demineralisasi hanya diketahui setelah terjadi kehilangan densitas tulang sebesar 30% atau lebih. Metode yang paling sering digunakan di inggris adalah dual energy X-ray absorptimetry (DXA), quantitativ computed tomography (QCT) dan quantitatif ultrasound (QUS) (tabel 19.1). instrumen skrining ini menjadi indikator risiko fraktur di massa mendatang (Raisz, 1999).
       Scanning DXA kini diyakini sebagai standar terbaik untuk mengkaji BMD, memperkirakan risiko fraktur dimasa mendatang, dan mengkaji respons terhadap penanganan yang telah dilakukan. Scanning DXA memberi hasil yang akurat, tersedia luas, merupakan prosedur yang relatif cepat dengan keakuratan tinggi, dan memiliki resolusi tinggi dengan  pajanan terhadap radiasi yang kecil.
       QCT merupakan merupakan metode yang unik dalam memberikan gambaran tiga dimensi karena memungkinkan pengukuran langsung densitas tulang dan pemisahan spasial trabekula dari korteks tulang. Kerugian metode ini adalah mahalnya prosedur dan pasien yang terpajan radiasi yang lebih tinggi.
       QUS berperan dalam pengkajian struktur mikro tulang, metode pengukuran BMD yang mandiri (Keen, 2000). Kalkaneum sering dipilih sebagai area pengukuran karena mudah diakses, memiliki sentase tinggi terhadap kehilangan trabekula tulang yang dapat diukur, dan merupakan tulang penopang berat. Keuntungan metode QUS adalah tidak menggunakan radiasi ion, lebih murah, dan mudah dibawa dibandingkan densinometer tulang konvensdional yang melakukan scan spina atau femur. QUS merupakan metode pengganti yang efektif jika dilakukan oleh operator ahli yang terbukti sebagai teknoligi yang lebih tepat mengkaji risiko fraktur pada populasi yang lebih besar.
       Pemeriksaan Radiologik dilakukan untuk menikai densitas tulang. Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah tuberkuler. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
       Pemeriksaan menggunakan MRI juga digunakan dalam menilai densitas tulang traberkula melalui dua langkah yaitu pertama T2 sum-sum tulangdapat digunakan untuk menilaindensitas serta kualitas jaringan traberkula dan yang kedua untuk menilai arsitektur traberkula.
       CT –SCAN dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam diagnosis dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan, sedangkan mineralvertebra dibawah 65 mg/ cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
2.7     PENATALAKSANAAN
       Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Diet tinggi kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang sepanjang hidup. Diet ditingkatkan pada awal usia pertengahan karena dapat melindungi tulang dari demineralisasi skeletal. Tiga gelas susu krim atau makanan lain yang kaya kalsium. Untuk mencukupi asupan kalsium perlu diresepkan preparat kalsium (kalsium karbonat).
       Terapi penggantian hormon dengan estrogen dan progesteron perlu diresepkan lagi bagi perempuan menopause, untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang. Perempuan yang telah menjalani pengangkatan ovarium atau telah mengalami menopause prematur dapat mengalami osteoporosis pada usia muda. Estrogen dapat mengurangi resorpsi tulang tapi tidak mengingkatkan massa tulang. Penggunaan hormon jangka panjang masih dievaluasi. Terapi estrogen sering dihubungkan dengan sedikit peningkatan insiden kanker payudara dan endometrial. Oleh karena itu, selama HRT klien diharuskan memeriksakan payudaranya setiap bulan dan diperiksa panggulnya.,termasuk usapan Papaninicolaou dan biopsi endometrial (bila ada indikasi), sekali atau dua kali setahun.
       Pemberian estrogen secara oral memerlukan dosis terendah estrogen terkonjugasi sebesar 0,625 mg/hari atau 0,5 mg/hari estradiol. Pada osteoporosis, sumsum tulang dapat kembali seperti pada masa pramenopouse dengan pemberian estrogen. Dengan demikan hal tersebut menurunkan risiko fraktur.
       Perlu juga meresepkan obat-obat lain, dalam upaya menanggulangi osteoporosis, termasuk kalsitonin, natrium fluorida, bifosfonat, natrium etidronat, dan alendronat. Alendronat berfungsi mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pascamenopouse, meningkatkan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul, dan mengurangi angka kejadian patah tulang. Agar alendronat dapat diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit kemudian tidak boleh makan-minum lainnya. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu. Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri.
       Kalsitonin secara primer menakan kehilangan tulang dan pemberiannya secara suntikan subkutan, intramuskuler atau semprot hidung. Efek samping, berupa gangguan gastrointestinal,aliran panas,peningkatan frekuensi urine biasanya terjadi dan ringan. Natrium fluorida memperbaiki aktivitas osteoblastik dan pembentukan tulang, namun kualitas tulang yang baru masih dalam pengkajian. Natrium etidronat menghalangi resorpsi tulang osteoklastik, dan dalam penelitian untuk efisiensi sebagai terapi osteoporosis.
       Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepatan tulang tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan. Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron.
       Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.
Pencegahan terhadap Osteoporosis
       Strategi pencegahan osteoporosis juga digunakan untuk menurunkan resiko terjadinya fraktur pada pasien osteoporosis. Manfaat menangani pasien yang lebih tinggi berisiko tinggi lebih besar dibandingkan menangani pasien berisiko rendah. Hal ini terjadi karena indikator risiko fraktur dan osteoporosis yang dimiliki pasien berisiko rendah lebih sedikit.
a.       Perubahan Gaya Hidup
       Berbagai perubahan gaya hidup dapat mencegah pemburukan osteoporosis dan menurunkan risiko terjadinya fraktur. Perubahan yang mungkin terjadi Harus didiskusikan dengan pasien. Karena perubahan gaya hidup sulit dilakukan, tingkat motifasi internal untuk menerima dan bertindank sesuai perubahan harus ditimbulkan. Dukungan kontinyu dari tim pelayanan kesehatan dan keluarga pasien sangat penting.
Perubahan gaya hidup meliputi :
a.         Mengurangi dan berhenti merokok
b.         Mengurangi atau berhenti minum alkohol
c.         Meningkatkan latihan penopang berat
d.        Meningkatkan asupan kalsium dan vitamin D
e.         Mengatur lingkungan rumah untuk menurunkan resiko jatuh
b.      Latihan Fisik
       Tujuan intervensi non-framakologis untuk osteoposis adalah mencegah, menangani, atau mengurangi akibat osteoporosis (Lips & Ooms, 2000). Latihan fisik berperan penting dalam mencegah dan menangani osteoporosis serta mencegah fraktur (Hertel & Trahiotis, 2001). Selain mempengaruhi proses penyakit, latihan fisik juga meningkatkan kesehatan umum pasien, kesejahteraan dan kualitas hidup, serta mempertshsnksn kemandirian (Sharkey et al, 2000).
       Gaya hidup aktif dapat dilakukan oleh berbagai kelompok usia karena program latihan fisik yang tepat dapat meningkatkan massa tulang remaja dan individu dewasa. Penelitan menunjukan bahwa latihan fisik yang sedang dapat membantu melawan osteoporosis. Sedangkan latihan fisik yang telalu ringan dan berlebihan dapat mempercepat laju hilangnya massa tulang (O’Brein, 2001).
       Penting bagi pasien, sebelum memulai atau meningkatkan latihan fisik, untuk memastikan bahwa mereka melakukan langkah yang tepat sesuai dengan kemampuan dan usia individu. Latihan fisik pada lansia ditekankan untuk meningkatkan kekuatan dan keseimbangan otot dapat merurunkan resiko jatuh.

c.       Diet
       Diet yang beragam dan seimbang sangat penting untuk kesehatan muskuloskeletal. Rat-rata tubuh manusia mengandung lebih dari 1 kg kalsium, yang 99% di antaranya disimpan didalam tulang. Pria dan wanita membutuhkan asupan diet kalsium dan vitamin D yang adekuat sepanjang usia untuk untuk mempertahankan kadar kalsium dan vitamin D serta kesehatan tulang yang optimal



2.8     POHON MASALAH
Menopouse               Faktor             kekurangan   Kelainan       Obat-obatan           Gaya hidup
estrogen                    Mekanik          kalsium         hormonal      (kortikosteroid,      (merokok,
pengangkutan             lansia                                                       Barbiburat, anti      kafein,
kalsium ke           faktor nutrisi                                                  Kejang)                  alkohol)
tulang                     hormonal
terganggu                 aktivitas                                                             

                                        Terjadi ketidakseimbangan antara kecepatan
                                      hancurnya tulang dan pembentukan tulang baru
                                                              OSTEOPOROSIS
Kurang pengetahuan
 
Pemberian steroid
Reabsorbsi tulang
                                                                                                                        
Osteoblast
terganggu
Kurang informasi
Tulang keropos
 
Fraktur vertebra & radius radikal
                                                                                                                                   
Nyeri
Apoptosis
Tulang mudah rapuh  & mudah patah
Reabsorbsi tulang
 





Resiko injury
         


BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1  Pengkajian
a.  Pengumpulan data.
1.        Identitas Klien.
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama ,pekerjaan dan lain-lain.
2.        Riwayat kesehatan.
Riwayat penyakit dahulu : dalam pengkajian merupakan riwayat penyakit yang pernah diderita pasien sebelum diagnosis osteoporosis muncul seperti reumatik, hipertiroid, hiperpaatiroid.
Riwayat penyakit sekarang :
Keluhan yang dirasakan pasien seperti nyeri pada punggung.
Riwayat penyakit keluarga
Adakah keluarga yang menderita osteoporosis.
3.        Pemeriksaan Fisik
B1 (breathing)
Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada tulang belakang.
Palpasi : taktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : suara resonan pada seluruh lapang paru.
Auskultasi : pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronchi.
B2 ( Blood)
Sering terjadi keringat dingin dan pusing. Adanya pulpus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat.
B3 (brain)
Kesadaran kompos metis. pada kasus yang lebih parah klien dapat mengeluh pusing dan gelisah. Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan halus merupakan indikasi adanya fraktur.
B4 (Bowel)
Untuk kasus osteoporosis, biasanya mengalami konstipasi.
B6 (Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis sering menunjukkan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis delapan dan lumbalis tiga.
Pengkajian psikososial
Perlu mengkaji konsep diri pasien terutama citra diri khususnya pada klien kifosis berat . klien mungkin membatasi interaksi sosial karna perubahan yang tampak atau keterbatasan fisik . osteoporosis mrnyebabkan fraktur berulang sehingga perawat perlu mengkaji perasaan cemas dan takut pada pasien.
Pola aktivitas sehari- hari
Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak dan persendian adalah agility, sttamina menurun , koordinasi menurun, dan dexterity (kemampuan memanipulasi keterampilan motorik halus ) menurun.

3.2         Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra.
2.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal ( kifosis atau fraktur baru).
3.      Kurang pengetahuan tentang proses osteoporosis dan program terapi berhubungan dengan kurangnya informasi.
4.      Resiko injuri atau fraktur berhubungan dengan kecelakaan ringan atau jatuh.

3.3 Rencana Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra
Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2 x 24 jam diharapkan nyeri klien dapat berkurang.
Kritreria Hasil :
a.       Dengan skala numeric nyeri pasien dapat berkurang.
b.      Nyeri yang dirasakan dapat berkurang.
c.       Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
d.      Wajah pasien tidak meringis.
e.       Pasien dapat tenang dan beristirahat 6-8jam/Hari

Intervensi
Rasional
Selidiki keluhan nyeri. Perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (guanakan 0 – 10).
Mengetahui penyebab dan sifat nyeri apakah sifat terlokasi atau menyebar dan waktunya.
Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stress
Meningkatkan istirahat dan kemampuan koping.
Ajarkan teknik manajemen nyeri.
Klien dapat mengatasi nyeri secara
mandiri
Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal, misalnya pegangan otot dan gelisah
Dapat membantu mengevaluasi pernyataan verbal dak keefektifan intervensi.
Kolaborasi dalam pemberian analgesik.
Analgesik dapat mengurangi rasa nyeri


2.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal ( kifosis atau fraktur baru )
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat melakukan mobilitas fisik
Kriteria Hasil :
a.       Menunjukkan peningkatan mobilitas fisik.
b.      Klien mampu melakukan aktifitas normal secara mandiri.

Inrevensi
Rasional
Kaji tingkat mobilisasi pasien secara berkala.
Menunjukkan perubahan tingkatan mobilitas pasien setiap hari.
Ajarkan klien untuk melakukan latihan–latihan fisik secara bertahap.
Latihan fisik dapat meningkatkan kekuatan otot serta melancarkan sirkulasi darah
Anjurkan klien untuk menghindari latihan fleksi, membungkuk dengan tiba –tiba dan mengangkat beban berat
Gerakan yang menimbulkan kompresi fertikal berbahaya dan dapat meningkatkan resiko fraktur vertebra
Intruksikan klien latihan sedikitnya tiga kali seminggu selama 30 menit.
program latihan konsistensi merangsang pembentukan tulang dan memperlambat penurunan tulang dan memperlambat penurunan tulang. Ini juga memberi keuntungan sekunder terhadap perbaikan kondisi neuromuskular, ketangkasan, dan penurunan kemungkinan jatuh.
Rencana periode istirahat adekuat, berbaring pada posisi telentang selama sedikitnya 15 menit saat nyeri punggung meningkat.
Keletihan menurunkan motivasi latihan.

3.      Kurang pengetahuan tentang proses osteoporosis dan program terapi berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan klien tentang osteoporosis.
Kriteria Hasil :
a.    Klien mampu menjelaskan tentang penyakitnya.
b.    Klien mampu menyebutkan program terapi yang di berikan
Intervensi
Rasional
Kaji tingkat pengetahuan klien tentang osteoporosis.
Mengetahui sejauh mana klien tahu tentang penyakitnya
kd Berikan informasi kepada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis.
Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya.
p
Berikan informasi yang tepat kepada klien tentang osteoporosis cara penanganannya.
Meningkatkan pengetahuan klien tentang osteoporosis sehingga klien bisa melakukan penanganannya secara mandiri
Jelaskan terapi obat yang ditentukan, tekankan pentingnya mematuhi rencana tindakan.
Kepatuhan terhadap program pengobatan dapat memperlambat progresi osteoporosis. Kesadaran akan kemungkinan efek samping memungkinkan pelaporan dan intervensi segera untuk meminimalkan efek yang merugikan.
Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat.
Suplemen kalsium sering menyebabkan nyeri lambung dan distensi abdomen maka klien sebaiknya mengonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai untuk menurunkan resiko pembentukan batu ginjal.
Anjurkan klien makan makanan tinggi kalsium, misalnya sardin, tahu, produk dari susu, dan sayuran berdaun hijau.
Sumber diit memberi cara terbaik peningkatan masukan kalsium.
Berikan informasi mengenai makanan yang menjadi sumber vitamin D. Misalnya susu, sereal, kuning telur, dan ikan laut.
Vitamin D penting untuk adsorbsi kalsium dan fosfor. Namun, masukan vitamin D berlebih dapat mengakibatkan penurunan massa tulang.
Dorong masukan protein adekuat tetapi tidak berlebih, kurang lebih 44 g/ hari.
Masukan protein tidak boleh melebihi kebituhan normal yang dianjurkan, karena protein berlebih dapat mempercepat kehilangan massa tulang dengan menyebabkan peningkatan sekresi kalsium.
Konsultasikan dengan ahli gizi untuk pemberian kalsium yang cukup.

Meningkatkan asupan kalsium yang diperlukan untuk pembentukan tulang.
.
  

4.      Resiko injuri atau fraktur berhubungan dengan kecelakaan ringan atau jatuh
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam resiko injuri dapat dihindari.
Kriteria Hasil :
a.       Klien tidak mengalami fraktur akibat jatuh.
b.      Klien menggunakan alat bantu untuk mencegah fraktur.

Intervensi
Rasional
Ciptakan lingkungan yang aman dan bebas bahaya bagi klien
Lingkungan yang bebas dari bahaya mengurangi resiko untuk jatuh dan mengakibatkan jatuh
Anjurkan klien menggunakan alat bantu sesuai kebutuhan misalnya tongkat atau kruk.
Memberi support ketika berjalan mencegah tidak jatuh
Bantu klien memenuhi ADL
(activitiest daily living ) dan cegah klien dari pukulan yang tidak sengaja atau kebetulan.
Benturan yang keras menyebabkan fraktur tulang, karena tulang sudah rapuh, porus, dan kehilangan kalsium.
Anjurkan klien untuk belok dan menunduk atau bongkok secara perlahan dan tidak mengangkat beban yang berat.
Gerak tubuh yang cepat dapat mempermudah fraktur compression vertebral pada klien dengan osteoporosis.
Ajarkan klien tentang pentingnya diet ( tinggi kalsium, vitamin D ) dalam mencegah osteoporosis lebih lanjut.
Diet kalsium memelihara tingkat kalsium dalam serum, mencegah kehilangan kalsium ekstra dalam tulang.
Anjurkan klien untuk mengurangi kafein, rokok dan alkohol.
Kafein yang berlebihan meningkatkan pengeluaran kalsium berlebih dalam urin.
Ajarkan untuk memantau dan melaporkan tanda dan gejala fraktur.
a.         Nyeri hebat tiba-tiba pada punggung bawah, terutama setelah mengangkat atau membungkuk.
b.         B. Spasme otot paravertebral nyeri.
c.         Kolaps vertebral terhadap (dikaji dengan perubahan tinggi badan atau pengukuran tanda kifosis).
d.        Nyeri punggung kronik.
e.         Keletihan
f.          Konstipasi.
Deteksi dini dan tindakan terhadap fraktur dapat mencegah kerusakan jaringan dan ketidakmampuan serius.

3.4 Evaluasi
Hasil yang di harap meliputi :
A.       Mendapatkan peredaan nyeri
a.         Mengalami redanya nyeri saat beristirahat.
b.        Mengalami ketidaknyamanan minimal selama aktivitas kehidupan sehari-hari.
c.         Menunjukkan kurangnya nyeri tekan pada tempat fraktur.

B.       Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik klien

C.       Klien dapat memahami mengenai penyakitnya dan program penanganannya.
a.         Menyebutkan hubungan asupan klsium dan latihan terhadap massa tulang.
b.        Mengonsumsi kalsium diit dalam jumlah yang mencukupi.
c.         Meningkatkan tingkat latihan
d.        Menggunakan terapi hormon yang diresepkan
e.         Menjalani prosedur scrining sesuai anjuran.

D.       Tidak terjadi cidera pada klien
a.       Memperthankan postur yang bagus.
b.      Menggunakan mekanika tubuh yang baik.
c.       Mengonsumsi diit seimbang tinggi kalsium dan vitamin D.
d.      Rajin menjalankan latihan.




BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
       Osteoporosis merupakan penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap tulang patah. Osteoporosis terbagi menjadi osteoporosis primer, sekunder dan tersier. Penyebab dari osteoporosis adalah berkurangnya kadar estrogen, kekurangan kalsium dan osteoporosis post menopouse. Faktor resiko meliputi kelainan hormon seperti paratiroidisme. Faktor resiko meliputi genetik, ras, kurang beraktivitas dan merokok serta konsumsi alkohol. Manifestasi klinis dari osteoporosis ialah nyeri punggung, penurunan tinggi badan, badan membungkuk atau kifosis, pada keadaan lanjut akan mengalami fraktur.