Selasa, 16 Juni 2015

Skabies di dalam Asuhan Keperawatan/ Scabies in Nursing Care Plan



Source/ Sumber:

1) Anonim. 2007. Skabies (kulit gatal bikn sebel). http://www.cakmoki86.wordpress.com
Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

2) Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Derbes VJ. Arthropod bites and stings. In: Fitzpatrick TB, Eisen AZ, wolff K, Freedberg IM, Austen KF (eds). Dermatology in general medicine 2nd ed New York: McGraw-Hill Book Company, 1979: 1656-67.
 3)
Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)

4) Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.
 


2.1 Pengertian Scabies

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabies varhominis dan produknya (Mansjoer, 2000)
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi (kepekaan) terhadap Sarcoptes scabiei var. Humini.s (Adhi Djuanda. 2007).
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) yang mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyebabnya scabies adalah Sarcoptes scabiei (Isa Ma’rufi, Soedjajadi K, Hari B N, 2005).
Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart, 1997).
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabies Var. Hominis. (Derbes, 1979).
Dapat disimpulkan bahwa scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi kuman parasitik (Sarcoptes scabiei) yang mudah menular manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan yang ada dimuka bumi ini,penyakit ini  menular oleh kutu tuma gatal Sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.

2.2 Etiologi
Penyebab utama dari scabies adalah Penyebabnya adalah Sarcoptes Scabies dengan klasifikasi :

1.     Sarcoptes Scabies terbentuk Filum Arthropoda, kelas Arachida,
2.    Ordo Akrarima, super famili Sarcoptes.
3.    Pada manusia disebut Sarcoptes Scabies Var Hominis. Selain Sarcoptes Scabies,
4.    misalnya pada kambing dan sapi.
Spesies Sarcoptes mempunyai sejumlah varietas yang masing – masing bersifat host-specific. Penyebab skabies pada manusia adalah varietas hominis, sedangkan varietas pada mamalia lain dapat menginfestasi manusia, tetapi tidak dapat hidup lama.
Sarcoptes scabiei merupakan tungau kecil yang berbentuk bulat lonjong dan bagian ventral datar. Tungau betina panjangnya 300-450 mikron, sedangkan tungau jantan lebih kecil, kurang lebih setengahnya.
Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki dan bergerak dengan kecepatan 2,5 cm per menit di permukan kulit (Orkin, 1986).
Tungau betina setelah dibuahi mencari lokasi yang tepat di permukaan kulit kemudian membentuk terowongan, dengan kecepatan 0,5 mm – 5 mm per hari. Terowongan pada kulit dapat sampai ke perbatasan stra korneum dan tartum granulosum. Di dalam terowongan ini tungau betina akan tinggal selama hidupnya yaitu kurang lebih 30 hari dan bertelur sebanyak 2-3 butir telur sehari. Telur akan menetas setelah 3-4 hari menjadi larva yang akan keluar ke permukaan kulit untuk kemudian masuk kulit lagi dengan menggali terowongan biasanya sekitar folikel rambut untuk melindungi dirinya dan mendapatkan makanan. Setelah beberapa hari, menjadi bentuk deawas melalui bentuk nimfa. Waktu yang diperlukan dari telur hingga bentuk dewasa ialah 10-14 hari (Melanby, 1977).
Tungau jantan mempunyai masa hidup yang lebih pendek dari pada tungau betina, dan mempunyai peran yang kecil pada patogenesis penyakit. Biasanya hanya hidup dipermukaan kulit dan akan mati setelah membuahi tungau betina.
Mellanby (1977), dalam penelitiannya menemukan jumlah rata-rata tungau betina pada seorang pasien skabies adalah 11. Ini karena hanya kurang dari 10% jumlah telur dapat menjadi bentuk dewasa.
Tungau ini merupakan parasit obligat pada manusia dan hanya dapat hidup di luar manusia selam kyrang lebih 2-3 hari (Fitzpatrick, 1992)
Tungau akan mati pada suhu sedang (moderate temperatur). Pada suhu 500 Celcius di luar hospes, baik pada udara kering maupun lembab, tungau akan mati dalam 10 menit. Pada suhu 250 Celcius tungau bertahan hidup selama 3 hari pada kelembaban relatif 90 derajat. Periode paling lama untuk tungau bertahan di luar kulit manusia adalah 14 hari pada udara lembab untuk tungau dengan 120 Celcius. Sedangkan pada suhu yang lebih rendah kemampuan hidup menurun (Mellanby, 1977). Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan skabies, seperti keadaan sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang bersifat promiskuitas, kesalahan diagnosis dan perkembangan demografik dan ekologik.
Kebiasaan Hidup Tempat yang paling disukai oleh kutu betina adalah bagian kulit yang tipis danlembab, yaitu daerah sekitar sela jari tangan, siku, pergelangan tangan, bahu dan daerah kemaluan. Pada bayi yang memeliki kulit serba tipis, telapak tangan, kaki, muka dan kulit kepala sering diserang kutu tersebut.
Tungau Scabies
2.3  Patofisologis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi.Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika.Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.






Patofisiologi



Tungau scabies penderita sendiri dan digaruk

 
 


 
Kontak kulit kuat (Bersalaman, bergandengan)

 


Timbul lesi (Pergelangan tangan)

 


Gatal (Sensitivitas terhadap secret)

 
















Waktu 1 bulan setelah infestasi

 





Timbul papul,vesikel,urtika timbul erosi,eks koriosi, krusta

 






Digaruk infeksi sekunder

 






Kelainan kulit dermatitis menyebar luas

 
 




















2.4   Klasifikasi
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain (Sungkar, S, 1995):
1.      Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
2.      Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.
3.      Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.
4.      Skabies yang ditularkan melalui hewan. Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha,perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
5.      Skabies Norwegia. Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan scabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah.
6.      Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. (Harahap. M, 2000).
7.      Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden). Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. (Harahap. M, 2000).

2.3 Manifestasi Klinis
Pruritus pada malam hari merupakan gejala skabies yang utama, karena aktivitas tungau meningkat pada suhu kulit yang lembab dan hangat. Lesi khas skabies adalah papul yang gatal sepanjang terowongan yang berisi tungau. Lesi pada umumnya simetrik dan sebagai tempat predileksi adalah sela jari tangan, fleksor siku dan lutut, pergelangan tangan, areola mamae, umnilikus, penis, aksila, abdomen bagian bawah dan bokong. Lesi pada penis berbentuk khas terutama berupa nodul dan sering disertai lesi ulseratif dan pioderma 9Adimora, 1994)
Lesi yang patognomonik untuk skabies adalah terowongan yang hampir tidak terlihat oleh mata, berupa lesi yang agak meninggi, lurus atau berkelok-kelok dan berwarna keabu-abuan. Pada ujung terowongan yang didapatkan vesikel atau pustul terutama pada bayi dan anak (Domonkos, 1982). Terowongan sering ditemukan pad sela jari, pergelangan tangan bagian volar, siku dan penis tetapi sebagian besar dari terowongan ini pada umumnya sudah hilang karena garukan. Lesi lain yang dapat dijumpai ialah vesikula dan urtika.
Penderita sering datang dengan lesi yang sudah mengalami ekskoriasi, eksematiasi dan infeksi sekunder akibat garukan yang sering kali mengaburkan gambaran klinik. Skabies kadang-kadang tampak dalam bentuk bervariasi, sehingga perlu waspada akan berbagai bentuk khusus (nonklasik) skabies.
1.       Skabies pada orang bersih.
Ditandai dengan gejala minimal dan terowongan sukar ditemukan. Pada penderita ini beberapa tempat predileksi dapat terkena. Mungkin tungau hilang d engan mandi berulang-ulang.
2.      Skabies nodularis
Tipe skabies ini dilaporkan dariu eropa, walaupun penyakit telah ditemukan oleh Ayres dan Anderson, pada tahun 1932 (Orkin, 1977). Lesi berupa nodus cokelat kemerahan yang gatal pada daerah tertutup, terutama pada genetalia pria, inguinal dan aksila. Tungau jarang ditemukan pada nodus. Noduli mungkin timbul akibat reaksi hipersensitivitas. Nodus dapat bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun  walaupun telah diberikan obat anit-skabies.
3.      Skabies ynag disertai penyakit menular seksual yang lain.
Skabies sering dijumpai bersama penyakit menular seksual yang lain seperti gonore, sifilis, pedikulosis pubis, herpes genetalis dan lainnya. Apabila ada skabies di daerah genital perlu dicari kemungkinan penyakit menular seksual yang lain, dimulai dengan pemeriksaan biakan untuk gonore dan pemeriksaan serologi untuk sifilis. Gonore asimtomatik sering kali ditemukan pada wanita dengan skabies (chancre galeuse) (Orkin, 1977)
4.      Skabies dan Aquired Immunodeficiency Syndrom (AIDS)
Ditemukan skabies stipik dan pneumonia Pneumocystis carinii pada seorang penderita. Mungkin di kemudian hari, skabies atipik dapat dimaukkan sebagai salah satu gejala infeksi opportumistik –AIDS (Orkin, 1986).
Gambaran kulit penderita skabies

Adanya terowongan pada kulit
Scabies area genital
2.4 Komplikasi

Komplikasi pada skabies yang sering dijumpai adalah infeksi sekunder, seperti lesi impetiginosa, ektima, furunkulosis dan selulitis. Kadan-kadang dapat timbul infeksi sekunder sistemik, yang memberatkan perjalanan penyakit. Stafilokok dan streptoko yang berada dalam lesi skabies dapat menyebabkan pielonefritis, abses internal, pnemonia piogenik dan septikemia.

2.5 Penatalaksanaan

Pada prinsipnya pengobatan dimulai dengan menegakkan diagnosis skabies, kalau dapat dengan menemukan tungaunya. Setelah diberi penjelasan pada penderita mengenai penyakitnya, ditentukan obat yang akan digunakan dengan mempertimbangkan efisiensi dan toksisitas. Pada umumnya banyak laporan mengenai penelitian efisiensi obat skabisid.
            Beberapa macam obat dapat dipakai pada pengobatan skabies:
1.    Gama benzen heksaklorid (Lindane).
Merupakan obat yang tersering digunakan dan merupakan obat pilihan karena dapat membunuh tungau atau telurnya.
2.    Krotamiton.
Krotamiton 10% dalam krim atau losio, merupakan skabisid yang efektif. Dapat menimbulkan iritasi apabila digunakan dalam jangka waktu lama atau pada kulit menunjukkan iritasi akut.
3.    Sulfur.
Sulfur telah digunakan sejak lama, sebagai sulfur prespititatum 5-10 % dalam vaselin. Cara pemakaian dioleskan pada badan dan ekstremitas selama 3 hari berturut –turut, kemudian dicuci (mandi) 24 jam setelah aplikasi terakhir. Obat ini dapat dipakai pada bayi, penderita hamil dan menyusui. Obat ini membunuh larva, tungau, namun kerugian pemakaiannya adalah baunya yang tidak enak, lekat, mewarnai pakaian dan kadang- kadang menimbulkan iritasi.
4.    Bensil bensoat.
Bensil bensoat dipakai sebagai bentuk emulsi atau losio dengan konsentrasi 20-35%. Walaupun obat ini merupakan skabisid yang ampuh, tetapi tidak sering digunakan lagi. Obat ini tidak mewarnai pakaian tetapi dapat menimbulkan iritasi.
5.    Tiabendasol.
Tiabendasol 5-10% dalam bentuk krim dan losio digunakan di Mexico dan Amerika Selatan dengan hasil baik.
6.    Permetrin.
Permetrhin 5% dalam bentuk krim adalah obat topikal anti skabies yang baru.
Cara pemakaian: dioleskan dipermukaan tubuh mulai dari leher ke bawah untuk orang dewasa dan pada bayi diseluruh tubuh: setelah 8-12 jam kemudian dibersihkan. Apabila belum sembuh dapat diulangi
2.6 Pemeriksaan penunjang
Diagnosa skabies perlu dipertimbangkan apabila ditemukan riwayat gatal, terutama pada malam hari, mungkin juga ditemukan pada anggauta keluarga yang lain, dan terdapatanya lesi polimorf terutama pada tempat predileksi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskop, yang dapat dilakukan dengan berbagi cara yaitu:
1.    Kerokan  kulit.
Diteteskan minyak mineral diatas papul atau terowongan baru yang utuh, kemudian dikerok dengan skalpel steril untuk mengangkat atap papul atau terowongan yang kemudian dipindahkan ke gelas obyek, ditutupi dengan kaca penutup dan diperiksa dengan mikroskop. Hasiul potif apabila tampak tungau telur, larva, nimfa atau skibala pemeriksaan ini harus dilakukan dengan hati-hati pada bayi dan anak atau penderita non-kooperatif.
2.    Mengambil tungau dengan jarum.
Jarum dimasukkan kedalam terowongan pada bagian yang gelap (kecualai pada orang kulit hitam pada titik yang putih) dan digerakkan tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar.
3.    Epidermal shave biopsi.
Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai diantara ibu jari dan jari telunjuk, dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan skalpel No. 15 yang dilakaukan sejajar dengan permukanan kulit. Biopsi dilakaukan sangat superfisial sehingga tidak terjadi perdarahan dan tidak perlu anestesi. Spesimen diletakkan pada gelas obyek lalu ditetesi minyak mineral dan diperiksa dengan mikroskop.
4.    Kuretai terowongan (Kuret dermal).
Kuretasi superfisial mengikuti sumbu pajang terowongan atau puncak papul kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop, setelah diletakkan di gelas obyek dan ditetsi minyak mineral.
5.    Tes tinta Burrow.
Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis yang karakteristik, berbelok- belok, karena adanya tinta yang masuk. Test ini tidak sakit dan dapat dikerjakan pada anak dan pada penderita non- kooperatif.
6.    Tetrasiklin topikal.
Larutan terasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai. Setelah dikeringkan selama lima menit hapus larutan tersebut dengan isopropilalkohol. Tetrasiklin akan berprestasi ke dalam melalu kerusakan stratum korneum dan terowongan akan tampak dengan penyinaran lampu Wood, sebagai garis linier berwarana kuning kehijauan sehingga tungau dapat ditemukan dengan salah satu cara diatas.
7.    Apusan kulit
Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakkan selotip pada lesi dan diangkat dengan gerakan cepet. Selotip kemudian diletakkan diatas  gelas obyek (enam buah dari lesi yang sama pada satu gelas obyek) dan diperiksa dengan mikroskop.
8.    Biopsi plong.
Pemeriksaan ini dilakukan apabila tungau dan produknya tidak dapat ditemukan dengan cara-cara tersebut di atas. Dilakukan pada lesi yang tidak mengalami ekskrosiasi dan dikerjakan dengan potongan serial. Kemudian diperiksa dengan teliti untuk menemukan tungau atau produknya dalam stratum korneum.













Tungau  Sarcoptes Scabies
 
2.7   Pohon Masalah 
             
























Resiko infeksi
 

 






























BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.1              Pengkajian
a. Biografi Klien
 Nama lengkap     :
 Umur                        :
 Alamat                :
 Jenis Kelamin      :
 Pekerjaan                         :
 Agama                 :
 Status                  :
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang :
1.    Pasien mengeluh gatal
2.    Gatal dirasakan pada malah hari
3.    Gatal  terasa memanas
4.    Bengkak pada area yang lama gatal

Riwayat Penyakit Dahulu :

1.    Memiliki alergi tertentu
Riwayat Penyakit Keluarga
1.      Anggota keluarga ada/pernah menderita penyakit kulit (kudis,kurap,jamur)
2.      Adanya anggota keluarga yang menderita skabies

c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien dengan gangguan kulit,pemeriksaan di fokuskan pada kulit karena dari kebanyakan kasus peyakit kulit  jar ng menggangu sistem sistem pada tubuh.
Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit, termasuk membrane mukosa, kulit kepala dan kuku. Prosedur Utama :
Inpeksi dan palpasi
Hal –hal yang perlu disiapkan:
1.    Memerlukan ruangan yang terang dan hangat
2.    Penlight dapat digunakan untuk menyinari lesi
3.    Pasien dapat melepaskan seluruh pakaianya dan diselimuti dengan benar
4.    Sarunga tangan harus selalu dipakai ketika melakkan pemeriksaan kulit
Tampilan umum yang dikaji :
1.    Warna
2.    Suhu
3.    Kelembaban
4.    Kekeringan
5.    Tekstur kulit (kasar atau halus)
6.    Lesi
7.    Vaskularitas
8.    Mobilitas
9.    Kondisi kuku dan rambut
10.                        Turgor kulit
11.                        Edema
12.                        Elastisitas kulit
d. Pola kebutuhan dasar
1.      Aktivitas / istirahat
Gejala : Aktivitas terhambat karena merasakan nyeri,sulit tidur di malam hari,terjaga saaat malam hari akibat gatal
2.      Integritas ego
Gejala : Masalah antisipasi perubahan pola hidup, ,rekasi orang lain,perasaan tidak nyaman, harga diri yang rendah
Tanda : Ansietas,ketakutan,sensitif,marah,menarik diri
3.      Seksualitas
Gejala : Masalah tentang keintiman hubungan dengan pasangan(bla terjadi pada area genital)
4.      Interkasi sosial
Gejala : Masalah yang berhubungan dengan penyakit,masalah tentang peran dan fungsi,reaksi orang lain,lingkungan dan ganguan konsep diri.
f.     Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosa skabies perlu dipertimbangkan apabila ditemukan riwayat gatal, terutama pada malam hari, mungkin juga ditemukan pada anggauta keluarga yang lain, dan terdapatanya lesi polimorf terutama pada tempat predileksi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskop,

Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosis keperawatan utama klien adalah sebagai berikut :
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi(tungau)
2.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
3.      Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder
4.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema
5.      Resiko infeksi berhubungan dengan jaringan kulit rusak dan prosedur infasif
1.3              Intervensi Keperawatan
Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi(tungau)
Tujuan    : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam,nyeri pasien berkurang.
Kriteria hasil :
1.      Skala nyeri yang dirasakan psien berkurang dalam skala 0-4
2.      Ekspresi pasien tidak menahan nyeri(wajah rileks)
3.      TTV dalam batas normal : RR 16-24x/menit
                                           TD 100 – 130 mmhg/60-80mmhg
                                            Nadi 60-100x/menit
kaji nyeri dengan akurat termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri, dan factor pencetus.
Lokasi,karateristik.durasi,frekuensi,kualitas dan intensitas nyeri menentukan keparahan nyeri menunjukan proses penyakit dan menentukan tindakan penanganan yang tepat.Adanya ekskoriasi krusta

Observasi tanda-tanda nonverbal terhadap ketidaknyamanan, terutama ketidakmampuan dalam komunikasi secara efektiv.

Pernyataan non verbal menunjukan adanya ketidaknyamanan yang diakibatkan nyeri sperti ( ekspresi wajah,gelisah)
Kolaborasika pemberian pasien analgesic

Analgesik mendepresi pusat nyeri,menurunkan nyeri,nyeri yang dirasakan pasien dapat berkurang serta menurunkan spasme otot
Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama terjadi, antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
Pengetahuan penyebab nyeri menurunkan kecemasan,kecemasan menyebabkan istirahat tidak adekuat nyeri lambat berkurang

Sampaikan pada pasien untuk menyampaiakan nyeri yang dirasakan
Pernyataan subjektif pasien menentukan intervensi dan tindakan medis yang tepat
Observasi TTV klien

Tanda tanda vital memberikan gambaran kestabilan keadaan yang jelas tentang kondisi pasien



   Diagnosa  : Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri,gatal
Tujuan    : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat beristirahat dengan nyaman
Kriteria Hasil :
1.      Pasien dapat istirahat 6-8 jam/Hari
2.      Keluhan gangguan tidur menurun
3.      Peyebab ketidak nyamanan istirahat dapat teratasi
Kaji penyebab ketidaknyaman yang dirakan pasien
Nyeri dan gatal akibat adanya Tungau  Sarcoptes Scabies serin terjadisaat malam hari,
Sampaikan pada klien untuk menjaga kebersihan atau mengganti baju jika akan beristirahat(malam)/banyak berkeringat
Kondisi pakaian dan tubuh yang bersih memberikan kenyamanan,
Anjurkan pasien untuk mengubah posisi tidur bila dirasa nyeri
Kompresi pada kulit yang terjadi gangguan meningkatkan nyeri yang dirasakan
Batasi kunjungan pada saaat jam istirahat siang dan malam pasien
Management waktu istirahata meningkatkan kualitas istirahat pasien
Kolaborasi :
Pemberian analgesic dan antibiotic
         Permethrin 5%, 8-10 jam bisa diulang 1 minggu
         Lindane (gama benzene hexachloride) lotion
         Benzyl benzoat 25%
         Crotamiton
         antihistamin

Analgesik mendepresi pusat nyeri,menurunkan nyeri,nyeri yang dirasakan pasien dapat berkurang serta menurunkan spasme otot.Antibotik membunuh agen biologis
Kaji pola istirahat pasien
Management waktu dan menentukan ,sebagai dasar intervensi dan evaluasi



Diagnosa:Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan dalam  penampilan sekunder
Tujuan : Setelah diberikan tindakan selama 2 x 24 jam, pasien dapatmeningkatkan self confidence
Kriteria hasil :
1.         Pasien menyatakan penerimaan terhadap kondisi tubuhnya
2.         Pasien dapat mengerti dan menerima perubahan fisik yang akurat tanpa harga diri negative
Intervensi :
Peningkatan konsep diri :
Beri dukungan pasien untuk mengetahui dan mendiskusikan pemikiran dan perasaannya

Rasional :

Pengetahuan pasien tentang kondisi tubuh meningkatkan kesadaran diri untuk menerima kondisi Penerimaan terbuka perawat dapat memberikan lingkungan psikologis yang nyaman bagi pasien sehingga kepercayaan pasien kepada perawat meningkat dan berdampak pada tingkat kooperatif klien menerima kondisi dirinya

Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang mencetus kecemasan 
Kecemasan dapat disebabkan karena kondisi fisikyang berubah,keterbatasan beraktivitas
Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber motivasinya

Sumber motivasi dapat dari berbagai pihak,sumber motivasi yang tepat berperan dalam penerimaan harga diri

Perhatikan perilaku menarik diri,membicarakan hal negative dari diri,menyangkal atau terus menerus melihat perubahan nyata(kulit bersisik,kemeraahan,dsb)

Mengidentifikasi tahap berduka/kebutuhan untuk intervensi


Diagnosa : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema
Tujuan    : Diharapkan dalam waktu 5 x 24 jam, pasien dapat berkurang dan teratasi
Kriteria hasil :
1.Intergritas  kulit mulai membaik(lembab,elastic,sensasi)
2.Tidak terdapat lesi pada kulit
3.Perfusi jaringan baik
Intervensi
 Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang longgar

Rasional
Pakaian longgar mengurangi penelanan pada kulit,meningltalan sirkulasi udara
Beritahukan pasien untuk  menjaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

Menjada kebersihan berperan dlam pengembalian integritas kulit
Mandikan/berikan informasi pada pasien mandi dengan air hangat dan sabun
Air hanga menvasodilatsi pembuluh darah memperlancar peredaran ke daerah perifer
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Kemrahan menanadakan adanya masalah pada integritas kulit


Diagnosa :Resiko infeksi berhubungan dengan jaringan kulit rusak dan prosedur infasif
Tujuan    : Setelah dilakukan tindakan selama 2x24 jam pasien tidak mengalami resiko infeksi
Kriteria hasil :
1.      Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2.      Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
3.      Menunjukkan perilaku hidup sehat
4.      Klien dapat mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan dan penatalaksanaannya
Intervensi :
Monitor tanda dan gejala infeksi
Rasional :
Adanya rubor,dolor,tumor,kalor dan fungsio laesa mengindikasiakan adanya proses infeksi
Monitor kerentanan terhadap infeksi
Adanya pus dapat menigkatkan resiko infeksi
Batasi pengunjung bila perlu
Pengunjung dapat membwa virus atau bakteri yang dapat menggangu kestabilan kesehatan klien
Jelaskan factor penyebab penyakit dan factor penyabab penyakit
Pemahaman yang benar tentang penyebab dan factor pemicu penyakir menurunkan resiko infeksi,sbagai langkah penvegahan dan meningkatkan pengetahuan pasien menjaga kesehatan tubuh.
Pertahankan/gunakan tekhin septic/ aseptic selama prosedur perawatan
Tekhnik septic aseptic menjaga kesterilan integritas mengurangi resiko infeksi
Berikan perawatan kulit pada area epidema
Adanya cairan dalam tubuh yang keluar  dapat menigktakn resiko infeksi
Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan,panas
Tanda tanda infeksi
Inspeksi kondisi luka
Kondisi luka yang buruk keadan kebersihanya,terdapat pus dapt menjadi factor pemicu infeksi
Ajarkan cara menghindari infeksi

Menghindari infeksi,pengetahuan pasien tentang penyabab infeksi menurunkan resiko infeksi

3.4 Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang dilakukan berdasarkan dari rencana yang telah disususun.



3.5. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1.      .Pasien dapat beristirahat dengan nyaman
2.      Gangguan nyeri dan gatal dapat terkontrol dan berkurang
3.      Pasien dapat menerima kondisi tubuh
4.      Pasien tidak mengalami infeksi
5.      Integritas kulit pasien dapat diperthankan