Selasa, 16 Juni 2015

trauma radiasi pada mata, di dalam asuhan keperawatan/ radiation trauma to the eye, in nurse care plan




1.1  DEFINISI
Mata mendapat akibat buruk dari radiasi karena mata terletak di permukaan badan atau kepala. Bila sinar masuk ke dalam mata maka akan dapat terjadi akibat-akibat buruk daripada sinar pada mata karena terdapatnya kemampuan memfokuskan sinar oleh mata. Tenaga sinar yang masuk ke dalam mata akan bertambah besar 100.000 kali. Kemampuan mata untuk menaikkan tenaga sinar ini akan menambah akibat buruk sinar pada jaringan intraocular.
Di dalam alam, kita mengenal gelombang elektromagnit. Gelombang ini ada yang dapat terlihat dan ada yang tidak dapat terlihat. Gelombang sinar yang dapat terlihat mempunyai panjang gelombang antara 400-800 nM.
Perlindungan mata terhadap sinar yang dapat terlihat adalah dengan berkedip atau secara reflex dengan terjadinya miosis.
Gelombang sinar yang tidak dapat terlihat yang bergelombang panjang dan pendek  menembus jaringan dengan mudah.

1.2  ETIOLOGI
1.    Trauma Sinar Infra Merah
Sinar infra merah yang merupakan sinar gelombang panjang dan tidak terlihat dapat menimbulkan katarak kortikal posterior yang kemudian berakhir dengan katarak total.
Akibat sinar infra merah dapat terjadi pada saat bekerja di pemanggangan. Kerusakan ini dapat terjadi akibat terkonsentrasinya sinar inframerah terlihat. Kaca yang mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan kaca akan mengeluarkan sinar infra merah. Bila seseorang berada pada jarak 1 kaki selama satu menit di depan kaca yang mencair dan pupilnya lebar atau midriasis maka suhu lensa akan naik sebanyak 9 derajat Celcius. Demikian pula iris yang mengabsorbsi sinar infra merah akan panas sehingga berakibat tidak baik terhadap kapsul lensa di dekatnya. Absorbsi sinar infra merah oleh lensa akan mengakibatkan katarak dan eksfoliasi kapsul lensa.
Akibat sinar ini pada lensa maka katarak mudah terjadi pada pekerja industry gelas dan pemganggangan logam. Sinar infra merah akan mengakibatkan keratitis superficial, katarak kortikal anterior-posterior dan koagulasi pada koroid. Bergantung pada beratnya lesi akan terdapat skotoma sementara atau permanen.
2.    Trauma Sinar Ultra Violet
Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat, mempunyai panjang gelombang antara 295-350 nM.
Sinar ultra violet banyak terdapat pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari atau pantulan sinar matahari di atas salju. Sinar ultra violet akan segera merusak epitel kornea.
Sinar ultra violet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga kerusakan pada lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini akan segera baik kembali setelah beberapa waktu, dan tidak akan memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap.
Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan memberikan keluhan 4-10 jam setelah trauma. Pasien akan merasa sakit pada mata, mata seperti kelilipan atau kemasukan pasir, fotobia, blefarospasme, dan konjungtiva kemotik.
Kornea akan menunjukkan adanya infiltrate pada permukaannya, yang kadang-kadang disertai dengan kornea yang keruh dengan uji fluoresein positif. Keratitis terutama terdapat pada fisura palpebra. Pupil akan terlihat miosis. Tajam penglihatan akan terganggu.
Keratitis ini dapat sembuh tanpa cacat, akan tetapi bila radiasi berjalan lama kerusakan dapat permanen sehingga akan memberikan kekeruhan pada kornea. Keratitis dapat bersifat akibat efek kumulatif sinar ultra violet sehingga gambaran keratitisnya menjadi berat.
3.    Sinar Ionisasi dan Sinar X
Sinar ionisasi dibedakan dalam bentuk:
1.         Sinar alfa yang dapat diabaikan
2.         Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan
3.         Sinar gama
4.         Sinar X
Sinar ionisasi dan sinar X dapat menyebabkan katarak dan rusaknya retina. Dosis kataraktogenetik bervariasi dengan energy dan tipe sinar, lensa yang lebih muda lebih peka.
Akibat sinar ini pada lensa, terjadi pemecahan diri sel epitel secara tidak normal. Sedang sel baru yang berasal dari sel germinatif lensa tidak menjadi panjang.
Sinar X merusak retina dengan gambaran seperti kerusakan yang diakibatkan diabetes mellitus berupa dilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneuris mata, dan eksudat.
Luka bakar akibat sinar X dapat merusak sinar kornea yang mengakibatkan kerusakan permanen yang sukar diobati. Biasanya akan terlihat sebagai keratitis dengan iridosiklitis ringan. Pada keadaan yang berat akan mengakibatkan parut konjungtiva atrofi sel goblet yang akan mengganggu fungsi air mata.


1.3  FAKTOR PREDISPOSISI
1)      Berjalan dibawah terik matahari dalam waktu begitu lama tanpa menggunakan topi atau kaca mata pelindung.
2)      Pekerja las ,dalam pekerjaannya tanpa menggunakan pelindung mata.
3)      Sinar radiasi bagi pekerja di ruang radiologi.
4)      Pekerja industry berbahan kaca

1.4  PATOFISIOLOGI
Trauma yang diakibatkan oleh cidera non mekanik pada bola mata akan menimbulkan berbagai akibat seperti : erosi epitel kornea, kekeruhan kornea. Bila pada cidera radiasi juga terjadi efek kumulasi. Bila radiasi berkurang maka lesi terimis yang ditimbulkan sinar red (irivisible rays) dapat berupa kekeruhan kornea, atratosi iris, katarak.
(Mangunkusumo, 1988)

2         
2.1  MANIFESTASI KLINIS
1)      Katarak           : kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat atau penambahan cairan) lensa, denaturasi proteksi lensa atau akibat kedua-duanya.
2)      Lesi termis ditimbulkan oleh sinar infra red berupa : kekeruhan kornea, atrati, iris, kerusakan macula karena berfokusnya sinar pada mocula, jaringan berpigmen seperti ovea dan retina lebih mudah mengalami kerusakan
3)      Lesi obiotik ditimbulkan oleh UV (ultra violet) : setelah periode laten terlihat eriterna yang terbatas jelas hanya pada daerah yang teriritasi.
4)      Lesi ionisasi ditimbulkan oleh sinar X; terjadi perubahan vaskulariasi, korpus siliarsis menjadi edema dan dilatasi yang mengakibatkan terjadinya glaukoma.
(Mangunkusumo, 1988)

2.2  PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan visus:
1.         Penderita dan pemeriksa berhadapan.
2.         Penderita duduk pada jarak 6 m dari Optotype Snellen, mata yang satu ditutup.
3.         Penderita dipersilahkan untuk membaca huruf/gambar yang terdapat pada Optotype, dari yang paling besar sampai pada huruf/gambar yang dapat terlihat oleh mata normal.
4.         Apabila penderita tak dapat melihat gambar yang terdapat pada Optotype, maka kita mempergunakan jari kita.
5.         Penderita diminta untuk menghitung jari pemeriksa, pada jarak 1 m, 2 m, sampai dengan 6 m.
6.         Dalam hal demikian maka visus dari penderita dinyatakan dalam per-60
7.         Apabila penderita tak dapat menghitung jari, maka dipergunakan lambaian tangan pemeriksa pada jarak 1m sampai 6 m
8.         Dalam hal ini, maka visus penderita dinyatakan dalam per 300.
9.         Apabila lambaian tangan tak terlihat oleh penderita, maka kita periksa visusnya dengan cahaya (sinar baterai).
10.     Untuk ini maka visus dinyatakan dalam per tak terhingga.


Pemeriksaan dengan Fluorescein untuk Cornea:
1.         Mata yang diperiksa ditetesi dengan larutan Fluorescein 3%
2.         Penderita diminta untuk berkedip-kedip sebentar.
3.         Kemudian mata tersebut dicuci dengan boorwater sampai bersih.
4.         Dengan Oblique Illumination dilihat apakah ada warna hijau yang tertinggal pada kornea.
5.         Bila ada defek epitel kornea, maka akan terlihat warna hijau menempel pada kornea.

Pemeriksaan sensibilitas kornea ( N.V ):
Di bagian mata biasanya tes ini dilakukan bila kita curiga adanya Keratitis Herpetika,dimana sensibilitas korneanya menurun.
1.         Penderita dan pemeriksa saling berhadapan
2.         Penderita diminta untuk melihat jauh
3.         Pemeriksa memegang kapas yang dipilih ujungnya dan menyentuh kornea (yang jernih).
4.         Perhatikan apakah penderita mengedipkan mata atau mengeluarkan air mata.
5.         Bila demikian berarti sensibilitas kornea baik.


2.3  KOMPLIKASI
2.4  PROGNOSIS
2.5    PENATALAKSANAAN
1.      Sinar infra merah
Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang sudah terjadi kecuali mencegah terkenanya mata oleh sinar infra merah ini..
Steroid sistemik dan local diberikan untuk mencegah terbentuknya jaringan parut pada macula atau untuk mengurangi gejala radang yang timbul.
2.      Sinar ultra violet
Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia local, analgetika, dan mata ditutup untuk selama 2-3 hari.Biasanya sembuh setelah 48 jam.
3.      Sinar Ionisasi dan Sinar X
Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topical dengan steroid 3 kali sehari dan sikloplegik satu kali sehari.Bila terjadi simblefaron pada konjungtiva dilakukan tindakan pembedahan.
(Sidarta Ilyas,1997)
4.      Bila panas merusak kornea dan konjungtiva maka diberi pada mata:
·         Lokal anastesik
·         Kompres dingin
·          Antibiotika local

2.6    PENCEGAHAN
2.7    WOC



BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1  PENGKAJIAN
1.      Identitas pasien meliputi nama, usia (dapat terjadi pada semua usia), pekerjaan ,jenis kelamin (kejadian lebih banyak pada laki-laki daripada wanita).
2.      Keluhan utama
Klien biasanya mengeluh adanya penurunan penglihatan, nyeri pada mata,  danketerbatasan gerak mata.
3.      Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penyakit  yang mungkin diderita klien seperti DM yang dapat menyebabkan infeksi yang pada mata sulit sembuh.
4.      Riwayat penyakit sekarang
Yang perlu dikaji adalah jenis trauma, bahan yang menyebabkan trauma, lama terkena trauma, dan tindakan apa yang sudah dilakukan pada saat trauma terjadi dan sebelum dibawa ke RS.
5.      Riwayat psikososial
Pada umumnya klien mengalami berbagai derajat ansietas, gangguan konsep diri dan ketakutan akan terjadinya kecacatan mata, gangguan penglihatan yang menetap atau mungkin kebutaan. Klien juga dapat mengalami gangguan interaksi sosial.
6.      Pemeriksaan fisik
a.       Tanda-tanda Vital (nadi, suhu, tekanan darah, dan pernapasan)
b.      Pemeriksaan persistem
1)      B1(Breath) :disertai gangguan pernapasan jika trauma menyebar ke mukosa hidung.
2)      B2 (Blood) :perdarahan jika trauma melibatkan organ tubuh lain selain struktur mata.
3)      B3 (Brain) :pasien merasa pusing atau nyeri karena adanya peningkatan TIO (tekanan intraokular).
4)      B4 (Bladder) :kebutuhan eliminasi dalam batas normal.
5)      B5 (Bowel) :idak ditemukan perubahan dalam sistem gastrointestinal.
6)      B6 (Bone) :ekstremitas atas dan bawah tidak ditemukan adanya kelainan.
c.       Pemeriksaan khusus pada mata :
1)      Visus (menurun atau tidak ada)
2)      Gerakan bola mata ( terjadi pembatasan atau hilangnya sebagian pergerakan bola mata)
3)      Adanya perdarahan, perubahan struktur konjugtiva, warna, dan memar.
4)      Kerusakan tulang orbita, krepitasi tulang orbita.
5)      Pelebaran pembuluh darah perikornea.
6)      Hifema.
7)      Robek kornea
8)      Perdarahan dari orbita.
9)      Blefarospasme.
10)  Pupul tidak beraksi terhadap cahaya, struktur pupil robek.
11)  Tes fluoresens positif.
12)  Edema kornea.
13)  Nekrosis konjugtiva/sklera.
14)  Katarak.
d.      Data Penunjang Lain
1)      Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
2)      Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.
3)      Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
4)      Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.

2.2  DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1.      Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
2.      Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
3.      Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori /status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
4.      Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis.

2.3  INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
Tujuan : nyeri berkurang, hilang atau terkontrol.
Kriteria Hasil :
a.       Klien akanmelaporkan penurunan nyeri progresif dan penghilangan nyeri setelah intervensi.
b.      Klien tidak gelisah.
c.       Klien mampu melakukan tindakan mengurangi nyeri.
Intervensi
Rasional
Kaji derajat nyeri setiap hari atau sesering mungkin jika diperlukan
Nyeri trauma umumnya menjadi keluhan utama terutama nyeri akibat kerusakan kornea.
Terangkan penyebab nyeri dan faktor/tindakan yang dapat memprovokasi nyeri.
Nyeridisebabkan oleh efek kimiawi atau fisik benda dan nyeri dapat meningkat akibat provokasi: menekan mata terlalu kuat; gerakan mata tiba-tiba.
Lakukan kompres pada jaringan sekitar mata.
Kompresdingin mungkin diperlukan pada trauma fisik akut dan jika kondisi stabil (agak lama), dapat digunakan teknik kompres hangat (jika tidak ada perdarahan).
Kolaborasi pemberian analgesik
Analgesikberfungsi untuk menigkatkan ambang nyeri.
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada klien.
Menguranginyeri dengan manipulasi psikologis.

Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
Tujuan : tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil :
a.       Klien memperlihatkan perilaku penjagaan daerah luka.
b.      Tidak terdapat tanda infeksi selama fase perawatan.
Intervensi
Rasional
Kali perilaku sehari-hari yang memungkinkan timbulnya infeksi mata.
Berbagaitindakan mungkin tidak disadari oleh klien sebagai hal yang dapat menyebabkan infeksi, seperti menggosok atau memegang mata.
Terangkan berbagai perilaku yang dapat menyebabkan infeksi.
Perilakuyang dapat menyebabkan infeksi dapat diidentifikasi dari perilaku klien yang telah klien lakukan atau belum dilakukan oleh klien.
Ajarkan perilaku yang baik untuk mengurangi resiko infeksi.
Menigkatkanpemahaman klien akan pentingnya perilaku mencegah infeksi.
Ajarkan berbagai tanda infeksi.
Meningkatkan pengetahuan klien tentang tanda infeksi mata yang mungkin dapat terjadi sebagai akibat komplikasi dari penyakit sekarang.
Anjurkan klien untuk melaporkan sesegera mungkin apabila mengenali tanda infeksi.
Menigkatkanrasa percaya dan kerjasama perawat-klien.


DiagnosaKeperawatan : Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori /status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
Tujuan : klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengkomunikasikan perubahan visual.
KriteriaHasil :
a.       Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang memperngaruhi fungsi penglihatan.
b.      Klien mengidentifikasi dan menunjukan pola-pola alternatif untuk menigkatkan penerimaan rangsang penglihatan.
Intervensi
Rasional
Kaji ketajaman penglihatan klien.
Dekati klien dari sisi yang sehat.
Mengidentifikasikemampuan visual klien.
Memberikanrangsang sensori, mengurangi rasa isolasi/terasing.
Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan :
1)      Orientasikan klien terhadap ruang rawat
2)      Letakan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.
3)      Berikan pencahayaan cukup.
4)      Hindari cahaya menyilaukan.
Meningkatkan kemampuan persepsi sensori.
Anjurkan penggunaan alternative rangsang lingkungan yang dapat diterima : audiotorik,taktil
Meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan.


Diagnosa Keperawatan : Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis.
Tujuan : tidak terjadi kecemasan.
Kriteria Hasil :
a.       Klien mengungkapkan kecemasan berkurang atau hilang.
b.      Klien berpartisipasi dalam kegiatan pengobatan.
                           Intervensi                                                                     Rasional
Kaji derajat kecemasan, factor yang menyebabkan kecemasan, tingkat pengetahuan, dan ketakutan klien akan penyakit.
Umumnyafaktor yang menyebabkan kecemasan adalah kurangnya pengetahuan dan ancaman aktual terhadap diri. Pada klien dengan trauma mata rasa nyeri dan penurunan lapang penglihatan menimbulkan ketakutan utama.
Orientasikan tentang penyakit yang dialami klien, prognosis dan tahap perawatan yang akan dijalani klien.
Menigkatkatanpemahaman klien akan penyakit. Jangan memberikan keamanan palsu seperti mengatakan penglihatan akan segera pulih atau nyeri akan segera hilang. Gambarkan secara objektif tahap pengobatan, harapan proses pengobatan, dan orientasi pengobatan masa berikutnya.
Beri kesempatan kepada klien untuk bertanya tentang penyakitnya.
Menimbulkan rasa aman dan perhatian bagi klien.
Beri dukungan psikoogis.
Dukunganpsikologis dapat berupa penguatan tentang kondisi klien, keaktifan klien dalam melibatkan diri dalam perawatan maupun mengorientasikan bagaimana kondisi penyakit yang sama menimpa klien yang lain.
Terangkan setiap prosedur yang dilakukan, jelaskan tahap perawatan yang akan dijalani.
Mengurangi rasa ketidaktahuan kecemasan yang terjadi.



BAB III
TINJAUAN KASUS

KASUS
Ny. S umur 56 tahun datang ke rumah sakit pada tanggal 13 maret 2010, dengan keluhan penurunan ketajaman penglihatan dan silau, pandangan kabur atau redup, susah melihat pada malam hari, serta pengembunan seperti mutiara keabuan pada kedua pupil mata. Pasien tampak gelisah dan mengatakan 1 Tahun yang lalu pernah mengalami konjungtivitis.Di RS pasien di periksa dan di diagnosa menderita katarak.Pasien mengungkapkan tidak tahu banyak mengenai penyakitnya.

2.1  PENGKAJIAN
1.       Identitas
a.  Identitas Pasien
Nama                                : Ny . S
Umur                                : 56 Tahun
Jenis Kelamin                   : Perempuan
Pekerjaan                          : Ibu rumah tangga
Agama                              : Islam
Alamat                              : Jl. Cendana No.9, Yogyakarta
Kebangsaan                      : Indonesia

b.  Identitas penangung jawab
Nama                                : Tuan X
Umur                                : 60 Tahun
Jenis kelamin                    : Laki-laki
Pekerjaan                          : Wiraswasta
Agama                              : Islam
Alamat                              : Jl. Cendana No.9, Yogyakarta
Hub. Dengan pasien          : Suami
2.       Keluhan Utama
Pasien mengatakan saat melihat mata terasa kabur.
3.       Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan pandangan mata kabur sejak 2 tahun yang lalu, sering ditetesi dengan obat tetes mata tapi pandangan masih tetap kabur.
4.       Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan pernah mengalami konjungtivitis setahun yang lalu.
5.       Riwayat Penyakit Keluarga
Dari keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.
6.       Pola fungsi kesehatan
No
Pola Kesehatan Sehari-Hari
Sebelum Sakit
Saat Sakit
1
Aktifitas
Mandi 3 x/hari

2
Nitrisi Dan Metabolik


3
Istirahat Tidur


4
Eliminasi


5



a)      Pola Aktifitas
- Sebelum sakit
Aktivitas seperti : mandi, berpakaian, eliminasi, mobilisasi di tempat tidur, merapikan rumah, ambulansi, dan makan tidak ada gangguan, semua bisa dilakukan sendiri oleh pasien.
- Saat Sakit
Pasien merasa tidak mampu merapikan rumah lagi karena penglihatannya kabur, sedangkan untuk kegiatan yang lain bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
b)      Pola Nutrisi dan Metabolik
- Sebelum Sakit
Pasien makan 3 kali sehari dengan lauk tempe dan sayur, jarang makan buah – buahan.Minum air teh kalau pagi dan dalam sehari minum air putih sebanyak 6 gelas/ hari, nafsu makan normal.
- Saat Sakit
Pasien mengatakan makan dan minum tidak mengalami perubahan.
c)      Pola Istirahat dan Tidur
- Sebelum Sakit
Pasien mulai tidur malam jam 21.00 selama 8 jam, Kualitas tidur nyenyak.
- Saat Sakit
Pasien tidur selama 6 jam saat tidur pada waktu malam hari, tidur nyenyak.
d)      Pola Eliminasi
- Sebelum Sakit
BAB 1-2 kali sehari, BAK 4-5 kali sehari.
- Saat Sakit
BAB 1-2 kali sehari, BAK 4-5 kali sehari.
e)       Pola Koping
- Sebelum Sakit
Pandangan pasien terhadap masa depan sangat optimistis, tidak ada perasaan kehilangan.
- Saat Sakit
Masalah utama pasien selama masuk RS adalah masalah keuangan karena pasien harus di operasi sehingga memerlukan biaya yang besar. Sedangkan pandangan terhadap masa depan agak pesimistis.
f)       Pola Kognitif Perseptual
- Sebelum Sakit
Status mental: Sadar, Bicara : Normal, Pendengaran : Normal, Penglihatan : Normal.
- Saat Sakit
Status mental: Sadar, Bicara : Normal, Pendengaran : Normal, Penglihatan : Terganggu dan kabur. Visus : 20/40 ft (normal : 20/20 ft )
g)      Pola Konsep Diri
- Sebelum Sakit
Harga diri, ideal diri, identitas diri, gambaran diri, dan peran diri tidak terganggu.
- Saat Sakit
Harga diri, ideal diri, dan identitas diri tidak terganggu sedangkan gambaran diri terganggu karena ada warna putih keabuan pada mata, peran diri terganggu karena pasien merasa tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.
h)      Pola Peran Berhubungan
- Sebelum Sakit
Pasien menikah, tapi tidak bekerja karena telah pensiun, suaminya sangat mendukungnya.
- Saat Sakit
Pasien menikah, tapi tidak bekerja karena telah pensiun, suaminya sangat mendukungnya untuk berobat ke RS.
i)        Pola Seksual
- Sebelum Sakit
Pasien melakukan hubungan seksual dengan suami, pasien telah menopause
- Saat Sakit
Pasien tidak melakukan hubungan seksual dengan suami. Pasien telah menopause.
j)        Pola Nilai dan Kepercayaan
Sebelum dan saat sakit pasien selalu yakin dengan berdoa dan berusaha percaya bahwa sakitnya bisa sembuh dan dia dapat pulih kembali.pasien beragama islam.
7.   Pemerikasaan Fisik
·         Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Suhu : 37 0C
Respirasi : 20 x/menit
Nadi : 60 x/menit.
·         Keadaan Umum
1.Kesan umum : baik
2.Wajah : baik
3.Kesadaran : CM
4.Umur : 56 tahun
5.Bicara : jelas dan lancar
6.Pakaian, kerapian dan kebersihan badan : bersih dan rapi.
·         Status gizi : baik
·         Berat badan : 75 kg, Tinggi badan : 160 cm.
·         Kulit, rambut, kuku
1.Inspeksi : warna kulit normal, tidak ada lesi, bentuk kuku normal.
2.Palpasi : turgor kulit normal, tidak ada edema.
·         Kepala
1.Inspeksi : muka simetris, kulit kepala normal, rambut normal.
2.Palpasi : kulit kepala normal.
·         Mata
1.bentuk bola mata, kelopak mata, konjungtiva, sklera, kornea, iris semua normal
2.pupil : ada warna keabuan
3.ada penurunan ketajaman penglihatan dan silau terhadap cahaya.
Visus : 20/40 ft (normal : 20/20 ft ).
·         Telinga
1.Inspeksi : daun telinga dan liang telinga normal
2.Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada prosessus mastoideus.
·         Hidung
bentuk normal, tidak ada sekret, tidak ada perdarahan dan penyumbatan.
·         Mulut
tidak ada stomatitis ataupun sianosis, tidak ada lubang pada gigi, tidak ada karang gigi, tidak ada tonsilitis.
·         Leher
bentuk normal, warna kulit normal, tidak ada pembengkakan, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid.
·         Dada dan paru-paru
1.Inspeksi : bentuk normal ( Diameter anteroposterior dalam proporsi terhadap diameter lateral adalah 1:2 ), kulit normal
2.Palpasi : tidak ada benjolan dan tidak ada nyeri tekan
3.Perkusi : normal ( Resonan )
4.Auskultasi : sonor dan suara nafas : vesikuler
·         Jantung : normal
·         Abdomen
1.Inspeksi : bentuk normal dan simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada distensi
2.Auskultasi : peristaltik 29 x/menit (normal 5-35 x/ menit)
3.Perkusi : normal ( timpani pada lambung, dan pekak pada hepar )
4.Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada pembengkakan, tidak ada distensi.
·         Anus dan rectum : normal tidak ada hemoroid
·         Alat kelamin : tidak ada gangguan (normal).
·         Musculoskeletal
1.otot : normal ( kekuatan otot ekstremitas ka-ki adalah 5, kontraksi normal)
2.tulang : tidak ada deformitas ( kurva normal tulang belakang : konveks pada bagian dada, konkaf sepanjang leher dan pinggang ) tidak ada pembengkakan, tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan, tidak ada krepitasi.
3.Persendian :normal ( sendi bergerak secara halus) tidak ada nyeri tekan, tidak ada bengkak, tidak ada kekakuan sendi.
·         Neurologi : normal ( kesadaran : CM, GCS=15, refleks normal, sensasi dan integrasi normal)

8.      Pemeriksaan penunjang :
Test tajam penglihatan
Pemeriksaan oftalmoskopi
9.      ANALISA DATA
No symptom Etiologi Problem
1.
Do : lensa mata pasien tampak keruh. Kedua pupil tampak terlihat keabuan.
Ds : pasien mengeluh pandangan kabur / redup dan ketajaman penglihatan menurun dan silau, pasien susah melihat pada malam hari.
perubahan penerimaan sensori atau status organ indera penglihatan.
Gangguan sensori persepsi (visual)

2
Do : pasien tampak cemas.
Ds : pasien mengatakan gelisah dengan penyakitnya.
Perubahan dalam status kesehatan.
cemas


Do : -
Ds : pasien mengungkapkan tidak tahu banyak mengenai penyakitnya.
Tidak familiar dengan sumber informasi
Kurang pengetahuan.

4
Do : pasien tampak kurang percaya diri
Ds : pasien mengatakan malu dengan penyakitnya
Gangguan gambaran diri
Harga diri rendah


2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1)      Gangguan sensori persepsi (visual) b.d Perubahan penerimaan sensori atau status organ indera penglihatan.
2)      Cemas b.d Perubahan dalam status kesehatan.
3)      Kurang pengetahuan b.d Tidak familiar dengan sumber informasi.
4)      Harga diri rendah b.d Gangguan gambaran diri
2.3  INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Dx Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1
NOC : Vision Compensation Behavior (1611)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Px dengan KH :
(161102) Posisikan diri untuk meningkatkan penglihatan.
(161103) Anjurkan anggota keluarga untuk menggunakan teknik meningkatkan penglihatan
(161107) Gunakan alat bantu penglihatan
(161105) gunakan kacamata
Criteria NOC :
1.Tidak dilakukan sama sekali
2.Jarang dilakukan
3.Sedang dilakukan
4.Sering dilakukan
5.Selalu dilakukan
NIC : EYE CARE (1650)
-Monitor adanya kemerahan dan adanya eksudat
-Tentukan derajat penurunan penglihatan atau tes tajam penglihatan
-Instruksikan pasien untuk tidak menyentuh matanya
-Monitor refleks kornea
-Anjurkan pasien untuk menggunakan kacamata katarak
-Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan.
-Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan penglihatan.

2
NOC : Anxiety Control (1402)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Px dengan KH :
(140206) Adanya penggunaan strategi koping yang efektif
(140207) R dalam rentang normal
(140211) Adanya peningkatan hubungan sosial
(140214) Px merasa senyaman dengan keadaannya
(1402170) Px tampak tenang
Criteria NOC :
1. Tidak dilakukan sama sekali
2. Jarang dilakukan
3. Sedang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Anxiety Reduction (5820)
- Berusaha memahami keadaan klien
- Beri informasi tentang diagnosa dan tindakan
- Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi yang menunjukkan kecemasan
- Dorong pasien mengungkapkan perasaan dan ketakutan
- Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
- Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan
- Instruksikan pasien untuk menurunkan cemas dengan teknik relaksasi
Coping Enhancement (5830)
- Gunakan pendekatan yang tenang dan memberi jaminan
- Hargai dan diskusikan alternatif respon terhadap situasi
- Dukung keterlibatan keluarga dengan cara yang tepat
- Hargai pemahaman pasien tentang proses penyakit
- Dukung penggunaan mekanisme defensive yang tepat
- Sediakan pilihan yang realistic tentang aspek perawatan saat ini

3
NOC : Knowledge Disease Process (1803)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan Px dengan KH :
(180302) Mendiskripsikan proses penyakit
(180303) Mendiskripsikan faktor penyebab
(180309) Mendiskripsikan komplikasi
(180311) Mendiskripsikan tindakan pencegahan untuk mencegah komplikasi
Criteria NOC :
1. Tidak dilakukan sama sekali
2. Jarang dilakukan
3. Sedang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Teaching Disease Process (5602)
-berikan penilaian tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang specifik
-jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi
-gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
-gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat
-diskusikan pilihan terapi atau penanganan
-instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat
-diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi yang akan datang

4
NOC : Body image ( 1200 )
Setelah dilakukan tindakan askep dalam 3 x 24 jam diharapkan pasien bisa menerima dirinya.dengan criteria hasil :
-Menerima bagian tubuh yang mengalami gangguan
-puas dengan penampilan tubuh
-Puas dengan fungsi tubuh
Kriteria NOC :
1. Tidak dilakukan sama sekali
2. Jarang dilakukan
3. Sedang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Self estem enhancement (5400)
-monitor pernyataan pasien tentang dirinya
-Bantu pasien untuk meningkatkan penilaian dirinya terhadap penghargaan dirinya
-Bantu pasien untuk meningkatkan kepercayaan dirinya
-Berikan dorongan kuat untuk pasien
-Dorong kontak mata dalam komunikasi dengan semua orang
-Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga
-Berikan pendidikan kesehatan pada klien tentang penyakit