Selasa, 16 Juni 2015

Trauma Tumpul Pada Mata di dalam Asuhan Keperawatan/ Blunt Trauma to Eyes, in Nursing Care Plan



 Source/ Sumber:



1) Anonim. 2011. “Askep Trauma Mata”. www.s3.awazonaws.com diakses pada 30 Maret 2015.
2) Ilyas, Sidarta. 2000. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FK UI.
3) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)
5)King, Maurice dan Peter C. Bewes. 2001. Bedah Primer Utama. Jakarta: EGC.



A.  Definisi
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata dan merupakan kasus gawat darurat mata. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata (Sidarta, 2005).
Trauma mata adalah kondisi mata yang mengalami trauma baik oleh zat kimia maupun oleh benda keras dan tajam (Anas, 2010).
Trauma tumpul adalah trauma pada mata akibat benturan mata dengan benda yang relatif besar, tumpul, keras maupun tidak keras. Trauma tumpul dapat menyebabkan cedera perforasi dan non perforasi. Trauma tumpul pada mata dapat mengenai organ eksterna (orbita dan palpebra) atau interna (konjungtiva, kornea, iris atau badan silier, lensa, korpus vitreus, retina dan nervus optikus (N.II).
Trauma tumpul pada wajah sering mengenai area orbita dengan segala akibatnya, mulai dari sekedar memar di pelpebra hingga kerusakan bagian dalam bola mata yang dapat berakhir pada kebutaan. Trauma tumpul pada mata dapat menyebabkan kerusakan pada bola mata yang paling belakang, karena tekanan gaya dari bola mata bagian depan diteruskan ke segala arah sehingga dapat mengakibatkan kerusakan di semua arah. Ttrauma tumpul pada mata dapat mengakibatkan kebutaan jika trauma yang terjadi cukup kuat untuk merusak struktur-struktur yang penting dalam proses penglihatan, yaitu kornea, lensa, retina dan koroid serta jaringan penyangganya.
Trauma tumpul okuli adalah trauma pada mata yang diakibatkan benda yang keras atau benda tidak keras dengan ujung tumpul, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan kencang atau lambat sehingga terjadi kerusakan pada jaringan bola mata atau daerah sekitarnya.


B.  Etiologi
Trauma tumpul disebabkan akibat benturan mata dengan benda yang relatif besar, tumpul, keras maupun tidak keras misalnya terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock, membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel.
Trauma tumpul atau kontusio yang disebabkan oleh benda tumpul, benturan atau ledakan di sebabkan oleh benda tumpul, benturan atau ledakan di mana terjadi pemadatan.

C.  Klasifikasi
Trauma tumpul, meskipun dari luar tidak tampak adanya kerusakan yang berat, tetapi transfer energi yang dihasilkan dapat memberi konsekuensi cedera yang fatal. Kerusakan yang terjadi bergantung kekuatan dan arah gaya, sehingga memberikan dampak bagi setiap jaringan sesuai sumbu arah trauma. Trauma tumpul dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1.    Kontusio, yaitu kerusakan disebabkan oleh kontak langsung dengan benda dari luar terhadap bola mata, tanpa menyebabkan robekan pada dinding bola mata.
2.    Konkusio, yaitu bila kerusakan terjadi secara tidak langsung. Trauma terjadi pada jaringan di sekitar mata, kemudian getarannya sampai ke bola mata.
Baik kontusio maupun konkusio dapat menimbulkan kerusakan jaringan berupa kerusakan molekular, reaksi vaskular, dan robekan jaringan. Menurut Duke-Elder, kontusio dan konkusio bola mata akan memberikan dampak kerusakan mata, dari palpebra sampai dengan saraf optikus.
Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat dan pencegahan terhadap terjadinya penyulit yang diakibatkannya. Trauma pada mata dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan seperti:
1.    Kornea
Trauma tumpul dapat mengakibatkan edema kornea. Edema kornea yang berat akan mengakibatkan kekeruhan yang menetap. Bila kekeruhan terletak pada sumbu penglihatan kadang-kadang diperlukan tindakan pembedahan.
Pada edema kornea akan terlihat kornea yang keruh. Jaringan intra ocular sukar dilihat akibat kekeruhan kornea yang mengalami edema. Pengobatan pada edema kornea ialah dengan memberikan larutan hiperosmotik.
Tekanan bola mata yang tinggi akan mengakibatkan bertambahnya edema kornea akibat endotel yang rusak. Biasanya tekanan intraocular diatur agar tidak tinggi untuk memperbaiki fungsi kornea yang sakit, misalnya dengan memberi asetazolamid.

2.    Sklera
Trauma tumpul dapat mengakibatkan rupture sklera. Tempat rupture akibat trauma tumpul biasanya di daerah sklera yang lemah seperti pada daerah antara insersi rektus dengan ekuator bola mata.
Rupture sklera juga mudah terjadi di daerah limbus. Rupture sklera dengan prolaps jaringan jaringan akan memberikan prognosis kurang baik. Pada keadaan ini akan terbentuk jaringan organisasi yang akan mengakibatkan hilangnya penglihatan.
Bila diberikan perawatan yang tepat pada rupture sklera maka tajam penglihatan dapat dipertahankan. Pada rupture sklera pengangkatan bola mata hanya dilakukan bila tidak terdapat lagi proyeksi sinar atau kerusakan sudah demikian besarnya sehingga usaha untuk melakukan perbaikan secara anatomic sudah tidak mungkin lagi.

3.    Hematoma Kelopak
Hematoma palpebra yang merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra.
Hematoma kelopak merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul kelopak. Trauma dapat akibat pukulan tinju, atau benda-benda keras lainnya. Keadaan ini memberikan bentuk yang menakutkan pada pasien, dapat tidak berbahaya ataupun sangat berbahayaa karena mungkin ada kelainan lain dibelakangnya.
Bila pendarahan terletak lebih dalam dan memakai kedua kelopak dan berbentuk kaca mata hitam yang sedang dipakai, maka keadaan ini disebut sebagai hematoma kaca mata. Hematoma kaca mata merupakan keadaan sangat gawat. Hematoma kaca mata terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. Pad pecahnya a.oftalmika maka darah masuk keadalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Akibat darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak mata akan terbentuk gambaran hitam pad kelopak seperti seseorang memakai kaca mata.
Pada hematoma kelopak yaang dini dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa sakit. Bila telah lama, untuk memudahkan absorbsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada kelopak.

4.    Trauma Tumpul Konjungtiva
a.    Edema Konjungtiva
            Jaringan konjungtiva yang bersifat selaaaput lendir dapat menjadi kemotik pada setiap kelaainannya, demikian pula akibat trauma tumpul. Bila kelopak terpajan ke dunia luar dan konjungtiva secara laangsung karena angin tanpa dapat mengedip, maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada konjungtiva.
b.    Kemotik Konjungtiva
Kemotik konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva. Pada edema konjungtiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan di dalam selaput lendir konjungtiva. Pada kemotik konjungtiva berat dapat dilakukan disisi sehingga cairan konjungtiva kemotik keluar melalui insisi tersebut.
c.    Hematoma subkonjungtiva
            Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada atau dibawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh darah ini dapat akibat bentuk rejan, trauma tumpul basis kranii (hematoma kaaca mata), atau pada keadaan pembuluh darah yang rentan dan mudah pecah. Pembuluh darah akan rentan dan mudah pecah pada usia lanjut, hipertensi, arteriosklerose, konjungtiva meradang (konjungtivitis), anemia, dan obat-obat tertentu.
            Bila perdarahan ini tejadi akibat trauma tumpul makaa perlu dipastikan bahwa tidak terdapat robekan dibawah jaringan konjungtiva atau sklera. Kadang-kadang hematoma subkonjungtiva menutupi keadaan mata yang lebih buruk seperti seperti perforasi bola mata. Pemeriksaan funduskopi adalah perlu ada setiap penderita dengan perdarahan subkonjungtiva akibat trauma. Bila tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan hematoma subkonjungtiva maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari kemungkinan adanya ruptur bulbus okuli.
Pengobatan dini pada hematoma subkonjungtiva ialah dengan kompres hangat. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorbsi dalam 1-2 minggu tanpa diobati.

5.    Trauma Tumpul Pada Kornea
a.    Edema kornea
            Trauma tumpul yang keras ataau cepat mengenai mataa dapat mengakibatkan edema kornea malahan ruptur membran Descemet. Edema kornea akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihaatnya pelangi sekitar bola lampu ataau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh, dengan uji plasido yang positif.
Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan masuknya serbukan sel radang dan noevaskularisasi kedalam jaringan stroma kornea.
Pengobatan yang diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCl 5% atau larutan garam hipertonik 2-8%, glukosa 40% dan larutan albumin.
            Bila terdapat peninggian tekanan bola mata maka diberikan asetazolamida. Pengobatan untuk menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki tajam penglihatan dengan lensa kontak lembek dan mungkin akibat kerjaanya menekan kornea terjadi pengurangan edema kornea.
Penyulit trauma kornea yang berat berupa terjadinya kerusakan M.Descemet yang lama sehingga mengakibatkan keratopati bulosa yang akan memberikan keluhan rasa sakit dan menurunkan tajam penglihatan akibat astigmatisme iregular.
b.    Erosi kornea
Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Erosi dapat terjadi tanpa cedera pada membran basal. Dalam waktu yang pendek epitel sekitarnya dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel tersebut.
Pada erosi pasien akan merasa sakit sekali akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata berair, dengan blefarospasme, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan akan terganggu oleh mediaa kornea keruh.
Pada kornea akan telihat suatu defek epitel kornea yang bila diberi pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau.
Pada erosi kornea perlu diperhatikan adalah adanya infeksi yang timbul kemudian.
Anestesi topikaal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit yang sangat. Hati-hati bila memakai obat anestetik topikal untuk menghilangkan rasa sakit pada pemeriksaan karena dapat menambah kerusakan epitel.
Epitel yang terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas. Untuk mencegah infeksi bakteri diberikan antibiotika seperti antibiotika spektrum luas neosporin, kloramfenikol dan sulfasetamid tetes mata. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka diberikan sikoplegik aksi-pendek seperti tropikamida. Pasien akan merasa lebih enak bila dibebat tekan selama 24 jam. Erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah 48 jam.
c.    Erosi kornea rekuren
            Erosi rekuret biasanya terjadi akibat cedera yang merusak membran basal atau metaherpetik. Epitel yang menutup kornea akan mudah lepas kembali diwaktu bangun pagi. Terjadinya erosi kornea berulang akibat epitel tidak dapat bertahan pada defek epitel kornea. Sukarnya epitel menutupi kornea diakibatkan oleh terjadinya pelepasan membran basal epitel kornea tempat duduknya sel basal epitel kornea. Biasanya membran basal yang rusak akan kembali normal setelah 6 minggu.
Pengobatan terutama bertujuan melumas permukaan kornea sehingga basal kornea. Pengobatan biasanya dengan memberikan sikoplegik untuk menghulangkan rasa sakit ataupun untuk mengurangkan gejala radang uvea yang mungkin timbul. Antibiotik diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk mempercepat tumbuh epitel baru dan mencegah infeksi sekunder. Biasanya bila tidak terjadi infeksi sekunder erosi kornea yang mengenai seluruh permukaan kornea akan sembuh dalam 3 hari. Pada erosi kornea tidak diberi antibiotik dengan kombinasi steroid.
Pemakaian lensa kontak lembek pada pasien dengan erosi rekuren sangat bermanfaat, karena dapat mempertahankan epitel berada di tempat dan tidak dipengaruhi kedipan kelopak mata.

6.    Trauma Tumpul Uvea
a.    Iridoplegia
            Trauma tumpul pada uvea dapat mengakibatkan kelumpuhan otot sfingter pupil atau iridoplegia sehingga pupil menjadi lebar atau midriasis. Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi, silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil. Pupil tidak terlihat sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi iregular. Pupil tidak bereaksi terhadap sinar. Iridoplegia akibat trauma akan berlangsung beberapa hari samapai beberapa minggu.
Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi intirahat untuk mencegah terjadinya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.
b.    Iridoddialisis
Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil menjadi berubah. Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya.
Pada iridodialisis akan terlihat pupil lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan terbentuknya hifema.
Bila keluhan demikian maka pasien sebaiknya dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas.
c.    Hifema
            Hifema atau darah didalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar.
Pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadnag terlihat iridoplegia dan iridodialisis.
Pengobatan dengan merawat pasien dengan tidur ditempat tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala, diberi koagulasi, dan mata ditutup. Pada anak yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Asetazolamida diberikan bila terjadi penyulit glaukoma. Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalan penyakit tidak berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk.
Parasentesis atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila  setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang.
Kadang-kadang sesudah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi perdarahan atau hifema baru yang disebut hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena perdarahan lebih sukar hilang.
Glaukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata.
Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan sidrosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan. Hifema spontan pad anak sebaiknya dipikirkan kemungkinan leukemia dan retinoblastoma.

7.    Trauma Tumpul Pada Lensa
a.    Disklorasi lensa
Trauma tumpul lensa dapat mengakibatkan dislokasi lensa. Dislokasi lensa tejadi pada putusnya zonula zinn yang akan mengakibatkan kedudukan lensa terganggu.
b.    Subluksasi lensa
Subluksasi lensa terjadi akibat putusnya dengan zonula Zinn sehingga lensa berpindah tempat. Subluksasi lensa dapat terjadi spontan akibat pasien menderita kelainan pada zonula Zinn yang rapuh (Sindrom Marphan).
Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis.
Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada maka lensa yang elastic akan cembung, dan mata akan menjadi lebih miopik. Lensa yang menjadi sangat cembung mendorong iris kedepan sehingga sudut bilik mata tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini mudah terjadi glaukoma sekunder. Subluksasi dapat mengakibatkan glaukoma sekunder dimana terjadi penutupan sudut bilik mata oleh lensa oleh lensa yang cembung. Bila tidak terjadi penyulit subluksasi lensa seperti glaukoma atau uveitis maka tidak dilakukan pengeluaran lensa dan diberi kaca mata koreksi yang sesuai.
c.    Luksasi lensa anterior
Bila seluruh zonula Zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa dapat masuk kedalam bilik mata depan. Akibaat lensa terletak dalam bilik mata depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya. Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak, disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah dengan blefarospasme.
Terdapat injeksi siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat tinggi.
Pada luksasi lensa anterior sebaiknya pasein secepatnya dikirim pad dokter mata umtuk dikeluarkan lensanya dengan terlebih dahulu diberikan asetazolamida untuk menurunkan tekanan bola matanya.
d.   Luksasi lensa posterior
Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula Zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa jatuh kedalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus posterior fundus okuli.
Mata ini akan menunjukan gejala mata tanpa lensa atau afakia. Pasien akan melihat normal dengan lensa + 12.0 dioptri untuk jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans.
Lensa yang berada terlalu lampa pada polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibaat degenerasi lensa, berupa glaukoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik.
Bila luksasi lensa telah menimbulkan penyulit sebaiknya sepatnya dilakukan ekstraksi lensa.
e.    Katarak Trauma
            Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi ataupun tumpul terlihat sesudah beberapa hari ataupun tahun.
Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.
Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat ploriferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata depan.
Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan bercampur makrofag dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanafilaktik. Lensa dengan kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan apa yang disebut sebagai cincin Soemering atau bila epitel lensa berplorifesasi aktif akan terlihat mutiara Elschning.
Pengobatan katarak traumatic tergantung pada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak kemungkina terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra ocular primer atau sekunder.
Pada katarak trauma apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveits dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uveits dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua, pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa.
f.     Cincin Vossius
Pada trauma lensa dapat terlihat apa yang disebut sebagai cincin Vossius yang merupakan cincin berpigmen yang terletak tepat dibelakang pupil yang dapat terjadi segera setelah trauma, yang merupakan deposit pigmen iris pada dataran depan lensa sesudah sesuatu trauma, seperti suatu stempel jari.
Cincin hanya menunjukkna tanda bahwa mata tersebut telah mengalami suatu trauma tumpul.

8.    Trauma Tumpul Retina dan Koroid
a.    Edema retina dan koroid
Trauma tumpul pada retina dapat mengakibatkan edema retina, penglihatan akan sangat menurun. Edema retina akan memberikan warna retina yang lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab. Berada dengan oklusi arteri arteri retina sentral dimana terdapat edema retina kecuali daerah macula, sehingga pada keadaan ini akan terlihat Cherry red spot yang berwarna merah. Edema retina akibat trauma tumpul juga mengakibatkan edema macula sehingga tidak terdapat Cherry red spot.
Pada trauma tumpul yang paling ditakutkan adalah terjadi edema macula atau edema Berlin. Pada keadaan ini akan terjadi edema yang luas sehingga seluruh polus posterior fundus okuli berwarna abu-abu.
Umumnya pengkihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu, akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunnya daerah macula oleh sel pigmen epitel.
b.    Ablasi retina
Trauma diduga merupakan pencetus untuk terlepasnya retina dari koroid pada penderita ablasi retina. Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini seperti retina tipis akibat retinitis sanata, myopia, dan proses degenerasi retina lainnya.
Pada pasien akan terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti tabir mengganggu lapang pandangnya. Bila terkena atau tertutup daerah macula maka tajam penglihatan akan menurun.
Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang berwarna bau-abu dengan pembuluh darah yabg terlihat terangkat dan berkelok-kelok. Kadang-kadang terlihat pembuluh darah seperti yang terputus-putus. Pada pasien dengan ablasi retina maka secepatnya dirawat untuk dilakukan pembedahan oleh dokter mata.

9.    Trauma Koroid
a.    Rupture koroid
Pada trauma keras akan terjadi perdarahan subretina yang dapat merupakan akibat rupture koroid. Rupture ini biasanya terletak dipoles posterior bola mata dan melingkar konsentris disekitar papil saraf optic.
Bila rupture koroid rerletak atau mengenai daerah macula lutea maka tajam penglihatan akan turun dengan sangat. Rupture ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar dilihat akan tetapi bila darah tersebut telah diabsorbsi maka akan terlihat bagian rupture berwarna putih karena sclera dapat dilihat langsung tanpa tertutup koroid.
10.    Trauma Tumpul Saraf Optik
a.     Avulasi papil saraf optic
Pada trauma tumpul dapat terjadi saraf optic terlepas dari pangkalnya di dalam bola mata yang disebut sebagai avulasi papil saraf optic. Keadaan ini akan mengaakibatkan turunnya tajam penglihatan yang berat dan sering berakhir dengan kebutaan. Penderita ini perlu dirujuk untuk dinilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya.
b.    Optic neuropatik traumatic
Trauma tumpul dapat mengakibatkan kompresi pada saraf optic, demikian pula perdarahan dan edema sekitar saraf optic.
Penglihatan akan berkurang setelah cidera mata. Terdapat reaksi defek aferen pupil tanpa adanya kelainan nyata pada retina. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah gangguan penglihatan warna dan lapangan pandang. Papil saraf optic dapat normal beberapa minggu sebelum menjadi pucat.
Diagnosis banding penglihatan turun setelah sebuah cidera mata adalah trauma retina, perdarahan badan kaca. Trauma yang mengkibatkan kerusakan pada kiasam optic.
Pengobatan adalah dengan merawat pasien pada waktu akut dengan member steroid. Bila penglihatan memburuk setelah steroid maka perlu dipertimbangkan untuk pembedahan.

D.  Patofisiologi
Trauma tumpul yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada pembuluh darah iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan perdarahan dalam bilik matadepan. Iris bagian perifer merupakan bagian paling lemah. Suatu trauma yang mengenai mata akan mengakibatkan kekuatan hidralis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis, serta merobek lapisan otot spingter seingga pupil menjadi ofoid dan nonreaktif. Tenaga yang timbul dari suatu tauma diperkirakan akan terus kedalam isi bola mata melalui sumbu anterior posterior sehingga menyebbkan kompresi ke posterior seta menegangkan bola mata kelateral sesuai garis aquator. Hifema yang terjadi dalam beberapa hari akan berhenti, oleh karena adanya proses homeostatis. Darah dalam bilik mata depan akan diseap sehingga akan menjadi jernih kembali.
Suatu pukulan pada mata dapat:
1.      Merusak bola mata sejajar dengan  atau tepat di belakang limbus. Bila hal ini terjadi, maka akan terlihat jaringan uvea hitam yang prolaps melaluinya. Kongjungtiva di atasnya mungkin atau tidak robek.
2.      Merusak bola mata yang dekat dengan saraf optic. Anda mungkin melihat cedera ini dengan oftalmoskop, tetapi tidak ada yang dapat anda lakukan, dan penglihatan mungkin dapat pulih kembali.
3.      Merobek koroid dan retina tanpa merusak sklera. Sekali lagi, tempat yang umum adalah dekat diskus optikus, dan ke perifer dekat dengan limbus, di mana retina masuk ke dalam korpus siliaris. Anda hanya dapat melihat sepertiga tengah dari fundus pasien dengan oftalmoskop, sehingga anda melihat air mata dekat diskus optikus, tetapi tidak pada tempat perifer. Mula-mula darah di vitreus mungkin menghalangi air mata di tengah, tetapi saat pasien membersihkannya maka anda akan melihat sebagai suatu celah semikularis pada retina yang memaparkan bagian putih skelra. Pasien dibaringkan di tempat tidur hingga tidak ada darah. Pasien dibaringakan di tempat tidur hingga tidak ada darah. Robekan retina tidak pernah menyembuh dan hampir selalu diikuti dengan pelepasan retina dari koroid, mungkin beberapa tahun kemudian. Tidak mungkin dilakukan perbaikan. 
4.      Melepaskan retina tanpa merobek koroid. Bagian retina yang terlepas berwarna abu-abu, dimana keadaan normal berwarna merah, dan pembuluh darah di tasnya gelap, hampir hitam.

E.   Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut:
1.    Rongga Orbita adalah suatu rongga yang terdiri dari bola mata dan 7 ruas tulang yang membentuk dinding orbita (lakrimal, ethmoid, sfenoid, frontal, maksila, platinum dan zigomatikus. Jika pada trauma mengenai rongga orbita maka akan terjadi fraktur orbita, kebutaan (jika mengenai saraf), perdarahan didalam rongga orbita, gangguan gerakan bola mata.
2.    Palpebra adalah kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan komea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Gangguan penutupan kelopak (lagoftalmos) akan mengakibatkan keringnya permukaan mata sehingga terjadi keratitis.
Jika pada palpebra terjadi trauma tumpul maka akan terjadi hematom, edema palpebra yang dapat menyebabkan kelopak mata tidak dapat membuka dengan sempurna (ptosis), kelumpuhan kelopak mata (lagoftalmos/tidak dapat menutup secara sempurna).
3.    Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. edema, robekan pembuluh darah konjungtiva (perdarahan subkonjungtiva) adalah tanda dan gejala yang dapat terjadi jika konjungtiva terkena trauma.
4.    Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari beberapa lapisan. Dipersarafi oleh banyak saraf. Edema kornea, penglihatan kabur, kornea keruh, erosi/abrasi, laserasi kornea tanpa disertai tembusnya kornea dengan keluhan nyeri yang sangat, mata berair, fotofobi adalah tanda dan gejala yang dapat muncul akibat trauma pada kornea.
5.    Iris atau badan silier merupakan bagian dari uvea. Pendarahan uvea dibedakan antara bagian anterior yang diperdarahi oleh 2 buah arteri siliar posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan 7 buah arteri siliar anterior, yang terdapat 2 pada setiap otot superior, medial inferior, satu pada otot rektus lateral. Arteri siliar anterior dan posterior ini ber­gabung menjadi satu membentuk arteri sirkularis mayor pada badan siliar. Uvae posterior mendapat perdarahan dari 15 - 20 buah arteri siliar posterior brevis yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik. Hifema (perdarahan bilik mata depan), iridodialisis (iris terlepas dari insersinya) merupakan tanda patologik jika trauma mengenai iris.
6.    Lensa merupakan badan yang bening. Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung, jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, terletak di tempatnya. Secara patologik jika lensa terkena trauma akan terjadi subluksasi lensa mata (perpindahan tempat).
7.    Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas penyebaran daripada serabut-serabut saraf optik. Letaknya antara badan kaca dan koroid. Letaknya antara badan kaca dan koroid. Bagian anterior berakhir pada ora serata. Dibagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu penglihatan terdapat makula lutea (bintik kuning) kira-kira ber­diameter 1 - 2 mm yang berperan penting untuk tajam penglihatan. Ditengah makula lutea terdapat bercak mengkilat yang merupakan reflek fovea. Secara patologik jika retina terkena trauma akan terjadi edema makula retina, ablasio retina, fotopsia, lapang pandang terganggu dan penurunan tekanan bola mata.
8.    Nervus optikus adalah N.II terlepas atau putus (avulsio) sehingga menimbulkan kebutaan

F.   Pemeriksaan Penunjangan
1.    Slit lamp untuk melihat kedalaman cedera di segmen anterior bola mata.
2.    Tes fluoresin digunakan untuk mewarnai kornea, sehingga cedera kelihatan jelas.
3.    Tonometri: untuk mengetahui tekakan bola mata.
4.    Pemeriksaan fundus yang di dilatasikan dengan oftalmoskop indirek untuk mengetahui adanya benda asing intraokuler.
5.    Tes Seidel untuk mengetahui adanya cairan yang keluar dari mata. Tes ini dilakukan dengan cara memberi anastesi pada mata yaang akan diperiksa, kemudian diuji pada strip fluorescein steril. Penguji menggunakan slit lamp dengan filter kobalt biru, sehingga akan terlihat perubahan warna strip akibat perubahan pH bila ada pengeluaran cairan mata.
6.    Pemeriksaan CT-Scan dan USG B-scan digunakan untuk mengetahui posisi benda asing.
7.    Electroretinography (ERG) untuk mengetahui ada tidaknya degenerasi pada retina.
8.    Kartu snellen pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
9.    Pengukuran tekanan IOL dengan tonography mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
10.    Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragik.
11.    Pemeriksaan radiologi pada trauma mata sangat membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing.

G.  Penatalaksanaan
Prinsip penanganan trauma tumpul bola mata adalah apabila tampak jelas adanya ruptur bola mata, maka manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai pasien mendapat anestesi umum. Sebelum pembedahan, tidak boleh diberikan sikloplegik atau antibiotik topikal karena kemungkinan toksisitas obat akan meningkat pada jaringan intraokular yang terpajan. Antibiotik dapat diberikan secara parenteral spektrum luas dan pakaikan pelindung fox pada mata. Analgetik, antiemetik, dan antitoksin tetanus diberikan sesuai kebutuhan, dengan restriksi makan dan minum. Induksi anestesi umum harus menghindari substansi yang dapat menghambat depolarisasi neuromuskular, karena dapat meningkatkan secara transien tekanan bola mata, sehingga dapat memicu terjadinya herniasi isi intraokular.
Pada trauma yang berat, ahli oftalmologi harus selalu mengingat kemungkinan timbulnya kerusakan lebih lanjut akibat manipulasi yang tidak perlu sewaktu berusaha melakukan pemeriksaan mata lengkap. Anestetik topikal, zat warna, dan obat lainnya yang diberikan ke mata yang cedera harus steril.
Kecuali untuk cedera yang menyebabkan ruptur bola mata, sebagian besar efek kontusio-konkusio mata tidak memerlukan terapi bedah segera. Namun, setiap cedera yang cukup parah untuk menyebabkan perdarahan intraokular sehingga meningkatkan risiko perdarahan sekunder dan glaukoma memerlukan perhatian yang serius, yaitu pada kasus hifema.
Kelainan pada palpebra dan konjungtiva akibat trauma tumpul, seperti edema dan perdarahan tidak memerlukan terapi khusus, karena akan menghilang sendiri dalam beberapa jam sampai hari. Kompres dingin dapat membantu mengurangi edema dan menghilangkan nyeri, dilanjutkan dengan kompres hangat pada periode selanjutnya untuk mempercepat penyerapan darah. Pada laserasi kornea , diperbaiki dengan jahitan nilon 10-0 untuk menghasilkan penutupan yang kedap air. Iris atau korpus siliaris yang mengalami inkarserasi dan terpajan kurang dari 24 jam dapat dimasukkan ke dalam bola mata dengan viskoelastik. Sisa-sisa lensa dan darah dapat dikeluarkan dengan aspirasi dan irigasi mekanis atau vitrektomi. Luka di sklera ditutup dengan jahitan 8-0 atau 9-0 interrupted yang tidak dapat diserap. Otot-otot rektus dapat secara sementara dilepaskan dari insersinya agar tindakan lebih mudah dilakukan.
Prognosis pelepasan retina akibat trauma adalah buruk, karena adanya cedera makula, robekan besar di retina, dan pembentukan membran fibrovaskular intravitreus. Vitrektomi merupakan tindakan yang efektif untuk mencegah kondisi tersebut.
Pada hifema, bila telah jelas darah telah mengisis 5% kamera anterior, maka pasien harus tirah baring dan diberikan tetes steroid dan sikloplegik pada mata yang sakit selama 5 hari. Mata diperiksa secara berkala untuk mencari adanya perdarahan sekunder, glaukoma, atau bercak darah di kornea akibat pigmentasi hemosiderin.
Penanganan hifema, yaitu :
1.    Pasien tetap istirahat ditempat tidur (4-7 hari ) sampai hifema diserap.
2.     Diberi tetes mata antibiotika pada mata yang sakit dan diberi bebat tekan.
3.    Pasien tidur dengan posisi kepala miring 60º diberi koagulasi.
4.    Kenaikan TIO diobati dengan penghambat anhidrase karbonat. (asetasolamida).
5.    Di beri tetes mata steroid dan siklopegik selama 5 hari.
6.    Pada anak-anak yang gelisah diberi obat penenang
7.    Parasentesis tindakan atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan bila ada tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang.
8.    Asam aminokaproat oral untuk antifibrinolitik.
9.    Evakuasi bedah jika TIO lebih 35 mmHg selama 7 hari atau lebih 50 mmH selama 5 hari.
10.    Vitrektomi dilakukan bila terdapat bekuan sentral dan lavase kamar anterior.
11.    Viskoelastik dilakukan dengan membuat insisi pada bagian limbus.
12.    Anastesi lokal dengan pentocain tetes mata 2% tiap menit selama 5 menit, kelopak mata atas dan bawah dibuka dengan spekulum untuk mencari benda asing.
13.    Pengeluaran benda sing dengan: kapas lidi steril, ujung jarum suntik tumpul
14.    Salep mata antibiotik 3 kali perhari dan mata dibebat selama 2 hari.

H.  Pencegahan
1.    Trauma tumpul akibat kecelakaan tak dapat dicegah, kecuali perkelahian.
2.    Diperlukan perlindungan pekerja untuk menghindarkan terjadinya trauma.
3.    Berkendara sebaiknya memakai kacamata atau helm.
4.    Awasi anak-anak terhadap mainan yang berbahaya terhadap mata.

I.     Pathway


BAB III
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

A.  Pengkajian
1.    Identitas
Identitas pasien meliputi nama, usia (dapat terjadi pada semua usia), pekerjaan, jenis kelamin (kejadian lebih banyak pada laki-laki daripada wanita).
2.    Keluhan utama
Klien biasanya mengeluh adanya penurunan penglihatan, nyeri pada mata,  dan keterbatasan gerak mata.
3.    Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penyakit yang mungkin diderita klien seperti DM yang dapat menyebabkan infeksi yang pada mata sulit sembuh.
4.    Riwayat penyakit sekarang
Yang perlu dikaji adalah jenis trauma, bahan yang menyebabkan trauma, lama terkena trauma, dan tindakan apa yang sudah dilakukan pada saat trauma terjadi dan sebelum dibawa ke RS.
5.    Riwayat psikososial
Pada umumnya klien mengalami berbagai derajat ansietas, gangguan konsep diri dan ketakutan akan terjadinya kecacatan mata, gangguan penglihatan yang menetap atau mungkin kebutaan. Klien juga dapat mengalami gangguan interaksi sosial.
6.    Pemeriksaan persistem
a.    B1 (Breath): disertai gangguan pernapasan jika trauma menyebar ke mukosa hidung.
b.    B2 (Blood): perdarahan jika trauma melibatkan organ tubuh lain selain struktur mata.
c.    B3 (Brain): pasien merasa pusing atau nyeri karena adanya peningkatan TIO (tekanan intraokular).
d.   B4 (Bladder): tidak ada gangguan pada sistem perkemihan.
e.    B5 (Bowel): tidak ditemukan perubahan dalam sistem gastrointestinal.
f.     B6 (Bone) :ekstremitas atas dan bawah tidak ditemukan adanya kelainan.
7.    ADL
a.    Aktivitas dan istirahat
Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari di karenakan adanya penurunan kemampuan penglihatan.
b.    Nutrisi
Mungkin terjadi mual muntah akibat dari peningkatan TIO.
c.    Neurosensori
Adanya distorsi penglihatan, silau bila terkena cahaya, kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap atau memfokuskan penglihatan). Pandangan kabur, halo, penggunaan kacamata tidak membantu penglihatan. Peningkata pengeluaran air mata.
d.   Nyeri dan kenyamanan
Rasa tidak nyaman pada mata, kelelahan mata, tiba-tiba dan nyeri menetap di sekitar mata, nyeri kepala
8.    Pemeriksaan khusus pada mata:
a.    Visus (menurun atau tidak ada)
b.    Gerakan bola mata ( terjadi pembatasan atau hilangnya sebagian pergerakan bola mata)
c.    Adanya perdarahan, perubahan struktur konjugtiva, warna, dan memar.
d.   Kerusakan tulang orbita, krepitasi tulang orbita.
e.    Pelebaran pembuluh darah perikornea.
f.     Hifema.
g.    Robek kornea
h.    Perdarahan dari orbita.
i.       Blefarospasme.
j.      Pupul tidak beraksi terhadap cahaya, struktur pupil robek.
k.    Tes fluoresens positif.
l.      Edema kornea.
m.  Nekrosis konjugtiva atau sklera.
n.    Katarak.
9.    Data Penunjang Lain
a.    Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
b.    Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.
c.    Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
d.   Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.

B.  Diagnosa Keperawatan
1.    Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
2.    Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
3.    Gangguan Sensori Perseptual: Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori /status organ indera.
4.    Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis.

C.  Intervensi Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, nyeri klien berkurang.
Kriteria Hasil:
Klien akan melaporkan penurunan nyeri progresif dan penghilangan nyeri setelah intervensi
Klien tidak gelisah
Klien mampu melakukan tindakan mengurangi nyeri
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji tipe, intensitas, skala  dan lokasi nyeri
Untuk menentukan intervensi yang sesuai dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
2
Terangkan penyebab nyeri dan faktor/tindakan yang dapat memprovokasi nyeri.
nyeri disebabkan oleh efek kimiawi atau fisik benda dan nyeri dapat meningkat akibat provokasi: menekan mata terlalu kuat; gerakan mata tiba-tiba.
3
Lakukan kompres pada jaringan sekitar mata.
kompres dingin mungkin diperlukan pada trauma fisik akut dan jika kondisi stabil (agak lama), dapat digunakan teknik kompres hangat (jika tidak ada perdarahan).
4
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada klien
Relaksasi dapat mengurangi tingkat nyeri
5
Pertahankan tirah baring dengan posisi tegak atau posisi kepala 60º
Mengurangi tekanan pada TIO sehingga dapat mengurangi rasa nyeri
6
Kolaborasi pemberian analgetik
Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri.

Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan selama 2x24 jam klien tidak menunjukkan adanya infeksi.
Kriteria Hasil:
Suhu tubuh 36,5oC-37oC
Tidak ada tanda-tanda infeksi selama perawatan
Pemeriksaan laboratorium
No
Intervensi
Rasional
1
Kali perilaku sehari-hari yang memungkinkan timbulnya infeksi mata
berbagai tindakan mungkin tidak disadari oleh klien sebagai hal yang dapat menyebabkan infeksi, seperti menggosok atau memegang mata.
2
Terangkan berbagai perilaku yang dapat menyebabkan infeksi.
Perilaku yang dapat menyebabkan infeksi dapat diidentifikasi dari perilaku klien yang telah klien lakukan atau belum dilakukan oleh klien.
3
Ajarkan perilaku yang baik untuk mengurangi resiko infeksi.
Menigkatkan pemahaman klien akan pentingnya perilaku mencegah infeksi
4
Ajarkan berbagai tanda infeksi.

Meningkatkan pengetahuan klien tentang tanda infeksi mata yang mungkin dapat terjadi sebagai akibat komplikasi dari penyakit sekarang.

5
Lakukan tindakan secara aseptik
Mengurangi terjadinya infeksi karena adanya port de entrée,
Gangguan Sensori Perseptual: Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori  atau status organ indera.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan selama 2x24 jam, klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengkomunikasikan perubahan visual.
Kriteria Hasil:
Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang memperngaruhi fungsi penglihatan.
Klien mengidentifikasi dan menunjukan pola-pola alternatif untuk menigkatkan penerimaan rangsang penglihatan.
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji ketajaman penglihatan klien.

Mengidentifikasi kemampuan visual klien.

2
Dekati klien dari sisi yang sehat.
Memberikan rangsang sensori, mengurangi rasa isolasi/terasing.

3
Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan:
a.    Orientasikan klien terhadap ruang rawat
b.    Letakan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.
c.    Berikan pencahayaan cukup.
d.   Hindari cahaya menyilaukan.
meningkatkan kemapuan persepsi sensori.
4
Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat diterima : auditorik, taktil.

Meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan

Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien tidak cemas.
Kriteria Hasil:
Klien mengungkapkan kecemasan berkurang atau hilang.
Klien berpartisipasi dalam kegiatan pengobatan.
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji derajat kecemasan, faktor yang menyebabkan kecemasan, tingkat pengetahuan dan ketakutan klien akan penyakit.
Umumnya faktor yang menyebabkan kecemasan adalah kurangnya pengetahuan dan ancaman aktual terhadap diri. Pada klien dengan trauma mata rasa nyeri dan penurunan lapang penglihatan menimbulkan ketakutan utama.
2
Orientasikan tentang penyakit yang dialami klien, prognosis dan tahap perawatan yang akan dijalani klien.

menigkatkatan pemahaman klien akan penyakit. Jangan memberikan keamanan palsu seperti mengatakan penglihatan akan segera pulih atau nyeri akan segera hilang. Gambarkan secara objektif tahap pengobatan, harapan proses pengobatan, dan orientasi pengobatan masa berikutnya.
3
Beri kesempatan kepada klien untuk bertanya tentang penyakitnya.
Menimbulkan rasa aman dan perhatian bagi klien.
4
Beri dukungan psikologis
Dukungan psikologis dapat berupa penguatan tentang kondisi klien, keaktifan klien dalam melibatkan diri dalam perawatan maupun mengorientasikan bagaimana kondisi penyakit yang sama menimpa klien yang lain
5
Terangkan setiap prosedur yang dilakukan, jelaskan tahap perawatan yang akan dijalani.

Mengurangi rasa ketidaktahuan dan kecemasan yang terjadi.