Thursday, February 19, 2026

Apa itu Implementasi Keperawatan ?

 

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Implementasi  keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapai kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994 dalam Potter & Perry, 1997)

Implemantasi adalah pengaplikasian dari intervensi yang berupa tindakan memantau dan mencatat respons pasien setiap intervensi dan mengkomunikasikan hasilnya. Kemampuan yang harus dimiliki perawat pada tahap implementasi adalah kemapuan komunikasi  yang efektif, kemampuan untuk menciptakan bhsp dan saling bantu, kemampuan melakukan teknik psikomotor, melakukan observasi sistematis, kemampuan memberi pendidikan kesehatan, kemampuan advokasi, dan kemampuan evaluasi.

Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai dengan rencana keperawatan, perawat harus mempunyai kemampuan kognitif (intelektual), kemampuan adalam hubungan interpersonal, dan ketrampilan dalam melakuakan tindakan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi (Kozier et al, 1995)

Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori dari implementasi keperawatan, antara lain:

1.    Cognitive implementations, meliputi pengajaran/ pendidikan, menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi, memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan, mengawasi penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan lingkungan sesuai kebutuhan, dan lain lain.

2.    Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan lain lain.

3.    Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan dari data dasar klien, mengorganisir respon klien yang abnormal, melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan rujukan, dan lain-lain.

 

Implementasi tindakan keperawatan dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu independent,interdependent dan dependent.

1.    Independent yaitu suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Lingkup tindakan keperawatan independent antara lain :

a.  Mengkaji klien atau keluarga melalui riwayat keperawatan dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan klien.

b.  Merumuskan diagnosis keperawatan sesuai respon klien yang memerlukan intervensi keperawatan.

c.  Megidentifiasi tindakan keperawatan untuk mempertahankan atau memulihkan kesehatan klien.

d.  Mengevaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan dan medis.

Contoh :

1.  Memberikan perawatan diri

2.  Mengatur posisi tidur

3.  Menciptakan lingkungan yang terapeutik

4.  Memberikan dorogan motivasi

5.  Pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-spiritual

6.  Patisipasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

2.    Interdependent yaitu suatu kegiatan yang memerlukan kerja sama dari tenaga kesehatan lain (mis : ahli gizi, fisioterapi dan dokter)

Contoh :

1.  Pemberian obat-obatan sesuai dengan instruksi dokter. Jadi jenis, dosis, dan efek sampingmenjadi tanggung jawab dokter, tetapi pemberian obat sampai atau tidak menjadi tanggung jawab perawat.

 

3.    Dependent berhubungan dengan pelaksana rencana tindakan medis/instruksi dari tenaga medis.

Contoh :

1.  Pemberian nutrisi pada klien sesuai dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fisik (mobilitas fisik) sesuai dengan anjuran dari bagian fisoterapi.

2.   

Secara operasional hal-hal yang perlu diperhatikan perawat dalam pelaksanaan implementasi keperawatan adalah:

1.    Pada tahap persiapan

a.    Menggali perasaan, analisis kekuatan dan keterbatasan professional pada diri sendiri

b.    .Memahami rencana keperawatan secara baik.

c.    Menguasai keterampilan teknis keperawatan.

d.    Memahami rasional ilmiah dari tindakan yang akan dilakukan.

e.    Mengetahui sumber daya yang diperlukan

f.     .Memahami kode etik dan aspek hukum yang berlaku dalam pelayanan keperawatan.

g.    Memahami standar praktik klinik keperawatan untuk mengukur keberhasilan.

h.    Memahami efek samping dan komplikasi yang mungkin muncul.

i.      Penampilan perawat harus menyakinkan.

2.    Pada tahap pelaksanaan.

a.    Mengkomunikasikan/ menginformasikan kepada klien tentang keputusan tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat.

b.    Beri kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya terhadap penjelasan yang telah diberikan oleh perawat.

c.    Menerapkan pengetahuan intelektual, kemampuan hubungan antar manusia dan kemampuan teknis keperawatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan oleh perawat.

d.    Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan tindakan adalah energi klien, pencegahan kecelakaan dan komplikasi, rasa aman, privacy, kondisi klien, respon klien terhadap tindakan yang telah diberikan.

3.    Pada tahap terminasi.

a.    Terus memperhatikan respons klien terhadap tindakan keperawatan yang telah diberikan.

b.    Tinjau kemajuan klien dari tindakan keperawatan yang telah diberikan.

c.    Rapikan peralatan dan lingkungan klien dan lakukan terminasi.

d.    Lakukan pendokumentasian.

 

Hal-hal yang harus didokumentasikan pada tahap implementasi :

1.    Mencatat waktu dan taggal pelaksanaan.

2.    Mncatat diagnose keperawatan nomor berapa yang dilakukan intervensi tersebut

3.    Mencatat semua jenis intervensi keperawatan termasuk

Contoh : mengompres luka dengan betadine 5%

Fplasil             : luka tampak bersih, pus tidak ada, tidak berbau

4.    Berikan tanda tangan dan nama jelas perawat satu tim kesehatan yang telah melakukan intervensi.

 

 

Petunjuk pendokumentasian pelaksanaan (implementasi)

1.    Gunakan bolpoin tertulis jelas, tulis dengan huruf cetak bila tulisan tidak jelas. Bila salah tidak boleh di tippex tetapi dicoret saja, dan ditulis kembali diatas atau disamping tulisan yang salah.

2.    Jangan lupa selalu menuliskan waktu, jam pelaksanaan.

3.    Dokumentasikan sesegera mungkin setelah tindakan dilaksanakan untuk menghindari kelupaan

4.    Gunakan kata kerja aktif, menjelaskan apa yang akan dikerjakan.

5.    Dokumentasi bagaimana respon klien terhadap tindakan yang dilakukan.

6.    Dokumentasi aspek keamanan, kenyamanan dan pengawasan infeksi terhadap klien. Juga tindakan-tindakan invansive harus dicatat.

7.    Dokumentasi pula modifikasi lingkungan bila itu merupakan bagian dari tindakan keperawatan.

8.    Dokumentasikan persetujuan keluarga untuk prosedur khusus dan tindakan invasive yang mempunyai resiko tambahan.

9.    Dokumentasikan semua informasi yang diberikan dan pendidikan kesehatan yang diberikan.

10. Dokumentasikan degan jelas,lengkap, bukan berarti semua kalimat harus ditulis, tetapi kata-kata kunci dan symbol-simbol atau lambing-lambang sudah baku/ lazim dapat digunakan. Spesifik hindarkan penggunakan kata yang tidak jelas, bila perlu tuliskan ungkapan klien untuk memperjelas maksud.


 

RESUME

Pertanyaan :

1.    Bagaimana implementasi untuk diagnose gangguan jiwa ?

2.    Jelaskan kemampuan komunikasi efektif dan advokasi untuk tahap implementasi ?

3.    Berikan contoh interpersonal implementation ?

4.    Bagaimana cara mengimplementasikan pada pediatric ?

Jawaban :

1.    Implementasi unruk klien jiwa antara lain :

a.    Perawat harus membuat kontrak dengan pasien

                menjelaskan apa yang akan dikerjakan

         peran serta klien yang diharapkan

b.     Melaksanakan askep sesuai dengan yang direncanakan

c.    Mendokumentasikan apa yang telah dilaksanakan

Dalam implementasi :

a.    Perawat kesehatan jiwa mengimplementasikan intervensi yang teridentivikasi dalam rencana asuhan.

b.    Dalam mengimplementasikan rencana asuhan, parawat kesehatan jiwa-psikiatri menggunakan intervensi yang luas yang dirancang untuk mencegah penyakit fisik dan mental, meningkatkan, mempertahankan, dan memulihkan kesehatan fisik dan mental. Perawat kesehatan jiwa-psikiatri memilih intervensi sesuai dengan tingkat praktiknya. Pada tingkat dasar, perawat dapat memilih konseling, terapi lingkungan, aktivitas asuhan mandiri, intervensi psikobiologis, penyuluhan kesehatan, manajemen kasus, peningkatan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan, dan berbagai pendekatan lain untuk memenuhi kebutuhan kesehatan mental klien. Selain pilihan intervensi yang tersedia untuk perawat

c.    Perawat juga harus mencoba dan terus mencoba sampai bisa masuk kedalam kehidupan klien. Walaupun respon yang diberikan klien bermacam-macam

Contoh :

1.    Membina hubungan saling percaya (agar bisa memasuki kehidupan klien)

Respon : klien menghindar

2.    Komunikasi terapuetik (agar bisa memasuki kehidupan klien)

Respon : klien mulai bisa menerima kadatangan perawat

3.    Berkenalan, mengajak perawat yang biasa merawat klien

Respon : klien hanya dian saja

4.    Memberikan pujian yang realistis

Respon : klien masih tetap diam

5.    Memberikan kontrak pada klien, jika klien masih mengingkari kontraknya perawat harus mengulangi kontraknya lagi sampai klien mau memberikan informasi.

Respon : klien mau bercerita atau memberikan informasi kepada  perawat

 

 

2.    Komunikasi Efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi.

Contohnya : membina hubungan saling percaya, komunikasi yang dapat dipahami oleh klien.

Advocasi : advokasi yang dilakukan untuk memperoleh komitmen atau dukungan dalam bidang kesehatan, atau yang mendukung pengembangan lingkungan dan perilaku sehat (DEPKES, 2007).

Contohnya : apabila klien sudah tidak panas / panasnya sudah turun maka penghentian obat dari dokter.

 

3.    Implementation interpersonal : meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan lain lain.

Contohnya : pada klien yang menderita nyeri abdomen, sudah diberikan obat anti nyeri tetapi nyeri tersebut belum berkurang dan klien tidak tahan dengan sakit, maka sambil menunggu perawat menghubungi dokter untuk mengonsultasikan perawat harus mengajak klien itu beristigfar (jika muslim), bercerita untuk mengalihkan perhatiannya, mengajak klien untuk nafas dalam.

 

4.    Implementasi pada pediatric :

a.    Perawat mendapatkan respon itu dari orang terdekat klien, orang yang sedang menunggui di RS, orang tua.

b.    Jika dalam tindakan klien menangis dialihkan dulu perhatiannya,

c.    Jika klien duduk perawat juga harus duduk,

Contoh :

a.    Jelaskan kepada klien tindakan apa yang akan dilakukan dengan mengajaknya bermain, memberikan boneka, atau mainan yang klien suka

Respon : klien menangis

b.    Ajak klien ketempat bermain 

Respon : klien mulai berhenti menangis