KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN LOW BACK PAIN
1. Pengkajian
Klien diminta untuk menjelaskan tentang nyeri atau
ketidaknyaman yang dirasakan, misalnya lokasi nyeri, beratnya nyeri, durasi
nyeri, sifat nyeri, penjalaran, dan kelemahan tungkai. Bila nyeri punggung
merupakan masalah kambuhan perlu ditanyakan kontrol nyeri yang berhasil
dilakukan. Tanyakan juga, bukti bahwa nyeri punggung memengaruhi gaya hidup. Nyeri
trauma di rasakan sehabis istirahat dari aktivitas.Pada tingkat
selanjutnya,terjadi spasme otot paravertebral (peningkatan tonus otot tulang
postural belakang yang berlebihan)disertai hilangnya lengkung lordotik
lumbal.Pada pengkajian lain,perawat biasanya menemukan adanya hubungan
keluarga,lingkungan tempat tinggal,dan kerja dengan keluhan nyeri punggung
bawah.
Bagaimana
pekerjaan dan aktivitas rekreasi klien. Informasi mengenai nyeri dapat menjadi
data dasar untuk menentukan intervensi dan pendidikan kesehatan pada klien dan
keluarga.
Evaluasi juga cara
berjalan klien, mobilitas tulang belakang, refleks, panjang tungkai, kekuatan
motorik, dan persepsi sensorik, serta ketidaknyamanan yang dialami. Secara
umum, gerakan klien selalu hati-hati, punggung selalu dijaga tetap tidak
bergerak, dan kursi yang dipilih untuk menyokong sebaiknya memiliki lengan dengan ketinggian tempat duduk
standar. Dapat ditemukan klien duduk atau berdiri dengan posisi yang tidak
biasa, melenggok menjauhi sisi yang paling nyeri, dan mungkin meminta bantuan
untuk melepas pakaian, karena gerakan punggung akan mengakibatkan rasa tidak
nyaman
Pada pemeriksaan fisik, lakukan pengkajian lengkungan
tulang belakang, krista iliaka, dan simetrisitas bahu. Otot paraspinal
dipalpasi, dan catat adanya spasme serta nyeri tekan. Klien diminta membungkuk
ke depan dan ke samping, catat adanya nyeri dan keterbatasan gerak. Efek
keterbatasan gerak terhadap aktivitas sehari-hari harus dicatat. Kaji terhadap
parestesi, kelemahan otot atau paralisis, nyeri punggung dan tungkai dengan
pengangkat tungkai lurus, misal klien terlentang, tungkai klien diangkat ke
atas dengan lutut diluruskan. Perawat perlu memperhatikan tentang pengkajian
cara berjalan, kurvatura dan mobilitas tulang belakang, kesimetrisan panjang
tungkai (penindihan tungkai pada satu sisi dalam keadaan lurus sering
menyebabkan nyeri akibat iritasi serabut
saraf daerah lumbal).Efek keterbatasan gerak terhadap aktivitas sehari-hari
perlu di tentukan .
Pengkajian psikososial spiritual dilakukan untuk
melihat respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya,baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.Pengkajian tingkat
pengetahuan atau pendidikan klien mengenai perawatan dan pengobatan lanjutan
perlu diperhatikan agar pemenuhan informasi selanjutnya pada klien dapat
terpenuhi
Perlu juga dikaji adanya
obesitas karena dapat menimbulkan nyeri punggung bawah. Demikian pula dengan
nutrisi harus dikaji secara lengkap.
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam pengkajian pasien menurut Arif Mutaqqin (2008 :
352-358) terdiri dari :
Pengumpulan data subjektif dan objektif pada pasien
dengan gangguan sistem persarafan sehubungan dengan HNP bergantung pada bentuk,
lokasi, jenis, injuri, dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya.
Pengkajian keperawatan HNP meliputi anamnesis riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.
1. Anamnesis
Identitas pasien
meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosis medis. HNP
terjadi pada umur pertengahan, kebanyakan pada jenis kelamin pria dan pekerjaan
atau aktivitas berat (mengangkat benda berat atau mendorong benda berat).
Keluhan utama yang
sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah nyeri
punggung bawah.
a.
Propocatif/ paliatif
Adanya
riwayat trauma (mengangkat atau mendorong benda berat).
b.
Quality/ Quantity
Sifat nyeri seperti
ditusuk-tusuk atau seperti disayat, mendenyut, seperti kena api, nyeri tumpul yang terus-menerus.
Kaji penyebaran nyeri, apakah bersifat radikular atau nyeri acuan (refered pain). Nyeri bersifat
menetap, atau hilang timbul, semakin lama semakin nyeri. Nyeri bertambah hebat
karena adanya faktor pencetus seperti gerakan-gerakan pinggang batuk atau mengedan,
berdiri atau duduk atau jangka waktu yang lama dan nyeri berkurang bila dibuat
istirahat atau berbaring. Sifat nyeri khas dari posisi berbaring ke duduk,
nyeri mulai dari pantat dan menjalar ke bagian belakang lutut, kemudian
ketungkai bawah. Nyeri bertambah bila ditekan didaerah L5-S1
(garis antara dua krista iliaka).
c.
Region
Letak atau lokasi nyeri, minta klien menunjukkan nyeri dengan
setempat-tempatnya sehingga letak nyeri dapat diketahuai dengan cermat.
d.
Saverity
Pengaruh
posisi tubuh atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh, posisi yang
bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan memperberat nyeri. Aktivitas yang
menimbulkan nyeri seperti berjalan, menuruni tangga, menyapu, dan gerakan yang
mendesak. Obat-obatan yang sedang diminum seperti analgesik, berapa lama klien
menggunakan obat tersebut.
e.
Time
Sifatnya
akut, sub akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat menetap, hilang timbul,
semakin lama semakin nyeri. Nyeri pinggang bawah yang intermiten (dalam
beberapa minggu sampai beberapa tahun).
2.
Riwayat Penyakit Saat Ini
Kaji
adanya riwayat trauma akibat mengangkat atau mendorong benda yang berat,
pengkajian yang dapat meliputi keluhan paraparesis flisid, parestesia, dan
retensi urine. Keluhan pada punggung bawah, ditengah-tengah area pantat dan
betis, belakang tumit, dan telapak kaki. Klien sering mengeluh kesemutan
(parastesia) atau baal bahkan kekuatan otot menurun sesuai dengan distribusi
persarafan yang terlibat.
Pengkajian
riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, yang juga bisa minimbulkan nyeri
pinggang bawah yang keluhannya hampir mirip dengan keluhan nyeri HNP sangat
diperlukan untuk penegakkan masalah klien lebih komprehensif dan memberikan
dampak terhadapintervensi keperawatan selanjutnya.
3.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi apakah klien
pernah menderita tuberkolosis tulang, osteomielitis, keganasan (mieloma
multipleks), dan metabolik (osteoporosis) yang semua penyakt ini sering
berhubungan dengan kejadian dan meningkatkan resiko terjadinya herniasi nukleus
pulposus (HNP). Pengkajian lainnya adalah menanyakan adanya riwayat hipertensi,
riwayat cidera tulang belakang, diabetes melitus, dan penyakit jantung.
Pengkajian ini berguna sebagia data untuk melakukan tindakan lainnya dan
menghindari komplikasi.
4.
Riwayat Penyakit Keluarga
Mengkaji
adanya anggota generasi terdahulu yang menderita hipertensi dan diabetes
militus.
5.
Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual
Pengkajian
mekanisme koping yang digunakan klien perlu dilakukan untuk menilai respon
emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat, dan respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun
dalam masyarakat, apakah klien mengalami dampak yang timbul akibat
penyakit seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ke tidak mampuan
untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan citra tubuh).
Adanya
perubahan berupa paralisis anggota gerak bawah memberikan manifestasi berbeda
pada setiap klien yang mengalami gangguan pada tulang belakang. Semakin lama
klien menderita paraparise tersebut, maka makin akan bermanifestasi pada koping
yang tidak efektif.
Adanya
perubahan hubungan dan peran disebabkan oleh karena klien mengalami kesulitan
dalam beraktivitas mengakibatkan ketidak mampuan dalam aktivitas ekonomi. Pola
persepsi dan konsep diri yang ditemukan adalah klien merasa tidak berdaya, tidak
ada harapan, mudah marah dan tidak kooperatif, karena klien harus menjalani
rawat inap maka perawat harus mengkaji apakah keadaan iniakan memberi dampak
pada status ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan
dana yang tidak sedikit. Pengobatan HNP yang memerlukan biaya untuk
pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga.
Perawat juga melakukan pengkajian terhadap fungsi neurologis dan dampak ganguan
neurologisyang akan terjadi pada gaya hidup individu. Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri atas dua
masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh defisit nurologis dalam
hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung
adaptasi klien dengan gangguan neurologis di dalam sistem dukungan individu.
6.
Pemeriksaan Fisik
Setelah
melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik
sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesa. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan perissitem dan terarah (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan
fisik pada B3 (Brain) dan B6 (Bone) dan dihubngkan dengan keluhan
klien.
a.
Keadaan Umum, pada HNP keadaan umum biasanya tidak
mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan padatanda-tanda vital
brakikardi, hipotensi yang berhubungan dengan penurunan aktivitas karena adanya
paraparise.
B1 (Breating) jika tidak mengganggu
sistem pernapasan biasanya pada pemeriksaan :
1)
Inspeksi, ditemukan klien tidak mengalami batuk, tidak
sesak napas , dan frekuensi pernapasan normal.
2)
Palpasi, ditemukan taktil fremitus kiri dan kanan.
3)
Perkusi, ditemukan adanya sura resonan pada seluruh
lapang paru.
4)
Auskultasi, ditemukan tidak terdengar bunyi napas
tambahan.
B2 (Blood),
bila tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler, biasanya kualitas dan
frekuensi nadi normal, tekanan darah normal. Pada auskultasi, tidak ditemukan
bunyi jantung tambahan.
B3 (Brain),
merupakan pemeriksaan fokus yang lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada
sistem yang lain. Inspeksi umum,
kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya anglus, pelvis
miring/asimetris, postur tungkai yang abnormal. Hambatan pada pergerakan
punggung, pelvis dan tungkai selama bergerak.
b.
Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya kompos mentis.
c.
Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental, observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya
bicara klien dan observasi ekspresi wajah, dan aktivitas motirik. Status mental
klien yang telah lama menderita HNP biasanya mengalami perubahan.
d.
Pemeriksaan saraf kranial
Saraf I, biasanya pada klien
HNP tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan.
Saraf II, hasil tesketajaman
penglihatan biasanya normal.
Saraf III, IV, dan V,
klien biasanya mengalami kesulitan mengangkat kelopak mata, pupil isokor.
Saraf V, pada klien HNP
umumnya tidak ditemukan paralisis pada otot wajah dan refleks kornea biasanya
tidak ada kelainan.
Saraf VII, persepsi
pengecapan dalam bats normal, wajah simetris.
Saraf VIII, tidak
ditemukannya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X, kemampuan
menelan baik.
Saraf XI, tidak ada atrofi
otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII, lidah simetris,
tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi, indra pengecapan
normal.
e.
Sistem motorik
1)
Kaji kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai
bawah, kaki dan ibu jari, dan jari lainnya dengan memeinta klien untuk
melakukan gerak fleksi dan ekstensi lalu menahan gerakan tersebut.
2)
Ditemukan atropi otot pada meleolus atau kaput fibula
dengan membandingkan kanan dan kiri.
3)
Fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada
otot-otot tertentu.
f.
Pemeriksaan refleks
1)
Refleks achilles pada HNP L4-L5
negatif.
2)
Reflek lutut/patella pada HNP lateral di L4-L5
negatif.
g.
Sistem sensorik
Lakukan pemeriksaan rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam dan rasa
getar untuk menentukan dermatom yang terganggu sehigga dapat ditentukan pula radiks
yang terganggu. Palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau
halus sehingga tidak memebingungkan klien. Palapasi dilakukan pada daerah yang
ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasa nyeri.
B4 (Bladder), kaji keadaan
urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi
akibat menurunya perfusi pada ginjal.
B5 (Bowel), pemenuhan
nutrisi kurang karena adanya mual dan asupan nutrisi yang kurang. Lakukan
pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada
mulut atau perubahan pada lidah. Hal ini dapat menunjukkan adanya dehidrasi.
B6 (Bone), adanya kesulitan dalam
beraktivitas dan menggerakkan badan karena danya nyeri, kelemahan,kehilangan
sensori, dan mudah lelah menyebabkan masalah
padapola aktivitas dan istirahat. Inspeksi,
karvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya angulus, pelvis yang
miring/asimetris, muskulatur paravertebral atau bokong yang asimetris, postur
tungkai yang abnormal. Adanya kesulitan atau hambatan dalam melakukan
pergerakan punggung, pelvis dan tungkai selama bergerak. Palapasi, ketika meraba kolumna
vertebratalis, cari kemungkinan adanya deviasi kelateral antroposterior.
Palapsi pada daerah yang ringan rasa nyerinya kearah yang paling terasa nyeri.
2. Diagnosa
keperawatan
Berdasarkan pengkajian diagnosis keperawatan yang
dapat ditemukan pada klien yang mengalami nyeri punggung bawah adalah sebagai
berikut.
1. Nyeri
berhubungan dengan masalah muskuloskeletal
2. Kerusakan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot, dan berkurangnya
kelenturan
3. Kurang
pengetahuan berhubungan dengan teknik mekanika tubuh melindungi punggung
4. Perubahan
peran berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri kronik
5. Perubahan
nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan obesitas
3. Rencana
Keperawatan
Diagnosis Keperawatan: Nyeri berhubungan
dengan masalah muskuloskeletal
|
Tindakan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam, nyeri klien berkurang (skala 0-2) Kriteria
Hasil: A. Klien
mengalami berkurang atau hilangnya nyeri: 1. Istirahat
dengan nyaman 2. Mengubah
posisi dengan nyaman 3. Nyeri
hilang melalui penggunaan modalitas fisik, teknik psikologis dan meditasi 4. Menghindari
ketergantungan obat B. Tanda-tanda
vital klien normal 1. Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2. RR:16-24x/menit 3. Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4. Nadi:
60-90x/menit |
||
|
NO |
Intervensi |
Rasional |
|
1 |
Dorong
klien untuk tirah baring dan perubahan posisi, untuk memperbaiki posisi
lumbal |
Memperbaiki
posisi lumbal untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien. |
|
2 |
Ajarkan
klien teknik relaksasi untuk mengontrol dan menyesuaikan nyeri |
Dengan
teknik relaksasi untuk mengalihkan perhatian nyeri. |
|
3 |
Ajarkan
dan anjurkan untuk melakukan pernapasan diafragma untuk mengurangi tegangan otot |
Dengan
melakukan pernapasan diafragma dapat mengurangi tegangan otot sehingga klien
dapat rileks dan nyeri klien berkurang |
|
4 |
Upayakan
untuk mengalihkan perhatian klien: membaca, bercakap-cakap, menonton TV |
Dengan
mengalihkan perhatian, nyeri klien yang dirasakan dapat berkurang |
|
5 |
Berikan
masase jaringan lunak dengan lembut, untuk mengurangi spasme otot,
memperbaiki peredaran darah, mengurangi bendungan, dan mengurangi nyeri |
Memberikan
masase pada jaringan lunak dengan lembut dapat memberikan rasa rileks, untuk mengurangi
spasme otot, memperbaiki peredaran darah, mengurangi bendungan, dan
mengurangi nyeri |
|
|
Paham,
ajarkan, dan bantu klien cara penggunaan TENS, karena dapat menyebabkan
distritmia |
Dengan
memberikan pemahaman, pengajaran dan bantu klien dapat mengerti tindakan
keperawatan yang dilakukan pada klien dank lien dapat mendemonstrasikan
tindakan keperawatan |
|
7 |
Catat
respons klien terhadap berbagai modalitas penatalaksanaan nyeri |
Dengan
mencatat respon klien dapat memberikan tindakan klien selanjutnya |
|
|
Berikan
obat sesuai order |
Dengan
memberikan obat sesuai order akan memberikan ketepatan terapi yang diberikan
oleh klien. |
Diagnosis Keperawatan: Kerusakan mobilitas
fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot, dan berkurangnya kelenturan
|
Tujuan:
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mengalami
mobilitas fisik Kriteria
Hasil A. Klien
menunjukkan kembalinya mobilitas fisik: 1)
kembali ke aktivitas semula secara bertahap, 2)
menghindari posisi yang menyebabkan ketidaknyamanan dan spasme otot 3)
merencanakan atau jadwal istirahat baring setiap hari B. Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit |
||
|
NO |
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
1 |
menantau
secara kontinu mobilitas fisik klien, bergerak dan berdiri |
Memantau
secara kontinu mobilitas akan mengetahui aktivitas klien |
|
2 |
Bantu
klien merubah posisi secara perlahan |
Dengan
merubah posisi klien secara perlahan akan meningkatkan latihan mobilitas
fisik pada klien |
|
3 |
Ajarkan
klien cara yang tepat turun dari tempat tidur, dengan nyeri minimal |
Dengan
memberikan cara yang tepat turun dari tempat tidur, hal ini untuk mencegah terjadinya
injuri dan nyeri |
|
4 |
Sampaikan
dan ingatkan klien tidak boleh melakukan gerakan memutar dan melenggok |
Gerakan
memutar dan melenggok akan meningkatkan nyeri pada klien. |
|
5 |
Dorong
klien melakukan ganti posisi, berbaring, duduk, berjalan. Namun tidak boleh
dalam waktu yang lama/ terus menerus |
Dengan
terus melakukan pergantian posisi berbaring, duduk, berjalan akan
meningkatkan mobilitas fisik dan mengurangi terjadinya kerusakan integument
klien |
|
6 |
Buat
jadwal periode istirahat berbaring di tempat tidur beberapa kali sehari
bersama-sama klien. |
Dengan
membuat jadwal periode istirahat berbaring akan memaksimalkan pengurangan
nyeri pada klien. |
|
7
|
Dorong
klien untuk mematuhi jadwal latihan yang sudah dbuat dan meningkat latihan
secara bertahap |
Dengan
mematuhi latihan yang dibuat akan memberikan latihan maksimalkan mobilitas
klien. |
Diagnosis Keperawatan: Kurang pengetahuan
berhubungan dengan teknik mekanika tubuh melindungi punggung
|
Tujuan:
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien memahami teknik
mekanika tubuh melindungi punggung A. Klien
menunjukkan mekanika tubuh yang memelihara punggung: 1)
Perbaikan postur 2)
Mengganti posisi sendiri untuk meminimalkan stres pada punggung 3)
Memperlihatkan penggunaan mekanika tubuh yang baik 4)
Berpartisipasi dalam program latihan B. Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit |
||
|
NO |
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
1 |
Ajarkan
klien cara berdiri, duduk, berbaring, dan mengangkat barang dengan benar |
Dengan
mengajarkan klien, klien dapat mendemonstrasikan tindakan keperawatan yang
diberikan |
|
2 |
Menganjurkan
atau mengganti sepatu/ sandal dengan yang bertumit rendah |
Dengan
menggunakan bertumit rendah akan mengurangi terjadinya cedera pada klien. |
|
3 |
Anjurkan
klien untuk mengistirahatkan salah satu kaki, bagi klien yang terpaksa
berdiri lama untuk mengurangi lordosis lumbal |
Dengan
mengistirahatkan salah satu kaki, klien dapat mengurangi cedera pada klien |
|
4 |
Anjurkan
klien untuk melihat postur yang benar melalui cermin; latih postur dada
membusung dan perut mengempis |
Klien
mengetahui mendemonstrasi dalam memberikan postur yang benar |
|
5 |
Jelaskan
bahwa mengunci lutut saat berdiri dan membungkuk ke depan dalam waktu yang
lama harus dihindari |
Mengunci
lutut saat berdiri dan membungkuk ke depan dapat memberikan nyeri pada klien |
Diagnosis Keperawatan: Perubahan peran
berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri kronik
|
Tujuan:
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat kembali
ke peran semula. Kriteria
Hasil: A. Klien
menunjukkan kembali ke peran semula 1)
Menggunakan teknik menghadapi masalah untuk menyesuaikan diri dengan stres 2)
Memperlihatkan berkurangnya ketergantungan kepada orang lain untuk perawatan
diri 3)
Kembali ke pekerjaan bila nyeri punggung bawah sudah sembuh 4)
Kembali ke gaya hidup produktif penuh B. Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit |
||
|
NO |
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
1 |
Bantu
klien menghadapi stresor spesifik dan belajar bagaimana menghadapi stres
tersebut. |
Klein
dapat menghadapi stress dan dapat
menyesuaikan diri |
|
2 |
Membantu
klien dan keluarga dalam mengidentifikasi kebutuhan ketergantungan yang
berkepanjangan |
Membantu
klien dapat memberikan kemudahan kepada klien |
|
3 |
Membantu
klien dan keluarga mengidentifikasi dan menghadapi alasan yang mendasari
ketergantungan |
Untuk
memperlihatkan kekurangan ketergantungan pada orang lain |
|
4 |
Konsultasi
ke klinik punggung atau klinik nyeri |
Dengan
konsultasi, klien dapat memberikan terapi yang tepat |
|
5 |
Konseling
dengan ahli psikoterapi untuk membantu klien kembali ke kehidupan yang
produktif |
Dengan
diberi konseling dapat memberikan peningkatan mobilitas yang mandiri |
Diagnosis Keperawatan: Perubahan nutrisi
lebih dari kebutuhan berhubungan dengan obesitas
|
Tujuan:
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nutrisi klien adekuat A. Kriteria
Hasil: Klien
mencapai berat badan yang diinginkan. 1)
Mengidentifikasi perlunya penurunan berat badan 2)
Mengatur sasaran yang masuk akal 3)
Berpartisipasi dalam pengembangan rencana penurunan berat badan 4)
Mengikuti program penurunan berat badan B. Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit |
||
|
NO |
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
1 |
Kolaborasi
penyusunan program penurunan berat badan dan stres pada punggung bawah |
Memberikan
terapi yang tepat kepada klien dalam mengurangi penurunan berat badan |
|
2 |
Berikan
pengawasan terhadap rencana penuruna n berat badan klien |
Memberikan
pengawasan dapat memaksimalkan diit kepada klien |
|
3 |
Lakukan
pencatatan setiap pencapaian |
Memberikan
pencatatan untuk memaksimalkan terapi dan tindakan keperawatan yang diberikan |
|
4 |
Berikan
semangat dan pujian positif untuk mendorong kepatuhan |
Memberikan
motivasi kepada klien agar dapat kooperatif dalam memberikan tindakan
keperawatan |
5. Evaluasi
Pada Diagnosa: Nyeri
berhubungan dengan masalah musculoskeletal
|
DIAGNOSA |
EVALUASI |
|
Nyeri
berhubungan dengan masalah musculoskeletal |
S:
Klien mengatakan tidak merasakan nyeri atau nyeri berkurang O: Klien
mengalami berkurang atau hilangnya nyeri: 1) Klien
tampak istirahat denga nyaman 2) Klien
dapat mengubah posisi dengan nyaman 3) Nyeri
klien hilang melalui penggunaan modalitas fisik, teknik psikologis dan
meditasi 4) Klien
dapat Menghindari ketergantungan obat Tanda-tanda
vital klien normal 5. Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 6. RR:16-24x/menit 7. Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 8. Nadi:
60-90x/menit A: Hentikan
intervensi apabila criteria hasil terpenuhi, Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil
belum terpenuhi, P: Lanjutkan
intervensi Hentikan
Intervensi |
|
Kerusakan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot, dan berkurangnya
kelenturan |
S:
Klien mengatakan dapat bergerak O: Klien
menunjukkan kembalinya mobilitas fisik: 1)
Klien dapat kembali ke aktivitas semula secara bertahap, 2)
Klien menghindari posisi yang menyebabkan ketidaknyamanan dan spasme otot 3)
Klien dapat merencanakan atau jadwal istirahat baring setiap hari Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit A: Hentikan
intervensi apabila criteria hasil terpenuhi, Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil
belum terpenuhi, P: Lanjutkan
intervensi Hentikan
Intervensi |
|
Kurang
pengetahuan berhubungan dengan teknik mekanika tubuh melindungi punggung |
S:
Klien mengatakan O: Klien
menunjukkan mekanika tubuh yang memelihara punggung: 1)
Klien dapat Perbaikan postur 2)
Klien dapat mengganti posisi sendiri untuk meminimalkan stres pada punggung 3)
Klien dapat mendemonstarikan atau memperlihatkan penggunaan mekanika tubuh
yang baik 4)
Klien dapat berpartisipasi dalam program latihan Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit A: Hentikan
intervensi apabila criteria hasil terpenuhi, Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil
belum terpenuhi, P: Lanjutkan
intervensi Hentikan
Intervensi |
|
Perubahan
peran berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri kronik |
S:
Klien mengatakan O: Klien
menunjukkan kembali ke peran semula 1)
Klien dapat menggunakan teknik menghadapi masalah untuk menyesuaikan diri
dengan stres 2)
Klien dapat memperlihatkan berkurangnya ketergantungan kepada orang lain
untuk perawatan diri 3)
Klien dapat kembali ke pekerjaan bila nyeri punggung bawah sudah sembuh 4)
Klien dapat kembali ke gaya hidup produktif penuh Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit A: Hentikan
intervensi apabila criteria hasil terpenuhi, Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil
belum terpenuhi, P: Lanjutkan
intervensi Hentikan
Intervensi |
|
Perubahan
nutrisi lebih dari kebutuhan berhubungan dengan obesitas |
S:
Klien mengatakan O: Klien
mencapai berat badan yang diinginkan. 1)
Klien dapat mengidentifikasi perlunya penurunan berat badan 2)
Klien dapat mengatur sasaran yang masuk akal 3)
Klien dapat berpartisipasi dalam pengembangan rencana penurunan berat badan 4)
Klien dapat mengikuti program penurunan berat badan Tanda-tanda
vital klien normal 1) Suhu:36,5-37,5
derajat Celsius 2) RR:16-24x/menit 3) Tekanan
darah:110-130/70-90mmHg 4) Nadi:
60-90x/menit A: Hentikan
intervensi apabila criteria hasil terpenuhi, Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil
belum terpenuhi, P: Lanjutkan
intervensi Hentikan
Intervensi |
No comments:
Post a Comment